Ditulis dari kisah nyata Asma & Rian yang bersama mempertahankan cinta sejatinya hingga maut memisahkan.
"Saya terima nikahnya Asma binti Anang dengan mahar tersebut dibayar tunai," satu kalimat yang diucapkan Rian dengan yakin. Kalimat suci yang menjadikan Asma, gadis sederhana itu menjadi miliknya, untuk selamanya.
***
Tiga bulan sebelum pernikahan, Asma berjalan pulang setelah berbelanja di warung kecil dekat rumahnya. Tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke arah kakinya saat ia melewati lapangan bola di samping rumahnya. Asma pun menghentikan langkahnya dan memandang ke arah lapangan. Deg! Matanya bertemu dengan pemuda bertubuh tinggi besar yang merupakan salah satu pemain hari ini.
Rian, pemuda yang selalu bertugas menjadi kiper karena postur tubuhnya yang tinggi itu pun berjalan ke arah Asma. Lantas, memungut bola yang berhenti tepat di depan kaki gadis pujaannya itu dengan malu-malu. Begitu pula, sang gadis yang tersipu, padahal tidak ada interaksi di antara keduanya, kecuali sepasang mata yang saling melirik dalam diam.
Begitulah, percintaan zaman dulu. Tidak ada yang namanya pacaran, apalagi skinship sebelum pernikahan. Jika suka, maka hormatilah. Jika sayang, maka hargailah. Jika cinta, maka jagalah. Jika serius, maka halalkanlah pujaan hatimu, lalu ia akan menjadi milikmu seutuhnya.
Seperti itulah prinsip seorang Rian. Tanpa pernah menyatakan perasaan sukanya secara lisan dan hanya berupa lirikan diam-diamnya yang memperhatikan reaksi tersipu Asma saat setiap kali berpapasan dengannya, Rian tahu bahwa Asma juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Hanya dengan bermodal perasaan yang tulus, Rian pun memberanikan diri mengutarakan niatnya untuk melamar Asma pada kedua orangtuanya. Meminta mereka melamar Asma untuk dirinya, untuk menjadi kekasih halalnya, menjadi istrinya.
Rian mondar-mandir dengan hati yang tidak karuan rasa. Kegelisahan tercermin jelas di wajah tampannya, manakala menunggu kedatangan orangtuanya yang pergi melamar Asma pada kedua orangtua Asma. Sesekali ia menyeka keringat di dahinya dan berulang kali, kepalanya menyembul keluar dari jendela rumahnya untuk memastikan apakah orangtuanya sudah kembali atau belum.
Hingga sebuah senyum terukir indah di wajah tampan Rian, manakala mengetahui lamarannya diterima. Rian melakukan sujud syukur di depan kedua orangtuanya, lalu memeluk keduanya dengan bahagia.
Tidak jauh beda dari Rian, Asma yang berdiam diri di bilik kamarnya, tengah tersenyum cantik dari balik tirai kelambunya saat ibunya memberitahunya bahwa ia akan segara menikah setelah orangtuanya menerima lamaran Rian.
Tidak perlu waktu lama, pernikahan keduanya pun berlangsung sederhana, namun penuh khidmat. Keduanya bukanlah orang berada. Hanya keluarga sederhana yang tinggal di kota terpencil yang jauh dari ibu kota.
Setelah keduanya resmi menikah, berbulan-bulan Asma dan Rian tinggal di rumah orangtua Asma. Rian yang tidak memiliki pekerjaan tetap, memutuskan untuk mencoba peruntungan di ibu kota dengan mencoba berdagang kecil-kecilan di pasar kota.
Semula keputusannya ini ditentang kedua belah pihak, tapi setelah berjuang meyakinkan keluarganya, Rian berhasil mendapatkan izinnya setelah berkata, "Pak, Bu, Rian dan Asma tidak minta apa-apa. Hanya do'a restu dari Bapak Ibu yang kami harapkan. Tolong, do'akan saja kami berhasil di sana agar bisa membahagiakan Bapak dan Ibu di sini."
Asma dan Rian hijrah ke ibu kota. Mereka menyewa kontrakan kecil dengan harga miring untuk tempat tinggal mereka. Rian memulai usahanya dengan berdagang keliling, apa saja ia jual asal halal. Bukan hanya Rian, tapi Asma juga turut membantu. Asma juga berdagang keliling seperti Rian.
Siapa yang tahu akan putaran nasib? Tidak beberapa lama mereka berusaha, pasangan muda itu menjadi sukses. Mereka memulainya dari nol, tapi siapa sangka, dagangan mereka selalu laris terjual, hingga kini mereka bisa memiliki sebuah toko sendiri. Hidup mereka berubah. Dari awalnya tidak punya apa-apa, hingga kini mereka bisa memiliki segalanya, kecuali satu, anak.
