Aku Anjani Wardani, suka sekali mengkoleksi jam tangan namun bukan jam tangan yang mahal melainkan jam biasa dan terlihat langka. Hari ini aku pulang dari sekolah melewati jalan memutar. Iya, entah mengapa aku ingin melewati jalan tak biasanya.
Krek
Buru-buru aku mengangkat kaki mencari sesuatu yang telah aku injak hingga berbunyi dan ternyata sebuah jam tangan berwarna emas. Jam itu pecah dibagian kaca membuatku panik bukan main.
Aku memukul kepala berulangkali karena kecerobohan yang ku buat. Pemiliknya pasti akan mengeluarkan makian karena aku tak mungkin bisa mengganti harga jam tangan yang diinjak barusan.
"Bodoh!" aku merutuk pelan lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aman, tidak ada yang melihatku disekitar sini. Aku pun mengantongi jam itu kemudian pergi dengan segera.
Aku langsung memeriksa jam tangan itu di kamar dan bingung akan diapakan. Masa iya aku jual, kan malah tambah tidak benar saja nantinya. Mungkin besok saja aku pikirkan lagi sekarang aku mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk dulu.
***
Tiga hari aku diamkan jam itu dan melihat koleksi jam tangan ku.
Apa aku jual jam koleksi ku untuk membeli jam yang sama agar bisa mengganti kacanya yang pecah? Tidak! aku tidak bisa menjual koleksi jam tanganku meskipun terlihat biasa di mata orang menurut ku jam ini luar biasa.
Tiba-tiba jam itu mengeluarkan sebuah cahaya dan aku masuk ke dalamnya. Aku menjerit ketakutan apalagi cahaya itu seperti menjatuhkan ku dari ketinggian berpuluh-puluh meter.
Bruk
Aku terjatuh dengan posisi mengenaskan tapi tidak sakit melainkan... Astaga! aku jatuh di atas tubuh–laki-laki dan sialnya tampan. Ah, ini bisa disebut keberuntungan atau kesialan ya?
Aku gugup langsung berdiri dengan benar, memperhatikan sekeliling yang ternyata tempat asing dan bunyi tiktik bunyi hujan diatas genting eh bukan tiktik suara jam berdenting. Aku bingung kemudian sudah melihat laki-laki tampan sedang menatap diriku dengan alis menyerit.
Apa aku salah?
"Ma-ma–" aku merutuk kenapa mulutku ini mendadak gagu.
"Maaf ini dimana ya?" tanyaku dalam satu tarikan nafas.
"Lo tanya gue?" dia menunjuk dirinya sendiri.
Aku mengangguk.
Dia mengangguk-angguk kepalanya tapi terlihat makin tampan saja. Ih kenapa denganku? harusnya dia kan jawab bukan mengangguk.
"Dimana?" aku mengulangi pertanyaan yang tak juga di jawab.
"Jam."
"Hah?"
"Lo terjebak di dalam jam." dia menjawab lebih panjang.
Aku menggeleng tak percaya. Masa iya aku terjebak di jam tangan? Wah! Anjani hebat, besok-besok kamu harus terjebak di jam dinding saja kalau begitu.
"Kamu serius gak sih?" aku kembali bertanya.
"Gue serius, tapi kalau lo mau gue seriusin gak bisa soalnya belum cinta." jawabnya.
Untung ganteng eh nggak deh, setengah ganteng, setengah ngeselin. Perasaan aku bertanya dia benar-benar berkata jujur atau tidak eh jawabannya minta di lakban tuh mulutnya.
"Kam–"
"Gue Bagaskara Adijaya panggil Bagas atau sayang juga boleh, kalau lo maunya gitu." dia memotong ucapan ku.
"Ak–"
"Eh nama lo siapa, jangan-jangan lo gak punya nama?" lagi-lagi dia memotong ucapan ku.
Aish! ini cowok kok jadi tambah ngeselin sih? nyesel aku puji-puji dia dalam hati.
