Jika mukjizat itu ada. Suatu hari dia akan mempertemukan kita berdua kembali. Sejauh langit dari Bumi. Sekarang Ingatan ku akan sosok mu, tak akan ku lupakan semudah itu. Gadis dengan Rambut Emas bergelombang seperti helaian bulu domba. Bahkan senyum mu dapat membuat ku yang sekarat menunggu kematian. hidup kembali...
***
Sore itu Tommy terbangun di kamar nya yang berukuran tiga kali empat meter. Diatas ranjang tidur nya dia duduk dan memegang kepala yang terasa sangat berat. Beberapa flashback muncul dikepala nya. Dia baru saja mengalami tabrakan hebat. Bahkan dia bingung sekarang terbangun di kamar tidur lama nya.
Memperhatikan seluruh tubuh nya, tetapi tidak ada tanda-tanda dia mengalami luka-luka, bahkan yang teringan sekalipun. Semakin pusing memikirkan semua kejadian yang dialami nya sekarang. Beberapa flashback mulai terjadi lagi dikepala nya dan datang bertubi-tubi. Saat ini dia menjadi sangat ketakutan. Sebab dia menyadari kondisi diri nya tidak lagi setua dulu, segera dia berlari ke sebuah cermin besar yang ada di dekatnya.
Betapa terkejut nya dia melihat dirinya yang sekarang, sedang berada di tubuh yang berbeda. Tubuh ini adalah tubuh nya dulu saat masih berada di umur belasan tahun, merasa semakin aneh atas kejadian yang dialami nya dia mulai menarik nafas dalam dan mencoba menenangkan diri, Tommy duduk kembali di ranjang nya dan memejamkan mata, mengingat semua kejadian yang masih jelas terekam dikepala nya.
Dalam ingatan yang dimiliki nya, dia adalah seorang pria berusia tiga puluh tiga tahun, Merupakan lulusan terbaik dari Massachusetts Institute of Technology atau M.I.T beberapa tahun lalu, yang berpusat di Cambridge Amerika Serikat.
Setiap mata kuliah dan pelajaran yang dia terima, jelas masing diingat nya dengan baik, beberapa penelitian dan pencapaian luar biasa yang dia lakukan bersama teman-teman nya pun masih ada dikepala nya sekarang. Bahkan sampai kejadian kecelakaan waktu itu.
Tapi kenyataan didepan nya sekarang berkata lain, di dalam ingatan nya tersebut, dia sadar bahwa dirinya baru saja mengalami kecelakaan yang mungkin membuat nya tidak bisa selamat, wajah terakhir yang di ingatnya adalah sebuah wajah cantik perempuan bule berambut keemasan yang sedang berusaha menolong nya, perempuan cantik itu ternyata seorang dokter yang mencoba mengevakuasi dirinya dan memberikan pertolongan pertama. Namun, naas bagi Tommy dalam perjalanan menuju Rumah Sakit terdekat, dia sudah tidak terselamatkan. Anehnya dia tiba-tiba terbangun ke tubuh muda nya yang berusia belasan tahun.
Kenyataan lain juga kembali membangunkan Tommy dari lamunan dan khayalan nya, suara teriakan sang ibu terdengar keras memanggil nya dari luar kamar, suara itu menyadarkan nya, dengan segera dia melangkah kan kaki ke pintu kamar dan membuka pintu tersebut.
Rumah nya adalah rumah berbahan kayu sederhana yang banyak terdapat di Indonesia, Tommy Orlando itulah nama nya dan dia berasal dari Indonesia, masih jelas di dalam ingatan nya tentang rumah nya ini yang dulu merupakan tempat terhangat di Planet Bumi ini, dimana dia mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua nya dan sambutan hangat dari kedua adik nya.
“Mungkin ini adalah yang terbaik, kembali ke masa muda lagi.” ucap Tommy dalam hati.
Saat itu dia sedang memandangi Ibu nya penuh haru dan terlihat masih muda dengan segala kecantikan yang tersisa di ingatan Tommy.
“Nak, kenapa memandang mama seperti itu? memang nya kamu sudah kangen banget ya sama mama, sampai-sampai terharu begitu melihat mama.”
Perkataan itu kembali menyadarkan Tommy dari lamunan ingatan nya, tempat dihari dia mengalami kecelakaan, hari itu juga merupakan setahun memperingati hari kematian ibu nya tersebut, membuat nya sekarang penuh haru dan rasa rindu mendalam kepada sosok wanita berusia empat puluh tahunan didepan nya itu.
