Meidina terjatuh di lantai koridor, semua yang melihat mentertawakannya. Ia berusaha bangkit dan sepasang matanya dengan tajam mencari kaki yang menjegalnya tadi.
Senyuman sinis terukir di wajah Shinji. Si kembar sialan yang kelewatan. Ia ngeloyor pergi setelah melihat Meidina jatuh ditertawakan umat sekolah.
Meidina buru - buru pergi ke toilet. Bajunya basah separuh badan. Lantai tempatnya terjatuh tadi basah karena hujan.
Ia berkaca, membuka kacamata tebalnya. Membersihkan baju lusuhnya.
Ia menarik nafas dalam - dalam. Sabar...sabar. Pikirnya.
"Wahai Miror - mirror, apa gue terlalu jelek?" Tanyanya bergumam sendiri tiba - tiba.
"Wahahaha....iya lo miskin dan jelek." Ujarnya meledek menjawab sendiri.
"Kalo gue kaya tapi cantik? Kira - kira mereka masih tetep bully gue gak?"
"Jangan tanya. Lo jelek, jelek, jelek. Mereka gak tahan liat lo."
"Kalo gue miskin tapi cantik?"
"Hmmmm...." Si cermin berpikir. "Sepertinya mereka setidaknya akan berhenti meledek lo."
"Jadi permasalahannya gue ini jelek. Gue miskin masalah no dua gitu yak?" Meidina berspekulasi.
Ia kembali bercermin. Memasang kacamatanya dan memeriksa kejelekannya kembali. Wajahnya yang berminyak kayak habis makan gorengan, bibir kering kerontang, hidung berkomedo seperti landak, ditambah jerawat disana sini bentar lagi panen, oh ya sudahlah.
Meidina merapikan dirinya dan memakai kardigan hitam untuk menutupi bajunya yang kotor. Lalu ia berjalan keluar toilet dan mengendap - ngendap.
Hari ini sekolah SMA 1 sedang menggelar Pensi. Para siswa bebas tak belajar seharian. Namun ia sendiri tampaknya tak ingin ikut berbaur. Ia akhirnya memutuskan pergi ke perpustakaan. Tempatnya bermeditasi.
Yes, pikirnya. Perpus sedang sepi.
Meidina mencari buku yang ingin dibacanya. Di rak paling ujung dan tersembunyi ia mengambil buku yang diselipkannya di antara buku lain minggu kemarin. Kemudian duduk menyepi di pojokan.
Ia merenung. Ia tak punya teman disekolahnya. Lebih tepatnya temannya mundur satu persatu. Mungkin karena ia jelek. Pikirnya lagi. Ia masih belum berhenti memikirkannya.
"Semua ini gara - gara si Shinji sialan." Umpatnya agak kencang. Merasa puas karena perpus sedang sepi.
Dipikir - pikir lagi, semua bermula karena Meidina berkonfrontasi dengan Shinji.
Semua bermula ketika ia menumpahkan saus pada bajunya di kantin. Shinji yang tak terima, murka. Dan mulai mengolok - ngoloknya "Si Buluk".
Ketika ia membela temannya yang mencari masalah dengan Shinji, ia makin mengacungkan bendera perang dengan Meidina. Satu sekolah pun ikut memusuhinya.
The power of Shinji yang populer karena ia crazy rich dan ganteng kayak Oppa Korea.
Cih. Meidina meludah tak kasat mata. "Apanya yang ganteng? Masih gantengan idola Kpop gue." Celetuknya lagi.
Diingatnya lagi, temannya yang satu - satunya mundur dan tak berani mendekati Meidina lagi karena takut dengan Shinji.
Meidina merutuk kesal. "Awas ya lo Shin. Gue bejek - bejek muka lo. " Ia menggambar wajah jelek Shinji di kertas dan menusuk - nusuknya dengan pulpen. Aw psycho.
Tiba - tiba terdengar suara seseorang tertawa terkekeh.
Siapa tuh? Pikir Meidina merinding.
Seseorang berdiri menyilangkan tangan didadanya. Dan ia mencondongkan mukanya ke arah Meidina.
"Itu adek gue ya yang lo gambar?" Tanya seorang pria tiba - tiba.
Meidina kaget bukan kepalang. Wajah Shenoval tiba - tiba nongol persis di pinggir Meidina bak setan lagi bisik - bisik. Ia hampir saja terjatuh dari kursi.
Shenoval meraih kursinya dan menahan Meidina supaya tidak jatuh.
Sepersekian detik hal itu membuat Meidina terkesima. Seperti beradegan slow motion di sinetron bucin dan diiringi backsound lagu cinta.
"Ma - ka sihh." Meidina tergagap. Lalu ketika melihat gambar Shinji di kertas, ia merasa kalut. "Eh ini bukan dia kok." Ujarnya berkilah.
Shenoval menahan senyum geli.
