Sebungkus coklat dengan setangkai mawar merah hati, ku genggam erat di tangan kananku. Langkahku berjalan menghampiri seorang siswa dengan pakaian jaket hitam bertudung di depan kantin.
Hari ini aku sudah bertekad akan mengungkapkan isi hatiku pada pujaan ku selama setahun ini. Surat cinta yang selalu ku kirim tak pernah mendapatkan balasan, namun senyuman nya yang selalu tertuju padaku mengubah keberanian ku hari ini.
"Hay, Ka Nathan. Boleh minta waktu kakak sebentar?" tanya ku dengan wajah merona merah.
"Nat, gih samperin. Anak orang utu," goda Mike sahabat Nathan.
Nathan tak bergerak dari tempatnya tapi tatapan matanya tertuju padaku. Jantungku berdetak begitu cepat, pipiku memanas.
"Ka, sebenarnya aku suka kakak sejak kelas satu. Ini buat ka Nathan, maukah kakak menjadi pacarku?" ucapku dengan lancar tanpa gugup sedikitpun sembari menyodorkan coklat kesukaan ku serta setangkai mawar merah hati.
"Kamu, suka sama aku?" Nathan mendekat lalu menerima coklat dan bunga dari ku.
Aku berpikir kakak kelasku itu menerima cintaku, tanpa rasa malu aku bersiap memeluknya. Namun, keadaan berubah drastis menjadi buruk. Coklat dan bunga dariku di buang ke tempat sampah dengan sekali lempar. Tatapan ka Nathan berubah menjadi jijik dan ilfil terhadap ku.
"Apa rumahmu tidak punya cermin? Dasar gadis jelek, sudah gendut rambut kepang seperti gadis desa. Iuuh, mana ada cowok yang mau dengan gadis buruk rupa seperti mu. Ngaca dulu! Siapa kamu, dan siapa aku." cibir Nathan membuat para siswa lain menertawakan ku tanpa di tahan, tatapan semua orang sangat jelas merendahkan ku yang memang seperti gadis kampung.
Aku mengusap air mataku yang menetes begitu derasnya. Ku tatap pria terpopuler di sekolah ku itu dengan tatapan benci. Ingin rasanya aku menampar nya, namun aku sadar. Diriku hanyalah si buruk rupa.
Makasih atas penghinaan yang kamu berikan, akan kupastikan esok dirimu bertekuk lutut memohon cintaku.~ batin ku.
Tawa para siswa dengan segala cibiran dan gunjingan mereka tentang kelancanganku menembak Ka Nathan si siswa populer mengiringi langkah kepergian ku. Tidak peduli sesakit apa perkataan mereka, aku tak ingin menutup telingaku.
Namun, aku tak ingin kembali ke kelas. Tujuanku mencari tempat untuk melampiaskan rasa malu ku. Hingga tak sengaja aku melihat papan nama ruang seni.
"Lebih baik aku ke sana," gumamku dengan nenyeret langkah kakiku.
Ceklek....
Aku memasuki ruangan seni, baru saja berpindah dari lorong ke dalam ruangan yang jarang di pakai itu. Tiba-tiba saja pintu terbuka sesaat,
"Have fun gadis jelek!"
Braak...
Klik...
Klik...
"Hey buka! Kenapa kalian mengunci pintunya," seru ku sembari menggedor pintu ruangan seni.
Suara cekikikan diluar sana terdengar semakin menjauh. Aku menghela nafas, berpikir nanti akan ada petugas sekolah yang memeriksa setiap ruangan setelah jam sekolah usai.
"Sebaiknya aku melihat-lihat saja, jam sekolah selesai satu jam lagi." gumamku sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Akibat ulah tangan nakal. Kini aku terjebak di dalam ruangan seni, membuat rasa bosan melanda hatiku. Kegabutan semakin terasa ketika aku tak menemukan apapun diruangan seluas tiga kali empat meter itu. Tentunya selain sebuah gaun yang terpajang di lemari kaca.
"Aku bosan, cintaku saja tidak dihargai. Lalu bagaimana caraku membalas penghinaan ka Nathan?"
Setiap kali ku pandang gaun di lemari kaca, ada panggilan yang memasuki gendang telingaku. Ku coba mengabaikan hingga hatiku tak tahan lagi, lalu berjalan menghampiri lemari itu. Tanganku tergerak menyentuh bingkai lemari kaca. Ukiran kerajaan tergambar jelas. Simbol mahkota ku sentuh.
