Pagi itu terasa sangat panas sekali. Ardi yang masih terlelap seperti tidak peduli waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Seharusnya Ardi sudah berada di Sekolah, tetapi mungkin karena dia sudah begadang mabar 'Push Rank PUBG' sama temannya, sehingga dia terlihat tidak peduli lagi kalau, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Ibunya datang masuk ke kamar untuk membangunkan Ardi. Tetapi, dia masih saja terlelap tidak peduli lagi.
"Lek, bangun to, lek. Ini sudah setengah tujuh, masih aja tidur kamu, nak," Ucap ibunya sambil membangunkan Ardi
"Ahh, nanti aja, buk. masih.....waduh, jam berapa, buk sekarang?" Balas Ardi terkejut
Ardi pun langsung bergegas mandi dan berpakaian pakaian sekolah. Ardi pun pamit kepada ibunya.
"Buk, Ardi berangkat dulu, buk. Assalamu'alaikum." Ucap Ardi sambil menyalami tangan Ibunya.
"waalaikumsalam, hati-hati ya, nak." Balas Ibunya.
Sesampainya di Sekolah terlihat pagar sudah tertutup dan Ardi menanyakan kepada Satpam di sana.
"Pak, sudah bel jam upacara ya pak?" Tanya Ardi
"Iya, nak. sudah jam upacara, sudah mau selesai." Jawab Satpam Sekolah
"Pak, boleh masuk gak, tadi soalnya di jalan macet, pak." Mohon Ardi agar bisa masuk.
"Ya sudah, tapi tahu kan, kalau terlambat gimana?" Balas Satpam itu
Ardi pun masuk Sekolah terlambat dan mendapati hukuman. Di Kelas, Ardi dikenal sebagai Anak yang pintar, tapi suka ceroboh. Ardi sudah kenal lama dengan Anton. Anton juga dikenal sebagai Anak yang tidak pintar-pintar banget m, tapi berasal dari keluarga konglomerat yang kaya raya.
****************
Dua tahun kemudian, Ardi pun sudah melanjutkan ke Perguruan tinggi negeri di Bandung. Dia mengambil jurusan Ilmu Hukum dan sejak duduk di bangku Kuliah, Ardi sangat suka yang namanya mendaki Gunung. Dia sudah membeli banyak peralatan untuk mendaki sampai-sampai Ibunya kesal karena anaknya selalu membeli barang yang menurutnya tidak penting. Tetapi, Ardi selalu bilang ke Ibunya, kalau ini penting karena yang dibeli Ardi adalah peralatan mendaki.
"Lek, kamu ini mengapa sih selalu beli barang yang tidak penting?" Tanya ibu Ardi dengan nada kesal.
"Gini toh, budhe. ini peralatan untuk mendaki. Ardi beli ini karena sudah menjadi hobi Ardi, budhe." Jawab Ardi
"Yoh, mau kamu mati konyol karena hipotermia? sudah banyak loh korbannya." Balas dan tanya Ibu Ardi.
"Insyaallah, nggak toh, budhe. Ardi selalu berdoa biar selamat sampai tujuan." Balas Ardi.
"Ya sudah, hati-hati ya, nak. Kalo, mau melakukan sesuatu itu harus berdoa dulu." Ucap Ibu Ardi.
Ardi pun kembali masuk ke Kamarnya dan bersiap packing pakaiannya dan mempersiapkan barang dan peralatan mendaki. keesokan harinya, Ardi pun pamit dengan ibunya karena, mau berangkat ke Malang.
"Budhe, Ardi pergi dulu, yoh, budhe. Assalamu'alaikum." Pamit Ardi ke ibunya.
"Waalaikumsalam, hati-hati, yah nak." Ucap ibunya.
Dari Bandung ke Malang memakan waktu 7-8 jam dengan menggunakan mobil. Tetapi, Ardi lebih memilih menggunakan Kereta. Di perjalanan, Ardi tidak sengaja bertemu dengan Anton sahabat lamanya sejak kecil.
"Woy, bro. waduh udah kurusan aja, lu." Ucap Anton saat kaget bertemu dengan Ardi di Kereta.
"Widih, Anton. udah lama juga gak bertemu nih kita." Balas Ardi yang juga kaget.
"Mau kemana bro, tumben lu banyak bawaannya?" Tanya Anton yang heran melihat Ardi membawa barang yang banyak.
"Ooh, masak lu gak tahu sih....kan kereta kita sama, bro." Jawab Ardi
"Ooh iya yah, haha." Balas Anton
Sesampainya di Stasiun Malang, Malang. Anton pun bertanya kepada Ardi.
"Bro, lu mau ngapain di Malang, bro?" Tanya Anton.
"Gua mau mendaki Semeru, bro-ku." Jawab Ardi sambil bisik-bisik.
"Kalo, gitu barengan aja, bro. gua juga mau mendaki Semeru dengan teman gua, bro." Balas Anton
"Wah, boleh juga, bro. gua ikut elu, dah." Balas Ardi lagi.
