Kriingggg!!!!
Bel sekolah sudah berbunyi, anak anak kelas 6 SDN Pasir Hebat 5 pagi sudah keluar dari kelasnya. termasuk Zafran dan Nadine yang sudah saling kenal sejak kelas satu.
"Zaf, ada yang pengen aku bicarakan deh.. ke taman dulu yuk!!" seru Nadine.
Zafran mengangguk, "Iya ayo.."
Nadine dan Zafran pun berjalan menuju taman, setibanya disana Nadine langsung mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Begini Zaf, aku kayaknya tidak bisa melanjutkan sekolah SMP sama kamu deh. entah nanti SMA akan sama kamu lagi atau enggak, tapi aku harap kamu bisa menjalani hidup tanpa adanya aku di samping kamu." pesan Nadine.
Zafran mengangguk, "Baiklah, lagipula aku sudah mengetahui semuanya.."
"Hah?? bukan Zaf, ini tidak seperti apa yang kamu dengar dan lihat Zaf.." gumam Nadine yang berusaha memberikan penjelasan.
Zafran tersenyum, "Kalau itu mau kamu, yaudah pergi saja!! biarkan aku hidup sendirian tanpa kamu.."
Tak lama, sebuah mobil datang. ternyata bapaknya Nadine datang bersama satu keluarga yang merupakan sahabat bapaknya untuk menjemput Nadine.
"Nadine.. ayo kita pulang!!" seru pak Wahyu.
Zafran karena sudah terlalu overthingking ia memilih langsung berlari, pak Wahyu pun panik karena ia belum juga memberikan peringatan kepada Zafran agar tidak mendekati Nadine lagi.
"Zafraannnn!!!!!" teriak Nadine.
Memang benar, pak Wahyu tergoda oleh rencana Pak Darwis yang akan membuat sebuah perusahaan di daerah kampung Sinar Kencana. maka dari itu, ia berusaha memberikan apa yang pak Darwis mau, termasuk salah satunya Nadine yang sudah tidak diperkenankan berteman dengan Zafran lagi dan ia akan dibawa ke kota lain untuk disekolahkan di sekolah yang lebih modern.
Zafran yang terus berlari sambil menangis, melintasi areal pinggiran sungai yang dikelilingi oleh rimbunnya hutan. karena tersandung, Zafran tercebur ke dalam sungai yang dipenuhi oleh ikan lele dimana tangannya terpatil oleh ikan itu serta lehernya tergigit oleh ikan gabus.
"Aaaaaa!!!!"
Zafran berusaha kembali ke daratan, dengan menahan rasa sakit di leher dan tangannya ia terus berusaha berjalan pulang ke rumahnya dengan hati yang masih dipenuhi rasa kecewa dan sakit hati.
Di rumahnya, Zafran mengalami demam tinggi serta ruam di daerah yang digigit dan dipatil ikan tadi. lalu ia diobati oleh sang ibu yang dulu menikah diusia yang masih sangat muda yaitu 17 tahun 5 bulan.
"Bagaimana?? masih sakit??" tanya Bu Alisha.
Zafran menjawab, "Masih ma.. perih sekali!!"
"Yaudah, tidur saja dulu.. besok juga pasti sembuh.." jawab Bu Alisha yang menutup tubuh Zafran menggunakan selimut.
Bu Alisha pergi keluar kamar, lalu Zafran mengalami meriang dan tubuhnya mengeluarkan asap dan energi berwarna hitam.
Cerita pun dimulai..
empat tahun kemudian, liburan akhir tahun
Pasca Nadine pindah ke luar kota, Zafran merasakan perubahan yang signifikan dalam dirinya. terutama sikapnya yang kini lebih percaya diri, tubuhnya yang berotot dan wajahnya yang mampu melelehkan siapapun perempuan yang melihat dirinya.
"Saatnya siap siap, besok liburan!!" gumam Zafran yang kini menumpang di rumah Tabitha, sahabatnya sejak SMP.
Tabitha menghampiri Zafran, "Zaf, sudah siap?? kita ke hotel malam ini!!"
Zafran mengangguk, "Sudah.."
Tabitha membalas, "Yaudah, bawa koper koper kamu ke dalam taksi." perintah Tabitha.
