"Nora gw suka sama lo" Bora yang mendengar pengakuan mengejutkan dari sahabatnya itu terdiam, wajahnya kaku untuk sekedar memberi tanggapan ekspresi
"Gw gak berharap apa-apa karena gw tau batasan gw. Terlebih lo udah milik orang lain seutuhnya, but thanks lo mau dengar pengakuan gw. Lumayan lega lah walau nyesek pas udah jadi punya orang gw baru berani bilang hahaha gapapa lah penting lega"
Nora masih diam, perasaan pada Tio yang masih tersisa muncul kembali tanpa sadar. Namun Tio benar mereka harus tahu batasan karena kini Nora sudah milik laki-laki lain
FLASHBACK
"Gila banget dosen itu Yo gw ARGHHHHH pengen banget gw geplak pala botaknya" Omel Nora yang baru saja selesai kelas terakhir di siang hari yang panas ini
"Sabar gitu-gitu juga kalo gak dikasi nilai lo nyarinya dia" Balas Tio masih fokus dengan laptopnya "Yoooo temenin gw ya ya ya?"
"Kemana?" Nora menggandeng lengan Tio manja tak lupa dengan ekspresi wajah yang dibuat seimut mungkin berharap Tio mau mengabulkan permintaannya kali ini
"Hehehehehe nonton konser, gw beliin tiketnya buat lo. Nadine gak bisa datang bokapnya sakit lo aja yang temenin ya?"
Tio mendengus dia sudah menduga permintaan yang akan diucapkan Nora. Sejujurnya dia paling malas berada di tengah keramaian, berdesak-desakan, panas, lapar dan haus Tio paling benci semua itu
"Gak gw ada kegiatan besok" Wajah Nora berubah cemberut tangannya yang sejak jadi bergelayut manja di lengan Tio perlahan terlepas. Tio justru lebih kesulitan kalau Nora sudah ngambek ribet urusannya
"Oke Oke tapi hari pertama lo pergi sendiri hari kedua gw temenin. Gw beneran ada kegiatan besok" Nora langsung tersenyum sumringah
"MAAACIIII AAAA SAYANG DEH UMUMUMU" Tio memutar bola matanya malas, dia memilih mengabaikan Nora yang begitu bahagia.
"Kak Tio ini susunan acaranya coba diliat dulu mungkin ada yang perlu direvisi" Tio yang sedang fokus mengerjakan hal lain langsung mengalihkan atensinya ke adek tingkat cantik bernama Shelia
"Satu, lima, sama semua jangka waktunya perbaiki lagi gw tunggu 2 jam lagi abis ini gw harus pergi" Entah kapan datangnya, Nora tiba-tiba muncul dan langsung menggandeng Tio
Tak lupa tatapan kesalnya pada Sheila "Siang kak Nora" Sapa Sheila namun tak digubris Nora
"Jadikan? Nanti mampir dulu beli stok makanan" Tio hanya mengangguk setelahnya dia membawa Nora menjauh dari Sheila sebelum perang dunia terjadi lagi
"Kenapa segitunya sama Sheila? Dia itu adek tingkat lagian gw bahas kegiatan sama dia. Next time gw gak mau lagi lo begitu"
"Bela teroooss gak inget gara-gara siapa lo bertengkar sama pacar lo dih masih untung gw bantu menjauh dari siluman ular" Nora membuang pandangannya ke luar jendela mobil
Tio menghembuskan napasnya mencoba mengatur amarahnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi sejak SMA Nora mulai membenci Sheila terutama semenjak Tio sampai putus dengan mantan pacarnya yang tidak lain adalah teman kelas Nora sendiri
"Serah pokoknya besok-besok gak lagi gw liat lo begitu, masa lalu biarlah masa lalu gak usah diungkit terus bisa aja dia udah berubah" Tio melajukan mobilnya mengantarkan tuan putrinya menuju gedung konser