Ardi dan Anton pun langsung menuju ke Rumah Andi, temannya Anton.
Sebelum pergi ke Rumah Andi, Mereka berdua pergi makan di Rumah makan yang terkenal di Malang, namanya Rumah Makan Kertanegara.
"uenak poll, bro. elu tahu tempat makan ini darimana, bro?" Tanya Ardi penasaran.
"waktu itu, bro. aduh, lupa gua....oh ya, saat lagi liburan dengan keluarga, kata bapak gua, ada tempat makan yang enak dan terkenal disini, bro." Jawab Anton
"yaudah, gua aja yang bayar.... hitung-hitung elu udah ngasih tahu tempat makan ini." Tawar Ardi untuk membayar makanannya
"eh, gak usah repot-repot, bro." Tolak Anton dengan halus
"udah gak apa-apa, mbak, berapa jadinya?" balas ke Anton dan tanya Ardi ke pelayan
"jadinya 85.000 totalnya, kak." jawab pelayan tersebut
"oke, nih uangnya. udah yok, lanjut lagi perjalanan kita."
Mereka pun melanjutkan perjalanannya. Kebetulan Rumah Andi dekat dengan Gunung Semeru, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menuju ke Basecamp pendakian. Ardi dan Anton pun sampai di Rumah Andi saat petang hari. Ardi pun langsung mengambil barang bawaannya dan peralatan untuk mendaki.
"wey, bro. apo kabar kau?" tanya kabar oleh Andi
"baek, kance-ku." jawab Anton dengan logat bahasa Palembang
"ini siapo, nang? kawan kau?" tanya Andi melihat Ardi membawa barang yang banyak
"kenalkan gua Ardi. teman lamanya Anton." jawab Ardi
"Andi, eh, silahkan masuk ayo....ayo." Suruh Andi
"ngapo kalian nak daki Semeru ee?" Tanya Andi
"iyo, lor. Aku dengan Ardi rencanonyo nak daki Semeru." jawab Anton
"aii, dak ngajak-ngajak kau nih....ikut oo aku jugo galak nah." balas Andi yang terlihat kepingin ikut daki Semeru
"Rencananya kami akan lewat jalur Ranu Pani, sehingga bisa sekaligus melihat keindahan di Ranu Kumbolo nanti." Ujar Ardi menunjukkan rencana jalur pendakian
Ardi, Anton, dan Andi pun istirahat untuk melanjutkan pendakiannya besok. oh ya, hampir lupa. Andi adalah anak muda yang suka mendaki sejak duduk di SMA. Gunung yang paling sering dia daki adalah Gunung Semeru, yah karena dekat dengan Rumahnya, sehingga dia tahu seluk beluk di Gunung tersebut dan dia juga lahir di Palembang.
Jam menunjukkan 2 pagi dan saat itu terlihat Anton dan Andi sudah terbangun untuk mempersiapkan pendakian nanti pagi. Anton menghitung kebutuhan makanan dan minuman saat mendaki nanti dan ternyata Anton pun salah perhitungan. Makanan yang dibawanya nanti tidak cukup. tetapi, kata Andi bisa membelinya saat perjalanan nanti. Melihat itu, Ardi pun terbangun dari tidurnya dan bertanya dalam keadaan masih mengantuk.
"Mengapa, bro?"
"Ini gua salah hitung....kita bisa-bisa kekurangan makanan." Anton pun menjawabnya.
"Udah tenang aja, di dekat Basecamp nanti ada Tempat Makan dan kek Minimarket." Andi pun membalas
mereka pun sebelum pendakian melakukan. sholat tahajud dan subuh dan setelahnya melakukan perjalanan ke Basecamp. Sesampainya di Basecamp, mereka pun melakukan Registrasi dan menunggu sampai jam 6. Mereka berencana akan nekat langsung melakukan dalam satu hari dapat sampai ke puncak, setidaknya sampai ke Ranu Kumbolo saat petang dan bermalam di sana lalu, dilanjutkan Summit Attack ke puncak. Setelah selesai Registrasi, Mereka pun langsung menuju ke Ranu Pani, tempat pos pemeriksaan terakhir sebelum memulai pendakian ke puncak. saat itu, mereka sampai ke Ranu Pani, jam sudah menunjukkan 5.45 pagi, sehingga masih ada waktu untuk memeriksa barang, peralatan, dan persediaan makanan dan minuman. Di rasa sudah cukup dan siap. Mereka pun berdoa agar dapat diberikan keselamatan dan kemudahan selama mendaki nanti. sebelum memulai mendaki mereka pun Briefing dulu dan diberi tahu mitos, larangan bagi para pendaki. pendakian pun dimulai, untuk menghilangkan rasa bosan Ardi pun yang kebetulan membawa Bluetooth Speaker, memutar lagu favorit para pendaki, yaitu Mahameru, ciptaan Dewa 19. jalanan di sana masih belum menanjak dan terjal, sehingga mereka dapat sampai lebih cepat. saat itu jam masih menunjukkan di 6.25, masih cukup untuk beristirahat di selama 20 menit agar otot tidak tegang. 20 menit kemudian, mereka melanjutkan perjalanan menuju pos 2. tekstur tanah di pos 1 dan pos 2 berbeda, pos 1 yang jalurnya masih batu konblok dan pos 2 jalurnya yang sudah berubah yang dari batu konblok menjadi tanah dan hanya memakan waktu +- 45 menit. Mereka pun langsung melanjutkan pendakian ke pos 3 dan beristirahat di sana. Pendakian menuju pos 3 memakan cukup banyak energi, walaupun jalannya hampir sama dengan pos 1 ke pos 2, tetapi sedikit lebih panjang dan memutar. Pepohonan lebat menghiasi bagian kiri dan kanan jalan. Sesekali burung-burung terlihat terbang dari pohon satu ke pohon lainnya. Pemandangan kota Malang pun terlihat dari atas sini. waktu tempuh dari pos 2 ke pos 3 memakan waktu selama +-1,5 jam. Setelah akhirnya, sampai di pos 3, mereka pun langsung beristirahat selama 30 menit.
