Nabastala sedang mendung, sebentar lagi rintik hujan akan membasahi bentala. Angin berhembus kencang membuat semua orang memilih untuk berteduh dan menghangatkan tubuh dengan secarik kain. Suasana mencekam begitu terasa dalam balutan kalbu yang sedang merindu.
Laki-laki dengan kemeja hitam itu seakan enggan untuk meninggalkan trotoar jalan. Lain hal dengan orang-orang disekitarnya yang hilir mudik untuk segera sampai tujuan ataupun mencari tempat untuk berteduh. Jalannya sungguh pelan, tenaga dalam tubuhnya seakan tak mampu memberikan energi yang lebih untuk membuatnya berlari.
Satu persatu rintik hujan mulai membasahi bagian tubuhnya. Tak butuh waktu lama, tubuh dengan perawakan kurus itu sudah basah kuyup. Langkah kakinya membawa tubuh tanpa semamgat itu ke sebuah jembatan.
Kilasan masa indah bersama sesorang yang begitu berarti untuk hidupnya kembali terbayang. Tawa dengan kekehan kecilnya masih terekam dengan jelas dalam indera pendengarannya. Senyuman menawan dari bibir mungilnya tak mampu ia elakkan keindahannya. Obsidian coklat yang selalu melihat dengan hangat itu tak mampu ia singkirkan kelembutannya.
Tangan laki-laki itu memukul tembok. Dadanya sesak dalam hitungan detik. Air mata yang sudah lama tak keluar itu, kini luruh bersama air hujan. Jika dengan mengambil nyawanya tuhan memberikan jalan yang paling terbaik untuk hidupnya, mengapa sulit sekali untuk mengikhlaskannya?
Kaki laki-laki itu menaiki pembatas jembatan. Tubuh ringkihnya sudah berada diatas tembok jembatan. Tangannya ia rentangkan. Bersamaan dengan suara jatuhnya air hujan, ia berteriak mngeluarkan segala hal yang mengganjal dalam hatinya. Wajahnya ia tengadahkan, kemudian mengeluarkan nafas dengan kasar.
"Mike! Turun!" Gadis dengan payung berwarna biru dalam genggamannya itu berteriak. Kemudian melemparkan payung yang sedang dipegangnya ke sembarang arah. Lalu, memegang dengan kuat kaki laki-laki yang ia panggil dengan sebutan mike.
"Pergi!" Mike berteriak dengan tegas.
"Pergi Lula! Gue bilang pergi!" Nafas Mike memburu. Lula menggelengkan kepala dengan pelan dan tangannya tetap memegang kaki Mike dengan kuat.
"Aku gak akan pergi kalo kamu masih tetap berdiri disini. Turun Mike. Please" Nada suara Lula begitu memohon. Mike masih tak bergeming dari tempatnya.
"Aku mohon, turun" pinta Lula masih dengan nada yang sama.
Mike menutup matanya. Terlalu enggan menanggapi permohonan gadis dibelakangnya.
"Aku mohon Mike, turun. Please, turun ya Mike" Nada suara Lula sudah sangat getir. Hatinya kalut melihat orang yang dicintainya berdiri diatas tembok jembatan seakan ingin memgakhiri hidupnya. Jantungnya berdegup kencang sedari awal obsdian coklatnya menangkap dengan jelas laki-laki tersayangnya sudah berdiri diatas tembok jembatan dengan merentangkan tangannya.
"Mike aku mohon. Turun" pintanya sekali lagi. Tepat setelah menyelesaikan ucapannya, tuhan mengabulkan keinginannya. Mike turun dengan meloncat tepat kehadapan Lula.
"Mau lo apa?" Mike bertanya dengan ketus. Lula berkeringat dingin, pikirannya blank dalam sekejap.
"Mau lo apa gue tanya?" Mike berteriak tepat didepan wajah Lula sehingga membuat Lula berjengit kaget.
"Aku peduli sama kamu Mike. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Aku tahu kamu terpuruk tapi bukan berarti kamu ingin mengakhiri hidup kaya gitu aja. Nyawa kamu itu berharga mike" Lula menghembuskan nafas lega setelah mengakhiri ucapannya.
