198×,
Wednesday, 11.25 PM before a new year.
Seorang gadis bertelanjang kaki mencoba berlari dari balik pepohonan menuju bibir pantai. Ia ketakutan, matanya sembab menahan tangis.
Kakinya terluka, tapi ia berusaha menyelamatkan dirinya. Wajahnya terdapat luka lebam, dan lehernya terdapat luka sayatan kecil.
Ia terlihat frustasi. Ia berteriak meminta bantuan pada seseorang yang berada di sekitar bibir pantai, namun tidak ada yang mencoba menolongnya.
Tenggorakannya sangat kering, ia melihat darah mengalir di balik lengannya, tangannya nyaris putus karena pria yang mengejarnya memotong jari tangannya.
"Tolong.." suara wanita itu sangat serak, ia kehabisan tenaga untuk bernafas dan berlari secara bersamaan. Ini buruk, dia harus menyelamatkan dirinya.
Ia masih sangat merindukan ibu dan ayahnya yang menunggunya pulang ke rumah. Deru ombak yang sangat kuat mengaburkan suara teriakannya.
Riuh pesta kembang api pergantian tahun di seberang pemukiman warga yang memenuhi langit malam ini. Setengah jam lagi, tahun akan berganti dan gadis itu berfikir nyawanya bisa saja tidak akan selamat.
"Bagaimana mungkin tidak ada satupun yang mendengarkanku,” ucapnya putus asa sambil terus berlari, air matanya menetes bercampur darah yang memenuhi keningnya.
‘Tuhan tolong selamatkan aku’, batinnya berharap ada keajaiban datang yang bisa membuat dia keluar dari situasi ini. Jika Tuhan ingin mencabut nyawanya malam ini beri dia kesempatan untuk bertemu dengan ayah dan ibunya terlebih dahulu. Gadis itu
Seorang Pria dengan tato kupu-kupu di pundaknya mencoba mengamati dari kejauhan.
“Jalang, hentikan jeritanmu suaramu sangat mengganggu.”, Pria berkata sambil memegang sebuah palu di pundaknya. itu membiarkan gadis yang tubuhnya sudah dipenuhi luka-luka dan darah sudah
Membiarkan permainan ini menjadi lebih mengasyikkan. Pria yang mengenakan pakaian jeans lengkap dengan jaketnya menyeret sebuah perkakas untuk bermain lebih banyak, Ia mencoba mengejar wanita malang itu.
Udara dingin yang menusuk ke kulit, nyaris membuat gadis malang itu kesulitan bernafas. Suhu udara malam ini malam nyaris 15 derajad Celcius.
Dingin, sepi dan sunyi. Tidak ada siapa-siapa, hanya wanita itu dan pria yang mencoba membunuhnya. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, di sudut belahan kota yang lain terdengar suara petasan kembang api.
Di sudut lain, bahkan langit hanya menontonnya tanpa berniat membantunya. Gadis itu menahan tangis, dimana Tuhan saat ini. Dia lebih rela mati daripada disiksa oleh pria itu.
"TOLONG...." Rintih wanita itu.
"Tolong.." wanita itu mulai kehabisan suaranya. Kerongkongannya mulai kering, sudah 2 hari dia tidak makan dan minum.
Setelah berhasil kabur dari pria gila yang mencoba mengejarnya, ia kehabisan tenaga untuk bernafas dan berlari secara bersamaan.
Pria itu kembali mengejarnya, merangkulnya, dan mencoba merudapaksa. Merobek paksa dress bermotif floral yang gadis itu kenakan, hingga tak ada tersisa sehelai benang pun.
Gadis itu mencoba mendorong pria itu ketakutan. Ia berteriak sangat keras. Hingga gemuruh ombak nyaris menggulung keduanya di bibir pantai itu.
Bercak darah dimana-mana …
Pepohonan, pasir pantai dan baju gadis itu..
Sunyi sepi dan temaram.
TIDAK ADA YANG MENGETAHUI APA YANG TERJADI PADA WANITA ITU PADA LEWAT TENGAH MALAM.