"entar, bro.......capek gua." Ucap Anton sambil tersengal-sengal
"iya, nih. Kita istirahatnya 30 menitan aja lah ya." Ucap Ardi yang juga kelihatannya capek
Mereka pun beristirahat selama 30 menit dan langsung melanjutkan pendakian. Ardi melihat jam dan ternyata masih pukul 9.48, masih terbilang cukup cepat untuk sampai ke Ranu Kumbolo. Jalan dari pos 3 ke pos 4 sedikit lebih menantang karena di sana akan dimulai dengan tanjakan yang sangat curam dan memakan banyak energi. saat itu pandangan menjadi berkurang dikarenakan kabut tebal turun, sehingga harus ekstra hati-hati. Saat itu, Ardi tertinggal cukup jauh dan dia merasa ada yang mengikuti dari belakang. bulu kuduknya berdiri merinding dan mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal. saat berhenti sejenak, Ardi sempat menoleh ke belakang dan...........di pandangannya terlihat mbah Kunti yang sedang duduk manis di ranting pepohonan. Ardi kaget dan mematung.
****************
"Dimana, ya, anakku?" tanya Ibu Ardi dalam hati
Ibu Ardi cemas saat tidak bisa menghubungi anaknya itu. Mereka terakhir berbicara saat Ardi, Anton, dan Andi masih berada di Pasar Tumpang. Bahkan, gelas yang di pegang Ibu jatuh dan pecah, sehingga menimbulkan perasaan yang tidak enak. Ibu Ardi menelpon beberapa kali tapi, tidak ada balasan maupun respon dari Ardi. Itulah yang dirasakan oleh ibunya saat khawatir dan cemas terhadap keadaan Ardi di sana.
****************
kembali lagi. Ardi saat itu ingin menjerit tetapi, tidak bisa lantaran sangking kagetnya dan membuat dirinya mematung. Ardi berdoa dalam hati agar pandangan didepannya cepat menghilang. Ardi pun mengedipkan matanya dan seketika mbah Kunti pun hilang dan dirinya sudah tidak lagi mematung. Ardi pun melanjutkan perjalanannya dan bertemu dengan Anton dan Andi yang khawatir dengan Ardi yang tiba-tiba menghilang.
"Elu kemana aja sih?" Tanya Anton dengan cemas dan sedikit kesal
"Hah, nggak, bro. Gapapa." Jawab Ardi sambil terbata-bata
"yaudah, lanjut lagi, nih udah jam 10.15 sekarang." Ucap Andi
Mereka pun melanjutkan pendakiannya, akhirnya mereka sampai di pos 4. Mereka pun sempat terlelap hampir 1,5 jam. saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 siang. Mereka juga menyempatkan untuk sholat dzuhur di sana dan mereka melanjutkan pendakian di jam 1.35. Mereka pun mempercepat pendakian agar dapat melihat keindahan Ranu Kumbolo. jarak tempuh dari pos 4 ke Ranu Kumbolo tidaklah lama, hanya membutuhkan kurang lebih 30 menit. Perjalanan dari Pos 4 ke Ranu Kumbolo pun mulai berubah. Jalur tidak lagi menanjak. Mereka pun tambah semangat saat Ranu Kumbolo sudah berada tepat di depan mata. Mereka memutuskan untuk bermalam di Ranu Kumbolo. Mereka pun melepaskan penat dan lelahnya pendakian dengan dilihatkan Matahari berada di puncaknya dan keindahan alam Ranu Kumbolo.
Anton yang saat itu membawa pancingan, memutuskan untuk memancing di danau sana.
"bro, gua mau mancing dulu, ya." Ucap Anton seraya pergi keluar dari tenda
"woy, ngapain elu mancing di sana, bukannya mancing di sana tidak diperbolehkan." Balas Ardi yang cepat-cepat mencegah Anton untuk memancing
"lah, emangnya kenapa, cuk?" Tanya Anton heran
"kan udah dikasih tahu saat Briefing tadi, dilarang memancing di Ranu Kumbolo. karena dipercaya di sini terdapat dewi yang berubah menjadi ikan." Jawab Ardi
Memang orang-orang sekitar mempercayai bahwa ikan di Danau Ranu Kumbolo adalah titisan dewi. Jam ashar pun tiba dan mereka telah melaksanakan sholat Ashar. Untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuh, maka Ardi sudah membawa bola sepak dan mengajak Anton dan Andi untuk bermain.