Eh kok dia senyum - senyum ya. Beda amat sama kembarannya si Shinji. Dalam hati Meidina.
"Iya adek gue kalah ganteng ko sama idola Kpop lo." Ujar Shenoval yang rupanya mendengar keluhan, umpatan, makian dan aksi voodoo Meidina.
"Oops soryyyy." Meidina ketahuan.
'Duh, celaka.' Pikirnya. 'Terus dia mau ngapain ya? Mau masukin gue ke tong sampah atau bejek - bejek gua? Duh ngeri. Tapi gue denger dia baik. Gak seperti kembarannya yang sinting itu. Ah. peduli amat deh. Liat mukanya aja sama, gue sebel.' Pikiran Meidina meracau.
Sementara pandangan Shenoval malah tertuju pada sebuah novel yang dihimpit tangan Meidina.
"Buku lo boleh gue lihat?" Tunjuknya.
"Ini?" Meidina mengangkat novel kesayangannya dengan ragu.
Novel itu berjudul 'Namaku Hiroko.' Novel jadul yang langka. Shenoval membuka halaman demi halaman sekilas. Tampaknya ia tertarik dengan novel itu.
"Ini terbitan yang aslinya. Gue salut perpus bisa dapet novel ini." Ujarnya antusias.
Meidina terpana. 'Gue gak salah denger? Shenoval suka novel? Kayaknya emang beda sama kembar siamnya.'
"Lo udah baca?" Tanyanya lagi.
"Udah sih." Meidina mencium gelagat Shenoval yang akan meminjam novel yang cuma ada satu - satunya di perpus itu. Ia langsung mengambil kembali novelnya secepat kilat dari tangan Shenoval.
Shenoval cemberut. Meidina tiba - tiba merasa dia cute. Ia pun menampar pikirannya.
"Boleh gue pinjem? Sebagai gantinya lo boleh minta apapun sama gue. "
Sultan mah bebas pikirnya. Segitu inginnya kah Shenoval membaca novel ini?
Meidina berpikir keras. Baiklah. Toh dia sudah baca ke 12 kalinya ini.
"Ini gue pinjemin. Tapi balikin ke gue lagi ya." Meidina menatapnya serius sambil ketus.
Shenoval kembali meraih novel bersampul warna - warni itu. "Oke."
" Soal lo bisa minta apapun ke gue, gue serius ya." Ujar Shenoval.
Meidina seolah tidak tertarik. 'Emangnya gue bisa minta apa, iphone?' Pikirnya geli.
"Gue simpen dulu wish gue." Ujar Meidina.
"Oke, " lalu Shenoval pergi tanpa memalingkan muka, hanya mengucapkan. "Dah."
"Serius gak sih dia?" Meidina bertanya - tanya.
***
Besoknya pensi sekolah belum berakhir. Hari ini digelar pagelaran musik. Para siswa dari perwakilan kelas wajib tampil membawakan lagu baik solo maupun bergrup.
Siang itu saat akan penutupan pagelaran musik, Bu Dewi, wali kelas Meidina menghampirinya. Ia memaksa meminta Meidina bernyanyi di penutupan acara itu. Sebab, si Vina tiba - tiba demam panggung dan bolos sekolah hari ini.
Meidina menolak keras. Namun karena Bu Dewi menjanjikannya nilai yang cemerlang di mata pelajaran bahasa Mandarin yang tak dikuasainya, maka ia setuju. Dengan berat hati.
Saat namanya dipanggil ke atas panggung, jantungnya berdetak kencang.
"Hah gak salah denger? Si Buluk mau nyanyi?" Gumam salah satu penonton.
Meidina sedikit kesal pada Bu Dewi. 'Bu Dewi apa gak tau kalo gue lebih rawan dibully daripada Si Vina?' Ujarnya dalam hati.
Tapi ia tak boleh mengecewakan kelasnya.
Meidina naik ke atas panggung dengan gugup. Saat melangkahkan kaki ke depan mic, semua riuh meyoraki.
"Ngapaian lo buluk? Turun! Turun!" Sorak mereka.
Meidina tak peduli. Ia menutup mata. Menarik nafas dalam. Saat musik mengalun ia mulai bernyanyi.
'Oh, I dont know what you've been told
But this gal right here's gonna rule the world
Yeah, that is where I'm gonna be because I wanna be..
No, I dont wanna sit still, look pretty
...
Mereka yang menonton gelagapan. Sorak mereka menurun. Mendengarkan lagu yang dibawakan Meidina. Ia bernyanyi dengan merdu, fasih dan memukau.
"Damn. Ternyata dia bisa juga nyanyi." Shinji berdiri di belakang penonton membisiki Shenoval.
"Kenapa lo, jatuh cinta?" Shenoval meledek.
"What. Gue sama dia? Gak usah ngaco. Gua cuma salut. Tapi bukan berarti gue mau baikan sama dia yang udah nantangin gue berkali - kali."