***
07.35 a.m. 1 January 198×
Aisha melangkah keluar dari mobil menuju lokasi TKP pesisir pantai. Detektif dari kepolisian setempat segera menyapanya sambil memberikan selembar berkas mengenai identitas korban yang ditemukan pagi ini.
"Saya sudah mendengar berita mengenai Anda. Ini berkas dari inspeksi TKP yang sedang kami jalankan. Perkenalkan saya Indah, Asisten Kapten Bagas."
"Baik Indah terima kasih. Saya Aisha Mahendra, panggil saja diriku Aisha." Ujarnya mencoba bersikap ramah sambil tersenyum. Aisha mulai memperhatikan berkas dengan teliti.
"Kapan perkiraan korban meninggal?"
"Sekitar 5 jam yang lalu, diperkirakan sekitar dini hari," sahut Bagas sambil memperhatikan detil berkas yang dipegangnya itu.
"Wanita tanpa busana? Apakah korban pemerkosaan?"
Aisha sangat takjub dengan kasus perdananya di pagi hari ketika memulai tahun baru di kota kelahirannya. Kasus pemerkosaan.
Setelah sekian lama ia meninggalkan kota ini untuk belajar di luar negeri selama beberapa tahun. Sesampainya di sini ia harus berkutat dengan analisis kriminal. Aisha membatin.
"Benar, karena pakaian korban ditemukan sekitar 100 m dari tempat korban ditemukan. Bahkan celana dalam pun ditemukan 20 m dari lokasi kejadian." Indah menjelaskan sambil mengarahkan telunjuk nya ke arah lokasi dimana barang barang korban ditemukan.
"Bagaimana dengan jejak pelaku apakah ada benda yang sempat tertinggal?"
"Kami menemukan satu kancing bermotif di balik genggaman korban. Sepertinya korban sempat melakukan perlawanan dan menarik kancing pelaku."
"Bagus. Kirim bukti benda itu ke bagian forensik dan lab untuk diteliti."
Setelah itu wanita bernama Indah pergi meninggalkannya.
"Malangnya nasibmu sha, pagi hari sudah mendapatkan kasus kriminal." Aisha berbicara pelan kepada dirinya sambil mendekati tkp.
Garis polisi sedang dibentang di sekitar pesisir dekat tugu beruang. Dari jarak 50 meter terlihat seorang korban yang masih di tutupi kain putih.
Lokasi pesisir pantai yang terik dan penuh dengan aroma garam membuat Aisha mual.
Seorang pria berperawakan tegap dalam balutan jas kulit berwarna Hitam dipadupandankan dengan celana jeans mengamati Aisha dari kejauhan.
Pria itu mencoba mendekati wanita itu sambil membawa berkas penelitian rekapitulasi TKP yang sedang ditanganinya.
Pria itumencoba menahan diri untuk tidak terpikat pada wanita yang baru saja datang. Cantik - batin pria itu sambil mengambil langkah panjang untuk segera mendekati wanita yang terus saja mengusik dirinya.
"Selamat pagi gadis cantik, apa yang membawamu kemari?" Pria itu menyapa sambil tersenyum kepada Aisha mencoba bersikap ramah.
"Saya Aisha Mahendra dari bagian Psikolog Forensik diminta oleh Mayor Jenderal Bambang untuk terjun mengikuti perkembangan kasus di lapangan." Sahut Aisha datar.
"Sepertinya kita akan saling terlibat satu sama lain. Perkenalkan saya Bagas Aditya Irawan Detektif dari kepolisian sektor Barat." Ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Pria itu tersenyum hangat ke arah Aisha. ‘Gadis ini menarik sekali,’ pikirnya sambil terus memperhatikan tatapan mata Aisha yang sangat dingin kearahnya.
Aisha menerima jabatan tersebut. "Salam kenal, panggil saja Aisha atau Ais." sahut Aisha canggung. Pria bernama Bagas tersenyum sambil mencoba membungkuk.
"Bagaimana menurutmu, apakah Aisha sudah menemukan clue dari laporan inspeksi olah TKP." Ucap Bagas tanpa basa basi. Ia mempelajari hasil pemeriksaan olah TKP dan menemukan hal yang sedikit janggal.