"Bro, ayok main bola.....kebetulan gua bawa bola sepak, nih." Ajak Ardi
"Widih, mantep, bro. ayok dah."
saat sedang asyiknya bermain bola. Ardi melihat pendaki wanita cantik yang juga baru sampai di Ranu Kumbolo. sampai-sampai Ardi dibuat melamun olehnya dan tidak melihat ada bola mengenai tubuhnya.
"matamu, bisa lihat opo kagak sih." Ucap Ardi kesal
"Elu sih, ngelamun...." Balas Anton
Mereka pun melanjutkan bermain bola dan Ardi sengaja menendang bola ke arah gadis cantik tersebut.
"eh, biar gua aja yang ambil bolanya." Tawar Ardi
Ardi sengaja menendang bola ke arah gadis tersebut sekaligus dapat berkenalan dengannya.
"ehhm, maaf ya. Tadi gak sengaja nendang bola ke arahmu." Ardi pun meminta maaf
"eh, iya gapapa." Ucap gadis itu
"Bolehkan saya berkenalan denganmu? Namaku Ardi." Tanya Ardi sekaligus memperkenalkan diri
"Namaku Putri. Senang berkenalan denganmu."
"Oh ya, tenda kami ada di sana, kalau kalian butuh sesuatu tinggal datang aja ke tenda kami." Tawar Ardi untuk membantu
"Woooy, bolanya mana. Lama amat sih ngemodusinnya." Jerit Andi
"Iya...iya, sabar dikit aja napa sih." Balas Ardi
Ardi pun kembali ke tendanya dan melanjutkan permainan bola. malamnya setelah isya', Ardi mencoba mencari sinyal dan sinyal di sana cukup baik. Ardi pun langsung melihat Notif dan terlihat ibunya sudah menelepon lebih dari 20 kali. Ardi pun langsung menelepon ibunya dan mengabarkan kalau, dirinya baik-baik saja.
"Assalamu'alaikum, budhe. Ini Ardi." Salam Ardi dari telepon
"Waalaikumsalam, nak, kamu kemana aja sih, nak.....ibu nelpon kamu tapi, kamu gak angkat-angkat." Salam balas dari ibunya
"Alhamdulillah, Ardi. Baik-baik aja, buk. Tadi nggak ada sinyal, jadi gak tahu kalo, ibu nelpon." Balas Ardi
"Alhamdulillah, kalo gitu. hati-hati ya, nak di sana. Kalo, ketemu cewek....kenalin ke ibu, yaa." Ucap ibu yang senang mendengar anaknya baik-baik saja
"ahh, ibu. Ada-ada aja. ya udah, buk. Ardi mau tidur dulu untuk lanjut lagi nanti pagi. Assalamu'alaikum." Tutup Ardi
"Waalaikumsalam, nak." Balas salam dari ibunya
Ardi pun kembali ke tenda dan disapa oleh Putri, pendaki yang berasal dari rombongan lain.
"Hai, belum tidur kamu?"
"oh hei, Put. Belum nih."
"kalian juga mau lanjut naik lagi atau udah mau turun?" Tanya Putri lagi
"kami nanti lanjut naik lagi, Put." Jawab Ardi
"oh, sama dong....."
"eh, Put. Boleh minta no WA kamu gak?"
"boleh nih. 0812 98xxxxxx."
"oke, nih. Makasih yah."
percakapan mereka pun selesai dan kembali ke tendanya masing-masing. Sekarang sudah tengah malam, terlihat tidak ada aktivitas manusia di luar tenda, hanya suara hewan dan hembusan angin. paginya, mereka akan melanjutkan pendakian. Ardi terbangun dan melihat jam yang sudah menunjukkan 8.35 pagi. Dia bangun kesiangan. Ardi pun langsung bergegas membangunkan Anton dan Andi.
"Bangun...bangun, udah kesiangan kita."
"Aduh, ntar....aah."
"Liat jam woy....kita udah kesiangan, su." Balas Ardi dengan kesal
"waduh, astaghfirullah....udah siang. Ton....bangun Ton." Ucap Andi dengan kaget dan langsung membangunkan Anton
Ardi, Anton, dan Andi pun langsung bergegas mengemas dan melipat tendanya. Terlihat rombongan Putri juga kesiangan, sehingga Ardi mengajak untuk bergabung dengannya.