Segera saja Tommy melangkahkan kaki nya dan memeluk ibu nya itu, dia merasakan kehangatan yang dulu tidak pernah dia rasakan selama beberapa tahun, sebab selain pergi dan berkuliah di luar negeri, Tommy juga pergi meninggalkan Ibu dan Kedua adik nya di Indonesia, Dia hanya mengirimkan beberapa uang tiap bulan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka semua, tapi bukan sosok kehadiran nya yang tinggal bersama mereka, sedangkan ayah nya. Tommy kembali mengingat bahwa ayah nya tersebut meninggal saat dia berada di kelas dua SMA, tepat sekitar setahun setelah hari ini.
Begitu dia memeluk ibu nya beberapa flashback memasuki kepala nya, aneh nya dia yakin itu bukan ingatan dari nya, melainkan flashback kehidupan dari ibu nya sendiri, dengan cepat dia melepaskan pelukan nya tersebut, dia mengalihkan pembicaraan agar tidak membuat ibu nya kecewa, karena hanya baru beberapa detik memeluk ibu nya tersebut, segera saja dia menanyakan keberadaan ayah nya.
“Mah, Papah mana?.” ucap nya.
“Kamu mencari papah mu? ya mudah saja, dia sedang di kamar seperti biasa bermalas-malasan sambil nonton TV.” jawab ibu nya.
Dengan segera Tommy membuka gorden kamar kedua orang tua nya itu dan melangkah masuk kedalam, dia menemukan ayah nya yang sedang menonton TV seperti biasa sambil rebahan di kasur nya. rindu yang mendalam merasuki nya kembali dengan segera dia memeluk sang Ayah.
"Hey nak apa yang kamu lakukan." ujar ayah nya heran terhadap kelakuan aneh anak nya itu hari ini.
Sekali lagi setelah dia memeluk ayah nya, Flash back kembali terjadi, kali ini bukan perasaan rindu yang mendalam yang ingin dia lepaskan terhadap kedua orang tua nya tersebut, tetapi malah sebuah perasaan aneh karena bisa melihat semua memori dan flashback kehidupan kedua orang tua nya, semua itu dirasakan nya dengan jelas dan seolah-olah Tommy juga mengalami semua kejadian-kejadian dalam ingatan kedua orang tua nya tersebut.
Sontak dia terkaget dan segera mencari alasan untuk masuk ke kamar nya dan mengurung diri disana. Di dalam kamar nya tersebut dia kembali mencoba memahami setiap detail ingatan kedua orang tua nya tersebut. Setelah semua yang dialami nya, dia mulai merasakan keanehan terjadi di tubuh nya yang sekarang.
“Oke, oke... jika Reinkarnasi yang ku alami adalah sebuah keanehan, aku bisa menerima nya dengan baik, tapi apalagi ini.”
“Semacam kekuatan kah? sehingga aku bisa mengambil dan mengalami setiap memori orang lain yang bersentuhan dengan ku.” ucap Tommy dalam hati, tetapi setelah itu kembali kepala nya menjadi sangat pusing memikirkan kejadian-kejadian aneh yang dia alami.
Setelah makan malam dia memilih untuk mencatat semua yang di alami nya itu kedalam sebuah buku dan mencoba mengurai kejadian-kejadian yang pernah dia juga rasakan dulu nya. Dari situ dia mengambil suatu kesimpulan berdasarkan tulisan-tulisan nya itu, dia menyadari sesuatu.
Pertama, jika dia melakukan sentuhan fisik kepada orang lain dalam satu jam dan dalam jarak maksimal dua meter dia bahkan bisa mendengar kan perkataan dan pikiran orang yang disentuh nya tersebut. Bahkan teori ini sudah dia coba beberapa kali malam itu saat makan malam dengan keluarga nya.
Kedua, Jika telapak tangan nya bersentuhan dengan kulit orang lain selama 1-3 detik, dia bisa mengambil semua memori dan kejadian yang di ingat orang tersebut sebagai bagian dari memori nya sendiri, tetapi yang belum dia ketahui adalah dalam waktu tiga hari memori orang yang disentuh nya bisa menghilang dan semakin kabur dari ingatan nya, seperti sebuah kapal yang berlayar meninggalkan dermaga, semakin lama semakin kabur dan tidak terlihat.
