Mengagumi seseorang yang tidak kita kenal itu?, kalian pernah merasakan hal seperti itu tidak sih?, karena itu yang aku rasakan saat ini.
(~Andien Devita Putri~)
~Andien Pov' ~
Perkenalkan namaku Andien, anak bungsu dari orang tuaku pastinya😁. Joke-ku tidak lucu ya, sedih tahu ketawa dong. Oke dech aku tidak mau maksa kalian, kalau begitu skip saja dech.
Aku lanjutkan perkenalan diri kali ya. Aku lulus kuliah 2 tahun yang lalu. Aku kuliah D3 jadi saat aku lulus, usiaku baru 20 tahun kali ya, lupa pokoknya segitu. Setelah lulus kuliah, aku langsung cari kerja di sebuah perusahan kecil tapi sesuai dengan bidang aku kuliah, jadi buat ngembangin ilmu yang telah aku dapat semasa kuliah, supaya tetap muter nih siklus ilmu yang didapat. Tapi sayang banget aku harus ngundurin diri dari pekerjaan yang aku jalani selama 4 bulan itu karena masalah ketidaknyamanan dengan perusahaannya. Dan lebih tepatnya aku melanggar kontrak yang seharusnya aku kerja disana minimal 6 bulan. Tapi ya sudah sih, namanya tidak nyaman mau gimana lagi dong ya. Memang benar aku melanggar etika kerja, parah banget tidak sih. Untungnya saja perusahaan tempat aku kerja saat itu tidak memintaku bayar denda karena resign mendadak. Syukur Alhamdulillah dong ya.
Setelah pengunduran diriku dari pekerjaanku itu, aku pun balik ke kampung halamanku dan disaat itulah aku mengalami namanya pengangguran tidak berujung. Hal itu sungguh membosankan bagiku, karena waktu yang terbuang percuma yang aku lakukan hanya tidur, makan, main hp, yang tidak ada untungnya selama setahun itu. Aku kadang menyesali tindakan bodohku yang mengundurkan diri dari pekerjaan pertama yang aku dapat, tapikan nasi sudah jadi bubur tuh, tidak bisa balik dong ya. dan Bukannya aku tidak berusaha selama ini dengan menyodorkan amplop coklat ke berbagai pihak, hanya saja semua amplop yang aku sebarin dimana mana itu tidak ada timbal balik. Hingga penantian itu terjawab sudah dengan adanya panggilan wawancara kerja disalah satu perusahaan dan dengan senangtiasanya aku pun bersiap-siap dengan pakaian andalanku yakni hitam putih kelabu janji kita bertemu, kok nyanyi sih. Aku skip lagi nih...
Aku pun mengikuti wawancara dari perusahaan itu dan sangat bahagia nya aku karena aku diterima langsung, padahal sainganku lumayan banyak juga, perkiraan ada 50 orang yang mengikuti tes wawancara ini. Aku pun mencubit kecil tanganku untuk memastikan ini bukan mimpikan, ini nyata bukan?. Sungguh aku tidak menyangka dengan kebenaran ini, jika aku di terima kerja disana, serius inginku jungkir balik setelah ini. Tapi tunggu! aku masih berhadapan dengan HRD mereka, jaga image dong ya. Aku pun tersenyum kearah mereka dan pamit keluar setelah mereka mengatakan jika aku bisa mulai masuk kerja minggu depan dengan para pegawai baru lainnya. Ya, yang diterima kerja disana ada 3 orang dan dari 3 orang itu salah satunya adalah aku.
Tapi tunggu, ada pemandangan yang mengusik mata ini. Sungguh ini mata langsung Refresh melihat pemandangan yang tidak mungkin aku sia-sia kan, hingga salah satu teman yang diterima kerja sama denganku itu mengusikku dengan memanggilku. Sungguh menyebalkan bukan.
"iya, kenapa"ucapku padanya yang malah tersenyum bak kuda lumping.
"jangan pandangin pak Revan seperti itu, dia sudah punya tunangan"ucapnya yang namanya adalah Maya. Aku pun menatapnya bingung, apa salahnya melihat orang lewat didepan mata, ganteng pula, tidak salah dong, orang aku hanya mengikuti arah mata ini bergerak?, dan anehnya nih orang, dia kira aku mau merebut pak Revan dari tunangnnya sampai nih Maya bicara seperti itu kepadaku. dan lebih parahnya mana ada pak Revan melirik kearahku yang cuman potongan kentang goreng. Sebentar-sebentar emangnya pak Revan siapa sih?, sumpah jujur aku tidak kenal sama yang namanya pak Revan karena aku cuma melihat ada orang bening lewat, gitu saja. Aku pun sedikit mengangkat sebelah alisku dan menatap si Maya sekilas terus berucap.