"Hati - hati bro, ego lo bisa kebunuh sama cinta suatu hari." Celetuk Shenoval.
Shinji tidak mendengarkan. Ia sibuk mendengar suara Meidina.
Setelah ia bernyanyi, Meidina cukup percaya diri dengan pujian penonton yang terdengar samar - samar ditujukan padanya.
Akhirnya ada sesuatu yang bisa ia tampilkan selain wajahnya yang sering dicemooh.
***
Saat pulang sekolah, hujan lebat mengguyur. Pensi buru - buru dibubarkan karena khawatir kebanjiran. Para siswa pun berlarian pulang basah kuyup.
Meidina menunggu bis di halte depan sekolah. Saat tengah menunggu ia bertemu Kania mantan temannya.
Meidina ragu sekali ingin menyapanya. Tapi bagaimanapun Kania telah mengisi hari - harinya di sekolah sebagai teman sekelas saat semester 1 dulu. Tapi kini, teman sekelas itu mengacuhkannya sampai detik ini, tak pernah bicara ataupun mengirim pesan padanya.
Meidina terheran sebegitu takutnya kah ia pada Shinji sehingga ikut membencinya.
Meidina melempar senyum miris pada Kania yang berpapasan dengannya. Kania membuang muka.
Kali ini ia punya keberanian untuk bertanya mengapa?
Kania tengah cekikikan bersama teman - temannya saat Meidina menepuk pundaknya.
Kania menoleh sinis.
"Boleh gue bicara sebentar?" Meidina memberanikan diri setelah sekian lama. Keberaniannya mungkin efek percaya diri setelah bernyanyi tadi.
"Mau ngomong apa sih lo? Sok kenal deh! Kalo mau ngomong disini aja, depan teman - teman gue."
Meidina terkaget dengan sikap Kania. Benarkah ia yang dulu dikenalnya?
"Please Kania. Ini antara kita berdua. " Meidina bersikeras.
Teman - teman Kania berbisik - bisik.
Kania takut dengan anggapan mereka bahwa ia pernah berteman dengan Meidina.
"What? Emangnya lo siapanya gue? Temen gue? Mana ada yang mau temenan sama orang buluk kaya lo! Kalo mau ngomong depan teman - teman gue nih biar mereka denger."
Meidina menghela nafas. Mengurut dadanya.
"Ok fine." Meidina melirik teman - teman Kania satu - satu. Tampang mereka sinis semua. Ia menghela nafas tak peduli lagi. "Gue cuma mau ngomong kenapa lo benci gue selama ini?"
Seketika mereka tertawa riuh mendengarnya.
"Hah gak salah lo? Gue tuh bukannya hanya benci, tapi gue juga jijik sama lo. Gue malu temenan sama lo. Asal lo tau ya, gak ada juga yang mau temenan sama lo.
Udah jelek, sering gangguin si Shinji." Ketus Kania.
Bak mendengar sebuah petir di tengah hujan, Meidina tak menyangka ucapan Kania sejahat itu. Seharusnya ia sudah menduganya.
"Jadi selama ini gue temenan sama lo sia - sia." Meidina kecewa.
"Berisik. Bodo amat." Kania melempar gelas minuman yang dipegangnya ke baju Meidina. "Nih, hadiah buat lo karena kepedean abis sok - sokan nyanyi tadi."
Byur. Bajunya kini kotor dua kali.
Teman - temannya Kania terkejut Kania berani mengguyur Meidina. Namun mereka pada akhirnya ikut tertawa meledek dan bersorak. "Buluk! Buluk! Buluk! Buluk! Buluk! Buluk!"
Setelah mobil jemputan mereka datang, mereka bubar.
Sementara Meidina tertegun. Terluka. Terhina. Mana yang lebih menyedihkan?
Ia tak menyangka harapan untuk memperbaiki hubungannya dengan Kania sirna. Kania telah menyatakan kejujurannya tadi.
Mungkin Kania benar. Ia terlalu kepedean tadi.
Meidina berpikir akhirnya tak ada harapan. Di sekolah akan berat, selama 2 tahun sisa sekolah ia akan sendirian.
Ia menyeka air matanya. Ia melangkah gontai, memilih berjalan dengan hujan yang jatuh bersama kesedihannya.
Sekian lamanya ia berjalan, dinginnya hujan tak dihiraukannya.
Tiba - tiba suara klakson meneriakinya dari belakang. Meidina yang sedang kosong tak mendengarnya.
Ban motor itu berdecit hampir menabraknya. Meidina terserempet hingga kacamatanya pecah dan jatuh. Motor Ninja itu juga terkapar bersama dengan pengemudinya berguling di aspal.
Astaga.
Meidina menghampiri tergesa. "Lo gak kenapa - kenapa?"
Pengemudi yang masih menggunakan helm itu mengumpat, "gila, lo budek ya gak minggir - minggir. Cari mati ha?" Rutuknya sambil membuka kaca helmnya.