Zafran mengangkat semua koper miliknya, lalu ia berjalan keluar rumah dan memasukan koper ke dalam taksi.
"Sip.." batin Zafran.
Zafran masuk ke dalam taksi, lalu ia pergi ke hotel untuk bersiap siap pergi ke Brisbane besok siang.
"Ayo pak, berangkat!!" ucap Tabitha.
Mobil taksi itu pun berangkat menuju hotel, dikarenakan hanya Zafran dan Tabitha saja.. maka proses check in dilakukan atas nama pribadi bukan bersama.
Di perjalanan, Tabitha menyandarkan tubuhnya pada Zafran. apalagi ia berhutang budi pada Zafran yang sudah menyelamatkan dia dan keluarganya dari kelicikan rekan bisnis ayahnya yang ingin menguasai perusahaan milik ayahnya.
Setibanya di hotel, Zafran dan Tabitha turun dari taksi. lalu mereka berjalan ke dalam hotel itu untuk sekedar singgah, dan akan berangkat ke bandara jam tujuh pagi besok.
"Malam, saya mau check in kamar untuk saya sendiri.." ucap Tabitha.
Satu staff hotel pun memberikan kunci kepada Tabitha, lalu giliran Zafran yang melakukan check in dan ia pun mendapat kamar no 335.
Setibanya di kamar masing masing, Zafran dan Tabitha berbaring di tempat tidur dengan kamar yang terpisah. Zafran di kamar no 335, sedangkan Tabitha di kamar no 332.
karena lapar, Zafran pun memilih pergi ke restoran yang berada di dalam hotel itu. ia bisa menggunakan uangnya sendiri, apalagi ia sudah sukses sebagai youtuber dan pekerja freelance.
Nadine berjalan keluar dari sebuah tempat spa setelah ia melakukan perawatan tubuh sebelum besok ia berlibur ke Brisbane, Australia. Zafran yang keluar dari lift, kembali berlari ke lantai atas menggunakan tangga darurat karena Nadine sedang berjalan ke arah dirinya.
Nadine pun masuk ke sebuah lift, lalu Zafran memilih kembali ke kamar khawatir ia akan kembali bertemu dengan Nadine dan misinya akan diketahui.
Di dalam kamar, Zafran membuka laptopnya. lalu ia akhirnya mengetahui jika perusahaan yang akan membangun properti di desanya dulu mengalami kebangkrutan dan proyek ditinggalkan begitu saja.
"Rasain, pasti mereka kena karma karena merusak tempat tinggalku dan sahabatku.." batin Zafran yang merasa puas.
Ia pun melihat selebaran di sebuah poster elektronik, bagi siapa saja yang dapat menangkap keluarga pak Darwis akan mendapatkan hadiah dari kepolisian. Zafran pun tertarik, walaupun usianya masih 17 tahun tapi ia berani untuk melakukan misi itu.
Pagi harinya, Zafran dan Tabitha berjalan di bandara untuk check in, boarding pass dan menaiki sebuah pesawat Hamish Air tipe Airbus A350 jurusan Bandara Soekarnohatta - Bandara Brisbane. mereka pun duduk di seat paling belakang, tepatnya di dekat toilet dan ekor pesawat.
"Kita duduk disini!!!" ucap Tabitha.
Pesawat pun terbang menuju Brisbane, saat berada diatas langit laut selatan dengan ketinggian 40.000 kaki. beberapa orang melintasi Zafran dan pergi ke toilet.
Zafran terbangun, lalu ia bersiap menjegal salah satu orang yang ia anggap mencurigakan itu.
setelah setengah jam menunggu, akhirnya orang mencurigakan itu keluar dari toilet. Zafran pun menjegal orang itu, hingga ia terjatuh dan mengeluarkan senjatanya.
"Hei!!! Siapa yang menjegalku tadi??" tanya Pria itu sambil mengacungkan senjata api.
Zafran menunjuk pria lainnya yang baru keluar dari toilet, "Dia.."
Pria itu menembak sahabatnya sendiri, hingga terjadi baku tembak sesama pembajak pesawat.
"Dorrrrr!!!!"
"Dorrr!!!!"
"Dorrrrr!!!"
Karena berjalan tak sesuai rencana, para pembajak itu akhirnya tetap memaksakan aksi aslinya. mereka memaksa masuk ke ruang kokpit untuk menyerang pilot dan co pilot.
