Di sebuah tempat, jauh dari hingar bingar kota. Seorang gadis duduk di bawah sebatang pohon yang sangat rindang. Membiarkan angin sore menggelitik pori-pori tubuhnya dan memainkan rambutnya yang panjang tergerai. Sesekali ia melempar pandangan ke sekelilingnya. Serumpun ilalang dengan bunganya yang putih tertiup angin, atau pun semburat jingga di kaki cakrawala, sungguh merupakan pemandangan yang sangat indah.
"Aduh, maaf Fa.. Akunya telat" ucap Aldo seraya berharap Rifa tidak marah.
"Iya,, tidak apa-apa Al.." Balas Rifa dengan senyum manisnya.
"Sudah lama Fa, menunggunya ?"
"Ehh.. Enggak kok Al, palingan sekitar 30 menit gitu"
"Lumayan lama dong Fa.."
"Akh tidak juga, tapi seandainya kamu tidak datang, ya pastinya aku akan marah !"
"Hehe.. Iya deh, tidak akan telat lagi"
"Rifa kembali tersenyum"
Ini adalah tempat rahasia mereka. Rifa sangat menyukai tempat ini, suasananya yang tenang sangat membuat hatinya damai. Baru sebentar mereka bercanda. Langit sudah tampak gelap. Mendung bergelayut manja, seakan memberi isyarat kepada Aldo dan Rifa untuk segera bersiap-siap mencari tempat berteduh karena hujan akan segera turun.
Tik...tik...tik... satu tetes, dua tetes kemudian menjadi banyak. Dan benar saja, dalam hitungan detik hujan telah tercurah ke bumi.
Aldo menggenggam tangan Rifa, mengajaknya berlari mencari tempat berteduh. Dan Rifa menyukai saat-saat seperti ini. Bersatu dengan Aldo dalam dekapan sang hujan...
* * * * *
Di lain waktu aldo kembali membawa Rifa ke tempat itu. seperti biasa, menghabiskan waktu mereka di sana.
"Fa, kenal Cindy kan ?"
"Cindy mana Al.. ?"
"Cindy Clareta"
"Owh.. Memangnya kenapa.. ?"
"Dia sering curhat banyak hal kepada ku. Dan aku selalu mendengarkannya. Tapi kemudian dia berpikir kalau sikapku adalah wujud perhatianku padanya. Katanya dia menyukaiku Fa.. "
"Lalu kamunya sendiri bagaimana ?"
"Hmm... Sepertinya aku juga menyukainya Fa, mungkin karena terlalu seringnya kami bersama."
Sungguh pengakuan Aldo telah membuat hati Rifa bimbang. karena selama ini pun secara diam-diam Rifa juga memendam perasaan pada Aldo. Apa ini artinya cinta Rifa bertepuk sebelah tangan ? Apa kebersamaan mereka selama tujuh bulan terakhir tak mampu menumbuhkan benih-benih cinta di hati Aldo ?
"Ahh... Kenapa bukan aku orang yang di sukai Aldo !" Pekik Rifa dalam hati.
Rifa hanya tersenyum getir. Menutupi kekecewaan di hatinya. Berusaha mengontrol dadanya yang bergemuruh. Antara marah, kecewa dan tentunya terluka terbaur menjadi satu. Dan saat ini Rifa pulang dengan perasaan yang tidak menentu...
* * * * *
Aldo masih tidak tahu tentang perasaan Rifa yang sebenarnya. Namun perubahan sikap Rifa terlihat sangat jelas. Sekarang Rifa lebih menutup diri. Bahkan saat diajak bertemu di tempat biasa ia selalu menolak dengan alasan sibuk. Di sadari atau tidak, Aldo mulai merasa kehilangan Rifa.
Sore itu, Aldo menjemput Rifa ke rumahnya. Rifa sempat menghindar, namun dengan sedikit paksaan dari Aldo akhirnya ia mau juga ikut Aldo ketempat rahasia mereka.
"Fa, kamu kenapa sih ?"
"Rifa tetap diam"
"Ayo dong Fa.. Katakan sesuatu.." Pinta Aldo pada Rifa.
"Aku mencintaimu Al !"
"Aldo kaget"
"Bagaimana mungkin Fa ? Selama ini kamu tidak pernah mengatakannya !"
"Al, apakah semua harus terucap oleh lisanku ? Apa kamu tidak bisa melihatnya melalui perhatianku selama ini ? Memang ku akui, ini juga salahku yang tidak pernah jujur tentang perasaan ku sehingga kamu lepas dariku. Tapi ya sudahlah, semua telah terlanjur Al.. Kamu sudah bersama dengan Cindy."
"Tapi Fa.. Aku dan Cindy..."
