Matahai bersinar terik siang itu. Suara klakson mobil, teriakan, dan tawa anak-anak jalanan menggema memeriahkan siang itu. Ada yang istimewa dengan seorang anak jalanan. Siapakah dia?
***
Siang itu, matahari sepertinya tak bersahabat denganku. Ia bersinar terik sekali, seperti ingin memamerkan keperkasaannya kepada manusia-manusia kecil dan lemah seperti aku ini. Udara kotor penuh polusi kota Jakarta digabungkan dengan panas teriknya matahari, membuat siapa pun enggan berlama-lama berada di luar rumah, dan tidak terkecuali aku.
“Huh, panas banget yaa.. Kalau bukan karena tugas lapangan dari dosen kita yang killer abis itu, gak mau deh aku ada di luar panas-panasan kaya gini. Aduuuh..” gerutuku pada sahabatku, Meira.
“Hoy, semangat dong! Jangan mengeluh. Memang kamu aja yang kepanasan, aku juga tau, but it’s so fun, because I’m with youuuuu… hahaha.”
“Sial kamu! Ahahahaha… Yaudin deh, capcus yuk!” ajakku.
“Yuk.”
***
Siang yang sangat panjang, menurutku. Sungguh, cuaca saat ini memang sangat sulit diprediksi. Hanya dua kata. Ya, hanya dua kata yang selama ini digembar-gemborkan kebanyakan orang, terutama para pecinta lingkungan. Global warming, pemanasan global. That’s the cause. Sekarang panas menyengat, boleh jadi semenit kemudian hujan turun. Oh, God, ucapanku jadi kenyataan!
“Aih, tadi panas, sekarang hujan. Nanti mau apalagi deh?” keluhku kembali.
“Meira! Meiraa.. hei!” teriakku pada sahabatku. Namun, yang diteriaki tak bergeming sama sekali.
“Wooy, Meiraaaa! Are you OK?” teriakku sekali lagi, dan berhasil! Yes!
“Ya. Ada apa?” jawabnya datar.
“Ya Allah, dari tadi aku manggil-manggil kamu sampai teriak-teriak, kamu diam aja. Kamu dengar gak sih?” kembali yang kutemui hanya Meira yang memandang lurus ke depan. Entah apa yang dilihatnya. Hujan semakin deras, kutarik lengannya untuk memaksanya berteduh.
“Eh, kamu apa-apaan sih? Tarik-tarik tangan aku. Kamu nggak nyadar ya, tenaga kamu tuh kaya kuli. Sakit tau,” ujar Meira kesal. Manyun.
“Hahaha. Habisnya, kamu tuh tadi diem aja. Hujannya makin deras. Daripada kehujanan, mending aku tarik tangan kamu. Hehe.. Peace!” jawabku seraya mengacungkan dua jari membentuk huruf V dan tersenyum lebar.
“Anyway, tadi kamu itu ngeliatin apa sih? Serius banget.” tanyaku penasaran.
“Oh, itu. Hm, tadi aku lagi ngeliatin anak-anak jalanan.”
“Memang kenapa? Setiap hari juga kita ketemu sama mereka.”
“Bukan, bukan. Yang ini beda. Tadi aku ngeliat anak jalanan berjilbab. Dari segi penampilan, dia memang tidak jauh berbeda dengan anak-anak jalanan lainnya, dengan pakaian kumal. Namun, aku ngerasa ada sesuatu yang berbeda dari dia. Apa ya? Auranya itu loh.”
“Yah, kamu mulai lagi deh. Kayanya kamu bakat jadi paranormal deh. Sedikit-sedikit auranya itu loh, ginilah gitulah. Dan bla bla bla bla bla,” ejekku.
“Ah, aku harus ketemu sama dia. Kamu juga harus nemenin aku. Kita cari dia bareng-bareng. Aku tahu, kamu juga sama penasarannya sama aku. Hahaha.”
