Namaku Kuin, seorang mahasiswa Fakultas Psikologi yang sekarang sedang menikmati seribu satu materi dari dosen dan menunggu kepergiannya dari kelas. Ocehannya membuat kepalaku terasa pusing, bahkan memerhatikan rumput bergoyang pun lebih menarik.
"Kelas saya ini akan memakai skala penilaian absolut. Namun, tidak ada ujian apa pun, termasuk kuis. Daftar kehadiran kalian juga tidak penting."
Mendengar perkataan dosen, sontak membuat aku merasa sangat bersemangat! Tidak ada ujian, tidak ada kuis, bisa absen kapan pun adalah surganya mahasiswa!
"Nilai akhir kalian akan ditentukan oleh essai pendek di akhir semester ini. Temanya adalah Jati Diri. Di mana seseorang masih bingung akan jati dirinya sendiri."
Dosen tampan itu berbicara perihal jati diri. Mungkin ini akan menjadi essai yang menarik.
"Dengan pendekatan dan pengamatan secara sudut pandang ilmu psikologi, kalian bisa menemukan alasan mereka yang takut menjadi diri sendiri. Bahkan jati dirinya bisa mati," lanjut sang dosen.
Apakah ... jati diri seseorang bisa mati?
Sampai jam kelas berakhir, hanya pertanyaan itu yang menjajah pikiranku. Teriakan lapar dari perutku menjadi bungkam seribu bahasa. Tak lama kemudian, lamunanku buyar saat mendengar suara tawa menggema di sepanjang koridor kampus. Tampaknya hanya kumpulan mahasiswa asisten dosen yang asik bersenda gurau.
Sementara itu, di tengah riuh rendah suara gaduh, indera pendengaranku menangkap alunan musik dari ruang studio mahasiswa musik.
"Eh? Suara ini ... suara gitar! Jam segini masih ada kelas, ya?" Kudekati ke asal suara, lantas semakin jelas terlihat pemain musik di sana.
Di saat orang lain sedang membuat kegaduhan, seseorang mengisolasikan dirinya di ruangan yang terletak di ujung lorong sepi ini. Aku dapat melihat dari jendela pintu, terlihat seorang pemuda berwajah tampan.
Ia menghentak pelan telapak kakinya sesuai tempo irama, jari jemarinya lentur dan lembut memetik tiap senar gitar, sehingga suara yang dihasilkan dari gitar juga berjalan seiring vokal emas miliknya.
Gitar yang pria itu pakai bukan gitar biasa, tetapi gitar elektrik. Aku memang tidak paham apa pun perihal musik, tetapi aku yakin, pria tampan itu adalah gitaris dan penyanyi yang berbakat.
Sejujurnya, aku mengenalnya. Ya, kami pernah dekat pada tahun pertama kuliah. Bahkan aku menyimpan rasa spesial kepadanya, tetapi kini waktu menjauhkan. Hanya saja ketika dulu masih dekat, aku tak pernah tahu ia berbakat dalam bidang musik, karena ia mahasiswa jurusan kedokteran.
Namanya Jaevan Wiliam.
"Jaevan terlalu tampan untuk kumiliki. Aku cuma remahan rengginang," ejekku pada diri sendiri.
Aku pikir, aku akan segera melupakan Jaevan. Toh, ia mungkin juga sudah melupakanku lebih dulu. Namun ternyata tidak, saat aku bertemu Jaevan lagi di taman kampus malam ini.
"Ini udah malam, kok dia belum pulang?" tanyaku yang lagi-lagi pada diri sendiri. Aku tidak gila, hanya saja aku memang seorang introver yang sulit menemukan teman dekat. Pernah merasakan sulitnya bergaul, 'kan?
Mataku membelalak ketika melihat Jaevan menghisap batang rokok dan menghembuskan gumpalan asap abu-abu di langit. Ia tiba-tiba menendang sebuah kaleng, aku hanya menatap bingung dari belakang. "Ada apa dengannya?" gumamku.
Tak lama ia menangis terisak. Ia duduk di bangku taman dan tangisnya semakin pecah. Seperti orang putus asa. Hatiku lemah, tetapi aku bukan siapa-siapanya lagi sekarang, kita sudah menjadi asing, 'kan?
Entah dorongan apa yang memberanikanku menghampiri Jaevan. Sekarang, aku benar-benar sudah di hadapannya yang terlihat rapuh.
"Jae," panggilku pelan.
Secara refleks, ia berdiri. Ia langsung melupakan rokoknya yang sudah terbuang, dan menghapus air matanya seolah tak ingin ditunjukkan padaku.
"Anggep aja lo gak liat apa-apa," katanya begitu tajam.
Jaevan hendak pergi, tapi kutahan tangannya. "Kamu ngga baik-baik aja, 'kan? Bicaralah padaku. Aku janji akan merahasiakannya," ucapku khawatir.