"Aku Anjani Wardani." ujar ku.
Dia menganggukkan kepalanya. "Oh bunga-bungaan toh."
"Heh aku Anjani bukan bunga-bungaan." aku tak terima dibilang sejenis bunga-bungaan. Aku ini manusia.
"Kepanjangan nama lo apa?"
"Wardani." jawabku polos.
"Iya war kan nama bunga, lo gak tau?" ucap Bagas.
Terserah! tapi enggak aku jawab sih. Di diamkan aja soalnya ganteng-ganteng tapi mulutnya itu bikin aku gak betah. Pantesan dia di kurung di jam mungkin disini dia diasingkan buat mikir mulutnya harus lebih di perbaiki agar tidak membuat orang kesel.
"Bunga!" Bagas memanggil.
"Anjani!" aku meralat enggan menoleh.
"Serah gue mulut-mulut gue!" katanya lalu berjalan di depanku.
Iya aku mah pasrah mau dipanggil honey, pretty, cinta atau sayang pun oke-oke aja. Namun aku masih bingung ini beneran ada di jam tangan atau jam weker jam dinding atau jam-jam lainnya?
Lalu dipertemukan dengan cowok bernama Bagaskara... apa ya? bodo amat deh mending aku cari jalan keluar. Kesel juga lama-lama terjebak berdua bersama cowok bernama Bagaskara.
"Mungkinkah ini jawaban atas doa-doa gue kalau lo–" dia menjeda ucapannya cukup lama mungkin supaya aku penasaran.
Jangan bilang jodoh, ya kali aku berjodoh sama cowok ngeselin.
"Apa?" tanyaku akhirnya penasaran juga. Jangan sampai aku senyum setelah mendengarkan kelanjutannya.
"Pembantu." lanjutnya.
Seketika mood ku hancur digantikan rasa benci yang amat menumpuk eh nggak deh, kata Mama aku gak boleh benci ke orang berlebihan nanti malah jadi suka, sebaiknya aku benci dalam takaran wajar saja.
Entah sudah berapa lama aku terjebak di jam tangan ini yang pasti sangat membosankan. Lebih baik aku terjebak dengan soal-soal deh daripada ini.
"Nih!" dia memberikan selembar kertas.
"Apa ini?" tanyaku memperhatikan kertas di dicoret.
"Tanda tangan gue, siapa tahu lo berubah pikiran jadi fans gue." ucapnya bangga.
Oke, aku menyerah ada yang mau menggantikan posisi ku disini?
Aku tak menghiraukannya memilih duduk dan dia juga melakukan hal yang sama parahnya paha ku dijadikan bantal seenaknya.
"Heh!" aku memperingatkan.
"Diem! gue lagi mikir gimana caranya keluar dari sini." ungkapnya menatap wajahku dari bawah.
Aku berusaha untuk tidak menatapnya balik. "Emang kamu sudah terjebak berapa lama?" tanyaku.
"Lama, bahkan gue gak tau sekarang hari apa?" dia menjawab diakhiri helaan napas.
"Kamu melakukan kejahatan?" tanyaku.
"Nggak, muka gue soleh, ganteng mana ada muka-muka kriminal." dia mengelak.
"Terserah anda!" gumam ku.
"Lo juga mau keluar kan dari sini?" dia bertanya dan haduh kenapa masih menatapku dari bawah.
Ya iya lah! apalagi terbebas dari cowok kepedean akut tengah tiduran di pahaku.
Aku hanya berdehem menjawabnya. Dia bangun dan menatapku lalu mendekat lebih dekat membuatku gugup bukan main.
Dia tertawa terpingkal sembari menarik wajahnya. "Ngakak gue liat muka lo."
Dia ini ... aku tadi deg-degan eh sekarang malah ngetawain, awas aja aku gak mau ngomong sama dia!
"Heh, jangan ngambek dong! gue kan cuma bercanda." dia mencolek daguku dan aku menepisnya.