"Put, sepertinya kalian juga kesiangan nih. Gabung dengan kami aja....kamu juga mau lanjut naik lagi." Tawar Ardi
"Bro, elu ngajak mereka gabung, ya?" Tanya Anton
"iya, bro. Mereka juga mau lanjut naik lagi.....sekalian aja, ya kan." Jawab Ardi
"oo ya sudah, itu cantik juga ya, hehe. Moga langgeng ya, bro." Ucap Anton
"Apaan sih, bro. udah ah ayo, lanjut keburu siang nanti." Balas Andi
Rombongan Putri pun bergabung dengan Ardi, dkk. Andi pun memimpin rombongan, ya karena sudah pengalaman. Putri berada di depan Ardi dan Ardi sendiri berada di depan Anton. Ardi sempat bertanya dengan Anton.
"Ton, elu kenal dengan Andi darimana sih, Ton?" Tanya Ardi penasaran
"ooh, waktu itu......
****************
17 Tahun lalu.....
"Nak, ayo udah mau terlambat...."
"iya, ma....." Ucap Anton dengan lesu
Anton dan keluarganya, saat itu akan berangkat ke Manchester, Inggris. Mereka pun bergegas menuju Bandara karena jadwal keberangkatan 6.30 pagi dan mereka baru pergi jam 5.40. Di perjalanan, papanya Anton menerima telpon dari rekannya kalau, penerbangan ke Manchester ditunda selama 1,5 jam, sehingga masih ada waktu untuk menuju ke Bandara. Sesampainya di Bandara SMB II, Palembang, mereka pun langsung Check-in dan langsung menuju Ruang tunggu. Saat menunggu, Anton melihat ada satu keluarga yang kelihatan bingung dan kesal.
"yah...ayah, yok kita samperin tuh."
"iya, ya...."
Anton dan ayahnya menghampiri keluarga tersebut.
"Assalamu'alaikum, maaf menganggu, sepertinya kalian kelihatan bingung." Ucap Ayah Anton
"Iya, pak. Bagaimana gak bingung dan kesal. lah kami ditinggal Pesawat."
"Oh iya, maaf belum perkenalkan diri. Perkenalkan saya Herman dan ini anak saya, Anton." Ucap ayah Anton
"Iya, aku Suhardi dan ini anak saya Andi."
"Senang berkenalan dengan kalian."
8 tahun kemudian.......
"Bro, aku caknyo dak nyambung lagi di SMA sini, soalnyo aku melok bapak aku ke Bandung." Ucap Anton dengan logat Palembang dari telepon
"Ayy, lamo gek caknyo kito dak temuan." Jawab Andi
"Idak do, sekabaran b kito agek. Kabarnyo kau jugo nak pindah, kan?"
"Rencanonyo, kami pindah ke Jogja." Jawab Andi
"Nah, makonyo kito sekabaran be agek. Biar tahu kau la dimano...." Balas Anton lagi.
****************
"......Seperti itulah." Ucap Anton seingatnya
"Oooh, panjang juga, ya." Balas Ardi
"Sekarang kita ada di Tanjakan cinta. Gua saranin, gak usah menoleh ke belakang, mengapa? karena yang nggak menoleh ke belakang katanya hubungan kalian dengan siapapun itu akan langgeng." Ucap Andi yang seperti Tour Guide.
"bang, kalo jomblo gimana, bang?" Tanya Ardi dengan nada candaan
"yaaa, berdoa semoga dapat jodoh dan langgeng sampe pelaminan." Jawab Andi juga dengan nada candaan
Mereka pun berusaha melewati tanjakan curam tanpa menoleh ke belakang. Setelah melewati Tanjakan cinta yang katanya 'bisa membuat langgeng hubungan' sekarang berusaha melewati Oro-oro Ombo. Oro-oro Ombo ialah padang yang luas dimana berisikan rumput, pepohonan dan juga salah satu tanaman cantik namun mematikan, Verbena brasiliensis. Ada 2 jalur untuk melewati Oro-oro Ombo, yaitu dengan langsung turun dan bertemu Verbena di bawah atau memutarnya dan menikmati pemandangan Verbena dari atas.
"Ada dua jalur kalo, mau ke Cemoro kandang. Yang satu langsung turun dan bertemu tanaman cantik tapi beracun, namanya Verbena brasiliensis dan yang kedua memutari dan bisa menikmati pemandangan Verbena dari atas. Jadi, kita lewat jalur atas atau bawah?" Ujar Andi
"Lewat bawah aja....." Ucap Ardi dan Putri barengan
"Emang kalian udah dijodohkan dah, haha." Ucap Anton
"Bacot lu." Balas Ardi
"Wess, santai-santai, gua cuman bercanda, bro. haha"
"Jadi, lewat atas atau bawah. Kita sepakati dulu ini." Ucap Andi
"Lewat atas aja. Entar pas turun dari gunung baru lewat bawah." Ucap Anton
"Oke, kita lewat atas aja." Balas Andi
Mereka memutuskan untuk lewat Jalur atas dan menikmati pemandangan Verbena dari atas. Mereka memutari tanaman beracun itu dan sampai di Cemoro Kandang. Beristirahat sejenak lalu, melanjutkan perjalanan ke Jambangan. Waktu tempuh sendiri kurang lebih 2 jam. Jalur dari Cemoro Kandang ke Jambangan dianggap cukup menantang, perlu mempersiapkan fisik karena jalur disana akan terus menanjak. Jalur inilah yang nantinya akan paling banyak istirahatnya. Jalur yang sekelilingnya ditumbuhi pepohonan tinggi dan lebat. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12 tepat, mereka pun beristirahat selama kurang lebih 1 jam. Setelah beristirahat, mereka melanjutkan pendakian. Waktu saat itu menunjukkan 1.30, jalur inilah yang menurut mereka paling sulit dilalui untuk saat ini.