Nora langsung turun tanpa berpamitan begitu sampai di tempat parkir gedung konser. Tio hanya bisa menahan gemasnya, ingin sekali Tio mencubit pipi gembul Nora
"Kak, Sheila boleh nanya kan?" Tio mengangguk, Sheila terlihat bersiap untuk mengatakan sesuatu "Tio tolong ini minta tanda tangan ketua BEM kita butuh izin dia karena acaranya di luar kampus"
"Kita ngobrol lagi ntar ya gw lagi sibuk" Tio langsung pergi setelah berpamitan pada Sheila tentunya buat minta tanda tangan ketua BEM
**
"Kak ini dibaca dirumah aja setiap mau ngomong selalu ada aja yang sela. Sheila pamit dulu" Tio menatap amplop biru ditangannya bingung, iya bingung bukan penasaran sama isinya
Hari ini dia lagi pusing ngerjain tugas nambah lagi dikasi beban harus baca surat "NORA SINI" Kebetulan Nora lewat, Tio langsung manggil buat mintol bacain suratnya
"Ayo pulang sekalian bantu gw bacain ini" Nora melihat amplop itu bingung "Hari gini masih jaman nitip surat?" Tio mengangkat bahunya cuek, mereka pun pulang ke markas aka apartemen Tio
DI APARTEMEN TIO
"Ini jadi dibaca?" Tio mengangguk, Nora mulai membaca isi suratnya "Dear kak Tio, aku gak tau lagi harus nyari kesempatan untuk ungkapin secara langsung kapan jadi melalui surat ini aku mau mengungkapkan isi hati ku"
"Sudah lama aku menyimpan perasaan ke kak Tio, jadi gak perlu panjang lebar lagi aku mau ungkapin kalau aku suka sama kak Tio. Besok ketemu di rooftop Bright cafe jam 4 sore tertanda Sheila"
Sesaat Nora diam sampai dia tersadar nama penulis surat itu "SHEILA???!!!" Tio sampai terkejut mendengar bentakan Nora menyebut nama Sheila
"Apaan elah heboh bener, biarin aja kali dia ungkapin yang penting jawaban gw nya" Nora langsung menarik daun telinga Tio
"Kasi tau gw jawabannya atau telinga ini taruhannya" Tio berusaha keras melepaskan jeweran Nora tapi semakin berusaha dilepaskan Nora juga semakin kuat menariknya
"NORA YA TUHAN INI SAKIT SERIUS DAH" Nora baru berhenti setelah Tio berteriak kesakitan "Jawaban gw gak puas lo sakit ini woi"
"Serah lo dasar manusia gadungan gak peka terhadap rangsangan manusia aneh" Nora mengambil tasnya kasar kemudian pergi (Ini maksudnya rangsangan cinta ya teman-teman ngehe)
Tio terduduk diam disana, speechless sama keadaan yang mendadak berubah. Tio memilih membiarkan Nora pulang
"Perasaan dia gak ngode apa-apa napa gw jadi diomelin. Auah tugas ini lebih penting" Tio kembali berkutat dengan laptopnya. Lama-lama mungkin Tio pacaran dengan laptopnya maklum anak teknik informatika
Esoknya Tio sudah bersiap di depan rumah Nora, jemput tuan putri nemenin konser. Tio juga udah beli banyak banget makanan & minuman walaupun dia juga udah lupa ke konser boleh bawa apa gak
"Kiw cewek naik sini sama mas ganteng" Nora membuang pandangan nya dari Tio "Ra, masa masih marah ntar siapa yang temenin ke konser kalau marah sama gw hayoooo"
"BODO TIO TOLOL" Tio meneguk liurnya nyesek dikatain tolol "I-iya deh serah lo gw tolol emang manusia aneh gak normal apa-apa dah serah, yang penting ayo kita ke konser"