"Eloo?" Meidina terkejut.
Shinji lebih terkejut lagi. "Elo Buluk?" Shinji mengira - ngira. Ia memicingkan matanya, perih karena darah dan air hujan.
"Lo sengaja ya cari gara - gara mulu ma gue." Bentaknya.
Meidina terdiam. Ia lelah. "Sory..gue melamun. gue belum mau mati juga sih.."
Pandangannya tertuju pada tangan dan wajah Shinji yang terluka. Telapak tangan dan wajahnya tergores. Sedikit darah segar mengalir.
Meidina mengeluarkan kotak P3K kecil yang selalu dibawanya. Dengan sigap membalut luka kecil itu.
Walaupun Shinji meringis dan menolak, ia tetap mengobatinya.
"Sorry gue bikin lo jatuh dari motor. Dan thanks lo gak nabrak gue. Kalau lo tau itu gue, pasti lo tabrak gue ampe mati ya kan?"
Shinji menyembur tertawa. "What! Gue gak bodoh untuk mau dipenjara. Dan gue gak seketerlaluan itu." Ujarnya ragu. Ia memandang Meidina tanpa kacamata. Seperti orang berbeda. Shinji nyaris tak mengenalinya.
Dan Meidina yang satu ini tampak murung tidak seperti biasanya yang selalu memberontak dan selalu berani.
"Lo gak kenapa - napa kan Buluk?"
Meidina tak menjawab. Ia selesai mengobati Shinji dan ngeloyor pergi tanpa sepatah katapun. Meninggalkan Shinji yang kebingungan. Dan enntah mengapa ia kali ini begitu merasa bersalah padanya.
Ia kemudian memungut kacamata Meidina yang rusak dan pecah. Memandangi kacamata itu dan merasa galau.
***
Meidina mengendap - ngendap masuk ke perpus dan benar saja menemukan Shenoval sedang duduk tertidur di meja yang sama.
Ia menyambar Shenoval yang sedang tertidur dan berbisik di telinganya.
"Pssst...gue udah tau apa wish gue. Lo masih pegang janji lo kan?" Bisik Meidina. "Denger gak lo?"
Lama tak ada jawaban, Meidina kecewa dan hendak pergi.
"Kenapa sih kaya maling? Ngumpet - ngumpet gitu? " Shenoval lalu menguap. Hoaam..
"Bikin gue jadi cantik." Ujar Meidina tiba - tiba. Ia menatap Shenoval serius.
"Hah?" Shenoval terkejut.
"Rubah penampilan gue. Bawa gue ke hair stylist kek, atau ke klinik perawatan kulit kek, pokoknya gue butuh saran buat jadi cantik." Ujar Meidina menangis tersedu.
Entah mengapa di hadapan Shenoval keberaniannya runtuh. Dan ia rela mencurahkan isi hatinya padanya.
Shenoval tersenyum geli. Meidina tampak sungguh lucu ketika menangis.
"Hmmmm." Ia berpikir sejenak. Ia tak tega. Juga sebenarnya ikut merasa bertanggung jawab karena mungkin ia begini karena Shinji dan teman - teman di sekolahnya.
"Gue tau wish gue kebangetan ya. Ya udah gak jadi." Meidina merasa malu dan hendak pergi.
Shenoval mendehem.
"Oke. Wish lo gue terima. Lo ikut gue pulang sekolah." Shenoval menarik tangan Meidina yang hendak pergi.
Meidina tak percaya. Meyakinkannya kembali. Shenoval mengangguk. Meidina kegirangan dan memeluk Shenoval. Lalu agak canggung setelah ketidaksengajaan itu. "Ooops sory."
Sesaat tadi Shenoval tertegun, terkesiap dengan aroma parfum Meidina. Begitu harum.
***
Satu bulan kemudian,
setelah perawatan yang di temani Shenoval di klinik kecantikan...
Meidina kini bukan Si Buluk.
Pada dasarnya Meidina cantik. Matanya seperti berlian, cemerlang tanpa kacamata. Yah, walaupun ia memakai lensa kontak. Rambutnya panjang yang tadinya selalu dikonde seperti emak - emak, hidungnya mancung yang tadinya tertutupi kacamata, bibirnya tipis berwarna merah muda alami yang tadinya kering kerontang dan wajahnya bersih yang tadinya berjerawat.
Meidina kini tak hanya cantik tapi juga galak. Begitu kata teman - teman sekolahnya.
Walau sudah tidak ada lagi yang membulinya di sekolah, ia tetap saja seolah balas dendam dan tak sudi dibuli lagi.
Pernah ketika sesorang mengatainya, "Duh, buluk, sekarang cantik ye, oplas dimana nih?"
Ia akan membalas, "Gue oplas di Korea. Kenapa lo, gak mampu kan oplas?" Sindir Meidina kejam.
Sebenarnya ia mempunyai tujuan tersendiri. Wajah cantiknya kini menjadi senjata untuk membalas dendam.
