Persahabatan Rena Rasti dan Tisha dibuat panas dingin gara-gara kedatangan siswa baru di kelas mereka. Tristan.
Mampukah persahabatan mereka tetap baik-baik saja? Jika ketiganya suka pada orang yang sama.
KITA SELAMANYA
Seperti biasa Rasti, Rena dan Tisha ribet sendiri. Biasa mereka belum mengerjakan PR, gara-gara semalam nonton film sampai malam plus shopping. Ya mereka memang sangat kompak dalam segala hal dari di hukum bareng, terlambat bareng, remidi ulangan bareng bahkan sampai-sampai jomblo bareng.
Hari ini tak seperti biasanya, karena akan ada siswa baru yang akan belajar di kelas mereka. Mereka sangat antusias dengan kedatangan siswa baru itu. Seisi kelas di buat bengong dengan kedatangan cowok ganteng yang pasti bikin cewek-cewek pada ngiler. “OMG, ada ya cowok seganteng dia mau dong jadi pacarnya,”kata salah satu siswi.
“huuuuu…,”teriak seisi kelas.
Kemudian Bu Eva meminta anak baru itu untuk mengenalkan dirinya.
“Halo, semua perkenalkan nama saya Tristan, saya pindahan dari Bandung. Salam kenal semua,”Kata Tristan.
Bu Eva mempersilahkan Tristan duduk, karena kursi yang kosong adalah kursi di sebelah Rasti, Tristan pun duduk di samping Rasti. Semua siswi di kelas itu iri banget dengan Rasti yang bisa duduk bareng Tristan, termasuk Rena dan Tisha juga.
Gara-gara Rasti duduk disamping Tristan, tentu saja terjalin kedekatan antara mereka berdua, dari sms-an tanyain PR sampai makan bareng di kantin. Rena dan Tisha pun merasa di lupakan sama Rasti, hubungan mereka pun mulai agak menjauh.
Gara-gara Rena tidak bisa menemani Tisha buat ke salon, akhirnya Tisha pun pergi sendiri. Mau ngajak Rasti juga gak mungkin kan lagi berantem.
Tiba-tiba dengan tidak sengaja Tisha menabrak seseorang. Ternyata Tristan. Tristan pun menawarkan bantuan untuk membawakan barang belanjaan Tisha dan mentraktir buat makan siang bareng. Tisha pun meng-iyakan ajakan dari Tristan. Lama-lama kok Tisha merasa aneh dengan Tristan, Tisha pun merasa agak keGRan.
Keesokan harinya di sekolah, Rena pagi-pagi sekali sudah datang karena mau piket. Ternyata Rena tak datang sendiri ada Tristan yang sudah datang, dia membantu Rena membersihkan ruang kelas. Waktu mereka sedang membersihkan kelas, tiba-tiba Rasti datang. Ada perasaan dingin menyelimuti hati kedua bersahabat itu. Mereka tidak saling menyapa. Beberapa saat kemudian Tisha pun datang, dia merasa bingung dengan tingkah mereka.
Mereka malah jadi semakin menjauh, entah kenapa mereka jadi seperti itu. Seisi kelas pun dibuat menjadi bingung dengan perubahan sikap mereka. Tugas kelompok yang biasa mereka kerjakan bersama-sama pun malah jadi amburadul. Mereka malah jadi repot sendiri gara-gara bersaing untuk mendapatkan perhatian dari Tristan. Kegiatan wisata alam seminggu lagi akan dilaksanakan, tapi mereka masih saja perang dingin. Padahal dalam kegiatan itu mereka dalam satu kelompok.
******
Hari H pelaksanaan kegiatan itu pun berlangsung, dengan empat bis SMA N 17 Jakarta menuju salah satu tempat wisata di daerah Malabar, Bandung. Perjalanan mereka pun cukup mengasyikkan.
Namun tidak untuk Rena dan Tisha. Tristan, cowok yang sama-sama mereka sukai duduk bersebelahan dengan Rasti. Tampaknya mereka sangat menikmati perjalanan mereka, dalam perjalanan mereka saling berbincang-bincang bersama.
“Wah, pulang kampung nih?” goda Rasti pada Tristan di sebelahnya.
“Ah nggak juga, kan aku bukan orang sini asli.” jawab Tristan sambil tersenyum.