Ketiga, kemampuan aneh yang dimiliki nya tersebut tidak berakhir hanya disitu, kemampuan paling kuat yang dimiliki nya adalah sesuatu yang mirip dengan istilah Hyperthymesia Syndrome atau Highly Superior Autobiographical Memory (HSAM) arti nya, dengan kemampuan ketiga nya ini dia dapat dengan mudah mengingat semua kejadian yang dialami nya secara langsung, contoh nya : saat dia membaca, bermain, atau hanya menjalani kehidupan nya sehari-hari.
Tetapi jelas kemampuan ketiga nya ini tidak serupa dengan sindrom HSAM karena dia bisa memutar dan mengulang semua kejadian di ingatan nya seperti sebuah folder di komputer dan dia hanya perlu memencet Play Button di ingatan nya tersebut untuk dapat mengingat dan melihat video kejadian yang tersimpan di otak nya. Namun, jika dia tidak berkonsentrasi dan mencari ingatan tersebut dan menekan play button tersebut dia bahkan bisa melupakan ingatan nya itu, seperti sebuah folder yang jika tidak dibuka tidak akan kita ingat isi di dalam nya.
Malam itu dengan Analisis dan Hipotesis sederhana yang telah dia buat dalam beberapa kesimpulan, Tommy mulai merancang masa depan nya di kehidupan kedua nya ini.
**
Udara pagi yang dingin sekarang berhembus melalui ventilasi kamar, Tommy yang sedang asyik tidur itu menarik selimut nya semakin ke atas, menikmati udara sejuk yang dapat membuat semua orang betah tinggal berlama-lama di ranjang nya.
Tapi pagi ini dia bahkan tidak bisa bermalas-malasan dan bangun kesiangan, ibu nya terus saja menggedor pintu kamar nya, menyuruh nya untuk segera mandi dan sarapan karena dia harus pergi ke sekolah, Sang ibu tidak mau anaknya itu terlambat masuk sekolah hari ini, Sebab hari ini adalah hari pertama bagi anaknya untuk belajar di Sekolah Menengah Atas.
Dengan malas dia pun bangun dari tempat tidurnya dan bersiap berangkat ke sekolah, tidak seperti anak-anak zaman sekarang, yang pergi menggunakan sepeda motor bahkan mobil kesekolah, dia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki beberapa kilo meter, tapi bagi nya ini adalah pengalaman yang luar biasa yang bisa di ingat nya dan dialami nya kembali.
Mungkin karena di zaman itu kendaraan masih sangat mahal dan sangat sedikit diproduksi, belum lagi akses jalan yang belum merata di semua tempat. Jika pun ada memiliki sebuah kendaraan jelas dia mungkin menggunakan nya.
Dengan semangat membara dia pergi dengan mantap ke SMA baru nya tersebut, sebab dalam ingatan nya juga lah hari ini adalah hari dimana dia bertemu dengan Cinta Pertama nya dulu.
Dia tiba di sekolah tepat waktu dan segera memilih bangku dan meja seperti layak nya orang-orang yang baru masuk sekolah, Tommy jelas memilih meja paling depan dan berada di pojok kanan ruang kelas nya, karena dekat dengan pintu keluar. Alasan nya sederhana, sebab jika dia memilih meja paling depan dia bisa menyerap pelajaran dengan mudah dan dipaksa fokus memperhatikan guru yang mengajar, selain itu dia juga bisa merasakan semilir angin dari pintu kelas yang terbuka lebar sehingga tidak akan sering kepanasan saat belajar.
Dua puluh menit berselang, karena hari ini adalah hari senin semua siswa harus mengikuti Upacara Bendera, jadi semua orang di ruangan kelas itu pun bersiap dan melangkah ke lapangan sekolah, disana ternyata Tommy dipilih rekan-rekan nya sebagai pemimpin barisan untuk kelas nya tersebut, sebab bagi mereka tubuh Tommy yang tinggi besar dan terlihat gagah sangat cocok sebagai wajah perwakilan kelas IC yang mereka masuki sekarang, belum lagi wajah Tommy yang juga menarik.