Juga ketika Kania bertanya padanya,
"Buluk lo punya sugar daddy ya. Ko bisa sih perawatan?"
"Sorry ya buk. Gue gak level sama om om kayak lo. Tuh sugar daddy gue." Tunjuknya pada Shenoval.
Kania bukan hanya terkejut tapi juga marah ketika melihat senyuman Shenoval.
Semenjak saat itu tak ada lagi yang berani memanggilnya Si Buluk.
"Sorry ya Shen. Gue panggil lo sugar daddy tadi."
Shenoval cuma senyum - senyum. "Kenapa lo gak panggil gue pacar sekalian?"
Eh. Meidina tersipu. Apa yang barusan dia bilang? Becanda kan?
Mereka pun tertawa. Ini kali pertama Meidina tertawa lepas tanpa beban di sekolah.
***
Suatu ketika sekolah mengadakan acara camping yang semua siswanya wajib ikut tanpa terkecuali.
Saat itu Meidina bertugas mengumpulkan kayu bakar bersama Shinji.
Meidina berpikir untuk mengganti partnernya, karena tak mau dipasangkan dengan musuh bebuyutannya. Namun Bu Dewi menolak.
Ia segera pergi menyusuri pinggiran hutan memunguti kayu. Dan Shinji melakukan hal yang sama. Mereka tak berbicara satu sama lain. Bekerja dengan heningnya hutan.
Terakhir mereka berbicara adalah ketika kecelakaan motor beberapa bulan lalu.
Dan ketika Meidina merubah penampilannya, Shinji tak pernah berani muncul di hadapannya.
Meidina merasa risih di dekat Shinji. Ia tak mau berada di dekatnya, jadi ia menjauh.
Shinji sendiri tampaknya agak canggung berada di dekat Meidina jadi ia pun menjaga jarak.
Setelah setengah jam mencari kayu bakar seadanya, Meidina baru menyadari jika ia telah masuk ke dalam hutan, jadi ia memutuskan untuk kembali.
Perjalanan ke luar hutan tampak ganjil karena memakan waktu yang lama. Ia memeriksa keadaan. Sepertinya ia tak mengenali tempat ini. Jalurnya berbeda dengan jalan yang ia lewati tadi.
Celakanya ia memutuskan untuk berpisah dengan Shinji tadi. Sekarang nampaknya ia tersesat dan ia berpikir untuk memanggil seseorang. Ah seandainya ada Shenoval disini. Sosok yang selalu menolongnya.
"Meidinaaa...!!!!!!" Tiba - tiba sebuah suara teriakan samar memanggilnya. Suara Shinji.
Meidina kebingungan untuk menjawab karena harga dirinya.
"Gue disini!!!!" Jawab Meidina akhirnya.
"Lokasi lo dimana? Gue samperin." Teriak Shinji lagi.
"Gue gak tauuu! Coba lo kesiniii ikutiin suara guee!!!"
Meidina tidak menyadari bahwa Shinji mengetahui ia telah nyasar di hutan, dan ia telah mencoba mencarinya dari tadi.
"Terus bersuara. Jangan sampe ilang!! Dan jangan bergerak, diam disitu!!" Teriaknya.
Bagaimana ia harus bersuara? Ngobrol layaknya teman gitu? Pikir Meidina. Ia sangat canggung dengan musuhnya dan memaki keadaan sial ini.
Lalu ia memikirkan sebuah ide. Ia bernyanyi.
And then I see a darkness
And then I see a darkness
And then I see a darkness
And then I see a darkness
Did you know how much I love you?
Is a hope that somehow you
can save me from this darkness
"Woooii! Bisa gak nyanyinya jangan lagu sedih. Kayak mau ditelen zombie aja lo." Protes Shinji.
What. Meidina hanya melantunkan lagu yang terlintas di pikirannya. Yah..kebetulan itu lagu tentang zombie. Dan Shinji tahu lagu itu rupanya. Ia merasa malu.
Kemudian ia berhenti bernyanyi karena hening. Tak terdengar suara Shinji.
Meidina lalu memanggilnya. "Lo dimana..???" Hanya ada balasan gema yang memantulkan suaranya kembali. Meidina mulai panik.
Sementara di sisi lain Shinji juga merasa aneh. Tak terdengar suara Meidina. Padahal baru beberapa detik yang lalu.
"Mei, kenapa lo berentii!!!" Teriaknya. "Oke oke. Lo boleh nyanyi lagu yang tadi asal lo jangan berhenti. Gue bisa kehilangan jejak lo."
Tak terdengar sahutan darinya.
Shinji segera bergerak cepat. Ia mungkin malah menjauhi jarak Meidina sehingga ia tak mendengar suaranya.
Meidina ketakutan dan panik karena tak mendengar suara Shinji lagi. Ia mencoba memanggil namanya lagi dan lagi tapi tak ada sahutan. Saat seperti ini, ia tiba - tiba rindu dengan suaranya.