"GAK MAU PERGI SAMA LO" Tio menggaruk pelipisnya, udah dibilang kan kalo Nora ngambek urusannya ribet "Ntar terlambat ayo buruan" Tio langsung mengendong Nora ala bridal style
Dibawa masuk ke mobil, dipasangin sabuk pengaman, dikecup dulu tangan tuan putri terus baru Tio dengan kekuatan bulan nyetir mobilnya secepat mungkin ke gedung konser
PULANG NONTON KONSER
"Gw gak bohong Ra beneran gw jawab gak. Lo diajak gak mau sih sekarang udah dikasi tau gak percaya. Lagian emang kenapa kalau gw pacaran sama Sheila cantik dia tuh baik lagi"
Nora menatap Tio tajam, bisa-bisanya dia memuji Sheila yang saat ini menjadi penyebab ngambeknya tuan putri "Tolol"
"Kalo gw tolol mana mungkin gw jadi anak teknik" Nora semakin geram dibuatnya. Tio menepuk bibirnya yang berbicara sembarangan
"Maaf gak maksud gitu, lo jelas lebih cantik dari dia sumpah dah" Nora sudah bersiap mau geplak Tio brutal tapi secepat mungkin ditangkis terus Tio langsung meluk Nora erat
"Asli Ra ini aja pipi gw masih kebas masa mau lo gebukin lagi. I lap u babu eh tuan putri maksudnya" Nora diem aja dipeluk Tio. Sebenarnya dia cuma takut aja ntar Tio gak care lagi sama dia kayak gini kalau Tio pacaran sama Sheila
"Sheila posesif pasti gw gak diizinin nongki sama lo kalo lo pacaran sama dia"
"Iya gak bakal gw gak mau pacaran lagi kecuali lo setuju sama tu cewek" Nora rubah posisi duduknya jadi dia dipangku sama Tio
Mereka stay diposisi itu sampai Nora ketiduran, mau gak mau Tio ngerjain proyeknya sambil mangku putri tidur
Hari, bulan bahkan tahun berlalu tanpa terasa hari ini Tio, Nora dan teman seangkatan lain yang berhak akan melaksanakan yudisium.
Pagi-pagi dirumah Nora udah hectic buat bantu nyiapin make up, baju, barang-barang dan lainnya yang berhubungan dengan yudisium nanti
Secara kebetulan banget fakultas ekonomi dan fakultas teknik dapat jadwal yudisium samaan hari ini jadi Nora bisa berangkat bareng Tio
"Ra, masih lama apa make up nya buset sejam lagi ini mau mulai acaranya" Tio yang udah siap dari tadi gak sabaran sekaligus greget takut gak tepat waktu mereka sampai di acara
"Ini udah tinggal pakai lipstik" Tio menopang dagunya bosen banget 2 jam nunggu Nora make up belum lagi ngeliat anggota rumah yang hectic bantuin Nora mondar-mandir gak karuan
Hingga 30 menit berlalu akhirnya Nora bener-bener siap. Mereka langsung jos berangkat ke kampus
SEBULAN KEMUDIAN...
"YEAAAYYYY KITA LULUS" Nora mengangkat gelasnya seakan dia sedang minum minuman beralkohol, Tio hanya bisa menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah sahabatnya ini
"Halo pelanggan Hana Cafe hari ini kami kembali membuka kesempatan pada para pelanggan untuk berpartisipasi menyumbangkan satu lagu di atas panggung ini"
Nora sontak mengacungkan tangan, dia pelanggan pertama yang menyumbang. Setelah hampir 4 tahun berturut-turut mereka selalu mengunjungi cafe ini baru kali ini Nora bersemangat untuk menyumbangkan lagu
"Perkenalkan nama saya Nora hari ini saya mau nyumbang lagu yang bener-bener relate sama saya sendiri dan mungkin beberapa orang and Yup langsung aja eumak juseyo"
Awalnya Tio tidak menyadari lagu apa yang Nora nyanyikan sampai akhirnya..