Hari itu bahkan tidak mendung namun sedikit berangin, Tommy dengan gagah nya berdiri di pojok kanan paling depan di barisan kelas nya, seperti biasa semua pimpinan barisan ditunjuk untuk memimpin dan merapikan barisan nya sebelum upacara dimulai, Tommy pun melangkah ke depan barisan nya bersama dengan pimpinan barisan dari kelas-kelas lain nya.
“Siap Grak, Setengah lencang kanan Grak..”
Suara Tommy juga terdengar lantang dan kuat merapikan barisan nya, tetapi tepat pada saat itu sebuah angin kencang bertiup ke arah semua orang disana, bahkan kejadian itu menyebabkan beberapa rok anak perempuan bisa terangkat karena nya, namun bagi Tommy saat itu yang terlihat di pandangan nya hanyalah sesosok gadis cantik yang berdiri di deretan Kelas IA, seperti sebuah tayangan slow motion di Televisi yang pernah ditonton nya, kejadian itu pun terjadi di kehidupan nyata sekarang.
Rambut hitam dengan panjang sebahu, bergerak perlahan dan semakin kencang karena di tiup angin, membuat wajah cantik gadis yang dipandang nya tertutup oleh rambut nya sendiri, Wajah nya berbentuk oval sempurna dengan kulit putih mulus, Perlahan terlihat di mata Tommy gadis cantik itu membetulkan rambut nya yang sekarang acak-acakan akibat tiupan angin, adegan slow motion itu tidak bisa dipercepat. Jantung Tommy semakin berdetak kencang melihat gadis itu yang dengan tangan indahnya sedang membetulkan rambut acak-acakan tersebut.
“Ketua Kelas IC...”
“Pimpinan Barisan Kelas IC...”
Mata Tommy jelas seperti Elang yang memandang target nya dengan tajam, mengunci target tersebut dan siap untuk diterkam, dia tidak sadar bahwa kejadian hari itu adalah kejadian pertama paling memalukan bagi sejarah hidup nya.
“Pimpinan Barisan Kelas IC, Hey.. Murid yang masih berdiri didepan, segera kembali ke barisan.” Teriakan seorang guru itu, jelas terdengar semua orang di sekolah.
Lamunan nya terganggu, Tommy segera terbangun dari adegan slow motion yang dia lihat, bahkan dia tidak sadar belum mempersiapkan kembali barisan nya, semua tangan pasukan di barisan yang dipimpin nya pun masih di pinggang dan membentuk posisi setengah lengan lencang kanan, Semua pandangan seluruh sekolah pagi itu tertuju pada Tommy dan arah pandangan yang dilihat nya, bahkan gadis yang dilihat nya pun melihat nya balik yang sedang berdiri mematung didepan semua orang, sementara semua pimpinan barisan yang lain sudah kembali ke barisan nya masing-masing.
Dengan wajah memerah dan malu Tommy mempersiapkan kembali barisan nya, dia kembali dan menuju ke barisan nya, sehingga upacara bendara pagi ini dilanjutkan kembali.
Setelah upacara selesai semua orang kembali keruangan, ada beberapa kenalan Tommy di SMP yang mengenal nya kali ini mereka semua datang menghampiri nya di ruang kelas IC, mereka tidak akan membiarkan hal tersebut dilupakan dengan mudah, satu persatu teman-teman nya itu berkerumun di Kelas IC dan mulai menggoda nya, hari itu Tommy mendapat julukan baru yaitu, “Patung Bundaran.”
Mendengar itu, dia bahkan teringat cerita misterius di kota nya tentang Legenda Patung Bundaran, di Kota Air tempat Tommy menetap dan bersekolah, ada sebuah patung pahlawan daerah setempat, yang bahkan menjadi Icon Kota itu, tapi dibalik nya tersimpan berbagai cerita menyeramkan, Konon kata nya sosok pahlawan tersebut meninggal karena berjuang melawan penjajah, namun karena dia meninggal sebelum pernah sekalipun menikah jadi setiap gadis yang keluar di malam hari melewati patung bundaran tersebut, jika mereka menatap patung itu maka patung itu akan menatap balik.
“Woy..!!”
Sebuah suara teriakan keras membangunkan Tommy dari lamunan nya, suara itu berasal dari Viktor sahabat dekat nya di SMP, yang sekarang satu kelas dengan nya.
“Jangan Jadi Patung.” suara Viktor kembali terdengar sekarang bahkan Tommy segera memperhatikan sahabat nya itu.