"cuma nge-refresh mata saja, masa gak boleh. Soalnya nih mata aku normal, lihat orang bening lewat ya langsung on, nih mata sama otak, dan jugaan siapa sih pak Revan?, aku tidak kenal?"ucapku cuek bebek yang langsung pergi meninggalkan Maya yang bengong setelah mendengarkan ucapanku barusan.
~ Andien Pov' end ~
"Serius tuh orang tidak kenal sama pak Revan?"ucap Dion salah satu yang diterima di perusahaan ini bersama dengan Maya dan juga Andien. Maya yang mendengarkan ucapan dari Dion hanya menaikan kedua bahunya pertanda bingung.
.
.
.
.
.
Memandanginya dari jauh itu yang selalu aku lakukan saat ini. Tetapi setiap aku memandanginya seperti ini, itu membuat jantungku berkerja lebih cepat dari biasanya. Apa aku harus pergi ke dokter untuk memastikan jantungku ada kesalahan?, bagaimana menurut kalian?.
(~Andien Devita Putri~)
~Andien Pov' ~
Aku melangkahkan kaki dengan semangat 45, kenapa? ya, karena hari ini adalah hari pertama aku terbebas dari pengangguranku yang tepat 1 tahun itu. Akhirnya aku terbebas dari julukan pengangguran dan mulai bekerja saat ini.
Aku pun bersiap dengan pakaian andalanku lagi, yang hitam putih kelabu, tidak lupa sepatu pantofel warna hitam dengan hak kira-kira 5 cm, tidak tinggi-tinggi banget bukan, standar lah ya. Karena aku juga tidak bisa pakai yang tinggi, ini saja menurutku sudah lumayan tinggi. Stop dech bahas masalah sepatu, aku skip ya.
Aku pun berangkat dengan diantar oleh Abang kesayanganku yakni Abang ojek langganan🤭. Mana mungkin aku diantar kerja sama Abang kandungku, karena kenyataannya abangku lagi dinas diluar kota dan lebih tepatnya rumah yang aku huni hanya ada aku dan kedua orang tuaku. Tapi aku sudah punya niatan mau ngekos atau ngontrak dekat kantor tempat kerjaku sih, hitung-hitung hemat uang transportasi, bener tidak sih. Atau lebih tepatnya pingin mandiri. Alasan tepat bukan kali ini.
Sampailah aku didepan perusahan yang sebentar lagi menjadi kantor ternyaman mungkin saja. Karena ada mas ganteng yang lalu pernah aku lihat. Semoga saja hari ini aku bisa melihatnya lagi, supaya mata ini kembali refresh ya gak. Haduh fikiranku, harus kembali ke awal dong.
Aku pun merapikan penampilanku yang lumayan menurutku rapi, walaupun pakainku sudah kayak sales, hitam putih gini, tapi ya udahlah ya, namanya anak baru. Aku pun melangkahkan kakiku masuk ketempat kerjaku dan buru-buru mengejar lift yang akan tertutup dan untung saja aku belum terlambat, aku pun memasuki lift itu dan bergabung dengan lainnya menuju ruangan masing-masing ya kan.
Akhirnya aku sampai juga di ruangan yang akan menjadi tempat kerjaku nanti, ya aku menjadi asisten direktur dan aku menerima posisi ini senantiasa walaupun tidak sesuai dengan keinginanku yang lebih senang dibagian devisi pemasaran, nawar kali aku ya🤭.
"Andien Devita Putri?!"ucap seorang wanita yang memanggilku karena kebingunganku setelah sampai diruangan ini.
"eh...iya saya"ucapku sedikit gugup. Parah bukan, aku harap hari pertama kerja tidak melakukan kesalahan ataupun mempermalukan diri sendiri.
"perkenalkan saya Willona sekretasis pak Revan selaku direktur di perusahan Pratnoejoe."ucapnya lagi, tapi tiba-tiba nih otak loading, astaga aku pun menganggukan kepalaku spontan.
"salam kenal saya Andien asisten baru direktur, pak... Revan!?"tunggu dulu, Revan? seperti pernah denger nama itu dimana ya?. Wanita itu tersenyum kearahku dan mempersilahkanku untuk duduk.