"Tetap tak jadian, tidak kah cukup yang engkau lihat pertemanan ini sungguh berat"
"Tidak kah indah bila kita bersama tapi tidak di mimpi saja"
Nora terus menyanyikan setiap baris lagu dengan hikmat. Tio menatap Nora, memikirkan siapa laki-laki yang dimaksud "Siapa Ra?" Nora yang sedang asik mengunggah foto di sosmed menoleh sebentar ke Tio namun kembali fokus ke HPnya lagi "Ohhh gak ada kok tadi gw liat konten di tiktok jadi kepikiran aja nyanyi itu"
"Tapi lo bilang relate buat lo" Nora langsung tertawa hambar "Yah itu kan biar penonton juga ikutan masuk ke alur lagunya biar ikutan nyesek muehehehe"
Tio diam dia gak lagi melanjutkan pertanyaan yang sebenarnya terngiang di kepalanya dan memilih untuk fokus menyetir. Nora juga sibuk dengan hpnya memotret jalan kota yang berkelip di malam gelap
"Lo jadi ikut liburan sama geng lu?" Tio mengangguk sembari menunjuk bagasi "Malam ini gw nginep biar besok tinggal jalan"
Nora mengangguk paham, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya "Buat lo happy graduate bro"
"Kenapa lo gak bilang gw gak nyiapin apa apa lagi" Nora tertawa, dia sudah tau betul sifat tidak peka Tio "Gapapa lagian gw gabut aja kemarin jadi nyempetin beli ini pas lewat tokonya lucu, semoga bermanfaat"
"Ra, gw boleh meluk lo kan?" Nora mengangguk semangat dia langsung memeluk Tio lebih dulu. Membenamkan wajahnya pada dada bidang Tio
"Happy graduate juga, gw mau minta maaf kalau selama ini punya salah sama lo. Maaf mungkin gw pernah buat lo sakit hati tanpa sadar atau pun sadar tapi gw gak minta maaf. Yang jelas gw bahagia dan bersyukur punya sahabat kayak lo, dari SMP - SMA - sampai sekarang lulus kuliah waktu gak kerasa banget sekarang kita harus fokus masing-masing"
"Hati-hati dijalan Yo, pokoknya kalo mau cerita calling aja apalagi kalo mau curhat soal gebetan ntar gw bantuin dah" Tio hanya tersenyum mendengar ucapan Nora
"DAAAAA SEE U BROOO" Nora bergegas masuk ke dalam rumahnya mengabaikan orang-orang rumah yang sedang menyantap makan malam langsung masuk ke kamarnya
Air mata yang sejak tadi tertahan berhasil tumpah juga "Sialan malah nangis Nora bodoh" Walau begitu tissue satu pack pun habis
"Kak masa kata Bunda lo mau dijodohin" Nora yang sedang fokus mengerjakan CV nya mendadak duduk tegap dengan mata melotot membuat Sarah adeknya mundur perlahan
"Heh mau kabur kemana selesaikan dulu infonya" Sarah perlahan kembali masuk ke dalam kamar kakaknya langsung duduk sambil memangku bantal buat perlindungan kalau kakaknya ngamuk nanti
"Iya sama dokter ganteng yang minggu lalu main kesini. Katanya tuh karena surat wasiat ayah, adek juga gak tau kenapa ayah milih dokter itu"
Nora melepaskan kacamatanya, dia melangkahkan kakinya menuju kamar bundanya. Yang dijodohkan bahkan belum tau apapun
"Bunda, apa apaan mau jodohin Nora sama dokter itu?" Sarah pasrah dia gak nyangka respon kakaknya bakal begini makanya nekat bocorin padahal udah dilarang
Bunda menatap Sarah yang bersembunyi di belakang Nora "Sesuai surat wasiat, bunda cuma menjalankan itu"
"Nora gak salah denger nih? Bunda cuma menjalankan itu? Bunda gak mikir Nora juga berhak milih siapa yang jadi pendamping Nora?"
Bunda terdiam, tangannya sibuk memasukan baju yang sudah disetrika ke dalam lemari "Terserah intinya Nora menolak perjodohan ini walau itu ayah yang minta"
Nora kembali ke kamarnya memasukan beberapa barang tambahan lain ke dalam kopernya. Nora sudah mantap untuk bekerja ke luar kota menjauh dari rumahnya
"Nora pamit ganti rugi bunda ngerawat Nora bakal Nora bayar dicicil" Nora melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini. Dia sudah cukup muak hidupnya selalu diatur selama ini saatnya dia mengambil keputusan sendiri walau dia tau perjalanan diluar sana tidak semudah yang dibayangkan
Bertahun-tahun berlalu Nora hidup bahagia di kota orang. Dirinya yang kini menjabat sebagai manager keuangan hidup dengan makmur
Sesekali saat liburan Sarah berkunjung kemari bahkan gak jarang juga Sarah membujuk Nora untuk kembali ke rumah namun jelas Nora menolak
"Eh maaf gak seng- Tio?" Nora menatap Tio kaget, kenapa Tio bisa sampai di kantornya seperti ini? Ada urusan apa?