“Yaah, apa kata kamu deh. Aku mah nurut aja sama Kanjeng Mami.” Dalam hati terbesit juga rasa penasaran yang luar biasa pada gadis kecil berjilbab itu. Hm, seperti apa sih dia, sampai Meira benar-benar ingin bertemu dengannya.
***
Awan perlahan-lahan menurunkan intensitas muntahan airnya ke bumi. Matahari sudah bersiap menyinari tanah Jakarta kembali. Ah, betapa indahnya, ketika saat seperti ini ada pelangi yang muncul. Ucapku dalam hati. Semenit kemudian, pelangi benar-benar muncul!
“Jingga, lihat deh! Pelangi. Kesukaan kamu tuh,” ucap Meira seraya menunjuk ke langit.
“Aaah, indahnya. Perasaan baru semenit yang lalu aku bilang pengen lihat pelangi, sekarang ada beneran. Asik asik asik,” seruku girang. Tanpa sadar, aku mulai melompat-lompat kegirangan, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan banyak hadiah.
Tiba-tiba kegembiraanku terhapus oleh lengkingan suara klakson mobil dan teriakan orang-orang. Apa yang terjadi? Tunggu! Mereka bukan memakiku yang melompat-lompat di tengah jalan, siapa yang mereka maki?
Seketika itu aku mengikuti langkah kaki Meira, menerobos barisan mobil-mobil mewah. Aku terkejut, saat melihat seorang gadis kecil berjilbab sedang adu mulut dengan seorang pria paruh baya. Gadis kecil itu terduduk di jalan seraya memeluk gadis kecil lain yang usianya jauh lebih muda darinya. Sepertinya gadis yang dipeluknya itu ialah adik dari gadis kecil berjilbab itu. Ya Allah, gadis kecil itu terluka di bagian lengan. Apa yang dipikirkan oleh orang-orang ini? Mereka hanya sibuk berdebat dan menonton, tidak ada yang mau menolong.
“Bapak harus bertanggung jawab! Adik saya keserempet mobil Bapak tadi. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, Pak. Jangan mentang-mentang Bapak orang kaya dan kami orang miskin, lalu seenaknya saja Bapak lari dari tanggung jawab, ya! Saya yakin Bapak orang berpendidikan dan terpandang, tetapi mengapa Bapak tidak berbudi? Ayo, tanggung jawab, Pak!” teriak gadis kecil itu.
“Heh, dengar ya, anak kecil. Kamu itu baru berapa tahun di dunia, sudah sombong dan berani menasihati saya. Itu bukan salah saya. Adik kamu saja yang tidak hati-hati. Kalau saya mau, saya bisa membawa perkara ini ke meja hijau. Ke pengadilan. Mau kamu?” teriak pria paruh baya itu tak kalah keras.
“Terserah, Bapak. Saya tidak takut, Pak, karena saya yakin saya benar. Saya siap melawan Bapak, asalkan sekarang Bapak bawa adik saya ini ke rumah sakit. Tolong, Pak.”
“Kakak, udah, Ka. Kita tidak akan menang melawan orang kaya, Ka.” Ucap adiknya seraya menahan rasa sakit di lengannya.
“Stop! Stop! Berhenti berdebat. Adik, ayo kita ke rumah sakit. Kita obati dulu luka adik kamu ini, ya? Biar kakak yang menanggung biayanya. Sudah, Dik, jangan dipikirkan,” ucapku pada gadis kecil yang belum ku ketahui namanya.
“Oh, bagus. Sekarang ada dewi penolong orang-orang lemah. Kalian orang miskin memang sama saja. Br*****k kalian semua. B**l s**t!” maki pria paruh baya. Aku, Meira, dan kedua gadis kecil ini tidak mempedulikan makian Bapak tadi. Yang kami tahu, kami harus membawa adik gadis kecil ini ke rumah sakit segera.