"Dorrr!!!"
"Dorrr!!!"
Pilot dan Co pilot tertembak, Zafran dan Tabitha pun saling bertatapan. Zafran memberikan arahan kepada Tabitha agar fokus ke ruang kokpit, dan untuk serangan pembajak itu serahkan saja kepada dia.
"Baik.."
Tabitha membuka payung, lalu ia berlari menerobos para pembajak itu hingga menabrak dan membuat senjata yang mereka pegang itu terjatuh.
Zafran pun memunguti senjata itu, lalu ia bersama Tabitha berhasil masuk di ruang kokpit.
"Kalian semua hadapi mereka mereka ini.." perintah Zafran.
Para awak kabin menjawab, "Baik.."
Pramugara dan Pramugari pun menghadapi pembajak yang ada di belakang, lalu Zafran bersama Tabitha menyerang dua orang bersenjata lengkap itu.
"Bagggg!!!"
"Bugggg!!!"
Karena perkelahian itu, pesawat sedikit menukik tajam hingga menyebabkan turbulensi.
"Aaaa!!!"
"Jedarrr!!!"
Kepala beberapa orang terbentur karena mereka melepas sabuk pengaman, Zafran pun mengambil alih kemudi pesawat. sedangkan Tabitha membawa kedua orang itu ke tempat penumpang untuk nantinya dikumpulkan dan diserahkan ke polisi.
Tabitha kembali ke ruang kokpit, lalu ia mengobati pilot dan co pilot yang terluka.
"Sudah, pak izin ambil alih kemudi pesawat.." ucap Tabitha.
Captain Wahyu menjawab, "Baik, kalian paham kan cara mengemudikannya??"
"Bisa captain, soalnya dua tahun ini kami selalu bermain simulator pesawat.." jawab Tabitha.
Captain Wahyu tersenyum, "Baik.. silakan.."
Tabitha dan Zafran mengemudikan pesawat itu, mereka berbicara dengan ATCS bandara Cengkareng karena posisi masih berada di sekitar pantai selatan Garut.
"Izin lapor, Zafran disini... terjadi penyerangan di dalam pesawat oleh sekelompok orang bayaran.. mohon izin untuk kembali ke bandara.." kata Zafran.
Petugas ATCS menjawab, "Baik, laporan diterima.. nanti petugas penyelamat akan bersiaga di landasan.."
"Baik.."
"Selamat Pagi, Captain Zafran disini.. kita diatas ketinggian 40.000 kaki, para penumpang harap tenang nanti kalian akan selamat.. kita akan kembali ke bandara Cengkareng.." ucap Zafran yang membuat Nadine terdiam.
Nadine meneteskan air matanya, lalu ia berteriak menyebut nama Zafran.
"Zafrann!!!!"
Flashback
Selama ini, Nadine memang sudah dicuci otak. dia diminta melayani pak Darwis dan keluarganya dengan melakukan apa yang mereka mau. termasuk merasa jijik dengan keberadaan Zafran, namun sejak kejadian dimana Zafran menyelamatkan Tabitha, hasil Cuci Otak pak Darwis mendadak tak berfungsi. alhasil selama ini Nadine hanya berpura pura jahat demi melayani kolega pak Darwis.
Flashback Off
Zafran memutar arah untuk kembali ke bandara Cengkareng, lalu ia tetap fokus bersama Tabitha mengendalikan pesawat itu. sambil dibawah arahan pilot dan Co Pilot yang ditangani oleh penumpang yang merupakan Dokter.
Setelah dua jam penerbangan yang harus kembali ke bandara karena permasalahan itu, Zafran berusaha mengeluarkan roda pesawat. akan tetapi, karena pesawat masih terlalu cepat sehingga pesawat tergelincir dan keluar dari landasan.
"Aaaaaa!!!!"
"Braggghhhh!!!"
Tim keamanan pun datang, lalu para pembajak yang berada di dalam pesawat keluar dalam pengawasan tim keamanan bandara untuk nantinya di proses hukum.
Zafran dan Tabitha keluar dari dalam pesawat sambil memapah pilot dan Co Pilot yang mengalami luka.
"Sini... biar kita bantu!!" ucap beberapa tentara yang mengambil alih pilot dan Co Pilot untuk dibawa ke rumah sakit.