"Lah Ra lo kerja disini? Kok gw baru tau" Nora menarik Tio untuk duduk di kursi tunggu resepsionis "Gw manager kerjanya di lantai 3 makanya mungkin lo jarang liat"
"Wah gila lo Ra mantap betul progres sukses lo. Eh iya juga kalo manager jarang langsung nyapa kolega ya gak heran gw baru ketemu. Makin jelek lo Ra"
Nora memasang muka masamnya, Tio selalu saja mengejeknya "Gw lama disini bisa aja sampe jam pulang ntar, gimana kalo dinner?" Nora mengangguk semangat
"Oke ntar tunggu gw disini aja. Lo bawa kendaraan?"
"Gak, kebetulan banget motor gw jadwal servis niatnya pulang kantor ambil sih jadi nebeng dulu ya" Tio tersenyum manis, pertemuan tak terduga
"Yaudah kalo gitu balik kerja sana gw juga mau bicara sama bos lo dulu bye jelek" Nora mencubit pelan perut Tio lalu kabur kembali ke ruangannya
18.39
"Lama amat bu manager keluarnya, yok langsung gaskeun laper gw"
"Pffftt kasian oke let's Go" Nora mengekori Tio menuju parkiran mobil, Nora berdecak kagum melihat kendaraan yang dipakai Tio sekarang
"Gila woi apa nih, kerasa banget aura holkay" Tio terbahak karenanya "Elah mobil bos gw ini minjem jangan muntah ntar di dalem berabe urusannya. Yaudah buruan"
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol tentang keseharian masing-masing. Tio kini menjabat sebagai sekretaris 1 direktur perusahaan tempat dia bekerja
"Eh kok tau gw servis motor disini?" Tio memasang smirk di wajahnya "Kan gw mata-matain lo, BECANDA ya soalnya gw juga sering servis disini sih tapi biasanya gw mintol temen gw"
Nora mengangguk paham, mereka memutuskan untuk mengambil dulu motor Nora sebelum bengkelnya tutup baru setelahnya mereka berangkat untuk dinner
"Tunggu disini aja orang apart gw deket tuh disitu" Tapi Tio tetap memilih mengikuti Nora pelan "Hehehe udah kuy kita makan laper banget"
Malam ini mereka memilih untuk makan di kedai ramen pilihan Tio. Nora ngikut aja karena kebetulan dia juga lagi pengen makan olahan mie gitu
Gak banyak yang mereka bicarakan selama makan karena keduanya sama-sama kelaparan
"Hari sabtu lo libur gak?" Nora menggeleng "Minggu aja liburnya, tapi sabtu setengah hari"
"Sabtu sore gw jemput"
"Hah kemana?"
