Perlahan
Perlahan semua rasa terkikis oleh waktu
Termakan oleh jaman
Tak ada satu orang pun yang mampu memecah kode dunia
Sungguh hidup hanyalah sebuah teka-teki yang nyata
"Aku mohon mas, sebelum perceraian ini terjadi beri aku waktu tujuh hari"
"Waktu tujuh hari untuk apa dek?"
"Untuk aku merasakan rasa yang dulu pernah ada mas"
"baiklah kalau itu maunya kamu dek"
Perlahan tapi pasti ku raih keinginan terakhirku sebelum perceraian ini terjadi.
flashback on
kami hanyalah pasangan ta'aruf dari majelis yang sering kami ikuti.
setelah pernikahan terlaksana, kami memutuskan untuk tinggal di desa. Di tanah pemberian orang tua mas Danar inilah kmi memulai usaha kami bercocok tanam. Sebenarnya mas Danar lulusan S1 manajemen bisnis tapi mas Danar sedang mencari peluang kerja perkantoran.
Setiap hari terasa indah. kami saling menghormati, saling membantu untuk meringankan beban meski tak jarang hanya makan daun singkong rebus d cocol sambal terasi tapi sungguh disinilah kebahagiaan kami.
Sampai suatu hari mas Danar di terima kerja di perusahan yang bergerak di bidang yang sesuai dengan mas Danar.
Sedikit demi sedikit cita-cita kami terwujud, punya rumah, sawah dan kebun tetap berjalan, punya mobil, punya tabungan. Lantas apa yang tidak kami miliki? anak.
Dalam menjalani biduk rumah tangga selama tujuh tahun ini tentu banyak terjadi perselisihan tapi selalu mampu kami atasi.
berkat kesabaran dan doa, akhirnya di tahun ke tujuh pernikahan kami akan hadir buah cinta kami.
sungguh perlakuan mas Danar kala itu membuat ku melayang seperti mimpi dan tak ingin ku bangun lagi.
Kami di beri karunia gadis mungil yang cantik dan kami beri nama Shaqueena Azalea.
menginjak pernikahan ke delapan mas Danar mulai berubah. Mas Danar hanya bercengkrama hangat bersama Queen dan itu pun bukan tanpa sebab.
Mas Danar ingin mempunyai anak lagi tapi rahimku sudah di angkat bersama dengan lahirnya Queen karena kecelakaan.
Tak habis pikir, mas Danar sabar menanti selama tujuh tahun dan aku bertaruh nyawa untuk melahirkan putri kami tapi ketika di beri cobaan seperti ini dia tega menghadiahkan sikapnya yang tidak peduli terhadapku.
Hingga malam itu kami sepakat berbicara.
"Dek, mas mau minta izin"
"minta izin apa mas?"
Dalam hati aku sudah tau apa yang akan ia bicarakan. Aku sudah menyelidiki semuanya. Bukan rahasia lagi jika mas Danar sudah menikah siri dengan teman masa kecilnya. Aku hancur saat mengetahuinya.
"Mas minta izin menikah lagi dek, mas jatuh cinta lagi. Izinkan mas menikah lagi untuk menghindari dosa"
Alasan klise yang selalu di buat para pelaku poligami.
"Minta izin menikah lagi atau minta izin agar Zahra bisa tinggal di rumah yang sama dengan kita?"
Ku lihat mukanya yang sudah berkeringat, nampak terkejut dengan penyataanku.
"Tak perlu mas tutupi lagi dengan beralasan takut dosa mas. Mas sudah mengkhianati cinta ku dan queen itu sudah berdosa mas" tanpa aba-aba air mata mengalir dengan sendirinya. Perih hanya itu yang mampu ku ungkap
"Maafkan mas dek" ucapnya lirih
"Kenapa memilih Zahra mas, kenapa bukan perempuan yang benar-benar menerima kelebihan dan kekuranganmu mas, perempuan yang bisa menerima dan menyayangi anak kita kelak" aku mulai terisak
"Zahra wanita yang baik dek"
"Tidak perlu membela teman masa kecil dan cinta pertama mu itu mas, dia seorang pelacur mas dan bukan hanya sekarang kamu berhubungan dengan pelacur itu, sudah dua tahun aku menunggu kejujuranmu"
Lantas aku berdiri, dengan tegas aku ucapkan
"Aku ingin kamu memilih, tidak bisa kapal berlayar dengan dua nahkoda mas"
Mas Danar terlihat gugup dan bingung
"Zahra sedang hamil ank mas dek, mas yakin itu anak mas karena semenjak kami berhubungan dia sudah berhenti sebagai pelacur"
"Berarti kita cerai"
flashback off
Pagi itu kami berangkat ke kampung halaman untuk memenuhi kesepakatan kami. Queen kami titip di rumah orang tua mas Danar karena aku memang sudah tidak punya siapa siapa lagi.
