Di sekolah
aku Bryan ketua kelas XII F tetapi aku tidak di takuti teman sekelas ku namun aku yang selalu di bully oleh mereka.
tetapi ada satu hal yang membuat aku tetap semangat
" Yuki kita ke kantin yuk?" memegang pundaknya
menengok " Yuk!" tersenyum
hanya dengan melihatnya membuatku bahagia. senyum-senyum sendiri
" Ketua kelas Idiot ke sini?" melambaikan tangan
" ( pasti menyuruhku untuk membeli makanan lagi), Baik!" menghampirinya
Kring kring kring bel sekolah berbunyi waktunya masuk ke kelas.
" Anak-anakku kita kedatangan murid baru, Silahkan masuk dan perkenalkan diri?"
masuk dan berjalan ke dalam kelas. Berdiri di depan
" Namaku Lizzy, senang mengenal kalian!" tersenyum sinis
" Anak baru!" Trea
" Cantiknya!" semua laki-laki termasuk aku
melihatnya tanpa mengedip-ngedipkan mata
" Silahkan duduk di bangku sebelah Bryan?"
dia mendekat
Deg deg deg
dia melihatku, menundukkan kepala malu
Bel berbunyi waktunya pulang
" Bryan tolong isi formulir Lizzy ?" memberikan
" Baik!" mengambil
Ke esoknya
jam istirahat
" Dimana dia?" celingak-celinguk mencari Lizzy
ternyata Lizzy sedang tidur di bawah pohon, aku ragu dan takut dia marah
" Lizzy, Ibu Jasmine ingin mengisi formulir biodata mu untuk kelas XII F ?" membangunkan
dia membuka matanya dan melihat ku dengan tatapan sinis
" Mengganggu saja, mana!" meminta formulir kelasnya
dia menulis sendiri formulir, aku melihat wajahnya yang cantik tapi aku malah melihat bibirnya yang merah merona.
Glekk menelan ludah
" Nih?" memberi
" terimakasih!" tersenyum namun dia tidak membalasnya dan malah tidur lagi.
sudah 2 bulan
aku melihat Yuki dia sangat imut, terus melihat nya dari kejauhan maklum penggemar berat.
" Bodoh?" Ujar Lizzy
" Siapa?" celingak-celinguk
Lizzy muncul tiba-tiba
" Bodoh, kalau cinta kejar nanti diambil orang?"
" Siapa,enggak!" minder
pertama kalinya dia mengajakku bicara, aku rasa dia tidak seperti orang bilang
" Apa lihat-lihat?" jutek
" Enggak!" pergi
aku terus bersamanya karena nilainya jelek jadi aku harus membantunya sebagai ketua kelas.
" mmm,,, aku boleh tanya?"
" Apa?" sedang pokus menulis
" Apa kamu pernah merasakan pacaran atau jatuh cinta?"
" Belum!"
" yang benar saja, kamu pasti berbohong?" mendekat
Plak
memukul dengan buku paket tebal
" Awwww sakit?" memegang kepalanya
" Jangan dekat-dekat!" cemberut sambil menahan tawanya
" Mau gak bantuin aku untuk pedekate sama seseorang?" malu-malu
" Apa, preppp hahahah?" tertawa terbahak-bahak
" ih aku serius tau!" malu
" Apa keuntungan nya bagiku!" mendekat
Deg deg deg
" ( dia dekat sekali, menelan ludah). Aku akan membantumu menyelesaikan tugasmu?"
" Mmmmm,,, okey deal?" mengulurkan tangannya
" Deal!" meraihnya dan berjabat tangan.
pulang sekolah dia membawaku ke salon rambut
" Kenapa kita ke sini?"
" Mencukur rambut mu lah, rambut kaya sarang burung gini?" memegang rambut
" Masa!" bercermin
" Tolong cukur rambut nya, dengan gaya anak keren?" mengacungkan jempol
aku membalas dengan senyuman, ternyata dia memang baik. Dan aku sudah sepakat harus membantu mengerjakan tugas nya
Di sekolah
" Kak Byarn?" Yuki
" Yuki!" Cengengesan
" aku pergi dulu, dan?" tersenyum membungkukkan badan
" Dah!" melambaikan tangan
" cieee,,, ikannya udah memakan umpannya?" tersenyum memegang pundak
aku melihatnya tersenyum dia malah menendang kakiku keras sehingga membuatku kesakitan, dia memang seperti itu aku mulai terbiasa meski berlebihan dan semenjak itu aku dan Lizzy jadi akrab.