"Sebentar lagi pak Revan datang, nanti setelah pak Revan datang jangan lupa kamu bertemu denganya dan memperkenalkan dirimu sebegai asisten barunya ya. Oh ya sampai lupa, jangan kaget ketika bertemu sama pak Revan dan saya harap kamu betah kerja disini"ucap Willona panjang kali lebar dan aku menjadi pendengar yang sangat baik walaupun tidak terlalu menngkap apa yang dia katakan.
"Will, saya ke toilet sebentar boleh, soalnya gugup banget, sebentar saja kok"ucapku sumpah gugup bener, aku takut bener setelah mendengar celotehan tentang pak Revan dari Willona yang mengatakan pak Revan orang yang sangat dingin dan perfeksionis, gila kan. Willona pun menyalahkan aku untuk pergi ke toilet dan aku langsung tancap gas dong. Saat akan ke toilet aku berpapasan lagi dengan seseorang yang membuat mata ini tidak berkedip melihatnya. Gila bukan, aku ketemu lagi sama orang bening ini. Sebentar-sebentar, kenapa orang itu menuju ke ruangan ku lebih tepatnya keruangan pak Revan, aku pun tidak jadi pergi ke toilet dan lebih baik kembali ke tempat kerjaku. Saat aku mencari sosok itu, aku tidak menemukannya disana dan Willona yang melihatku pun menegurku.
"pak Revan barusan datang, kamu masuk saja"ucap Willona. Sebentar, kapan tuh pak Revan datang, kok aku tadi tidak berpapasan dengannya. Terus laki-laki bening tadi kok hilang. Sudahlah halusinasi kali aku ya, karena gugup bertemu dengan bos ku. Aku pun bersiap-siap masuk keruangan pak Revan dengan mengetuk pintunya terlebih dahulu. Setelah itu ada suara yang mengintrupsiku untuk masuk, aku pun masuk keruangan itu yang terlihat sangat rapi dan lebih tepatnya memancarkan warna yang dominan abu-abu, kesukaan kaum laki-laki dark.
Aku menundukan kepalaku, tidak berani menatap wajah direktur yang akan selalu bertemu denganya karena aku asistennya. Sumpah ini semua gara-gara si Willona yang sudah memberikan gambaran mengerikan tentang pak Revan.
"Andien Devita Putri"ucap Pak Revan padaku dan aku hanya menjawabnya dengan 'iya pak' tanpa mengangkat kepalaku dan menatap kearah bosku itu.
"ok, silahkan keluar"ucapnya sontak membuatku terkejut dong, aku pun mengangkat kepalaku dan melihat kearah suara itu. Sungguh sesuatu diluar dugaan ku.
.
.
.
Aku keluar dari ruangan Pak Revan dengan jantung yang berdetak tidak normal, sungguh sepertinya jantungku perlu diperiksakan ke dokter. Willona yang melihatku keluar dari ruangan pak Revan siap siaga seperti ingin melontarkan banyak pertanyaan padaku.
"gimana suasananya ketika bertemu sama pak Revan"pertanyaan pertama yang di lontarkan Willona padaku. Sungguh ingin ku berteriak tapi aku tahu tempat.
"sungguh, kamu membohongiku tentang sosok pak Revan, Will. Bening banget, mataku langsung refresh bertemu pak Revan"ucapku sedikit histeris, sedangkan Willona menahan senyumnya karena tingkahku. Untung saja rekan kerjaku sama gesreknya sama aku, kalau kaku sumpah tidak asik.
"biar surprise, tapi kamu jangan seneng dulu Dien, cover pak Revan emang bening, tapi dia itu sebenarnya super super perfeksionis. Jangan sampai kita salah atau keliru atau keselip atau pokonya kerja kita harus ngimbangin pak Revan, kalau nggak tamat deh riwayat kita dari perusahaan ini. Jadi jangan malas kerja oke,"ucap Willona yang langsung aku angguki kepala, pertanda aku setuju dengan ucapanya. Mana mungkin dong aku males kerja kalau bosku super ganteng gitu, bikin semangat kerja dong, ya kan. Ternyata laki-laki bening yang aku lihat setelah selesai wawancara adalah pak Revan pantesan saja 2 teman yang kemarin itu bilang seperti itu. Sumpah parah bener aku, bisa tidak tahu calon bos sendiri. Bos yang super tampan😍.
.
.
.
.
.