Ia mencoba bergerak dari satu sisi ke sisi lain. Hutan itu dikelilingi pinus. Semua tampak sama.
Sialnya ia buta arah dan tidak membawa kompas. Saat itulah tanah yang dipijakinya longsor yang mengakibatkannya terjatuh ke penggir jurang.
Ia mencoba bergelayutan pada akar pohon sebisanya. Kakinya memijak tanah tapi ia tak mampu naik kembali.
Sambil menangis ia berpikir keras apa yang harus ia lakukan.
Ia meminta tolong sampai suaranya serak. Setelah letih ia memutuskan bernyanyi. Berharap ada orang yang mendengarnya. Menurutnya, bernyanyai adalah salah satu cara mengusir kesedihan.
"Well, let me tell you a story
about a girl and a boy
he fell in love with his best friend
When she's around, he feels nothing but joy
....
Meidina tak kuasa melanjutkan. Tangannya letih, ia khawatir sebentar lagi ia akan terperosok dengan tanah yang terus bergelosor ke bawah itu.
Saat itulah suara Shinji seolah terdengar kembali
Saat ia menunduk betapa dalamnya jurang itu, sebuah tangan kuat mencengkramnya. Dan mengangkatnya hingga naik ke permukaan tanah.
Ia meraih tubuh Meidina. "Lo gapapa?"
Meidina terperangah. Tak percaya ia selamat. Tampaknya Meidina shock. Sesaat ia hening memikirkan kejadian buruk tadi.
Kalau saja tak ada yang menolong...Meidina memikirkan hal terburuk : kematian.
Ia memeluk Shinji erat. Berpikir bahwa mungkin beberapa menit atau detik kemudian ia mungkin akan segera mati terjatuh jika ia tak menolongnya.
Meidina menggeleng. Ia merasa Shinji mungkin mengkhawatirkannya. Dan Meidina merasa senang.
"Gue bilang kan, jangan berenti nyanyi." Ujarnya memeluk wajah Meidina.
Tangannya begitu hangat di wajah Meidina yang dingin. Tiba - tiba ia merasa aneh dan kikuk.
Sesaat kemudian suara sahutan banyak orang meneriaki nama mereka berdua.
Saat itulah Shinji menggenggam tangan Meidina erat dan mengikuti arah suara teman - temannya. Ia tak menoleh pada Meidina sejurus pun. Namun tak melepaskan pegangannya.
***
Kepopuleran Meidina bertambah sejak kejadian Camping satu minggu yang lalu bersama Shinji.
Gosip panas mencuat. 'Musuh jadi cinta'. Begitu judul drama sekolah yang akan para bucin buat di sekolah.
Namun baik Meidina dan Shinji tak pernah bertemu. Mereka berdua saling menghindar.
Sementara itu, Shenoval dan Meidina kerap bertemu di perpus. Dan sering terlihat jalan bareng berdua.
Ketika itu Shinji memperhatikan mereka berdua. Ia sangat ingin berbicara dengan Meidina tentang yang mengganjal di hatinya namun ia tak pernah punya kesempatan. Meidina selalu menghindar.
Bahwa...ia mungkin jatuh hati padanya. Meidina pasti tak percaya bahwa ia jatuh cinta sejak kecelakaan motornya itu, jauh sebelum ia berubah cantik.
Dan kenyataannya bahwa..ia cemburu.
Saat Shenoval membawa Meidina ke rumah untuk mengajarinya matematika dan menjadikannya guru privatnya satu kali seminggu, sungguh membuat Shinji frustasi. Terbakar cemburu. Walaupun setidaknya ia dapat bertemu dan melihat Meidina.
Pergulatan batinnya tak tertahankan hingga ia bertanya pada Shenoval saat makan pagi sebelum sekolah.
"Shen, lo pacaran sama Meidina?" Tanyanya ragu.
Shenoval hampir tersedak karena makanannya. Kemudian ia berpikir sebelum menjawab.
"Menurut lo?" Shenoval bertanya balik.
"Loh nanya balik. Lo suka sama Meidina?" Tanya Shinji serius.
"Lo suka sama Meidina kan?" Ledek Shenoval.
"Wat de fak lo Shen, ditanya malah nanya balik." Shinji kesal.
Kembarannya yang usil itu merasa puas. "Sebaiknya lo tanya sendiri sama dia!" Ujarnya.
Di sekolah ia kembali melihat Meidina. Di sudut ruangan kantin ia sedang senyum - senyum sendiri memandangi sebuah kado di depannya.
Shinji menduga itu dari Shenoval.
Ahhhhh...melihat wajah sumringah Meidina, Shinji tetiba merasa kalah.
Ia kembali merenung. Meidina banyak mengalami kesusahan karenanya. Tak mungkin ia jatuh hati pada orang yang dibencinya.
Ketika melihat Meidina tersenyum Shinji merelakannya. Kalah sebelum bertanding.