" Ketua Idiot beli makanan sana?" orang yang ditakuti di kelasku
Lizzy menendang kakinya,dia memaki-maki nya dan membuat dia semakin marah tapi Lizzy juga tidak kenal takut dia terus melawannya dan itu membuatku bangga ehh, maksudku jadi enggak ada lagi yang membully aku lagi
" aku mentraktir nya makan di kantin?"
usahaku semakin meningkat untuk mendekati Yuki
" Lizzy, Yuki mau pergi bersama ku?" gembira
" Yang benar?" memeluk
aku mulai terbiasa ingin memeluk dia hanya diam, aku minta maaf karena tak sengaja ( menggaruk kepala) membuat suasana menjadi Canggung.
" Aku pulang?" membuka pintu
terdengar suara berteriak
" Kamu jadi istri gak berguna?" memukul
" Ayah hentikan?" menghadang
" Kamu ikut-ikutan,awas!"
Plakk suara pukulan keras di kepala, ini bukan pertama kalinya namun ini sudah ke sekian kalinya Ayah Lizzy memukul Ibunya dan Lizzy
" Lizzy sayang kamu!" khawatir
" Gak apa-apa, aku baik-baik saja Bu!"
" Dasar, tak berguna kamu besok jangan ke sekolah berhenti aku sudah muak membiayai kalian berdua!"
" Tapi Lizzy!"
" Apa apa, mau aku pukul lagi?" melotot dan menjambak rambutnya
" Jangan Ayah lepaskan!"
mendorong Lizzy hingga terjatuh lalu pergi meninggalkan Lizzy dan Ibunya
melihat wajah takutnya ada yang memar atau terluka akibat pukulan keras oleh Ayahnya
" Aku baik-baik saja,,,,, Bu!" Ibu Lizzy menangis dia memeluk erat Lizzy
Ke esokan paginya
" Lizzy kamu jangan dengerin apa kata Ayahmu, kamu harus sekolah setinggi mungkin. Agar tidak ada Orang yang memperlakukan mu dengan buruk jangan seperti Ibumu?" menangis,Lizzy memeluknya
" aku berangkat!" tersenyum
Di sekolah
" sudah 5 hari Lizzy tidak masuk sekolah!" melihat ke bangkunya itu membuatku kesepian
" Bryan, Lizzy kemana sudah 5 hari?"
" tidak ada keterangan Bu, sebagai ketua kelas nanti saya akan ke rumahnya?"
" Baiklah kalau ada apa-apa kabarin ya?"
" Iyah!" memberi hormat dan pergi
aku mencarinya sudah kesana-kemari namun tidak menemukannya.
aku berjalan melewati toko supermarket dan aku melihat Lizzy ada di dalam dia sedang bekerja di sana
" Lizzy?" menghampirinya
" Mau apa kamu? sinis
" Kenapa kamu tidak ke sekolah malah bekerja di sini?"
" Bukan Urusan mu!" mengalihkan
memegang tangannya
" Lepaskan!"
" Aku ingin bicara dengan mu!"
" Gak penting?" pergi
" Ibumu yang memintanya!"
" Ibumu ingin kamu jangan berhenti sekolah, dia memohon padamu bersekolah lah yang tinggi setinggi nya?"
Lizzy terdiam dia menangis, aku tidak tau harus berbuat apa aku hanya bisa menenagkannya.Memeluk Lizzy dan akhirnya dia mau bicara
Lizzy pergi ke sekolah lagi
" Nah gitu dong!" aku merasa senang bisa melihatnya lagi
dia duduk di bangkunya
" terimakasih?" tersenyum
" Iyah, temanku!" mencubit pipinya
Deg deg deg
Lizzy terdiam, dia mengedip-ngedipkan matanya karena dia seperti ada sesuatu di hatinya.
"Gimana, perkembangan kamu sama Yuki?" mengalihkan
menggelengkan kepala
" Bodoh!" memukul kepala
" berhenti memukul kepalaku!" memegang tangan Lizzy. Kami saling menatap
Deg deg deg
jantungku berdegup kencang setiap kali bertatapan dengannya dan membuat ku jadi salah tingkah.
" Kak, Bryan selamat tahun baru?" Yuki memberiku hadiah tapi aku tidak memberi hadiah kepada nya jadi aku memutuskan pulang bersamanya
" Lizzy aku pulang duluan, Yu kita pulang?" bersama Yuki
" pandangan ku buram, langit seperti berputar-putar kepalaku pusing!" memegang hidungnya ada darah
Gelepak
" Lizzy apa yang, hidungmu berdarah Lizzy bangun?"