Siapa suruh bercandanya begitu apa dia tidak tahu tadi jantungku hampir saja tak berdetak lagi eh aku mati dong. Pokoknya dia ngeselin parah.
"Ya udah, gue gak akan becanda lagi." sekarang dia memegang tangan ku dan jari-jarinya membungkus seluruh tanganku hingga tertaut erat.
"Tangannya." peringat ku melihat tangan yang dia genggam sangat erat.
"Gak papa gue suka tangan lo kecil, mungil, kayak bayi." jawabnya.
Enak saja! aku sudah besar, sudah SMA lagi. Masa iya aku masih bayi?
Dia mengajakku entah kemana diiringi tiktik bunyi hujan diatas genting airnya eh kenapa nyanyi lagi sih maksudku tiktik bunyi jam.
"Lo pinter gak?" dia melepaskan tautan tangannya.
"Lumayan lah, memangnya kenapa?" aku bertanya siapa tau dia akan mengejekku.
"Nih!" dia memberikan pulpen emas berserta kertas.
"Nggak!" Aku menolak.
"Kenapa enggak?"
"Pasti kamu mau kasih aku tanda tangan kamu kan? ya aku gak mau lah." sahutku tidak mau.
"Kege-eran gue mau nyuruh lo pecahin teka-teki, tuh pulpennya!" dia menunjuk kertas melayang.
"Kamu kok becanda lagi sih katanya mau cari jalan keluar?" aku kesal melipat kedua tangan.
Dia menyentil dahiku pelan. "Ini memang jalannya gini harus isi teka-teki dan gue udah coba beberapa kali gak bener mulu."
Aku mengangguk mengerti seberapa sulit sih teka-teki yang Bagas maksud hingga salah terus.
Kertas berwarna emas langsung muncul di depanku di sana ada tiga huruf satu kata JAM.
"Ngerti gak?" dia malah mengganggu konsentrasi ku.
"Diem dulu aku lagi mikir nih!" aku protes.
"Oke, tapi jangan lama-lama soalnya waktu kertas itu muncul terbatas waktunya." ucap Bagas lagi.
Aku menoleh. "Berapa jam?"
"Satu menit."
"Kamu bohong ya?" tanyaku curiga masa hanya satu menit.
"Buruan! malah gak percaya sama gue." dia memutar wajahku agar mengisi teka-teki.
Aku memperhatikan kalimat Jam dengan serius dan waktunya terus berjalan sementara otakku blank tak ada jawaban apa-apa namun, apa salahnya mencoba?
"JAM, Jadikan Aku Milikmu!" aku berucap bukannya menulis di kertas itu soalnya lima detik lagi menuju satu menit.
Sebuah cahaya menghampiri lalu Bagas tersenyum dan menarik ku agar berada di dalam dekapannya kemudian aku berada di sekolah.
Tunggu! perasaan terakhir kali aku berada di kamar? kok di sekolah dengan seragam sekolah pula. Seorang cowok menepuk bahuku membuat aku refleks menoleh dan dia ... Bagas.
Dia tersenyum ke arahku lalu memberikan flying kiss. Aku tersipu maksudnya apa? dia mengkode ku menunjuk saku dan aku melihat ke arah tunjukan menemukan sebuah surat beserta jam tangan emas namun kembali seperti semula.
Aku pun membaca suratnya,
Hai! terimakasih bunga, karena kamu aku tak lagi terjebak di jam tangan. Aku tau kamu memang gadis yang baik, maaf aku selalu membuatmu kesal :) di jawaban teka-teki kamu bilang jadikan aku milikmu tentu saja aku sudah menjadikan kamu sebagai milik ku.
Artinya kita pacaran mulai dari sekarang
Bagaskara Adijaya 💕 Anjani Wardani
Aku tersenyum malu dan memasukkan kembali surat ke saku mengikuti jam pelajaran yang akan segera dimulai.
Gara-gara jam tangan aku punya pacar ganteng!