satu jam kemudian, mereka pun akhirnya sampai di Jambangan. Kaki sudah berasa pegal-pegal. Mereka pun mengambil sebagian makanannya sebagai energi tambahan. Jam saat itu sudah menunjukkan pukul 14.57, mereka harus melanjutkan ke Kalimati dan bermalam disana. Jalur Jambangan ke Kalimati tidak terlalu sulit, Jalurnya perlahan-lahan, sehingga tidak ada lagi jalur menanjak. Tapi, yang tidak enaknya adalah sumber air di Kalimati ini letaknya jauh, sehingga dibutuhkan sekitar 1 jam-an untuk ke Sumber Mani (Sumber air) itu sudah bolak-balik.
"Capek banget, yah. Hari ini." Ucap Putri
"Iya, nih.....keknya gua langsung tidur aja dah nanti." Balas Adel (pendaki yang ikut dengan Putri)
"Ya udah, sekarang kita dirikan tenda....keknya udah petang sekarang."
Saat sedang mendirikan tenda, Suatu Panggilan Alam yang berasal dari perut Anton berbunyi. Apalagi kalau, bukan BAB. Anton merasakan sakit perut dan akan buang hajatnya.
"Bro, dimana WC, bro?" Tanya Anton sambil menahan sesuatu
"ooh, di situ, bro. Tapi, itu WC kering. kalo, gak cari semak aja elu." Jawab Andi
30 menit kemudian, terlihat Anton sudah kembali dengan merasa lega. Setelah selesai mendirikan tenda, mereka pun bersiap untuk sholat ashar. Setelah sholat, mereka pun berkumpul dan bercanda ria sampai tak terasa warna langit sudah berwarna orange kebiru-biruan. Mereka pun berencana untuk lanjut lagi jam 12 atau 1 malam karena, waktu ke puncak memakan sekitar 6-7 jam
"Oke, sekarang kita sudah di Kalimati....sebentar lagi kita sudah berada di puncak. Waktu yang disarankan untuk lanjut lagi naik adalah dari jam 12 sampai 1 malam. Besok Kita Summit Attack. persiapkan diri kalian....fisik kalian karena ini akan memakan banyak sekali energi." Ujar Andi
"Bro, entar bangunin gua yaa." Ucap Anton
"Tenang, Bro.....elu juga, bangunin gua kalo, elu sudah bangun duluan." Balas Ardi
"Santai, aja. aku bawak 5 alarm, biar entar kita bisa bangun lebih cepat." Ucap Putri
Mereka pun langsung kembali ke tendanya masing-masing dan beristirahat sebaik mungkin agar energi dapat naik kembali. Sekitar jam setengah 12 malam, terlihat semuanya sudah bangun dan langsung bersiap. Langsung memasak makanan yang banyak dan mengandung banyak Karbohidrat dan memakai pakaian tebal 3 lapis, bahkan lebih. Sebelum melakukan Summit Attack, ada baiknya mereka berdoa dulu dan langsung melanjutkan pendakian. Untung Ardi saat itu membawa senter jarak jauh, sehingga memudahkan untuk mendaki. Jalur pendakian Kalimati ke Kelik cukuplah menantang. Dikarenakan jalurnya yang masih tanah dan sebelum sampai di Kelik, jalurnya sudah berubah yang dari tanah berubah ke pasir berbatu. Kelik juga merupakan batas vegetasi, batas tumbuhnya pepohonan. Saat sampai di Kelik, mereka beristirahat sejenak dan langsung muncak lagi.
"Oke, sekarang depan mata kita adalah puncak para dewa. Sekarang jalurnya bukan lagi tanah melainkan pasir bebatuan. Gua saranin gunakan tracking pole untuk membantu mendaki dan karena jalannya berpasir, untuk mensiasatinya adalah dengan cara berjalan secara zig-zag." Ujar Andi
Mereka pun melanjutkan muncak lagi. Kini mereka tinggal menunggu detik-detik sampai di puncak. Fase inilah yang banyak tetiba kena sindrom "Kok gak nyampe-nyampe ya." Saat itu sudah jam 4.50 dan Anton saat itu hampir gagal ikut muncak, dikarenakan terkena gejala hipotermia. Jalur berpasir dan banyak bebatuan besar menjadi gejala mereka hampir terlambat untuk sampai ke puncak.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu, Mereka dapat mencapai puncak para dewa, Mahameru, mereka memanfaatkan momen ini dengan foto bersama, mengibarkan bendera merah-putih, berdoa dan sujud syukur.