"Berdasarkan laporan ini, seorang mayat wanita ditemukan di pesisir pantai tanpa busana, luka lebam di sekujur tubuh, terdapat luka sobek di daerah kewanitaan, kedua tangan terdapat lebam."
"Tidak hanya itu saja, di bagian tengkorak kepala belakang terdapat luka pukulan benda tumpul, di bagian leher terdapat lebam hasil tercekik sepertinya ada seseorang yang mencoba mencekiknya hingga korban kehabisan nafas, tidak hanya itu terdapat sayatan kecil yang membuat korban kehilangan banyak darah." Ujar Aisha melihat hasil foto dan laporan yang diterimanya sesaat sampai di lokasi kejadian.
"Saya menduga motif pelaku adalah pembunuhan berencana," tutur Aisha. Matanya menatap yakin kepada Bagas. Tatapannya yang sendu itu benar-benar memberikan daya tarik tersendiri bagi yang memandangnya.
Bagas menghela nafas panjang sambil melihat ke arah lokasi mayat ditemukan. "Pagi hari yang sangat sibuk setelah party liar di malam hari. Kemanakah Tikus itu bersembunyi." Bagas mendesah gusar. "Kita harus menangkapnya."
"Apakah ini jenis Anger Rape ?" Bagas kembali bertanya sambil melihat kearah gadis cantik berambut pirang itu. Aisha yang mendengar analisis pria itu, dia sependapat.
"Saya bisa menduga jika ini dilakukan oleh pria yang mungkin di kenal oleh korban tapi entah bagaimana berakhir dengan tragis." Kata Aisha kemudian.
"Kita butuh lebih banyak bukti Aisha, dan sepertinya kita harus menunggu hasil laporan forensik." jawab Bagas sambil menatap lawan bicaranya sambil tersenyum simpul kearah Aisha.
‘Apa-apaan pria ini mencoba tebar pesona di pagi hari, merepotkan sekali’ gusar Aisha menatap Bagas yang masih saya mencoba bersikap ramah kepadanya.
Bagas dan Aisha berjalan mendekati tubuh korban yang sedang ditutupi kain putih. Bagas kembali membuka berkas.
Daerah pesisir yang tersapu ombak berulang kali membuat penelitian pada wilayah TKP menyulitkan. Aisha berharap ada satu benda atau bahkan jejak DNA yang bisa di temukan dan memudahkan penelitian mencari pelaku pembunuhan sebenarnya.
"Bagas, bisakah kamu pergi sebentar. Saya ingin melihat sekeliling tubuh korban untuk memastikan jejak pelaku yang mungkin tertinggal."
Aisha sedikit khawatir permintaannya itu terlaly arogan dan melukai mitra kerjanya.
"Tolong minta bantuan polisi wanita juga untuk membantuku disini." Pintanya kemudian
Harus diakui, Aisha adalah jenis wanita pemberani yang keras kepala. Dia tidak ingin merepotkan orang lain untuk
"Baiklah. Saya akan meminta Grace membantumu."
Pria itu berjalan ke perkumpulan polisi yang masih sibuk mencari bukti di sekitaran garis polisi.
Dari jarak kejauhan terlihat Bagas sedang berbincang dengan wanita yang memakai seragam kepolisian. Wanita itu mengangguk dan segera menuju lokasi TKP tempat Aisha berdiri dengan mayat korban.
"Maaf menunggu lama. Saya Grace dari kepolisian sektor barat junior Detektif Bagas."
"Saya Aisha Mahendra panggil saja Aisha atau Ais. Saya Psikolog Forensik yang diminta bantuan oleh Mayor Jenderal Bambang."
Sesaat mata Aisha memperhatikan Grace yang menyapanya. Gadis di depannya itu tersenyum merona memandang Aisha.
"Wah jadi Anda Nona Aisha yang sering dipuji pak Bambang. Anda sangat cantik, saya fikir anda artis."
"Artis mana yang mau berepot ria meneliti kondisi mayat." Ujar Aisha terkekeh.
"Saya harap korban tidak bangkit dari kematian." Kilah Grace.
"Saya harap arwahnya tidak meneror kita Grace." Aisha menimpalinya.
Keduanya kini berjongkok mendekati wilayah TKP. Membuka perlahan penutup putih mayat yang di temukan lagi ini. Sidik jarinya sudah rusak dan tidak ada tanda pengenal sedikitpun.