***
Sesampainya di rumah sakit, adik gadis berjilbab ini segera ditangani dokter. Aku, Meira, dan gadis kecil berjilbab ini duduk di ruang tunggu. Keheningan merayapi kami. Kami bergelut dengan pikiran masing-masing. Aku sendiri masih tidak percaya dan setengah sadar melakukan hal ini. Entah keberanian dari mana yang datang padaku, hingga aku berani menghentikan perdebatan sengit antara gadis kecil dan pria paruh baya itu. Oh, Ya Allah.
“Ka, makasih banyak ya, Kakak sudah mau menanggung biaya rumah sakit adik saya. Maaf saya hanya bisa mengucapkan terima kasih karena saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada Kakak,” ucap gadis kecil itu tulus.
“Iya, Dik, tidak apa-apa. Kakak ikhlas. Oya, kita belum kenalan, ya? Nama Kakak Jingga. Ini teman Kakak, namanya Meira.”
“Nama saya Fatimah, Ka. Adik saya namanya ‘Aisyah.”
“Nama kalian seperti nama puteri dan istri Rasulullah, ya?”
“Memang, Ka. Ummi dan Abi memberikan nama itu dengan harapan yang sangat besar kami bisa seperti Fatimah dan ‘Aisyah r.a.”
“Kamu tidak sekolah?” kali ini Meira yang bertanya.
“Tidak, Ka. Dan sepertinya saya tidak perlu menjelaskan alasannya,” jawabnya seraya tersenyum manis.
Fatimah adalah seorang gadis periang yang sangat santun, tetapi siapa yang menyangka ia mampu berdebat dengan pria paruh baya tak dikenal yang punya harta. Fatimah hanya tinggal bertiga dengan Ummi dan adiknya. Dia ingin sekali bisa bersekolah seperti teman-teman seusianya. Namun, lagi-lagi karena masalah finansial, harapannya untuk bersekolah dan memakai seragam terputus. Fatimah hanya sebagian kecil potret masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan di negeri ini. Di balik wajahnya yang menyiratkan kepolosan itu, tertanam jiwa yang besar. Memang ada sesuatu yang berbeda dari Fatimah. Sesuatu yang belum aku sadari. Ah, semoga kelak kau menjadi orang besar yang tetap bersahaja, Dik.
Lama Fatimah bercerita mengenai asal usul keluarganya dan bagaimana selama ini dia hidup. Satu hal yang aku kagumi dari sosok Fatimah, semangatnya untuk belajar sangat luar biasa. Dia bercerita bahwa walaupun dia tidak bersekolah, dia tetap akan belajar. Dia tidak ingin menjadi seorang yang bodoh dan diperbudak kemiskinan. Fatimah adalah anak yang cerdas sebenarnya, hanya saja kurang beruntung.
“Fatimah, kamu sudah bisa membaca, menulis, dan menghitung?” tanyaku penasaran.
“Bisa, Ka!” jawabnya mantap.
“Siapa yang mengajari kamu?”
“Saya belajar sendiri, Ka. Setiap pagi, saya pergi ke sekolah di dekat tempat saya biasa mengamen. Walaupun hanya mampu melihat anak-anak lain belajar dari jendela kelas, saya sudah senang, Ka, karena saya juga tetap bisa belajar dengan mereka. Hanya berbeda sudut pandang. Hehehe,” jawabnya.
“Kamu tidak diusir atau dianggap mengganggu pelajaran?”
“Alhamdulillah, nggak, Ka. Saya beruntung karena tidak satu pun yang mengusir saya. Akhirnya, saya jadi ketagihan dan terus datang ke sekolah itu. Dari sanalah saya belajar, Ka. Selain itu, saya juga membaca koran atau majalah yang ada di kios Pak Usep. Beliau juga baik sekali terhadap saya.”