“Guru mau masuk kelas, cepat persiapkan semua murid.” ucap Viktor kembali.
Mendengar itu Tommy terkejut, sejak kapan tugas ketua kelas itu disematkan kembali pada nya, tapi semua siswa yang dilihat nya di kelas itu tampak nya sudah berkoalisi kembali menyuruh nya mengambil posisi ketua kelas, dia segera memperhatikan sekitar dan terlihat seorang guru wanita di awal usia 40 tahunan terlihat memasuki kelas mereka, guru itu jelas masih sangat cantik, kulit nya putih dan memiliki gaya yang gaul mengikuti perubahan, namanya bu Yulia guru pertama yang mengajar hari ini, bu Yulia adalah guru Matematika di sekolah mereka.
“Berdiri... Beri Hormat.”
Setelah memberi hormat pagi ini pelajaran pun di mulai, saat pelajaran berlangsung yang Tommy kerja kan hanya menulis di buku catatan kecil yang telah dia persiapan, dia bahkan tidak memperhatikan guru cantik tersebut, sebab selain sudah mengetahui pelajaran yang diberikan sang guru dengan baik, dia masih terfokus pada tujuan hidupnya kali ini yang ada tertulis di buku catatan milik nya itu.
Sehingga pagi ini sampai pelajaran bu Yulia selesai yang dikerjakan Tommy hanya berpura-pura memperhatikan dan menulis buku catatan nya tersebut, di dalam buku itu ada tercatat daftar nama-nama guru yang menjadi target nya dan yang ingin dia copy memori nya, begitulah pelajaran pertama hari itu selesai dan tiba saat nya istirahat, langsung saja Tommy melesat menuju ke ruang guru.
Untuk mengejar kesuksesan nya rencana yang dia susun jelas sempurna, Tommy yang memiliki mental dan pemikiran seorang pria dewasa, jelas siap mendukung semua kerja keras nya ke depan, ini adalah anugerah yang tidak bisa di lewatkan nya begitu saja.
Di ruangan guru dia segera saja mendatangi Pak Suban yang adalah seorang guru Fisika, walaupun kepintaran nya sekarang lebih tinggi dari guru itu, karena Tommy merupakan lulusan MIT di Cambridge, tapi itu tidak menyurutkan niat nya mempelajari sifat dan kemampuan setiap guru nya serta menambah pemahaman lain terhadap orang-orang yang berada di sekitar nya, didepan guru tersebut Tommy langsung mengacungkan tangan nya.
“Halo Pak Suban, mohon maaf mengganggu waktu bapak aku Tommy Siswa kelas IC, salam kenal dan mohon bimbingan bapak ke depan.” Dengan sopan Tommy memperkenalkan diri nya.
Pak suban pun dengan linglung, dia menerima jabatan tangan dari murid kelas I yang sekarang berdiri didepan nya itu.
Syuuttt...
Dunia sekarang berputar, di dalam pandangan Tommy setidak nya itulah yang terjadi, selama 1-3 detik saat berjabat tangan dengan guru fisika nya tersebut, semua Pengetahuan, Pengalaman, Kejadian dan bahkan memori tergelap pak suban pun ikut masuk kedalam kepala nya, terlihat senyum tipis di bibirnya.
“Terima Kasih atas Ilmu yang telah bapak berikan, ke depan nya sekali lagi mohon bimbingan bapak.” ucap Tommy dengan senyum yang sekarang melebar di bibir nya.
Bahkan setelah itu dia segera pergi dari Ruang guru dan melangkah keluar menuju perpustakaan sekolah, meninggalkan pak suban dengan sejuta pertanyaan dikepala nya, bagi nya dalam satu hari dia hanya ingin menyalami sekitar 3 orang saja agar tidak terlalu membebani otak nya, sehingga hari ini mungkin target pertama nya adalah, Pak Suban.
“Apa yang sebenar nya anak itu inginkan?, hari ini aku masuk jam kedua jadi belum mengajarkan apa-apa, apa maksud nya berterima kasih.” Guru Fisika itu hanya menggaruk-garukan kepala nya yang tidak gatal, dia bergumam dalam hati sambil memandang Tommy yang melangkah keluar.
“Pak Suban apa yang Kalian berdua bicarakan?”
Tiba-tiba suara seorang guru olah raga menyadarkan pak suban, dia pun menjelaskan yang terjadi pada guru olah raga tersebut dan membuat guru itu tertawa dengan lantang.
