Senyuman tipis masih saja bertengger apik di wajah Aira sejak pelajaran berlangsung. Bukan karena Aira sukai pelajarannya, namun karena gurunya. Beberapa kali dirinya curi pandang pada guru muda pengajar sejarah yang terkenal killer. Ya, biar memang killer bukan berarti tidak baik. Buktinya, Aira sampai jungkir balik buat atasi perasaannya.
"Pelajaran kali ini cukup sampai disini. Persiapkan diri kalian untuk hadapi ujian terakhir kalian sebagai siswa SMA." ucap Ian-guru sejarah-menutup kelas.
"Baik pak!"
"Pastikan beri yang terbaik untuk penutup kisah kalian di sekolah ini! Oh, dan Aira Isabella, silahkan temui saya di ruangan saya!"
Mendengar nama Aira disebut buat seisi kelas heboh. Semua teman Aira harap-harap cemas akan nasib yang akan menimpanya. Sebisa mungkin Aira tenangkan dirinya meski itu semakin buatnya gugup.
Dengan langkah pelan Aira berjalan menuju ruangan Ian. Ruangan Ian terpisah dari ruang guru dengan jarak yang cukup jauh. Karena itu Aira semakin berat untuk langkahkan kakinya untuk temui sang guru killer itu.
Tok.. tok.. tok
"Permisi pak, saya Aira."
"Silahkan masuk, Aira."
Segera Aira masuki ruangan Ian begitu lelaki dingin itu mempersilahkannya. Aira langsung duduki sofa yang tersedia di tengah ruangan saat dengar instruksi Ian. Mata Aira memandang segala penjuru ruangan hingga pandangannya berhenti pada objek yang begitu menariknya.
Ian. Lelaki itu masih duduk di kursi dengan tumpukan buku di depannya. Aira terpaku menatap lelaki itu hingga tak sadar jika yang ditatap balik memandang dirinya.
"Lihat apa?" tanya Ian membuyarkan lamunan Aira. Jantungnya langsung berdebar kencang kala terpergok pandangi Ian. Langsung saja Aira tundukkan kepalanya, berharap Ian tak sadari rona merah di pipinya.
Melihat tingkah Aira lantas buat Ian terbitkan senyuman manis di wajahnya. Segera dirinya bangkit dan duduk di depan Aira yang masih enggan untuk angkat kepalanya.
"Aira, kenapa nunduk? Saya udah di depan kamu lho, nggak mau natap saya lagi?" ucap Ian dengan suara rendahnya.
"Sa-saya dari tadi nggak natap Pak Ian kok!" jawab Aira dengan suaranya yang menggebu. Dirinya begitu malu karena ucapan guru killernya itu.
"Cukup berani ternyata."
"Ma-maaf pak, saya tidak berniat buat bentak Pak Ian tadi."
"Hm, kamu anak pertama yang berani tinggikan suara di depan saya."
Kepala yang tadi telah terangkat, kini kembali tertunduk seperti semula. Bahkan kali ini lebih dalam. Perasaan Aira begitu tercampur aduk saat ini. Apalagi mendengar suara berat dan dalam milik Ian, semakin buat Aira gemetaran.
Suasana tiba-tiba terasa begitu canggung. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing yang sedang berkelana.
"Ekhm," adalah Ian yang pertama kali pecah keheningan antar keduanya "Aira, ada yang mengatakan jika dua manusia yang diam-diam saling melangitkan nama dalam doa mereka, in syaa Allah, keduanya benar-benar akan bersanding bersama."
Aira merasa bingung kala mendengar ucapan Ian yang terdengar aneh baginya. Perlahan Aira angkat kepalanya untuk menatap gurunya itu. Hal pertama yang pandangan Aira tangkap adalah senyum lembut Ian dengan pandangannya yang terasa hangat.
Melihat itu lantas buat jantung Aira semakin berdebar tak karuan. Ini pertama kalinya Aira tatap senyuman lembut dari sosok dingin nan killer itu.
"Aira, apa pernah dengar hal seperti itu?" tanya Ian lembut.
"I-iya, saya pernah dengar, pak." jawab Aira lirih. Aira tak tahu kemana arah pembicaraan lelaki di depannya ini. Sungguh, otak Aira mendadak berhenti lantaran denyut jantungnya yang semakin tak karuan.
"Ah, maaf, saya buat kamu bingung. Saya hanya ingin sampaikan ke kamu, nanti setelah maghrib saya akan mampir buat bertemu orang tua kamu."