"Udah ikut aja sih"
Dalam perjalanan pulang pun mereka gak ngobrol lagi, Nora sibuk sama ponselnya sedangkan Tio sibuk menyetir
"Dah sampe nona" Nora terlonjak kaget "Eh maaf udah sampai ya? Thank u Tio tiati ya ntar kabarin aja jam berapa lo mau jemput. Nomor gw gak ganti"
"Tapi nomor gw lo blokir" Nora terdiam kaget, bisa-bisanya Tio mengetahui itu "Hah masa sih? Wah kayaknya salah blokir gw pantesan klien gila itu masih suka ngechat, abis namanya sama"
Mampus, untung Nora jago ngeles "Bukannya kontak gw lo taro pake lope?" Nora ternganga kenapa Tio bisa tau padahal Tio gak pernah ngecek HP Nora
"Mana ada lo salah liat kali orang gw taro emot monyet"
"Gw udah cek lewat app buat ngecek nomor gw di simpan apa di lo" Nora sudah tidak bisa beralasan apapun lagi dia memilih diam
"Eemm gw ngantuk duluan ya hati-hati Yo BYEEEEEE" Ucap Nora berpamitan disusul suara pintu mobil yang ditutup kencang khas orang buru-buru
"Cie keciduk"
Hari sabtu pun tiba, Tio memang libur hari ini jadi pagi-pagi sambil duduk menikmati kopinya dia sudah chat Nora memberi tau jam berapa dia akan menjemput Nora dengan cepat membalas "oke"
15.58
Tio sudah menunggu di parkiran sejak 30 menit yang lalu tapi Nora tak kunjung muncul hingga jam hampir menunjuk pukul 4 sore
Mereka tadi berjanjian pergi pukul 3 sore karena Nora pulang pukul 2 siang "Lah kemana sih apa lambat pulang? Coba telepon dah"
Tio langsung menghubungi Nora namun sayangnya "Nomor yang Anda tuju sedang sibuk atau berada diluar jangkauan cobalah beberapa saat lagi"
"Bah dimatiin hpnya, chat aja dah dulu" Tio mengetik beberapa pesan sekaligus tapi tak kunjung dibalas bahkan dibaca pun tidak
Tio memutuskan untuk menunggu lagi 30 menit "Eh ngapain gw repot repot nunggu nanya aja ke resepsionis sapa tau dia ketiduran"
Tio melangkah masuk menuju ke resepsionis "Selamat sore Pak ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau tanya atas nama Nora yang tinggal disini tuh udah pulang belom ya?"
"Oh pak Tio? Kebetulan tadi mbak Nora menitipkan surat ini silahkan" Tio menatap surat itu lama "Makasih mbak"
Setelahnya Tio kembali lagi ke mobilnya, dia memutuskan untuk pulang saja. Sampai dirumah Tio bergegas membaca surat itu
"Tio, maaf gw gak nepatin janji untuk pergi sama lo hari ini. Gw ada urusan mendadak tapi gw juga gak bisa hubungin lo karena HP nya sialnya dari pagi eror. Maaf kalo ternyata lo sampe nunggu, gw bakal cerita sepulangnya gw beresin urusan ini. Tertanda Nora"
"Ck, pantesan sia-sia gw dandan rapi ganteng begini lagi mau ngedate sama berpren malah gagal prik" Omel Tio
Seminggu setelahnya Nora sudah kembali bekerja normal. Urusannya sudah selesai, urusan yang membuat statusnya kini berubah
"Pagi bu, berikut dokumen untuk ditandatangani dan tehnya" Seperti biasa juga asistennya, Mega setiap hari membawa berkas dan secangkir teh tawar
"Hari ini saya bisa pulang lebih awal Mega?" Mega mengangguk kebetulan hari ini pekerjaan tidak menumpuk, karena walau Nora tidak hadir tapi dia tetap mengerjakan tugasnya dengan sistem online
"Aman bu saya juga bisa ngedate nih sama suami saya hehehe" Nora tersenyum sumringah, akhirnya bisa pulang sebelum matahari terbenam
"Tio? Sudah lama menunggu?" Tio menggeleng sambil memasang senyum manisnya "Lo utang cerita sama gw"
Nora mendecih, Tio selalu kepoan. Nora akhirnya membawa Tio ke unit apartemen nya
"Duduk dulu gw mau ganti baju, haus ambil sendiri, laper masak sendiri ya" Tio menggeleng heran melihat tingkah Nora
Tak lama kemudian Nora keluar sembari membawa beberapa berkas "Gw udah jadi istri orang" Tio yang sedang menyesap jus jeruk seketika tersedak