Ctiiik.....
"Eh, terbuka," ucapku dengan melebarkan pintu lemari.
Ku sentuh gaun kuning keemasan yang terlihat sangat cantik dan menggoda. Ntah apa yang terjadi padaku, rasanya ingin sekali memakai gaun itu.
"Aku akan coba sekali dan hanya sesaat,"
Ruangan seni yang terbilang menjadi ruangan tak berpenghuni, membuat ku leluasa berganti pakaian di tempat yang sama. Hanya membutuhkan dua menit. Kini tubuhku mengenakan gaun kuning keemasan.
Sesuatu yang aneh menjalar merasuki nadiku, aliran hangat yang menyebar ke seluruh tubuhku membuat alunan musik alami secara perlahan menyentuh indera pendengaran ku.
Tanganku reflek meliuk-liuk mengikuti irama, tubuhku mengikuti ritme nada yang mengalun merdu di telingaku. Ku pejamkan mata, semakin lama semakin terasa tubuhku ringan. Setiap liukan jemari dan tubuhku menari tanpa ada kesulitan.
Ntah berapa lama aku menari, tanpa mengingat waktu dan tempat. Tarianku semakin ringan dengan aroma manis bercampur kesegaran air laut. Irama mistis membangkitkan jiwaku. Hingga samar-samar ku dengar suara lain dari dalam irama musik itu.
"System Beauty Dancing Active."
Sontak aku membuka mata, menghentikan tarianku. Namun, aku merasakan hal aneh. Rasanya seperti beban tubuhku tak seberat sebelumnya. Ku angkat kedua tanganku. Mataku terbelalak melihat ukuran jemari yang menyusut bak roti panggang ditekan. Tidak hanya sampai disitu. Saat aku berbalik melihat lemari kaca. Terlihat jelas dari pantulan kaca bagaimana wujud seorang gadis buruk rupa menjadi gadis jelmaan dewi.
Wajah oval, pipi tirus, hidung mancun, mata besar zamrud dengan bibir mungil semerah cherry. Perubahan drastis itu membuat otakku terasa berputar tujuh keliling. Semakin ku pandang wajahku, rasa tak percaya dengan kunang-kunang mulai menghampiri ku.
Bruug....
Pluk!
Pluk!
Pluk!
"Hey sadarlah!"
Samar-samar ku dengar suara seorang pria dengan tepukan ringan di pipiku. Ku coba membuka mata secara perlahan. Wajah samar itu masih belum ku kenali. "Maaf, aku kenapa ya?"
"Mana aku tahu, lagian kamu siapa? Semua siswa udah balik. Lah, kamu ngapain di ruangan seni sekolah ku?!" cecar suara yang mulai jelas bersamaan dengan wajah siswa yang menghancurkan hatiku sebelumnya.
Siswa itu mengibaskan tangan di depan wajahku, "Eh malah bengong, ayo keluar atau mau menginap di sekolah?"
"Kamu tidak kenal aku?" tanya ku polos.
"Nona cantik, aku saja baru lihat kamu sekali. Sudahlah, kurasa kamu siswa pindahan. Ayo!" ajaknya dengan menarik tanganku.
Tanpa permisi Nathan menggenggam tanganku, kami berjalan meninggalkan ruangan seni bersamaan. Tapi, aku melirik ke belakang dimana lemari kaca itu berada. Pandangan ku masih normal, dan dilemari itu tidak ada gaun kuning keemasan. Meski begitu, kenapa Nathan tidak mengenali gadis buruk rupa seperti ku.
Tanganku masih di genggam, dan aku membiarkan itu hingga saat melewati deretan kelas. Jendela kaca memantulkan penampilan baruku. Seragam sekolah yang sama dengan wajah bak dewi khayangan.
Apakah ini aku? Artinya gaun itu nyata, dan dengan tarianku maka penampilan ku berubah drastis. Aku siap membalas kan dendamku. ~ batinku dengan menatap genggaman tangan Nathan.
Senyuman manis dengan maksud terselubung terbit menghiasi bibir cherry ku.
"Auw," seruku dengan pura-pura terjungkal hingga menabrak pundak Nathan.
Nathan berbalik, memandang mataku. "Apa kamu baik? Katakan mana yang sakit?"
"Aku baik, hanya saja kelelahan setelah berkeliling sekolah tanpa arah tujuan," jawabku dengan manja.
Nathan berbalik, lalu berjongkok. Tangannya terangkat, "Ayo naik! Aku akan antar sampai depan, wanita cantik seperti mu tidak boleh kecapean. Naiklah!"