Perbincangan kami usai dengan selesainya dokter mengobati ‘Aisyah, adik Fatimah. Aku dan Meira memutuskan untuk mengantar mereka pulang ke rumah. Rumah mereka hanya berjarak sekitar 20 meter dari rel kereta api. Ah, betapa Allah sangat menyayangiku dan memberikan banyak kebahagiaan dalam hidupku. Sesampainya di rumah, kami disambut wajah khawatir Ummi Fatimah. Aku sampaikan semua penjelasan dokter kepada Ummi Fatimah. Hal itu tampaknya membuat perasaan Ummi lebih baik. Setelah mengantar ‘Aisyah dan Fatimah, kami berpamitan.
Dalam perjalanan pulang, Fatimah berlari mengejar kami. Ia memberikanku dan Meira sebuah gelang unik yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Gelang ini pasti buatan Fatimah. Dan sedetik kemudian..
“Itu buatan saya sendiri, Ka. Maaf ya kalau jelek. Sekali lagi, terima kasih, Ka,” ucap Fatimah.
“Sama-sama, Fatimah. Terima kasih juga untuk gelangnya,” jawab Meira dan aku hampir berbarengan.
“Hahaha, Kakak kompak! Yaudah, Ka, aku mau ke lampu merah dulu, ya. Sampai jumpa lagi, Kak Jingga, Kak Meira,” serunya seraya berlari menjauh dari kami. Kini tinggal aku dan Meira memandangi gelang pemberian Fatimah dan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
“Eh, tadi dia bilang mau ke mana?” tanya Meira.
“Lampu merah. Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Ke sana, yuk! Aku penasaran, dia mau apa di Lampu Merah.”
“Mau ngamen lah, Mei. Kan tadi dia bilang kalau dia itu pengamen.”
“Bukan. Bukan itu. Kalau dia memang mau mengamen, kenapa membawa tas, bukan gitar atau alat musik lain?”
“Eh, iya tah? Aku gak merhatiin. Ayo deh, kita ke sana.”
***
Sesampainya di lampu merah, kami mencari gadis itu. Di sana kami menemukan pemandangan yang tidak biasa.
“Gadis kecil berjilbab itu.. Fatimah, kan? Dia…” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Saking terpukaunya.
“Dia mengajari anak-anak jalanan lainnya membaca, menulis, dan menghitung.” Kata-kataku dilanjutkan oleh Meira.
Subhanallah. Gadis sekecil itu yang aku taksir umurnya baru sekitar 8 tahun, mengajari teman-temannya membaca, menulis, dan menghitung. Dia tidak hanya sekedar tahu akan kewajiban berbagi ilmu, tetapi dia juga mengamalkannya. Subhanallah.
Aku lihat Meira sama terpukaunya denganku. Kami berdiri diam memandang ke arah yang sama. Di sana, nampak seorang anak tengah berlari sambil membawa buku tulis lusuh yang diacung-acungkannya ke udara, dan seorang anak laki-laki yang lebih muda mengejarnya. Sayup-sayup terdengar di telingaku Fatimah memanggil mereka, “Anak-anak matahari! Ayo, kita belajar!”
Anak-anak matahari.. Anak-anak matahari.. Anak-anak matahari.. kata-kata itu seakan memenuhi seluruh otakku dan tanpa sadar aku dan Meira terus menggumamkan kata-kata itu sepanjang perjalanan pulang. What an amazing child!
Anak-anak matahari.. Semoga kelak kalian akan bersinar seperti matahari, menyinari tanah Indonesia ini dengan sinar ketulusan untuk saling berbagi kebaikan, dan memberikan banyak manfaat bagi banyak orang.
Ya Allah, hari ini, aku belajar hal yang luar biasa dari seorang anak kecil bernama Fatimah. Kau memang selalu memiliki cara yang unik dalam menegur hamba-Mu di kala lalai. Ya Allah, berilah mereka kesempatan untuk bersinar seperti matahari. Terima kasih karena Kau telah mempertemukanku dengan Fatimah. Seorang anak yang sangat luar biasa dan sangat mengispirasiku. Anak yang cerdas, berani, jujur, dan selalu ingin berbagi kebaikan. Anak-anak matahari.