Saat semuanya sedang bertemu bersama keluarganya, Zafran dan Tabitha berjalan berdua karena mereka berdualah yang tidak dijemput oleh keluarganya.
"Maafkan aku ya Tha, kita malah menjadi seperti ini." sesal Zafran.
Tabitha tersenyum, "Tidak apa apa Zaf, tapi seandainya kamu tidak mengambil keputusan untuk menjegal pembajak tadi. mungkin kita enggak akan bisa kembali kesini."
Zafran meneteskan air matanya, lalu ia memeluk Tabitha. "Kamu jangan tinggalin aku ya!!"
Tabitha juga meneteskan air matanya, sambil ia mengatakan sesuatu kepada Zafran. "Iya Zaf, aku tau masalah kamu.. kamu pasti takut kan akan kehilangan untuk kedua kalinya??"
Nadine yang melihat hal itu lalu meneteskan air matanya, kemudian tersenyum sambil mengatakan. "Kamu memang berhak bahagia Zaf.."
Zafran mengelap air matanya sendiri, lalu ia melepaskan pelukannya bersama Tabitha. "Nadine??"
"Aku minta maaf Zaf, aku tidak bisa menjaga diri aku sendiri.." gumam Nadine yang mengelus perutnya.
Zafran tersenyum, "Iya, tidak apa apa.. yang penting kamu dan bayi kamu sehat."
Tabitha terdiam, "Apa yang sebenarnya terjadi sih??"
Zafran menjawab, "Jadi, empat bulan ke belakang.. Zafran pernah menyelamatkan seorang anak dari penculikan. nah, ternyata para penculik itu dibackingi oleh warga daerah itu. sehingga Zafran sama anak itu dikejar oleh sekelompok warga. saat Zafran sembunyi di rumah kosong, ternyata keberadaan Zafran diketahui warga dan terpojok di sebuah kamar yang pintunya tertutup. dan saat bersandar ke pintu, Zafran terjelembab lalu ketika pintu terbuka Nadine ada disana dalam keadaan tak pantas dilihat bersama laki laki yang usianya 4 tahun lebih tua. lalu warga lebih fokus ke Nadine dan lelaki itu, yang ternyata bukan anak pak Darwis yang selama ini dijodohkan dengan Nadine. sehingga Zafran akhirnya bisa bebas dan mengantar anak itu pulang, dan Nadine pun dinikahkan satu bulan kemudian."
Tabitha tersentuh, lalu ia memberikan semangat dan energi kepada Nadine. "Kamu jangan sedih, jangan khawatir, jangan pesimis dan jangan takut. mungkin ini sebuah kesalahan besar yang sudah terjadi. kamu saat ini fokus saja urus diri kamu sendiri dan anak kamu.. biarkan dia lahir, biarkan dia hidup dan aku yakin kamu pasti bisa menjadi benteng yang kokoh untuk menghadapi serangan verbal dari orang orang diluar sana."
Bu Alisha datang bersama keluarga pak Edwin, dimana mereka merasa berhutang nyawa kepada Zafran.
"Zafran, Tabitha!!" panggil Bu Alisha.
Mereka berdua menoleh, lalu memeluk kedua orangtua mereka masing masing.
"Selamat ya!! kalian adalah pahlawan.." gumam Bu Alisha.
Nadine menundukan kepalanya karena malu, lalu Bu Alisha menghampiri dirinya. "Buat kamu Nadine, saya dapat kabar dari keluarga kamu bahwa mereka sangat malu, apalagi soal janin dalam perut kamu.. dan kejadian ini.. saya siap membukakan pintu rumah jika kamu mau tinggal bersama saya dan merawat janin ini hingga lahir dan tumbuh dewasa."
Nadine menangis histeris, lalu ia memeluk bu Alisha. "Terimakasih ya bu.."
"Sama sama.." Jawab Bu Alisha.
Zafran pun merangkul Tabitha, mereka pun hidup bahagia dan beberapa bulan kemudian Nadine melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan. dan ia pun menangis terharu sambil mencium anaknya itu. sedangkan Tabitha dan Zafran berhasil lulus SMA dan masuk ke salah satu universitas Ternama.
Tamat....
Pesan : Yang sudah baik, balas dengan kebaikan juga ya..