"Cukup Al, cukup ! Aku tidak ingin mendengar apa pun tentang kalian. Maaf aku harus pergi Al.. Jangan temui aku lagi !"
Dan Aldo hanya memandangi kepergian Rifa tanpa tahu harus berbuat apa.
* * * * *
Aldo terdiam di tempatnya. Tidak berusaha mengejar atau pun menghentikan langkah Rifa yang semakin jauh.
"Rifa.. Andai kamu jujur lebih awal tentang perasaanmu, tentu kesalah-fahaman ini tidak terjadi." Bisik hati kecil Aldo.
Hanya karena masalah hati yang mendera Aldo dan Rifa. Kini keduanya tampak seperti orang yang tidak saling mengenal. Rifa serius dengan ucapannya. Ia benar-benar menghindar dari Aldo. Baginya semua ini cukup menyakitkan, ketika cintanya pada Aldo harus kandas sebelum terbalas.
Rifa lebih banyak menghabiskan waktu sorenya di sebuah taman di pinggiran kota. Setidaknya di tempat ini pikirannya tidak selalu tertuju pada Aldo.
Minggu sore, Rifa menyusuri jalan setapak yang berada di taman. Namun karena pikirannya entah melayang kemana, tanpa sengaja ia menubruk seseorang yang ketika itu tengah berdiri membelakanginya.
"Auww..." Pekik seseorang yang di tubruk Rifa.
"Seketika Rifa tersadar. Tapi kemudian ia terperangah saat melihat seseorang itu"
"Dennis..." Gumam Rifa lirih.
"Hey... Rifakan ? Apa kabar kamu ?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Dennis, salah seorang teman Rifa.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu ? Sejak kapan berada di sini ? Terakhir aku dengar kamu di luar kota bukan ?"
"Syukurlah.. aku juga baik Fa. Sebelumnya sih memang di luar kota. Tapi sejak sebulan yang lalu dan seterusnya aku akan menetap di sini Fa.."
"Wahh bagus dong.. Sesekali kita bisa nostalgia masa-masa dulu." Ujar Rifa.
"He'em..." Balas Dennis dengan senyum khasnya.
* * * * *
Sebulan sejak kehadiran Dennis, Rifa mulai bisa melupakan perasaannya pada Aldo dan memang inilah yang ia harapkan. Sementara Aldo sendiri juga tidak lagi memaksakan niatnya untuk bertemu dengan Rifa. Aldo percaya waktu akan mengembalikan semuanya seperti semula.
"Fa.. Inget waktu dulu aku kecebur di kolam gak ? Sumpah... Malu banget !"
"Hahaha... Masih ingat dong" Waktu itu kan kamu kecebur juga gara-gara aku !
Hahahaa... "Rifa terus saja tertawa"
"Fa.. Sepertinya aku jatuh cinta sama kamu..." Ucap Dennis..
"Apa ?" Rifa terperangah.
"Aku mencintaimu" Kata-kata Dennis terdengar tegas.
"Dennis.. Apa ini tidak terkesan terburu-buru ? Kita kan baru saja bertemu.." Balas Rifa kemudian.
"Tapi sebelumnya kita sudah saling mengenal akrab kan Fa ? Dan bagiku perasaan bisa datang kapan saja. Menurutku ini tidak terburu-buru. Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu ! Aku janji aku gak akan pernah kecewain kamu dan akan terus mencintai kamu"
Ya, ucapan Dennis ada benarnya juga. Waktu itu, karena ia selalu memendam perasaan cintanya pada Aldo, menjadikan semuanya sia-sia dan Aldo tak dapat ia miliki. Lagi pula bukankah dulu ia juga pernah jatuh hati pada Dennis ? Kenapa sekarang tidak di cobanya saja memulai sesuatu yang baru.
"Dennis.. beri aku waktu untuk menjawab semuanya.." hanya itulah jawaban yang keluar dari mulut Rifa...
* * * * *
Di tempat lain Aldo duduk termenung. Pengakuan Rifa tentang perasaannya tak dapat di abaikan begitu saja. Karena jujur, Aldo juga memiliki perasaan yang sama. Namun semua menjadi rumit sejak Rifa mengetahui perasaan Aldo pada Cindy. Dan kini sebongkah penyesalan menggamit hati Aldo karena Rifa telah mencari pengganti dirinya.
* * * * *
Kebahagiaan tengah di rasakan Rifa. Kehadiran Dennis dapat melukis warna baru di hatinya. Mengubah harinya yang kusut menjadi lebih ceria. Rifa mulai lupa pada Aldo dan perasaan yang tertambat pada lelaki itu.
