Namaku Kim Airra, umurku baru saja menginjak 23 tahun dan berprofesi sebagai make up artist di salah satu agensi terbesar.
Awalnya tidak ada kendala, tapi semakin lama aku bekerja, semakin tak karuan pula perasaanku. Ya, idol tampan yang di gandrungi oleh banyak wanita spek bidadari itu terus berperilaku dingin tapi juga perhatian padaku.
Namanya Lee Jeno, salah satu member dari grup boyband terkenal itu terus bertingkah aneh. Dia selalu menanyakan apa yang kulakukan setiap malam, selalu mengingatkanku untuk sarapan, menyuruhku berpakaian hangat, dan bahkan dia selalu memberikanku sesuatu yang umum tapi berkesan.
"Pagi, Airra-ya..."
suara berat itu membuatku menoleh, menatap pria tampan berpakaian santai yang baru saja datang membawa dua cup kopi hangat.
Senyum tipisku terbentuk menatap Jeno. "Pagi juga, Jeno-ya. Kau sendiri kesini? bagaimana dengan yang lain?" tanyaku sambil mempersiapkan peralatan make up di atas meja.
Jeno nampak menggeleng pelan, kemudian meletakkan satu cup kopi di hadapanku. "Diminum selagi hangat, aku sengaja beli di depan sana untukmu." katanya sedikit membuatku terdiam.
Pria itu terlihat biasa saja, tapi bagaimana denganku yang sekarang merasa aneh? karena sudah kesekian kalinya Jeno memberikan aku kopi.
"Kenapa bengong? ah kau tidak suka americano ya? maaf aku terpaksa beli karena ini menu pasangan, jadi jenis minumannya sama. Apa kau mau kubelikan yang lain?"
mataku sedikit membelalak menatap Jeno. "P-pasangan?"
"Iya, karena harganya jauh lebih murah." Senyum cirikhas pria itu terbentuk sempurna. Sangat manis.
Untuk menghilangkan pikiran aneh, aku langsung memberinya anggukan pelan dan kembali pada pekerjaanku.
"Airra-ya, setelah konser hari ini ada yang ingin kubicarakan padamu." kata Jeno sambil sedikit mendekat. "Sangat penting." lanjutnya berbisik.
Mataku memicing pelan. "Apa? jangan-jangan kau naksir dengan salah satu member idola lain ya? bisakah kau beritahukan itu padaku?" tanyaku menebak-nebak.
Decakan pelan Jeno keluarkan. "Aish, bukan. Tebakanmu nyaris benar, tapi tetap salah." katanya.
aku terdiam sesaat, apa yang di maksud tebakanku benar tapi tetap salah?
Jadi benar atau salah?
"Yoooo wazzap men!!!" Tiba-tiba dari arah pintu beberapa member lainnya datang dengan kehebohan dan guyonan konyol mereka.
aku sudah terbiasa, walaupun terkadang aku juga yang menjadi sasaran kejahilan mereka.
"Airra-ya..Apa kau sudah sarapan?" Tanya pria berkulit sawo matang yang langsung duduk di sebelahku, dia Lee Haechan si biang kerok.
"Belum Haechan-aaa." sahutku sedikit aegyo membuat Haechan tertawa geli.
Setelah tertawa Haechan melanjutkan aksinya. "Kalau gitu, bisakah kau membelikanku sarapan pagi ini?"
Pertanyaan Haechan membuat seisi ruangan tertawa, kecuali aku. Otakku belum connect, jadi harus mencerna sesaat.
"Y-yak.." panggilku setelah tersadar. "Kenapa kamu bertanya aku sudah sarapan atau belum kalo kamu yang minta dibelikan sarapan?" omelku yang hendak menimpuk Haechan menggunakan brush kecil.
Pria rese itu tertawa ngakak sambil kabur dari sisiku. Tak sengaja, manik mataku beradu tatap dengan Jeno yang menatap juga ke arahku. Kecanggungan langsung terjadi begitu saja.
Gimana ya? mungkin orang akan menilai aku baperan atau terbawa suasana seorang diri. Ya, jangankan orang lain aku saja suka merasa seperti itu. Tapi, setiap kali kami beradu tatap rasanya beda. Benar-benar berbeda, tatapan Jeno terlihat sangat lekat dan dalam, seolah-olah tersirat sesuatu di dalam sana.
Beberapa menit berlalu, semua member dan staff sudah berkumpul termasuk para make up artist. Kami mulai bekerja, menyiapkan penampilan konser malam ini yang benar-benar meriah.
"Aku ingin di rias oleh Airra saja." Tolak Jeno pada make up artist yang satunya.