"Buat apa?" deliknya jengkel. "Pada akhirnya semua orang menuntut gua, menganggap gua ga berguna, bahkan lahirnya gua di dunia ini adalah sebuah kesalahan!"
"Engga, Jae. Nggak." Aku berusaha meyakinkannya.
"Gua cuma boneka mereka. Gua merasa hidup ini semuanya diatur bokap. Mereka membenci gua sebagai musisi, mereka malah maksa gua jadi dokter!" teriaknya tak rela.
"Piagam lomba nyanyi yang gue kasih sebagai bukti ke orangtua pun, ngga diterima. Mereka ngga pernah percaya sama gua. Ngga ada yang sayang sama gue. Gue ngga pantes hi—"
Telapak tanganku segera menutup mulut Jaevan setelah berjinjit.
Aku paling benci ketika Jaevan sudah mengatakan hal yang tidak-tidak. Aku paling benci ketika Jaevan sudah merasa dirinya tak pantas hidup.
Dulu, Jaevan bukan orang yang seperti ini. Ia seorang periang, jahil, dan banyak bicara.
Biasanya aku akan membungkam mulut Jaevan dengan permen strawberry agar ia berhenti bicara. Namun, malam ini aku tak membawa permen. Maka kusatukan ranumku dengan ranumnya yang masih menyisakan rasa pahit juga mint dari rokok yang sedari tadi disesapnya.
Kubiarkan Jaevan mencecap rasa strawberry dari lip mask yang kugunakan.
Tautan bibir kami semakin mendalam, ketika Jaevan menarik pinggangku.
Cukup lama itu berlangsung sebelum kurasakan sesuatu yang bahas menetes mengenai pipiku diikuti isakan Jaevan yang memilukan. Dan begitu ciuman terlepas tangisan Jaevan mengeras.
"Gua lelah, Kuin. Gua bener-bener lelah, ini bukan jalan yang gue mau!"
Aku mendekapnya lebih kencang. Lalu beujar, "Kamu layak mendapat apa yang kamu mau, Jae. Tujuanmu menjadi musisi tidaklah salah."
"Orangtua gua ... ngga akan suka," gumamnya ragu.
Sejenak kurenggangkan pelukannya dan kutangkup wajahnya agar menatapku, "Aku akan membantumu," sekali lagi kupertemukan bibirku yang memiliki rasa strawberry dengan bibirnya yang memiliki rasa cigarettes.
Bukan hanya janji belaka. Aku benar-benar membantu Jae untuk meyakinkan orangtuanya menjadi seorang musisi. Saat aku bicara pada orangtua Jae, ternyata bukan tanpa alasan ibunya menyuruh Jae menjadi dokter.
"Saya tau saya egois. Ibu menyuruh Jae masuk kuliah kedokteran, karena cita-cita saya yang gagal. Ibu juga ingin Jae bisa berguna bagi banyak orang, tidak seperti ibu," terang sang ibu.
Setelah itu, terjadilah kesepakatan antara keduanya. Jaevan akan tetap meraih gelar s1 kedokteran, meskipun fokus pada profesi musisi.
Dari peristiwa yang kualami ini, aku bisa menyimpulkan tentang jati diri seseorang yang kutulis dalam essai.
“Kasus Seorang Pemuda (22 tahun).
Mengalami depresi berat akibat tuntutan orangtuanya. Sering melukai diri sendiri dan merasa tak pantas hidup di dunia.”
“Dunia terus mendikte kita untuk hidup seperti orang lain. setiap hari kita harus hidup demi keinginan orangtua kita, guru kita, kekasih kita, dan teman-teman kita.”
“Hidup kita seolah menjadi orang lain, hingga kita dapat melupakan jati diri dan tujuan diri sendiri. Seringkali orang terdekat lah yang paling memengaruhi ketidakpercayaan diri seseorang untuk melangkah. Mereka menyuruh kita mencapai sesuatu demi kepuasan mereka sendiri.”
“Ada cara untuk mengatasinya, yaitu kita harus mengenal jati diri sendiri. Jangan biarkan prinsip hidup dan langkah kita lemah karena dikendalikan oleh orang lain. Dengan itulah ego serta pribadi kita dapat berkembang dewasa.”
-Sebuah tulisan Essai oleh Kuin, tentang [Jati Diri].
—————
Semenjak itu, Jaevan secara perlahan bisa mencapai impiannya. Ia lulus dengan IP terbaik dan membentuk band musik yang sekarang terkenal dengan nama Enam Hari.
Semenjak itu pula, Jaevan dan aku meresmikan hubungan kami. Iya, kami pacaran.
Namun anehnya, Jaevan masih suka bertanya, "Sejak kapan dan kenapa lo bisa suka sama gue sih, Kuin?"
"Astaga ... mubazir sekali air liur aku buat ngejawab pertanyaan itu."
| SELESAI |