"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya kesampaian juga, ya Allah....." Ucap Ardi terharu
"memang ciptaannya tiada yang menandingi, kita patut bersyukur kepadanya." Balas Putri
"Put, ada yang mau.....gua omongin nih." Ucap Ardi dengan terbata-bata
"Iya, di. Ada apa yah?"
"Sebenarnya sejak pertama kali bertemu di Ranu Kumbolo, a.....aku sudah merasakan adem ketika di dekatmu, Put."
"Sebenarnya..... aku menyukaimu, Put. Maukah kamu menerimaku?"
"Mungkin ini agak kurang tepat dan sopan bagimu, tetapi setidaknya gua udah menyatakan perasaanku padamu." Ujar Ardi yang menembak Putri
"hmmm, terima gak yaa...." Kode Putri
"Udah terima aja, jangan lupa Pajak jadinya...." Ucap Anton
"Di, aku juga sejak pertama bertemu, sudah merasakan rasa yang sama denganmu. Aku terima kamu, Di." Ucap Putri ke Ardi
"Alhamdulillah, makasih ya, Put. Aku bakalan menjaga hubungan kita sebaik mungkin." Balas Ardi
"Aku juga...."
"Cieeeee, udah jadian ni yee." Ucap Anton
"Ekheemm, enak ya ketemuan di tempat yang indah, pulangnya bawak calon istri." Ucap Andi
Ardi dan Putri hanya senyum saja dan senyuman itu menunjukkan kebahagiaan.
Mereka sampai di waktu yang tepat, dimana mereka dapat melihat Sunrise. Mereka bersenang-senang sampai waktu sudah menunjukkan 7.59, saatnya mereka bersiap untuk turun dan pulang ke Rumah masing-masing.
"Hati-hati, selalu pegang Tracking pole...."
"Siap, kapten." Ucap Anton
"Hey, ayo turun....berduaan mulu sih, kalian ini." Jerit Anton melihat Ardi berdua dengan Putri
"Kalo, bisa kita sudah sampai di Jambangan." Ucap Andi
Mereka harus berhati-hati saat turun agar tidak dapat berjalan ke area Blank 75 atau biasa disebut dengan Zona Kematian. Jalur yang berpasir dan bebatuan membuat mereka harus konsentrasi tinggi agar tidak dapat tergelincir dan Innalillahi. Bagi mereka turun dari puncak lebih sulit dari naik ke puncak, karena salah langkah saja terpeleset.
"Hati-hati, Put. sini aku bantu kamu....pegang tanganku." Ucap Ardi mengulurkan tangannya ke Putri
"eeh, iya makasih, ya di." Balas Putri
"Astaghfirullah....ya Allah, hati-hati, Put."
"Ma...ma....maaf, aku ta....ta....kut ketinggian." Balas Putri ketakutan
"ya udah, kamu selalu genggam tanganku, jangan dilepas sampai turun nanti." Ucap Ardi
"hmmm, enak ya jadi, Ardi. Naik jomblo, turun bawah calon istri." Ucap Anton iri
"iya nih, gua juga iri. Enak mah dia baru pertama muncak ke Semeru, udah langsung dapet aja, hahaha." Balas Andi sambil tertawa
Mereka berusaha turun dari puncak ke Kelik dengan selamat. Akhirnya mereka sampai ke Kelik di jam 1 siang dan beristirahat setelah turun dari Mahameru. tidak sesuai dengan rencana mereka yang awalnya akan sampai di Jambangan, akhirnya akan bermalam di Kalimati. Sempat molor sampai jam 4, mereka pun bergegas langsung melanjutkan ke Kalimati. persediaan air pun sudah hampir habis dan harus bertahan sampai di Kalimati nanti, itupun perlu 1 jam untuk sampai di sumber air nanti di Kalimati.
Mereka pun sampai di Kalimati dan terlihat Putri sudah berjalan sempoyongan dan sudah beberapa kali hampir jatuh pingsan saat di jalan. Mereka pun langsung mendirikan tenda dan menyalakan api unggun. Melihat kondisi Putri yang semakin melemah, Ardi pun memberikan sisa air miliknya agar Putri dapat terhindar dari dehidrasi. persediaan air sudah habis, lalu Anton dan Ardi memutuskan untuk mengambil air dari Sumber Mani. 1 jam kemudian, Ardi dan Anton kembali. Langit biru pun seolah berubah menjadi oranye, menandakan malam hari akan tiba. Malam pun tiba, suhu yang awalnya hangat berubah menjadi dingin. Inilah yang memperburuk kondisi Putri. Putri terlihat semakin lemah dan menggigil hebat. Ardi yang cemas pun langsung berinisiatif mengambilkan jaket tebalnya untuk pacarnya tersebut.
"Ya Allah, gimana ini. Aku gak mau liat kamu seperti ini, Put." Ucap Ardi cemas dan khawatir terhadap kondisi Putri
Situasi semakin gawat, Putri bahkan sudah berhalusinasi. Putri terkena hipotermia.