Kedua bola mata Aira langsung membola kala mendengar ucapan Ian. Aira rasa, dirinya tak buat urusan apapun dengan guru sejarahnya ini. Pun semua nilainya tidak ada yang anjlok.
"Hahaha, tenang Aira, saya datang untuk silaturahmi, bukan buat laporin perbuatan kamu yang sering curi pandang ke saya tiap kali jam sejarah dimulai."
Rona merah langsung menjalar di kedua pipi Aira. Dirinya begitu malu lantaran selama ini Ian ketahui kebiasaannya tiap kali pelajaran sejarah dimulai. Ah, Aira benar-benar ingin menghilang sekarang!
"Begitu ya pak, nanti saya sampaikan ke orang tua. Kalau begitu saya pamit ya, pak." tanpa menunggu jawaban Ian, Aira langsung berdiri dan bergegas untuk tinggalkan ruangan itu.
Saat Aira akan membuka pintu, tiba-tiba suara Ian hentikan pergerakan. Lelaki itu layangkan sebuah pertanyaan yang membuat Aira semakin tak karuan.
"Aira Isabella, apa nama saya pernah terselip dalam doamu barang hanya sekali?"
Aira rasakan pasokan udaranya yang tiba-tiba terasa menipis. Sungguh, ini pertanyaan yang begitu diluar dugaan Aira. Dirinya hanya termenung tanpa suara yang lantas buat Ian khawatir.
"Aira?"
Mendengar namanya dipanggil buat Aira angkat pandangannya. Matanya bersibobrok dengan netra kelam milik Ian. Dengan pelan, Aira anggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ian.
"Ya, nama anda seringkali terselip dalam doa saya."
"Jadi begitu," suara Ian ikut melirih kala mendengar jawaban Aira, "kalau begitu, itu artinya kita saling mendoakan, melangitkan nama di atas langit yang sama." Lanjut Ian dengan senyumannya.
Aira tak kuasa lagi untuk berada didekat Ian. Dirinya langsung keluar tanpa memandang wajah Ian. Jantungnya bisa-bisa meledak jika harus terima kata-kata manis dari bibir Ian. Tanpa menunggu lagi, segera Aira langkahkan kakinya menuju rumah untuk istirahatkan dirinya yang terasa begitu lelah.
***
Aira begitu membeku ketika menatap kedatangan Ian dengan orang tuanya. Ya, Ian datang bersama ayah ibunya! Tentu saja hal itu buat Aira keheranan. Terlebih lagi bundanya tampak begitu akrab dengan ibu Ian.
"Kedatangan kami kesini pastinya sudah bisa tertebak, iya kan Nak Aira?"
Mendengar ucapan ayah Ian semakin buat Aira bingung. Dirinya pandangi orang tuanya yang hanya menatapnya balik dan berikan senyuman lebar. Aira rasa, hanya dia seorang yang tidak ketahui maksud dari pertemuan ini.
"Maaf om, tapi Aira tidak tahu." ucap Aira lirih. Mendengar Jawa Aira lantas buat para orang tua tertawa.
"Walah, orang tua kamu belum bilang ya?"
Aira hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Aira rasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan orang tuanya.
"Jadi begini Nak Aira, putra kami, Ian Delanggra, ingin melamar kamu sebagai pasangan dunia akhiratnya. Apa Nak Aira bersedia?"
Dunia Aira terasa berhenti berputar kala mendengar perkataan yang meluncur dari bibir ayah Ian. Jantungnya berdegup kencang hingga buat kedua tangannya gemetar. Dengan pelan, Aira alihkan pandangannya menuju Ian yang tengah tatapinya dengan begitu lembut.
"Kamu tidak sala dengar, Aira. Saya memang berniat untuk nikahi kamu begitu kamu lulus. Jika kamu ingin melanjutkan kuliah, maka saya siap untuk menanggung segala biaya untuk penuhi kebutuhan kamu." jelas Ian tanpa melepas tatapannya pada Aira.
"Ta-tapi kenapa? Pak Ian yakin dengan saya?" tanya Aira dengan lirih. Dari perkataanya terselip rasa keraguan setelah dengar penjelasan Ian.
"Dua orang yang diam-diam saling memendam, merayu tuhan untuk dipersatukan lewat doa yang dilangitkan. Dan saya yakin, doa kita saling berjumpa di atas langit sana hingga buat saya berada di hadapannyamu saat ini," ucap Ian dengan senyuman lembutnya, "jadi, Aira Isabella, maukah kau menerimaku sebagai pendamping hidupmu?"