“Ha ha ha.. pak suban, pak suban kamu sekarang menjadi target pandangan nya, awas hati-hati lo pak.” ucap guru olah raga tersebut.
“Apa maksud mu?” ucap pak suban bingung.
“Patung Bundaran, kamu tidak mengingat nya? itu loh murid yang tadi berdiri mematung di tengah lapangan upacara tadi pagi.”
“Oh pantas aku seperti mengenal nya.” ucap pak suban yang terheran-heran mengingat murid tadi.
**
Di lorong sekolah yang terbuat dari kayu, walau terlihat sudah usang, sebab bangunan tersebut merupakan bangunan yang di pugar kembali dari zaman belanda dulu menjajah. Tommy sekarang melangkah kan kaki nya menuju ke Perpustakaan sekolah, dia masih memiliki sekitar tiga puluh menit lagi waktu tersisa sebelum pelajaran jam kedua dimulai, jelas dia ingin ke perpustakaan, sebab di sini lah semua pengetahuan dan ilmu itu dapat diperdalam.
Walaupun dalam kepala nya sudah berada pengalaman hidup yang luar biasa dan dia memiliki otak yang pintar, jelas dia tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan kedua nya ini, dia harus memperdalam dasar-dasar ilmu yang dimiliki nya serta menambahkan segala pelajaran dan ilmu pengetahuan dasar yang tidak dia miliki di kehidupan pertama.
Saat melangkahkan kaki ke perpustakaan sekolah nya, Seorang penjaga perpustakaan berdiri menyambut nya di dalam perpustakaan tersebut, Jelas di sekolah ini tidak ada yang lebih cantik dari Gadis penjaga perpustakaan ini, karena dia adalah anak Blasteran Indonesia dan Australia, kecantikan nya bahkan bisa dikatakan adalah nomor satu di Kota Air tempat Tommy berasal, dia juga murid terpintar di SMA 1 tempat Tommy bersekolah sekarang, dapat dikatakan orang ini adalah rival satu-satu nya yang dapat menyaingi Tommy dalam kepintaran. Tapi dia tidak menganggap terlalu tinggi gadis cantik tersebut, sebab di hati nya sekarang sudah di isi oleh seorang gadis pujaan hati nya.
“Eh, Clara... gadis Elf ini masih seperti dulu, cantik dan misterius.” ucap Tommy dalam hati nya.
Tommy pun sempat melirik penjaga perpustakaan cantik itu, dalam ingatan nya gadis tersebut pergi ke Australia dan melanjutkan study di kota asal ibunya saat lulus dari SMA, menurut Tommy hari ini sedikit aneh, karena gadis cantik yang menjaga perpustakaan tersebut juga melirik ke arah nya, sebab setahu nya gadis itu sangat cuek kepada setiap pria, melihat orang pun dia bahkan malas, jadi nya sampai sekarang dia yang duduk di kelas III SMA pun, sama sekali tidak pernah berpacaran, tapi Tommy bahkan tidak memikirkan hal-hal lain, dia terus saja mengeluarkan semua buku-buku yang ada disana yang menurut nya wajib dipelajari dengan cepat.
Brukk..!! tumpukan buku-buku sangat banyak ditaruh nya didepan Clara.
“Aku harus cepat-cepat kembali ke kelas bisakah kamu mendaftar kan buku-buku ini atas nama ku secepatnya, ini kartu perpustakaan milik ku.” ucap Tommy yang menyerahkan kartu perpustakaan nya.
Kakak Kelas Cantik yang berada didepan Tommy itu pun hanya berdiam diri, dia tidak menjawab Tommy segera tapi dia hanya memandang ke arah pemuda didepan nya itu dengan pandangan sedikit aneh, melihat itu jelas Tommy merasa ada yang salah.
“Apakah ada yang salah dengan wajah ku?, mungkin kah aku bisa membuat hati kak Erla berdetak kencang melihat wajah ku” ucap nya mulai menggoda gadis cantik didepan nya itu.
“Eh, tidak ada, maaf kan aku.”
“Peraturan perpustakaan tidak mengizinkan untuk meminjam buku lebih dari sepuluh judul perhari, jadi ku sarankan kamu mengembalikan sisa nya segera.” ucap gadis yang ternyata biasa dipanggil Erla tersebut dengan nada sedikit dingin menyambut godaan Tommy tadi.