Sore yang masih terik, pikiran Rifa sedikit kacau oleh pekerjaan yang membuatnya penat. Ia membawa mobilnya membelah kemacetan mencari suasana yang lebih nyaman. Namun, rasanya kota ini terlalu sempit ! Pandangannya tertuju pada dua orang yang kala itu tengah duduk mesra tak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Dennis ?" Gumam Rifa pelan.
"Rifa !" Dennis tersentak kaget.
"Dia siapa beib ?" Tanya seorang wanita yang bersama dengan Dennis.
"Beib ? Maksudnya ?" Selidik Rifa.
"Aku Tania pacarnya Dennis !" Wanita itu memperkenalkan diri.
"Rifa bungkam. Matanya mulai berkaca-kaca"
"Fa.. Aku bisa jelasin semuanya.." Dennis membela diri.
"Rifa tidak memperdulikan Dennis. Ia pergi meninggalkan mereka berdua. mengurungkan niatnya mencari angin sore dan pulang ke rumah dengan perasaan kesal pada Dennis"
* * * * *
" Tania adalah pacarku saat di luar kota, Fa.." Dennis memberi penjelasan kepada Rifa.
"Pacar ? Lalu aku ini kamu anggap apa ? Pelarian atau selingan ?" Tanya Rifa dengan menahan emosi.
"Aku benar-benar mencintaimu Fa.. Aku tidak mengira akan bertemu lagi dengan Tania di sini. Awalnya aku tidak ingin lagi melanjutkan hubungan kami. Tapi tiba-tiba saja Tania muncul dan mengajak bertemu. Tolong percaya sama aku Fa.. Aku akan segera mengakhiri hubunganku dengan Tania."
"Cukup Dennis.. Tidak perlu memberiku penjelasan atau pun sebuah alasan. Lebih baik kita yang berakhir. Aku tidak bisa memberimu kepercayaan penuh setelah apa yang ku lihat sore tadi. Aku tidak bisa mencintaimu bersama keraguanku."
"Tapi Fa..."
"Please Dennis, tinggalkan aku sendiri !"
"Dennis tidak punya pilihan dan ia pun menuruti permintaan Rifa walau dengan hati yang enggan."
Hati Rifa tercabik, bagaimana mungkin Dennis melakukan ini semua kepada dirinya. Untuk ke dua kalinya cinta Rifa berujung luka. Airmatanya jatuh, ia larut dalam kesedihan.
* * * * *
Rifa telah sampai di tempat rahasia ia dan Aldo. Tidak ada yang berubah pada tempat ini. Sebatang pohon itu masih tetap rindang. Serumpun ilalang juga masih hijau menghampar bersama bunga-bunganya yang putih. Sekelebat kenangan ketika bersama dengan Aldo melintas begitu saja. Rindu kepada Aldo membuatnya menitikkan airmata. Dan ketika Rifa akan beranjak dari tempat itu, seseorang telah berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Aldo..."
"Hai Fa.." Sapa Aldo dengan tersenyum.
"Kamu disini ?" Tanya Rifa
"Setiap hari aku menunggumu disini bersama kenangan kita !" Jawab Aldo
"Rifa berusaha menghindar. Namun Aldo telah menggenggam tangannya dan menahan langkah kakinya"
"Lepasin Al..."
"Tidak Fa, kita harus bicara"
"Tentang apa ? Tidak ada yang perlu di bicarakan. Antara kita sudah berakhir Al.."
"Aku pikir dengan berakhirnya hubunganmu dan Dennis, ini menjadi awal untuk kita."
" Apa maksudmu ? Tentang aku dan Dennis, kamu tahu dari mana Al ?"
"Tidak penting Fa aku tahu dari mana. Yang terpenting sekarang adalah aku mencintaimu"
"Rifa bingung"
"Fa.. Sejak awal aku telah mencintaimu, namun aku memendam semuanya karena tidak ingin perasaanku menjadi penghalang diantara persahabatan kita"
"Bagaimana dengan Cindy ? Bukankah kamu juga menyukainya ?"
" Antara aku dan Cindy tidak terjadi apa-apa"
"Tapi Al... Bukankah kalian ? "
"Tidak Fa, kamu salah faham. Waktu itu aku ingin menjelaskannya padamu, tapi kamu tidak mau mendengarkannya dan pergi begitu saja."
"Huuuhf..." Rifa menghela nafas. Ada sedikit bahagia menelusup dalam hatinya.
Melalui tatapan matanya Aldo menjelaskan lebih dalam tentang perasaannya. Rifa tersenyum tetapi juga menangis. Namun kali ini ia menangis bahagia dan entah siapa yang memulai lebih dulu, Aldo dan Rifa saling berpelukan. Kini sebuah cinta telah siap untuk mereka rajut. membawanya pada bahagia yang di nanti...
* * * * *