"Sebaiknya Putri ganti baju dengan yang hangat dan kasih dia teh atau minuman hangat." Ucap Andi dari luar tenda
"Iya, aku keluar dulu sekalian menyiapkan teh untuk Putri. Jaga dia yaa." Ucap Ardi sambil berjalan keluar tenda
sekitar 10 menitan kemudian, Ardi kembali dengan membawa teh dan langsung memberikan ke Putri. Terlihat disana kondisi Putri sudah agak mendingan.
"Gimana kondisinya sekarang?" Tanya Ardi
"Alhamdulillah, kalo, dilihat suhu Putri sudah agak naik." Jawab Adel
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Putri tetap harus beristirahat dan dalam keadaan hangat tubuhnya." Balas Ardi lagi
"Ini tehnya."
Ardi pun keluar tenda dan sempat berbincang dengan Andi.
"Bro, hampir aja gua kehilangan Putri." Ucap Ardi dengan perasaan lega
"Iya, dia harus tetap dalam keadaan hangat. Suhunya bisa turun drastis gitu karena sudah terlalu lama berada di tempat suhu dingin. Memang butuh fisik yang kuat agar dapat bertahan dari hipotermia ini." Balas Andi
"Terima kasih, bro. Udah bantuin nyelamatin Putri."
"Santai, gua juga belajar dari pengalaman." Balas Andi
"Maksudnya elu sudah pernah juga terkena yaa?" Tanya Ardi penasaran
"Iya, bukan gua. Tapi waktu itu......
****************
di Gunung Dempo, Sumatera Selatan........
"Ayy, cakmano ini laju......kawan kito menggigil hebat nian." Ucapku
"Aku jugo daktau......"
Situasi semakin gawat disaat, temanku mulai melepaskan bajunya satu-persatu. Dia merasa kepanasan padahal, suhunya dan sekitarnya sangat dingin. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dan temanku meninggal, karena hipotermia di Gunung Dempo. Aku sangat menyesal, karena saat itu tidak tahu apa-apa penyelamatan pertamanya. Sejak saat itu, Aku(Andi) trauma mendaki Gunung. Tetapi, saat pindah ke Malang. Aku diajak oleh bapakku untuk ikut mendaki bersamanya ke Semeru. Awalnya, aku menolak, karena masih trauma. Tetapi, kuberanikan diri untuk ikut. Aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Sejak saat itu, Aku belajar dari pengalaman, gimana cara mencegah dan menyelamatkan orang yang terkena hipotermia.
****************
"......Gua gak akan kejadian seperti yang lalu, terjadi lagi." Cerita Andi ke Ardi
"Yup, kau benar. Kita harus belajar dari pengalaman. Jangan sampai terulang lagi." Balas Ardi
"Ardi....Ardi." Panggil Adel
"Yaa, ngapa, Del?" Tanya Ardi
"Putri, manggilin nama kamu terus, coba gih, kamu temanin dia." Jawab Adel
Ardi pun kembali ke tenda untuk menemani Putri.
Mereka pun kembali ke tendanya masing-masing. Keesokan harinya, mereka kembali melanjutkan turun ke Jambangan. Saat sampai di Jambangan, mereka beristirahat sebentar dan melanjutkan untuk sampai ke Ranu Kumbolo sebelum sore hari. Jam 3 tepat, mereka sudah berada di Cemoro Kandang. Tanpa istirahat lagi, mereka langsung melanjutkan ke Ranu Kumbolo. Ini kedua kalinya, mereka melihat keindahan Ranu Kumbolo.
Keesokan harinya, mereka melanjutkan lagi turun. Mereka berencana untuk dapat sampai di Ranu Pani sebelum Maghrib.
"Ardi, kalau udah selesai mendaki....kamu ngapain, di?" Tanya Putri
"Gua sih,.....Pulang, soalnya gua mau kuliah lagi, sih." Jawab Ardi
"Yah, pulang.....eh, tapi kamu tinggalnya dimana sih?" Tanya Putri lagi
"Gua sih, tinggalnya di Bandung, Put. Kalo, kamu?"
"ooh, aku sih. Tinggal di Malang, di. Kebetulan Kuliah lagi libur....ya udah, aku dengan Adel pergi mendaki kesini." Jawab Putri
"Bro, sekarang jam berapa sih?" Tanya Anton yang sudah kelelahan
"Sabar, Bro. Ini sudah dekat dengan Ranu Pani. Sekarang jam 4, Bro." Jawab Andi
Akhirnya mereka sampai juga di Ranu Pani. Mereka pun memutuskan untuk bermalam di Ranu Pani sebelum, turun ke Pasar Tumpang dan pendakian Semeru pun selesai.
2 hari kemudian, Ardi dan Anton pulang kembali ke Bandung.
"Beneran capek, Bro. Bangunin Gua kalo, udah sampe di Bandung." Ucap Anton
"Insyaallah, Kalo gua gak tidur juga." Balas Ardi
Setelah sampai di Stasiun Bandung. Ardi dan Anton pun langsung pulang ke rumahnya masing-masing dan.....
**Cerita Pendakian Semeru pun selesai
The End**