“Ah, aku sudah membangunkan singa yang tidur.” ucap Tommy dalam hati.
“Ayo lah Kak Erla, jangan sampai kecantikan kakak terkaburkan karena sifat pemarah kakak, bantu aku yah... yah... kali ini aja.”
“Aku perlu mempercepat pelajaran dan menambah ilmu pengetahuan ku untuk mengejar impian ku.” ujar Tommy memelas dan dengan tulus meminta pada Erla.
Jelas saja semua yang di katanya adalah benar, tujuan nya sekarang memang lah menggapai impian nya itu.
Nampak nya gadis cantik blasteran australia itu tidak bisa melawan wajah memelas dan ucapan tulus dari Tommy, sehingga dia memperbolehkan nya meminjam begitu banyak buku, dengan syarat buku-buku yang diluar hitungan gratis harus dibayar dengan sewa Rp.1.000/hari, tanpa pikir panjang lagi Tommy mengeluarkan uang tabungan nya yang selama ini menjadi bagian dari celengan ayam milik nya, dia pun mengucapkan selamat tinggal kepada uang di celengan ayam itu, memang uang itu hanya sebagian dari tabungan nya yang sudah dia kumpulkan sejak dia berada di kelas 4 SD.
“Bungkus nya pakai ini aja kak Erla, sini ku bantu bungkus kan buku-buku nya.” ujar Tommy lagi yang saat itu sudah mempersiapkan dua kantong kain besar.
Waktu menunjukkan pukul 10.57, ada sekitar tiga menit tersisa sebelum lonceng dibunyikan tanda jam pelajaran jam kedua dimulai, kali ini Tommy membawa buku-buku tersebut yang terbungkus di dua buntelan kain besar dengan susah payah kembali ke kelas, walaupun badan nya cukup bidang dan terbentuk, tapi karena bungkusan itu cukup besar dan berat dia menjadi agak kesusahan.
Melangkah masuk ke ruangan kelas nya, semua orang terdiam melihat Tommy, mereka di sana yang bersiap menunggu kedatangan guru yang mengajar di jam kedua, semua orang jelas terkejut melihat kelakuan Tommy tersebut, yang membawa buku-buku sangat banyak di hari pertama nya masuk sekolah.
“Hey Patung Bundaran, bisa baca buku juga ternyata.”
Hampir semua orang di kelas nya menertawakan kelakuan Tommy, namun karena mental nya yang sudah dibilang cukup dewasa jelas dia hanya diam saja tidak membalas ejekan teman-teman nya itu.
Pelajaran pun dilanjutkan setelah guru masuk ke kelas, Tommy seperti tadi dia hanya fokus mencatat ini dan itu, dia mencoba mencatat sebagian kejadian yang dialami pak suban, tanpa terasa beberapa jam pun sudah berlalu, hari ini setelah beberapa guru sudah selesai mengajar, pelajaran di hari pertama pun selesai, mereka semua bersiap pulang dan kembali ke rumah masing-masing.
Dengan susah payah lagi kali ini Tommy membawa buku-buku yang dipinjam nya dari perpustakaan tersebut, karena berat nya buku-buku itu bahkan bahu nya juga terasa sedikit keram, Saat hendak meninggalkan sekolah menuju ke Pintu Gerbang sekolah, dia melihat seorang gadis cantik berdiri didepan pintu gerbang sekolah nya. Yah, gadis itu adalah gadis yang tadi pagi dilihat nya saat upacara sekolah. Cinta Pertama nya.
Gadis cantik itu berdiri didepan gerbang sekolah dengan memegang beberapa buku di tangannya, kembali dia menatap gadis itu dengan tatapan penuh cinta dan perasaan yang mendalam, karena ingatan akan cinta pertama nya itu sungguh melekat di hati nya, Aneh nya setiap dia menatap gadis tersebut kembali angin kencang berhembus dan menerpa gadis itu, adegan Slow Motion pun kembali terjadi.
Whuzzz...