Niun niun niun
" apa yang terjadi padanya?" Ujar Ibunya
" dia mempunyai penyakit kangker darah di kepalanya?"
" Apa, tidak mungkin anakku. Lalu apa dia bisa di sembuhkan?" sempoyongan dan menangis
" Kemungkinan kecil dia bisa sembuh karena sudah menjalar ke otaknya!"
Ibunya sempoyongan tak kuasa menahannya.
Di rumah ku Bryan
" Bu, tolong aku bantu temanku dari penyakitnya?"
" Sayang tidak semudah itu menyembuhkan penderita kanker darah, meski dia di operasi besar kecil kemungkinan keberhasilan nya 40%?"
aku pergi ke kamar membayangkan betapa menderitanya Lizzy dengan penyakitnya,
" Aku harus membuatnya tidak stress!" jadi aku memutuskan 2 hari sekali melongok nya
Di Rumah Sakit
" Hai Lizzy?" membawa buah-buahan
" Hey, kenapa kesini harus nya pergi menemui Yuki. Nanti di ambil orang baru tau rasa?" tersenyum
" Kan ada kamu!" tersenyum
Deg deg deg
" kenapa dia bicara seperti itu, membuat ku jadi!" ngelamun
" Hei,kenapa melamun?" melambai-lambaikan
" emmm, enggak ko?"
sudah 2 Minggu Lizzy dirawat di Rumah Sakit namun kondisinya masih saja.
" Sebentar lagi Natal?" Ujar Lizzy
" kamu mau apa dariku?"
" aku ingin melihat kembang api!" tersenyum
" baik nanti aku usahakan?" membelai rambutnya
" ( aku ingin bersamanya seperti ini seterusnya)?" melihat Bryan
Di sekolah
" Kak, mau melihat kembang api bersamaku?" Yuki
" ( aku sudah berjanji menemani Lizzy melihat kembang api tapi aku ingin pergi bersama Yuki)?"
" Kenapa gak bisa yah?" kecewa
" Enggak kok, bisa pukul 8, aku tunggu?"
" Baik, dah Kak Bryan?" pergi dengan perasaan senang
aku pergi menemui Lizzy untuk meminta maaf tidak bisa menemaninya melihat kembang api
" Lizzy aku ada acara sama Yuki, jadi tidak bisa menemanimu ?"
Lizzy melamun
" Gak apa-apa kok, dan kamu cepat ungkapkan perasaan mu kepadanya. Dan apapun yang akan terjadi jangan kembali lanjutkan .Ok?" menahan rasa kecewanya
Lizzy mengusap air matanya saat aku sudah pergi keluar
malamnya
aku menunggu Yuki, tak lama kemudian aku melihatnya dia melambaikan tangannya
" Yuki?"
" Kak Bryan!"
Kling
ada pesan masuk ke telepon ku. Memberi tahu bahwa kondisi Lizzy memburuk
aku berjalan terhenti. merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadaku aku terus kepikiran Lizzy, aku berlari pergi meninggalkan Yuki, bahkan Yuki terheran-heran mengapa aku pergi meninggalkannya.
" Kak Bryan, mau kemana dia?" menghela nafasnya
aku terus berlari hatiku merasakan akan ada sesuatu yang akan terjadi kepadanya.
Lizzy yang duduk di ranjang Rumah Sakit.
aku sampai
" Dimana Lizzy?"
" Dia di balkon Rumah Sakit, katanya dia ingin melihat kembang api?"
aku langsung berlari ke arahnya, dan benar dia sedang duduk. Wajahnya yang pucat tubuhnya yang kurus dia tersenyum ke arahku aku mencoba menahan air mataku.
aku menghampirinya
" Kenapa kamu, di mana Yuki?" celingak-celinguk
" aku pergi meninggalkannya!" menundukkan kepala
" Kenapa?" terheran-heran
" Ka,, karena selama ini aku salah.aku selalu ingin sempurna di matanya ingin bersamanya dan selama ini aku hanya mengaguminya dan aku baru menyadari ada seseorang orang yang ingin bersamaku tanpa melihat ku sempurna atau tidaknya, itu kamu?" bicara dengan suara lantang tegas sambil meneteskan air mata
" Kamu bodoh!" menangis terisak-isak sambil memukul-mukul dada Bryan
aku langsung menciumnya, kami menikmatinya serasa melepaskan perasaan kami bahwa kami saling mencintai
kami saling menatap dia tersenyum sambil meneteskan air matanya aku mengusap air matanya.