"Hah? Kapan lo nikah?" Nora menyodorkan berkas yang dia bawa ke Tio. Itu adalah surat pernikahan antara Nora dan Yama
"Tapi suami lo mana?" Nora tersenyum "Kebetulan dia lagi dinas ke luar negeri selama 3 bulan terakhir. Besok dia balik mungkin 2 atau 3 hari ke depan sampai"
"Ra, lo ngeprank gw ya?" Nora menggeleng
"Kemarin ayah mertua gw sakitnya kumat makanya buru-buru pulang ke rumahnya buat jenguk" Tio ternganga, tak menduga kalau Nora selama ini sudah menikah
"Tapi gw gak pernah dengar lo pacaran atau dekat sama yang namanya Yama" Nora malah tertawa sarkas
"Gw dijodohin, tapi gw mau aja si abisnya Yama ganteng kaya lagi. Oiya dia juga peka banget gak kek lo"
Entah mengapa suasana mendadak canggung. Tio masih diam menatap surat pernikahan di meja, begitu juga Nora yang sibuk mengganti channel TV nya
Nora menikah tepat setelah wisuda, untungnya dia sudah mulai bekerja sejak semester 4 jadi setidaknya dia sudah merasakan bebasnya anak muda mencari kerja
"Gw pamit dulu, kita cuma berdua gw takut orang salah paham" Tio langsung pergi walau Nora belum sempat menjawab
Raut wajah Nora berubah sedih, sejujurnya dia masih menempatkan Tio sebagai orang spesial di hatinya. Tapi takdir sudah berjalan seperti ini
Besoknya Nora masih lanjut bekerja seperti biasanya. Pagi-pagi sekali suaminya mengabarkan kalau dia sudah berada dalam pesawat untuk kembali ke dalam negeri
Nora tak sabar menunggu Yama pulang, karena ada barang yang sudah lama dia inginkan yang dititip pada Yama
Beberapa hari setelahnya Yama sampai, Nora menyambut suaminya yang lebih terasa seperti sahabat itu dengan bahagia
Akhirnya dia tak kesepian lagi di rumah "Kak, titipan nya mana" Yama berdecih kesal
"Jadi Nora nunggu barang titipan bukan saya?" Nora terkekeh, dia selalu gemas melihat Yama yang bisa cemburu dengan hal kecil begini
"Kalo bisa dua-duanya kenapa harus satu? YEAAAYY THANK YOU" Tangan Nora bergerak cepat membuka kotak penyimpanan barang itu
"AAAAA AKHIRNYA PUNYA JUGA HUHU MARI BERSAMA IBU NAK" Yama cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah istrinya yang begitu gembira mendapat sebuah standy idolanya
"Teleponnya bunyi tuh angkat dulu" Nora memasang wajah melas yang artinya meminta bantuan pada Yama
"Tio, rekan kerja?" Nora mengangguk dia melangkah mengambil ponselnya dari Yama
"Halo" Di seberang sana Tio mulai berbicara awalnya soal pekerjaan tapi mendadak Tio meminta Nora untuk bertemu dia sendirian besok di cafe favorit mereka
"Oke gw liat besok" Nora menutup sambungan telepon,
"Kak besok boleh gak Nora ketemu sama temen?"
"Tio tadi kan?" Nora mengangguk "Katanya rekan kerja kenapa minta izin?"
"Sebenarnya dia juga sahabat sih, cuma waktu kita nikah aku lost contact sama dia kalo gak pasti dia juga jadi salah satu saksi"
"Yaudah yang penting jangan aneh-aneh aja sadar diri kamu udah punya saya"
"Oke siap bosku, oiya kak mau makan roti kasur dong hehehe" Nora mengelus perut kotak-kotak Yama dengan manja
"Dasar ada apa istri yang minta jatah"
Flashback End
Kembali ke pembuka cerita
"Maaf ya gw datang terlambat macet banget dijalan padahal gw udah jalan dari jam 2" Tio menatap Nora datar
"Nora gw suka sama lo" Nora yang mendengar pengakuan mengejutkan dari sahabatnya itu terdiam, wajahnya kaku untuk sekedar memberi tanggapan ekspresi
"Gw gak berharap apa-apa karena gw tau batasan gw. Terlebih lo udah milik orang lain seutuhnya, but thanks lo mau dengar pengakuan gw. Lumayan lega lah walau nyesek pas udah jadi punya orang gw baru berani bilang hahaha gapapa lah penting lega"