Sampai di Malabar, mereka semua turun dan berbaris untuk di absen. Setelah mereka beristirahat sejenak. Bu Eva menyuruh anak-anak untuk mendirikan tenda untuk berteduh sesuai dengan kelompoknya dan memberikan perintah untuk menyiapkan barang barang dan peralatan yang akan di pakai untuk kegiatan nanti malam.
Hari sudah mulai gelap acara api unggun pun dimulai, ada yang bernyanyi, main gitar sampai bakar jagung. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Anak-anak di kumpulkan sesuai kelompoknya untuk memulai kegiatan malam ini. Setelah diberikan pengarahan anak-anak pun mulai bergerak. Dalam perjalanan Tisha, Rena dan Rasti masih perang dingin, mereka saling sibuk sendiri dan tidak memperhatikan yang lainnya. Gara-gara asyik jalan sendiri mereka pun terpisah, ketika mereka sadar mereka saling mencari satu sama lain.
“Ras, Ren…kalian dimana?” Teriak Tisha. Namun tak ada jawaban.
Lama Tisha mencari tiba-tiba dia menabrak sesuatu, Tisha kaget dan berteriak, tak kalah kagetnya Rasti pun berteriak. Dalam kegelapan mereka mencoba melihat.
“Rasti.” kata Tisha.
“Tisha kamu??” kata Rasti.
“Mana Rena?” Tanya Tisha panik.
“Aku nggak tahu, aduh dimana ya?” Jawab Rasti jadi ikutan panik.
“Dimana ya dia? Dia kan takut gelap.” Kata Tisha.
“Yuk, kita cari dia!” Ajak Rasti kemudian.
Tisha mengiyakan dan mereka pun mulai mencari, dan dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara seseorang yang menangis. Mereka coba mencari tahu asal dari suara tersebut. Dan ternyata Rena, dia menangis tersedu-sedu, dia memang memiliki phobia pada kegelapan.
“Ren?” Rasti memanggilnya.
Tanpa menjawab Rena melihat kedua sahabatnya dan langsung memeluk mereka dengan menangis tersedu-sedu.
“Aku takut.” Kata Rena terisak.
“Udah nggak papa.” Jawab Tisha menenangkan Rena.
Mereka pun saling berpelukan dan lupa dengan masalah yang sedang mereka hadapi.
“Guys, sorry ya selama ini aku bersikap nggak enak sama kalian.” Kata Rena.
“Nggak papa kok, lagian kenapa sih kita jadi kayak gini?” Jawab Tisha.
“Iya nih kok kita jadi kayak gini ya?”Sambung Rasti.
“Jujur Guys aku suka sama Tristan dan aku cemburu dengan kedekatan kalian sama dia.” kata Rena.
“Aku juga suka sama dia” Kata Rasti.
“Guys aku juga deh.” Kata Tisha menambahi.
“Gimana kalau kita tanya sama Tristan siapa yang dia pilih diantara kita, tapi janji siapapun yang di pilih jangan ada yang marah dan tetap kita menjadi sahabat yang baik, gimana?” Kata Rasti menyuarakan idenya.
Mereka pun setuju dan mencari Tristan. Tristan yang sudah ada di kemah pun di hampirinya. Tristan pun cukup kaget dengan kedatangan mereka bertiga.
“Tan, maaf ganggu ada sesuatu yang mau kita bicarakan”. kata Tisha memulai duluan.
“Iya ada apa?”Jawab Tristan agak bingung.
“Jujur Tan kita bertiga suka sama kamu, jadi tolong pilih satu diantara kami siapa yang kamu suka?” Kata Rasti tanpa basa-basi.
“Jadi kalian suka sama aku?” jawab Tristan semakin bingung.
“Iya jadi siapa yang mau kamu pilih?”Tanya Rena.
“Maaf ya membuat kalian jadi begini, jujur aku sudah punya pacar.” Jawab Tristan ragu.
“Jadi gitu ya..”jawab Tisha.
Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Tristan dan berbicara bersama. Mereka senyum sendiri-sendiri.
“Guys kita tuh aneh banget ya berantem gara-gara hal yang gak jelas” Kata Rasti.
“Iya, nggak seru tahu” Sambung Tisha.
“Guys kita harus janji buat bilang sejujurnya apa yang kita rasakan, biar nggak kejadian kayak gini,” Tambah Rena.
“Pokoknya apapun yang terjadi kita akan tetap jadi sahabat untuk selamanya,” Sambung Rasti.
“Iya kita sahabat selamanya” Tambah Rena.
Mereka pun saling menyadari kesalahan masing-masing dan saling berpelukan.