Sejujurnya aku merasa tak enak sih, tapi mau gak mau aku harus menurutinya karena waktu semakin mepet. Lagi dan lagi senyum manis Jeno terbentuk ketika aku berdiri di sebelahnya.
"Jangan seperti itu, aku jadi tidak enak dengan Jina eonni." kataku berbisik padanya.
Jeno menghela nafas menatapku. "Tidak, jangan merasa seperti itu. Lagipula semua orang juga tau kalo aku lebih nyaman di rias olehmu." jawabnya lembut.
Jantungku sedikit tersengat, tapi aku berusaha tenang. Setelah itu kulanjuti pekerjaanku.
🌃Selesai konser🌃
"Terima kasih atas kerja keras kalian!" Teriak sang manager setelah para member kembali ke ruang istirahat.
semuanya bertepuk tangan karena konser hari ini benar-benar lancar tanpa ada kendala apapun. Aku ikut senang, karena berarti tidak ada omelan lagi dari atasan hehe..
"Airra-ya, temui aku di ruang latihan A satu jam lagi." Jeno tiba-tiba berbisik padaku sebelum pada akhirnya pergi keluar.
Ya, para member di pulangkan ke agensi duluan untuk menghindari adanya sasaeng menyusup, ataupun hal membahayakan lainnya yang bisa terjadi di backstage.
aku mengangguk setuju walaupun ragu. Setelah beberapa saat, para staff pun langsung kembali ke agensi, dan rumah masing-masing.
sebenarnya aku mau langsung pulang ke rumah sih, karena peralatan ini biasanya kutinggal di agensi, jadi aku harus kesana dulu. Apalagi aku sudah punya janji dengan Jeno setengah jam lagi.
jarak tempuh antar lokasi konser ke agensi lebih dari tiga puluh menit, membuat Jeno mengirimkan pesan padaku yang berisi :
Jeno : Kau dimana? Apa kau tidak bisa bertemu denganku malam ini?
Aku langsung membalasnya dan memberitahu kalau aku akan sedikit telat. Untung saja Jeno mengerti.
Sesampainya di agensi, kusimpan dulu barang-barangku sebelum pada akhirnya menghampiri Jeno di lantai 3.
Kleck!
"Permisi.." Kataku memberi salam setelah membuka pintu ruang latihan A.
Pria berkaus putih polos itu tersenyum ke arahku. Jeno hanya seorang diri disana, dia sedang menyetel musik yang judulnya 'Dive Into You.'
"Ada apa? Dimana yang lain? kau sendirian daritadi?" tanyaku sambil melangkah masuk kedalam.
Jeno tak menjawab, ia hanya beranjak dan mengambil sesuatu di atas meja. Sebuah kotak berukuran kecil yang di balut dengan pita putih.
"Ini untukmu." Katanya membuatku melongo.
Aku menunjuk diriku sendiri. "Aku? untukku?"
Jeno mengangguk mantap. "Bolehkah aku berkata jujur mulai sekarang?" tanyanya.
"Tentu, apakah selama ini kau berbohong padaku?"
"Tidak! tidak seperti itu. Ini lain hal, yang kumaksud dengan jujur adalah soal perasaan." katanya sedikit panik membuatku terkekeh gemas.
Jeno membuka kotaknya yang ternyata berisi kalung putih dengan gantungan berlian kecil. "Aku tau kalau banyak orang yang berkata idola tidak boleh untuk menyukai lawan jenis apalagi berkencan. Aku juga mengerti posisimu yang sangat sulit jika berpacaran denganku. Tapi---"
"Berpacaran denganmu?!" Beoku sedikit melotot.
Jeno mengatupkan bibirnya. "Eum.. sebenarnya selama ini aku memiliki perasaan lebih padamu, Airra-ya.. Terkadang aku bersikap dingin karena ingin menghindari pikiran buruk orang lain. Maaf, aku tidak pernah mengatakannya padamu. Aku takut kamu akan menjadi sasaran para fans." ujarnya sedikit membuatku tertegun.
Jeno meraih kalungnya. "Aku tidak pernah mau memaksa kamu untuk berkencan denganku sekarang." Katanya kemudian mulai memakaikan kalung itu.
Tubuhku benar-benar kaku, lidahku saja seolah membeku. Jarak wajahku dengan Jeno sangat dekat sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Tapi kalung ini adalah sebuah tanda." Lanjutnya setelah kalung itu berhasil melingkar manis di leher putihku.
Kedua alisku tertaut. "T-tanda? tanda apa?"
"Tanda kalau kau adalah milikku."
Deg!
hayo ngaku siapa yang senyum senyum😌