Nora masih diam, perasaan pada Tio yang masih tersisa muncul kembali tanpa sadar. Namun Tio benar mereka harus tahu batasan karena kini Nora sudah milik laki-laki lain
"Oiya sekalian gw mau pamit, entah ini kebetulan apa gimana gw gak tau tapi gw ditugaskan untuk jadi kepala cabang di luar kota"
"Yo, kenapa baru sekarang ngakunya?" Giliran Tio yang diam ternyata topiknya masih yang tadi "Gw baru ngerasa bener-bener suka sama lo sampai di tahap cinta pas kita pisah Ra"
"Maksudnya selama ini lo tau gw juga suka sama lo?" Tio mengangguk, kepalanya perlahan menunduk. Dia benar-benar bersalah selama ini pura pura gak tau soal perasaan Nora padanya
"Hebat banget akting lo gw juga ketipu, harusnya lo debut jadi aktor aja Yo. Tapi makasih loh walau terlambat seenggaknya gw jadi gak perlu merasa bersalah sama Yama karena masih nyimpen sedikit harapan ke lo"
"Maafin gw Ra, jangan lagi suka sama gw buang jauh-jauh perasaan itu. Gw ini pengecut, bodoh juga dan jahat, mulai sekarang fokus bahagiain rumah tangga lo. Kali ini kita bener-bener jalan di jalur masing-masing"
"Kalo lo suru gw move on gw gak tau kapan tapi gw pastiin gw gak akan ngebuat lo kepikiran atau pun kesusahan. For the last time I wanna hug you as a man not your friend"
Nora langsung berdiri memeluk Tio erat, sahabatnya sekaligus crush nya orang yang paling lama berada di hatinya namun tidak mempunyai satu pun kesempatan untuk menyatu
Orang yang selalu tsundere dan siap menjadi garda satu untuk melindungi Nora. Kali ini mereka benar-benar berpisah
"Ra, gw sayang sama lo tapi takdir ngebuat kita cuma bisa menjadi sahabat sehidup semati. Jaga diri ya, jangan bantah nasehat Yama semua yang dia lakukan pasti terbaik buat lo. Bahagia selalu kalau Yama nyakitin lo kasi tau gw biar gw tonjok tuh laki" Ucap Tio dengan suara bergetar menahan tangis
Sementara Nora sudah menangis sejak tadi membasahi kemeja coklat Tio "Thank you, thank you so much Yo. Selama ini lo ngasih gw kesempatan untuk merasa jadi pacar lo walau status nya sahabat. Terimakasih untuk semua pengorbanan yang lo lakukan, gw gak tau harus balas semuanya bagaimana. Dan maaf untuk takdir kita, lo juga jaga diri dan bahagia jangan galauin gw yang tega gak ngabarin sahabatnya pas nikah. Last, i love you my bestfriend"
Suara gemuruh disusul hujan deras seakan menjadi backsound perpisahan mereka. Seolah langit juga bersedih atas perpisahan mereka
"Pokoknya kalo butuh bantuan hubungi gw. Ntar kalo lo hamil kabarin gw juga, gw juga mau jenguk ponakan gw" Nora mengangguk sambil tersenyum
Tio mengusap sisa air mata yang masih menggenang di sekitar mata dan pipi Nora "Gw gak sempat pamit sama suami lo. Sampaiin salam perpisahan gw ke dia, bilang ke dia tiati ditonjok gw kalo macem-macem ke lo oke?"
"Oke mau peluk lagi"
"Terakhir woi ntar dikira gw pelakor eh salah maksudnya pebinor muehehe"
"Bodo gw bakalan kangen tau sama lo dasar Tio jelek"
Walau kisah mereka berakhir pada perpisahan, namun justru hati mereka lega. Takdir terkadang kejam, tapi hanya takdir yang tau apa yang terbaik untuk kita. Walau Tio dan Nora berakhir tak bahagia dalam hubungan cinta namun mereka masih tetap bersama sebagai sahabat
End
HALO, Ini kali pertama saya nulis sebuah cerpen. Maafkan kalau alur kurang nyambung, cerita yang masih berantakan atau pun bahasanya yang acak-acakan hehehe. Ke depannya aku bakal terus belajar untuk nulis cerpen lebih baik lagi
Thank you yang mau mampir and hope you enjoy read cerita gaje ini. Semoga relate ya, mostly cerita ini base on true story tapi jelas ditambah bumbu drama
SEE YOUUUU ♡