" kita lihat kembang api!"
" Iyah!" tersenyum
kami selesai melihat kembang api, kami duduk di bangku dia bersandar di pundak
" Boleh aku memegang wajahmu ( untuk yang terakhir kalinya)?
" Boleh!"meraih tangannya dan memegang wajahku
"nanti kita pergi ke taman, atau ke suatu tempat yang sangat indah kita pergi berdua saja?"
aku terus mengoceh
Lizzy meneteskan air matanya sambil menutup matanya untuk selamanya.
aku menyuruhnya untuk pulang namun dia tidak merespon tangannya dingin sekali
" Lizzy?" membangunkan
" Lizzy, bangun disini dingin?"
dia tetap tidak merespon aku mulai gelisah
" Lizzy bangun?", memegang tangannya menempelkan ke wajahku
" Lizzy, huahhhhh tidak aku mohon bangun huahhhhh?" berteriak
Ibunya Lizzy terkejut dia histeris, dan ibuku menenangkannya
" Lizzy?" merapihkan rambutnya aku terus memegang wajahnya
aku terus menangis berteriak memanggil Namanya, ini seperti mimpi baru berapa waktu dia pergi meninggalkan ku. Memeluk erat tubuhnya
aku menggendongnya, untuk kembali ke Ruangannya wajahnya seperti tersenyum bahagia jadi aku menahan tangisku aku berusaha untuk tegar agar dia bahagia saat kepergiannya
Ibunya pingsan
aku terus berjalan menulusuri lorong rumah sakit menuju ke Ruangannya. Aku terus terbayang saat pertama kali bertemu, pertama kali berbicara berdua dia mengajakku bicara dia yang dikenal sangat jutek dia mau bicara dengan ku yang culun, pertama kalinya kami tertawa dan melihatnya dalam kesedihan dan kesendirian dan ini terakhir aku melihatnya namun aku akan selalu mencintainya. terus menahan air matanya
aku membaringkanya, aku terus mengelus-elus rambutnya tak menyangka dia pergi secepat itu. menutupinya dengan selimut
aku pergi keluar Ruangan Lizzy, aku tak bisa berjalan aku duduk di teras rumah sakit
" Huahhhhh, huhuhu. Aku bodoh bodoh memang aku bodoh aku orang yang paling bodoh. Huahhhh?" terus berteriak memukul-mukul kepalaku dan menangis
Ibuku melihat ku, dia memelukku
" Ikhlas kan sayang, dia pasti pergi dengan perasaan bahagia?"
aku terus menangis terisak-isak
ini hari pemakamannya. semua teman sekelas pergi melayat jenazah Lizzy bahkan Yuki datang dia menghampiriku yang duduk di pojokan.
" Kak?" memelukku
aku meneteskan air mata.
" Kami pergi dulu ya, Bryan kuatkan hatimu?" Ujar Bu Yasmine.
sudah 1 Minggu Lizzy pergi meninggalkanku.
" Bryan ada Ibunya Lizzy?"
aku bergegas pergi menemuinya.
Ibunya sedang duduk di sofa ruang tamu, dia melihatku tersenyum
" Ada yang ingin aku katakan, tapi tolong bantu aku?" menangis
" Aku pasti membantumu, Anakmu sudah baik kepada kami?" memeluk
" Aku ingin melaporkan Suamiku dia melakukan kekerasan dalam Rumah Tangga?"
" Kami akan mendukung!" tersenyum
Ayah Lizzy Di Penjara dan Di hukum 15 tahun telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan menyebabkan Putrinya Lizzy meninggal.
Ibunya sangat bahagia
" Terimakasih telah membantuku?" memegang tangan Ibuku
" Ini memang seharusnya di laporkan dari dulu!"
" aku pikir, aku tidak bisa meninggalkannya karena aku ingin Lizzy bersekolah setinggi nya, karena pasti kami akan kesulitan?" menangis
Ibuku menenangkannya.
aku pergi ke pemakamannya
" Hai, sayang aku bawakan Bunga lagi, kamu bahagia ya di sana. aku merindukanmu,,,,,,?" menundukkan kepala dan menangis.
waktu terus berlalu, dan aku harus bergerak menggapai cita-citaku yang mewakili Lizzy.