Mike mengacak rambutnya dengan kasar. "Tau apa lo tentang gue. Gak usah sok peduli sama gue. Asal lo tau, gue berdiri diatas sana bukan untuk mengakhiri hidup gue"
"Sekarang, mending lo pergi dari sini dan jangan pernah temuin gue lagi" Mike berujar dengan nada yang tegas.
"Mike" panggil Lula pelan.
"Aku peduli sama kamu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa" Mike memutar bola mata dengan malas.
"Lo jangan pernah berharap gue simpatik dengan kata-kata lo. Lo gak ada artinya dihidup gue. Sekali lagi gue minta pergi dari sini dan pergi juga dari hidup gue" Nada suara mike terdengar begitu dongkol.
"Tapi Mike, Ak-" Jari telunjuk Mike tersimpan erat didepan bibir Lula.
"Gue gak mau denger kata-kata lo lagi. Sekarang pergi dari sini" Lula mengangguk paham. "Oke, aku akan pergi dari sini dan pergi dari hidup kamu. Tapi aku minta waktu lima menit untuk jelasin semuanya sama kamu. Aku juga minta kamu jangan potong penjelasan aku nanti" Mike diam, tidak menolak ataupun menerima permintaan Lula. Lula berpikir dengan diamnya Mike, Mike memgizinkannya untuk memberi penjelasan.
"Aku bukan orang yang membuat hubungan kamu sama kak Luna hancur. Aku juga bukan penyebab atas kematiannya kak Luna. Aku minta maaf gak bisa ngasih bukti itu sekarang, aku udah janji sama kak Luna untuk ngasih tahu kamu diwaktu yang tepat dan waktu yang tepat itu bukan sekarang. Aku gak maksa kamu untuk percaya sama penjelasan aku" Lula menghembuskan nafas. Berniat melanjutkan penjelasannya tapi dipotong oleh Mike.
"Tanpa lo maksa pun, gue emang gak akan pernah percaya sama omongan lo"
Lula menggigit bibir bawahnya sendiri. "Aku emang jatuh cinta sama kamu, tapi aku juga tahu diri dan sadar bahwa kamu hanya cinta sama kak Luna. Dihati kamu gak ada ruamg buat aku ataupun buat orang lain. Kak Luna memang berniat mendekatkan aku sama kamu, aku udah nolak berkali-kali tapi kak Luna tetap teguh sama pendiriannya. Sampai pada akhirnya kamu dengar semua pembicaraan aku sama kak Luna dan membuat hubungan kalian hancur. Sayangnya kamu gak denger pembicaraan itu sampai akhir" Mata Lula berkaca-kaca.
Lula memejamkan matanya sejenak. "Percuma juga aku jelasin semuanya, kamu emang gak mau percaya-kan sama ucapan aku. Gapapa aku ngerti kondisi kamu sekarang seperti apa. Aku akan ngasih semua buktinya tepat dihari ulang tahun kamu, bulan depan. Kamu datang aja ke tempat pengistirahatan terakhir kak Luna jam sepuluh pagi. Buktinya akan ada disana. Kamu tenang aja, aku gak akan menampakkan diri aku dihadapan kamu" Mike tertegun sebentar mendengar ucapan Lula.
"Aku pamit" Lula meninggalkan Mike. Dilangkah kedua Lula menghentikan langkahnya. Kemudian membalikan badan. "Dan asal kamu tahu, aku bukan pengemis cinta" Hati Mike terasa tertusuk jarum yang teramat tajam. Ingatannya kembali pada kejadian sebulan yang lalu, disaat dirinya mengatakan tanpa belas kasih bahwa Lula merupakan pengemis cinta. Rintik hujan yang sempat reda kembali membasahi bumi, mengiringi perpisahan kedua insan tersebut yang masih terbalut dalam melodi kesalahpahaman. Bayangan Lula semakin tak terlihat oleh netra Mike. Bentala seakan ikut merasakan kesedihan yang tercipta dalam kalbu kedua insan tersebut. Sang bagaskara juga enggan menampakkan diri. Kini, hanya awan yang semakin menghitam yang hanya menyelimuti nabastala.