Di sinilah aku, menanti seseorang yang amat aku sayangi.
Terlepas bagaimana hubungan kami saat ini, aku masih bisa tersenyum membayangkan wajahnya.
3 tahun berlalu kami menjalani semuanya bersama, indah sederhana dan saling mengisi tiap detiknya. Jarak tak menjadi penghalang bagi cerita kami.
Aku ingat betapa bodohnya kami di masa lalu, mengorbankan banyak hal dan waktu demi sebuah kebersamaan.
Sebelumnya perkenalkan namaku Nafanya Afwan, mahasiswa semester 6 fakultas kedokteran. Aku memiliki seorang kekasih bernama Affandi Prasetya, kami menjalin hubungan sejak duduk di bangku SMA. sampai.. saat ini kurasa.
Pulang sekolah Andi selalu menghampiri kelasku, tersenyum ramah duduk di sebelah ku.
"hai, pulang sekarang??" senyumannya semakin merekah
"tentu.. kamu masih ada acara?" tanyaku menatap harap.
"hanya menemani teman main game saja" balasnya santai.
"boleh aku ikut?"
Sebenarnya aku tak tertarik pada game tapi demi memiliki waktu bersama lama, aku abaikan itu.
Hampir setiap hari aku hanya duduk menemaninya main game, sesekali kami mengobrol dan bercanda. Berhari hari hingga tak terasa kebersamaan kami menginjak umur jagung.
Hubungan kami baik, tak ada permasalahan sama sekali. Saling terbuka dan jujur apa adanya, hal ini menjadikan hidup lebih baik.
Sampai tiba di saat hubungan kami harus terkendala oleh jarak. Aku menjaga komitmen untuk setia pada Andi, hanya itu yang bisa kulakukan. Karena memang kami harus melanjutkan studinya di kota yang berbeda.
Tak berat awalnya... semua berjalan baik. Beberapa kali bertemu , berkencan membuat kami masih bertahan.
Tak ada yang salah, memang ini jalan yang harus dilalui. Dari semula setiap hari bertemu, bercanda menjadi berkurang, hanya bisa bertemu saat libur saja.
" apa kamu ga keberatan begini Andi?"
"selama kamu ada buat aku, aku juga"
Manis ... sebuah ungkapan yang menguatkanku bertahan di sampingnya. Menjadi sosok penguat dalam masa perjuangan hidupnya.
ya , Andi tak sekuat kelihatannya...
Hidup dalam keluarga double 2 ayah dan 2 ibu itu tak mudah. Kasih sayang yang gak utuh seperti anak pada umumnya terkadang membuatnya pesimis dan ragu mengambil sebuah keputusan.
Aku di sana saat dia terpuruk tentang Family, tapi untuk selanjutnya aku tak berada di dekatnya saat keterpurukan berikutnya.
Andi bukan tipe pengeluh dan melampiaskan emosinya, dia pandai menahan dan bersabar. Sifat dominan yang membuatku kagum dan menyayanginya.
Kami saling kuat, namun sekuat apapun tali jika di tarik terlalu kencang akan putus juga bukan??
Hubungan kami renggang di LDR tahun ke 3, rasa nyaman itu berganti canggung.
Sekedar tanya kabar saja seperti formalitas karena percakapan chat kami hambar.
Aku masih bertahan, tak ada orang lain di hatiku selain Andi. Tapi tidak sebaliknya. Andi meragu dan berubah .
2.5 jam aku menanti kedatangan nya dari luar kota.
Kami sengaja janjian bertemu, sudah bisa kurasakan jika hubungan kami akan berakhir.
"sudah lama menunggu?" Andi membuka percakapan
" em.. lumayan" kaku
" kita cari makan dulu, aku lapar "
Kata kata nya masih terdengar ramah, hanya tak terasa ada kasih sayang lagi.
Semenit lima menit masih bungkam, sampai aku harus menanyakan tujuannya.
" mau bilang apa?"
Sekuat hati aku menahan apa yang akan disampaikan Andi, wajahku ku paksa senyum. Sakit tapi apa dayaku .
"em.. kita kembali seperti dulu lagi saja"
Ya, tak ada kata putus secara spontan. Karena kami berjanji tak ada yang akan memutus.
Tapi kata itu saja sudah mewakili segala tanya.
" ohh. baiklah"
Begitu lancar aku berkata, lega tapi menyayat bukan?
Kami masih mengobrol dan bercanda, seperti biasa. Tapi hubungan kami sudah tak seperti dulu.
Sebuah alasan Andi membuat kami sama sama tersakiti.
" kamu ga ada saat aku butuh dan begitu juga aku ga ada di saat kamu butuh"
Cukup dengan kalimat itu, aku sadar..
Setia saja tak cukup. Apalah daya aku hanya bisa menghadirkan doa bukan raga selama kami berhubungan jarak jauh.
Aku harus menelan mentah-mentah, bahwa sosok Andi selalu membutuhkan seseorang di dekatnya dan ada orang lain yang menggantikan posisiku.
Menyesal!? tentu
Sakit hati? pasti
Hingga aku menyerah atas kesetiaan yang selama ini aku jaga.
Berharap akan ada kisah bahagia di lain hari.
Menjajaki babak baru dan mulai kehidupan baru, meski sulit menghapus jejak 3 tahun lamanya.
Tapi aku akan berusaha, karena kebahagiaan menyertai siapapun tak pilih pilih.
Dan soal cinta.. ahh.. semua sudah ada skenarionya sendiri.
Terimakasih atas kunjungannya, jujur aku terkesan.