Sebuah kotak yang dipegangnya urung diberikannya pada Meidina.
'Sorry Mei, gue belum cukup berani. Isi kotak ini belum bisa gue kembalikan karena ini berarti buat gue.' Shinji memandangi kotak itu.
Well, gue ikhlas. Cinta tak harus memiliki. Pikirnya.
***
2 Tahun kemudian..
Kelulusan tiba. Acara wisuda digelar hari ini. Seluruh siswa berkumpul dengan mengenakan pakaian terbaik mereka.
Shenoval keluar dari mobil Alphardnya dan segera menggandeng Meidina begitu ia melihatnya.
Meidina meraih tangan Shenoval dan melihat Shinji.
Shinji baru saja turun, dan seorang wanita bernama Dita si Primadona sekolah tengah menunggunya. Mereka berangkulan.
Kedua tangan Shinji memegang wajah Dita.
Meidina tersentak. Ia kembali teringat kenangannya saat camping. Saat Shinji menyelamatkannya. Kedua tangannya yang hangat merangkul pipinya. Sangat menenangkan.
Itu adalah kenangan yang tak terlupakan. Dan setiap hari melihat Shinji selama 2 tahun ini bergantengan tangan dengan Dita, dada Meidina terasa sesak.
Hari ini, Shinji terpilih mewakili teman - temannya untuk memberikan pidato wisuda di podium.
Di akhir pidatonya ia berkata...
....
"Teman - teman yang gue banggain, terima kasih sudah mengiringi perjalanan sekolah gue selama 3 tahun ini dengan penuh suka, duka, dan kejutan.
Teruntuk seseorang yang gue gak bisa miliki, selamat atas kelulusan lo, semoga mimpi lo tercapai. 2 tahun ini berat memikirkan lo, tapi gue rela demi lo bahagia.
Gue punya banyak salah sama lo, dan gue gak berani minta maaf karena takut lo gakkan maafin gue. Gue juga minta maaf karena udah suka dan sayang sama lo selama ini, namun pada akhirnya gue harus relain sampai disini. "
Shinji mengakhirinya dengan membisu. Ia lalu mematikan mic yang suaranya melengking memecahkan keheningan seisi sekolah. Sesaat tadi satu sekolah bertanya - tanya untuk siapa pidato terakhirnya itu.
Ia melihat Meidina. Mereka beradu pandang. Meidina menduga - duga siapa wanita yang dimaksud dalam pidatonya tadi. Cinta yang tak ia miliki? Bukankah ia pacaran dengan Dita? Ia bertanya - tanya.
Ia melihat Dita. Wajahnya tampak kesal dan ketus.
Saat Shinji akan menggandeng tangannya ia menepisnya. Apakah mereka bertengkar? Ataukah Dita tahu wanita yang dimaksud bukan dirinya?
Pikiran Meidina merasa terganggu akan hal itu. Tiba - tiba kenangan 2 tahun lalu itu merebak kembali. Memaksa memori Meidina mengingat dengan lekat - lekat.
Rangkulan tangan di kedua pipinya. Tatapan mata Shinji yang peduli. Kekhawatirannya. Dan genggaman kuatnya saat ia hendak terjatuh.
Meidina sebenarnya tak pernah lupa. Namun ia pernah berucap pada Shenoval, ia takkan mungkin jatuh cinta pada Shinji, dan Shinji tak mungkin jatuh cinta padanya.
Di akhir acara ketika Meidina menyumbangkan sebuah lagu, ia lupa bagaimana harus bernyanyi atau lagu apakah yang seharusnya ia bawakan.
Kemudian ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada sebuah lagu.
Lamanya ia berdiri di depan Mic. Matanya nanar mencari - cari Shinji.
Hei pujaan hati apa kabarmu
Ku harap kau baik - baik saja
Pujaan hati andai kau tahu
Ku sangat mencintai dirimu
.....
Ketika ia tengah bernyanyi, Shinji mendengarkan sambil memunggunginya. Menoleh pada Meidina namun segera pergi dari acara itu. Seolah terburu - buru dengan sesuatu.
Setelah acara selesai, hujan turun lebatnya. Shenoval mengantar Meidina pulang dengan mobilnya.
Melihat Meidina diam saja tak biasanya Shenoval merasa ia harus mengungkapkan hal penting.
"Lo tahu gak, gue sama Shinji gakkan satu kampus."
"Maksud lo?" Tanya Meidina memandangi hujan.
"Gue kuliah disini. Sedangkan dia kuliah di Australia."
Ada sebuah tarikan jantung yang membuatnya sakit seperdetik. Ia terkejut mendengarnya.
"Baguslah." Jawab Meidina datar. Menyembunyikan kekecewaannya.
"Apa lo gakkan jujur sama Shinji? Apa lo masih mempertahankan harga diri lo yang sempat berucap lo gakkan jatuh cinta sama mantan musuh lo."