Angin itu menerpa wajah gadis yang sedang ditatap Tommy, rambut nya yang halus dan hitam mengkilap diterbangkan oleh angin tersebut, kibaran rambut indah dalam adegan slow motion itu pun kembali membuat dada Tommy merasa kan perasaan kagum dan kesempurnaan yang mengaduk juga menenangkan hati nya, gadis itu perlahan membenarkan rambut nya yang tertiup angin, jika di ibaratkan sekarang adalah seperti kejadian langka seumur hidup baginya, target nya itu bagaikan seekor rusa yang elok dan tiba-tiba berhenti didepan nya, kemudian dengan santai nya memakan rumput tanpa menghiraukan sekitar.
Jelas saja naluri pembunuh Tommy bangkit dia ingin membunuh rusa itu dalam sekali tembakan, dia segera merogoh tas miliknya dan mengambil sebuah Ikat Rambut dari sana, walaupun sebenarnya ikat rambut tersebut adalah milik ibunya dan hanya dia pakai sebagai pengikat alat tulis miliknya yang berantakan, sebab pagi ini dia tidak bisa menemukan karet gelang di rumah jadi dia mengambil ikat rambut baru milik ibunya itu, tapi siapa yang peduli bahkan dengan bambu runcing saja seorang pemburu dapat membunuh seekor Rusa dengan tembakan yang tepat di tubuh nya.
Dia maju perlahan mendekati rusa buruan nya tersebut, dengan acuh tak acuh dia pun menyodorkan Ikat Rambut tersebut ke gadis yang sekarang berdiri didepan nya itu.
“Jangan jadi seperti hantu yang membuat orang lain takut, setidak nya ikat rambut mu, agar tidak acak-acakan.” ujar nya dengan gaya yang cool khas seorang pria.
Aneh nya gadis itu pun mengambil ikat rambut yang diberikan Tommy, walau sebelum nya dia sempat menatap tommy sebentar sebelum mengambil ikat rambut itu.
Dengan gagah Tommy melangkahkan kaki nya segera meninggalkan gadis tersebut tanpa berbicara lebih banyak, walaupun beban nya berat sekarang, karena buku-buku yang dia bawa, tetapi sekuat tenaga dia menahan beban tersebut karena dia yakin gadis tadi masih terus memperhatikan nya dari jauh, saat sudah berada cukup jauh dari sana teman-teman nya segera menggoda Tommy kembali.
“Uh, Gentlemen memang berbeda.”
“Naluri lelaki ku meraung-raung melihat kejadian tadi, aku berharap juga mendapat keberanian seperti mu, bisa memberikan sesuatu secara langsung kepada gadis yang ku suka.”
“Tom, kamu naksir ya sama Icha?”
Bang..!!!
Mendengar ucapan kawan-kawan nya itu, jantung Tommy tiba-tiba berdetak kencang, setiap aliran darah nya berlari lebih cepat seperti sedang melakukan sprint dan memompa lebih kencang darah-darah yang berasal dari jantung nya tersebut menuju bagian wajah dalam hitungan detik merubah wajah nya menjadi merah, bagaikan ditembak oleh sebuah senjata, perkataan salah satu teman nya itu menyadarkan nya, memang dia mengetahui nama gadis itu tapi seperti ada sesuatu yang memblokir pikiran nya dari tadi pagi, dia tidak sedikit pun memikirkan nama gadis itu.
Dia kembali mengingat nama gadis itu, Arissa Cloud panggilan sehari-hari nya adalah Icha, di kehidupan sebelum nya Tommy bahkan tidak berani mengajak gadis itu berbicara, memang kejadian hari ini terulang kembali seperti dulu, tapi karena Tommy malu atas kejadian saat Upacara Bendera waktu itu, jadi dia enggan menatap Icha, bahkan memberikan Ikat Rambut itu pun dia tidak berani karena malu.
Kejadian sekarang jelas berbeda, dia yang memiliki mental pria dewasa sekarang, lebih menganggap kejadian hari ini adalah biasa dan tidak membuat nya malu seperti dulu.
Jantung nya yang berdetak kencang tadi saat menatap icha pun dapat diatasi nya, dia bahkan melangkah dengan percaya diri sekarang, Tommy menyadari sesuatu hari ini, bahwa setiap Kehidupan Itu Berharga, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan lagi kehidupan nya ini, sambil mengingat perkataan teman nya itu hari ini dia menambahkan satu tujuan hidup nya lagi agar lebih berwarna, yaitu mengejar sebuah Cinta yang dia rasakan.
“Kamu Naksir ya sama Icha..??” Perkataan teman nya itu pun terngiang di kepala nya sepanjang perjalanan pulang nya.
End-