Sampai di gubuk kami, kami bergegas berbenah rumah yang sudah lama kosong itu. Lelah tapi kami lalui dengan canda tawa.
Kami pergi ke kebun memetik daun singkong, pepaya, dan terong
sampai di rumah aku membuat sambal andalan kala itu sebelum mas Danar lebih menyukai steak.
Mas Danar terlihat kaku tapi aku yakin dia menikmati makanan yang ku hidangkan.
hari demi hari terlewati tepat di hari ke lima, ku siapkan sepucuk surat untuk mas Danar dan Zahra.
Sengaja aku tidak mengurus perceraian kami.
Aku yang tampak lelah membuat mas Danar khawatir.
"Kamu kenapa dek?"
"tidak apa-apa mas cuma lelah. oh iya mas hamilnya Zahra sudah berapa bulan?"
"kamu kenapa bertanya itu, lebih baik kita membahas tentang kita untuk saat ini"
"Aku hanya ingin tahu mas. Apakah Zahra bisa mengurus bayi dan mengurus anak kita kelak"
"Biarlah queen bersama kamu dek, biar kamu tidak kesepian"
"Sebenarnya aku ingin tapi aku tidak bisa"
Hari ke enam, ku berikan kotak berwarna biru. Sudah ku siapkan isinya ada beberapa surat yang ku tinggalkan. Setelah ku serahkan kotak itu, terasa nyeri yang luar biasa di perut bagian bawah hingga membuatku limbung dan tak sadarkan diri.
POV Damar
Panik itu yang ku rasakan, ku angkat tubuh yang kian hari kian ringkih itu sambil berkata Ya Allah semoga baik-baik saja
sesampainya di Rumah Sakit, Ayesh langsung rawat di IGD.
"Damar, siapa yang sakit" tanya dokter haris
"itu ayesh tiba-tiba pingsan ris"
"Apa? dimana ayesh sekarang?" kami segera menuju ruang rawat ayesh
"Aku sudah membujuk istrimu untuk menjalani pengobatan"
Pengobatan
terjadi gejolak yang tak biasa.
sungguh tak ingin menyesali perbuatanku ya Allah
"Pe pengobatan?"
"iya pengobatan, Setelah melahirkan putri kalian rahimnya harus di angkat karena terdapat sel kanker yang msih kecil tapi kami yakini itu berbahaya tapi Ayesh bersikeras mempertahan kan rahimnya karena berharap memberikanmu banyak anak"
luruh sudah air mata yang tertahan sejak tadi. hal yang paling di takuti terjadi.
"Aku selalu membujuknya melakukan pengobatan tapi dia selalu bilang lebih baik program hamil dari pada kemo"
Ku tinggalkan Haris berlari menuju mobil. Ku ambil kotak berwarna biru itu dan ku buka perlahan.
ada beberapa surat termasuk untuk Zahra.
Dear suamiku tersayang
Maafkan adek mas, yang tidak bisa menjadi wanita yang sempurna.
Tidak bisa memberikan keturunan yang banyak seperti keinginanmu
Aku tak berdaya mas karena sesungguhnya kuasa itu hanya milik Allah
Aku titipkan buah cinta kita, permata hati kita yang kita nantikan tujuh tahun lamanya.
Aku harap kamu memperlakukan Zahra dengan baik, sebaik engkau saat meminangnya, sebaik engkau saat awal bersamanya dan semoga mas bisa menepati janji sakral pernikahan.
Mungkin setelah mas membaca surat ini, aku sudah berada di alam yang berbeda dengan mu mas. Di dimensi yang tak sama lagi dengan mu, tidak menghirup udara yang sama, berbagi selimut yang sama dengan mu.
Andai bisa memilih, aku tak ingin meninggalkan kalian tapi aku yakin inilah jalan Nya
Maafkan aku mas yang tidak mengurus surat perceraian kita. Aku ingin queen tau bahwa hubungan kita baik-baik saja, aku ingin queen tahu Papanya orang yang sangat mencintai keluarganya.
Aku pergi mas
mencintaimu selalu.
Pecah sudah tangis Danar malam itu. Bergegas dia berlari menuju ruang rawat Ayeah.
"Dek, bangun dek maafin mas dek. Mari kita mulai dari awal, mas tidak akan mengecewakan kamu lagi"
Perlahan tangan ayesh merespon perkataan Danar.
"Mas, ma...af kan a..ku"
"sstttt mas yang salah, mas yang tidak bersyukur memiliki kalian dek"
"Tidak mas, ini su...dah jalan Nya. Sa...yangi queen mas"
Tiiiiiitttttt
Sungguh penyesalan tak ada obatnya