Aisha berpikir pelakunya adalah orang yang cerdik juga rapi dalam memperhitungkan tindakan kriminalnya.
"Coba kamu perhatikan Grace dengan luka di bagian leher, lengan dan bahu ini. Terdapat luka lecet sangat memerah dan mengeluarkan darah kering. Menurutmu benda jenis apa yang dilakukan pelaku untuk merusak hingga memberikan luka sebesar itu?" Aisha mencoba menjelaskan kondisi korban sambil memperhatikan Grace.
"Pelaku sepertinya mencoba menghancurkan psikologis korban, Nona Aisha. Mata korban bahkan tampak sangat ketakutan menjelang kematiannya."
"Seseorang yang melakukannya pasti memiliki sikap narsistik psikomatik, dilihat dari cara dia melakukan keajahatan seksual terhadap korban. Pelakunya membutuhkan perhatian penuh dari korban. Dari pola kejahatan yang dilakukan pelaku memiliki kecenderungan Sosiopat."
"Nona Aisha, tanda itu ... sudah lama saya tidak melihat tanda itu lalu mengapa sekarang." Suara Grace tercekat.
Grace terlihat sangat ketakutan melihat sebuah pola dari salah satu tubuh korban. Grace terdiam membeku dan matanya berkabut, pernafasannya mulai terganggu.
Traumanya muncul kembali, Ia berteriak ketakutan dan nafasnya mulai sesak. Seluruh polisi yang bertugas di lokasi kejadian segera mendekati Aisha dan Grace.
Aisha yang sangat khawatir mencoba memeluk Grace sambil menenangkannya. "Its okay, just close your eyes."
Grace pingsan dibahu Aisha. Gadis ahli forensik pun berteriak sambil membangunkan Grace yang tiba-tiba pingsan.
"Grace sadarkan dirimu. Jangan membuatku khawatir." Aisha berteriak membangunkan Grace yang tidak sadarkan diri.
Beberapa polisi yang sudah berada di sekitar mereka berdua mencoba membantu Aisha untuk mengambil alih Grace yang tidak sadarkan diri.
Bagas yang mendengar keributan segera berlari menghampiri Aisha dan Grace.
“Apa yang terjadi?” tanyanya sedikit cemas ke arah Aisha. Aisha hanya menggeleng tidak tahu.
“Ia tiba – tiba pingsan setelah melihat gadis itu.” Jawabnya kemudian.
Bagas memperhatikan Grace yang pingsan di bahu Aisha, hanya ada satu hal yang membuat Grace selalu traumatis.
’Tuhan semoga bukan hal itu, tidak Tuhan jangan biarkan Iblis itu muncul kembali.’ batin Bagas dalam hatinya.
Kaki Bagas sedikit berat, Ia seperti berjalan di es tipis yang bisa membuatnya hanyut tenggelam jika Es tersebut mencair.
Tangannya sedikit bergetar, perlahan-lahan Ia membuka kain penutup mayat gadis yang saat ini sedang di TKP.
Bagas terjatuh berlutut, air matanya menetes tanpa diminta. Tiba-tiba dadanya sesak dan, tanpa terduga, matanya berkaca-kaca.
Aisha tercekat tak bisa bersuara. Kedua manusia itu kini harus menyadari bahwa pelaku bukanlah criminal biasa.
Mayat yang ditemukan mereka pagi ini tidak pernah terindentifikasi identitasnya setelah menghabiskan penelitian yang panjang selama lebih 5 tahun. Beberapa detektif yang berjuang melakukan penelitian memutuskan bunuh diri karena menganggap dirinya tidak becus.
Aisha, Bagas, Indah dan juga Grace memutuskan untuk pindah tugas dan mereka berempat merasa bersalah seumur hidup karena tidak bisa menemukan siapa pembunuh dari wanita malang itu.
Pada tahun 199× kasus penemuan wanita di pesisir pantai diputuskan sebagai salah satu kasus misterius yang beku di negara tempat mereka tinggal, karena tidak bisa ditemukan siapa pembunuhnya juga identitas dari wanita itu.
***
end.