"Tidak, aku bisa jalan sendiri." tolak ku, dan memilih berjalan terlebih dahulu dengan langkah sedikit cepat dari biasanya.
Nathan terlihat menggerutu, dan menggejarku. Tapi, ntah apa yang terjadi. Saat aku membantin lelah dan ingin segera sampai dirumah. Tubuhku seperti terhempas angin, tertutup kabut sejenak. Hingga saat kabut menghilang, yang ku lihat bangunan rumah sederhana berdiri di depanku.
"Wow, apa ini nyata?" gumamku mencubit pipiku, "Auuw, beneran nyata.. Horeee, aku bisa memulai misi balas dendam ku."
Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan penampilan baru ku, dan setiap jam istirahat terakhir. Aku memilih keruangan seni untuk menari, semakin sering aku menari maka aura kecantikan ku semakin menghipnotis banyak orang. Banyak pria yang mengejarku. Termasuk Nathan pria terpopuler di sekolah ini, meskipun aku harus menggunakan identitas baru. Tetap saja aku menjadi incaran para kaum adam dan di nobatkan menjadi ratu primadona.
Sebulan telah berlalu, setelah aku berubah dan tanpa usaha yang berarti semua orang ingin berada di dekatku.
Hari ini ada jadwal olahrga. Semua orang sudah bersiap termasuk aku. Pelatih tak kunjung datang, justru rombongan kakak kelas melakukan pawai aneh. Dari pengamatan ku, sudah pasti ada yang special. Benar saja, ku lihat Nathan berjalan menghampiri ku bersama sahabatnya yang membawa sebuket bunga dan cake berbentuk hati.
"Dear Reina, hari ini aku Nathan Hamilton akan mengungkapkan isi hatiku padamu. Sejak pertama melihat matamu, hatiku berdebar kencang. Izinkan aku menjadi kekasih hatimu. Biarkan cinta kita terkenang di sekolah ini. Reina dewi manisku, maukah kamu menjadi wanita ku?" Nathan mengambil bucket mawar merah, menyodorkan kearahku.
Aku tersenyum sangat manis. Bucket bunga ku ambil, "Bukankah cake itu buatku?"
"Pasti sayang." jawab Nathan mengambil Cake dari tangan Mike.
Cake berbentuk hati itu berpindah ke tangan Nathan, dengan sengaja aku menyentuh tangan Nathan. Senyuman manis kun tak luntur sedikitpun, hingga aku arahkan tangan Nathan menghempaskan cake itu ke wajahnya sendiri. Tidak sampai disitu, Aku menarik ikatan bucket bunga lalu menerbangkan ke atas langit.
"Wajahmu sangat tampan, wow very perfect now. Tapi, sayangnya aku tidak suka pemain badut seperti mu." ucapku tanpa hati sembari menujuk Nathan dengan jariku.
Prook!
Prook!
Prook!
"Guy's, dengarkan aku baik-baik. Cinta itu bukan soal fisik, tapi tentang hati. Jika kalian pikir dengan wajah tampan dan canti, lalu kalian bisa mendapatkan seluruh isi dunia. Maka, kalian salah besar."
Aku kembali menatap Nathan yang kini membalas tatapan ku tajam dengan kepalan tangan. "Kamu tampan, pintar, tapi attitude Nol Besar. Setiap perbuatan memiliki karmanya. Jangan berlagak seperti dewa ketampanan, karena aku tidak sudi memiliki kekasih badut seperti mu."
Aku tak peduli dengan tatapan semua orang yang terdiam membisu, langkahku berjalan meninggalkan lapangan basket. Kali ini bukan suara tawa yang mengiringi kepergian ku, tapi suara jeritan frustasi seorang Nathan Hamilton. Aku hanya tersenyum, melanjutkan langkahku menuju ruangan seni.
Kubuka perlahan pintu yang menjadi duniaku drastis. Kali ini, gaun itu terlihat lagi. Tapi, aku tak ingin membuka lemari itu. Hanya kutatap dengan senyum terimakasih dari hatiku yang terdalam.
Aku tidak memiliki niat balas dendam lagi. Terimakasih memberikan kesempatan padaku untuk membalaskan dendam sakit hatiku. Cinta adalah hal paling berharga jika itu tercipta untuk orang yang tepat, aku ikhlas melepaskan cintaku. ~ batinku mengusap cairan bening yang menetes tanpa permisi.