Meidina bergeming.
"Kita juga gak pacaran kan Mei. Sementara Shinji mengira kita begitu. Gue rasanya udah jahat sama adek gue sendiri karena permintaan lo 2 tahun lalu supaya kita terlihat pacaran. Apa lo gak tau apa yang dirasainnya selama ini sama lo?"
"Gue gak tahu dan gak mau tahu." Meidina berkata pada hujan. Pernyataannya jelas sekali mengingkari isi hatinya.
"Yakin? Dia sebenernya sayang sama lo...selama ini. Dia cuma memikirkan lo selama 2 tahun ini. Dan hari ini hari terakhir dia di Jakarta."
Meidina tertegun. Kepalanya mendadak pusing memikirkan apa yang terlewat selama 2 tahun ini.
Lalu ia minta turun di tengah jalan saat hujan deras.
Meidina tak peduli dengan gaunnya yang basah kehujanan. Ia berjalan ke rumah dengan sedih.
Ketika melewati sebuah halte ia duduk merenung. Gaunnya yang basah meneteskan air ke lantai.
Di halte ia tertunduk beberap saat lamanya. Ia mengenang, menyesali permintaannya saat itu pada Shenoval untuk membuatnya menjadi seperti ini.
"Lebih baik gue dibenci." Sesal Meidina. Itu akan lebih baik pikirnya. Daripada sekarang ia harus mencintai seseorang yang ia pun segan untuk mendekatinya. Apalagi seseorang itu akan pergi.
Meidina merasa sesak. Ia tak mengira jatuh cinta pertama kalinya ini begitu sakit.
Dalam suara hujan dan senja yang menghampirinya, seseorang berdiri tepat didepannya.
Seseorang menjulurkan saputangannya. Mengusap air hujan yang bergenang di wajah Meidina.
"Shinji?" Meidina terkejut.
Shinji menyunggingkan senyumnya. Untuk pertama kalinya ia melihat senyuman itu untuknya.
"Sepertinya gue gak bakalan tenang kalo belum melakukan ini." Ujarnya sambil merogoh sesuatu di saku celananya.
Sebuah kotak yang pernah tak jadi dikembalikan. Isinya adalah kacamata milik Meidina. Kacamata si Buluk. Dan kacamata itu telah diperbaiki.
"Kok bisa ada di lo?" Meidina tersenyum mengenang.
"Saat itu jatuh, pecah karena gue tabrak inget ga?"
Meidina mengangguk. Tentu ia takkan pernah lupa. Kejadian hal itu adalah titik balik mengapa ia ingin merubah diri.
"Terus? Lo jauh - jauh dateng kesini cuma buat ngasih ini." Meidina penasaran.
Shinji membungkuk. "Gue mau minta maaf Mei. Semoga lo maafin gue atas apa yang telah gue lakuin dulu. " Matanya menatapnya tulus sekaligus dengan kesedihan yang dalam.
"Dan gue mau jujur sebelum gue pergi. Gue sayang sama lo dan gak berhenti mikirin lo semenjak kecelakaan motor itu."
Meidina tak bisa menggambarkan keterkejutannya.
"Gue udah suka sama lo sebelum lo berubah."
Meidina tertawa sambil menitikan air mata. "Boong lo." Ujarnya tak percaya.
"Terserah lo percaya atau gak. Gue mungkin jatuh cinta sama lo karena merasa bersalah pada awalnya. Terus ketika kejadian camping waktu itu cukup membuat gue peduli sama lo. Sampai saat ini."
Meidina tak tahu harus berkata apa.
"Boleh gue jujur?" Meidina berkata ragu.
"Ya."
"Gue selama ini gak pacaran sama Sheno."
Apa barusan ia salah dengar, pikir Shinji.
"Tolong jangan benci dia, ini semua permintaan gue." Meidina meremas tangan Shinji. Seakan benar - benar memintanya dengan serius.
Shinji tertunduk. Selama ini ia dibohongi? Atau lebih tepatnya ia salah sangka.
Melihat kacamata kesayangannya seperti baru seolah bertemu dengan cinta dan teman lamanya.
Meidina melepas lensa kontaknya yang selama ini menemaninya tanpa kacamata. Lalu mencoba mengenakan kacamatanya kembali.
"Gue lebih suka jadi diri gue sendiri. gapapa kan?"
Shinji menatapnya penuh makna. Merangkul pipinya dengan kedua tangannya. Kali ini ia tak harus merelakannya.
Namun momen pertemuannya kali ini adalah juga perpisahannya. Dengan berat hati ia harus pergi untuk studi di Australia.
***
Di pesawat
Shinji mendengarkan beberapa lagu yang telah direkam dengan suara Meidina.
Ada satu lagu yang dinyanyikan Meidina yang Shinji suka sekaligus sedih dan kangen.
Whereever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Meidina janji menunggu, dan Shinji percaya suatu hari nanti mereka bertemu kembali.
***