Bertahun-tahun mereka menantikan kehadiran seorang anak di antara mereka, tapi selalu nihil. Rumah besar yang kini mereka huni itu selalu terasa sepi. Tidak ada tawa dan tangis seorang anak di sana. Begitu pula hidup mereka yang selalu mereka habiskan dengan menyibukan diri setiap hari.
Sekalipun Rian tidak pernah mendesak Asma untuk segera memiliki anak, tapi Asma tetap merasa gagal menjadi istri yang baik. Asma sadar, hal ini akan selalu jadi perbincangan di keluarga mereka karena desakan itu selalu datang dari keluarga mereka, terlebih dari pihak Rian.
Asma selalu tampak murung memikirkannya, tapi ia selalu berusaha menutupinya dengan senyuman. Asma selalu bersyukur telah memilih pria lembut itu menjadi suaminya. Rian selalu ada untuk menghiburnya.
Pria tampan itu selalu memberi dukungannya untuk tidak menyerah dan selalu berdoa memohon kemurahan hati dari Tuhan, agar mengabulkan keinginan mereka memiliki keturunan. Hingga sampai mereka memeriksakan diri mereka ke dokter kandungan, barulah mereka mengetahui kebenarannya.
"Aku mandul, Asma..." lirih Rian di tengah isaknya. Pria berpostur tinggi besar itu menangis dengan tubuh bergetar seraya meremas sebuah kertas di tangannya. Kertas hasil pemeriksaan yang ia lakukan, yang menyatakan dirinyalah penyebab mereka tidak memiliki keturunan hingga saat ini.
Kini, Rianlah yang benar-benar merasa gagal menjadi seorang suami. Ia tidak akan pernah bisa mengabulkan keinginan istri tercintanya untuk memiliki anak. Sampai pikiran konyol itu melintas di benaknya, "Ceraikan aku, Asma! Menikahlah lagi dengan pria lain..." ucapnya di depan wanita yang sangat ia cintai itu.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Asma tidak percaya. Meskipun semua ini adalah kenyataan pahit yang harus ia terima, tapi sekalipun tidak pernah terbersit di benak Asma untuk melakukan hal konyol itu.
"Kau tidak akan bisa punya anak jika tidak menceraikanku," ucap Rian seraya meremas kedua lengan Asma. Rian berusaha meyakinkan Asma bahwa usulnya itu adalah satu-satunya cara terbaik untuk Asma mendapatkan kebahagiannya.
"Apa kau pikir, aku menikah denganmu hanya untuk memiliki anak?" tanya Asma dengan tatapan sedihnya. Linangan airmata mulai mengalir di kedua mata indahnya.
"Bukankah memang seperti itu niat sebuah pernikahan? Untuk memiliki keturunan," sahut Rian seraya memalingkan wajahnya. Rian memang tidak pernah sanggup melihat Asma menangis. Rian melepaskan tangannya dari lengan Asma, bahkan Rian sampai menggigit bibir bawahnya karena rasa di dadanya yang begitu sesak.
"Aku mencintaimu, Rian! Karena itu aku menikahimu. Berhentilah bicara konyol seperti ini. Aku tidak akan bercerai hanya karena suamiku mandul!" ucap Asma emosi sambil menangis. Asma berlari meninggalkan Rian dan mengunci dirinya di dalam kamar mandi. ia menangis sesenggukan seorang diri di sana.
"Apa yang kau lakukan di dalam sana? Keluarlah!" ucap Rian setelah mengetuk pintu kamar mandi itu, "Buka pintunya, Asma!" lanjutnya dengan lembut seperti biasanya. Asma yang selalu menuruti suaminya, membukakan pintu dengan memalingkan wajahnya.
"Maafkan aku..." lirih Rian seraya menangkup wajah cantik itu. Rian menyeka airmata yang masih membasahi wajah Asma dengan jarinya. "Berhentilah menangis! Kau tahu, hatiku sakit setiap kali melihatmu menangis," ucapnya seraya membawa Asma ke dalam pelukannya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Asma kembali terisak. "Aku mohon, jangan memintaku untuk pergi!" ucap Asma seraya memeluk tubuh Rian erat, "sampai mati pun aku tidak akan pernah meninggalkanmu," lanjutnya seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu dan menangis sepuasnya.
Hari berganti hari, rumah besar itu kini tampak tidak sepi lagi. Ada suara tawa dan tangis seorang anak yang terdengar karena hampir setiap hari Asma membawa seorang keponakannya pulang ke rumahnya. Seorang anak perempuan berumur 3 bulan itu selalu mengisi hari-hari pasangan suami istri itu.
Asma dan Rian sangat menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri, bahkan Asma tidak peduli kapan pun, entah itu tengah malam atau dini hari, saat anak itu menangis mencari ibunya, ia akan mengantarnya pulang kembali ke rumah adik perempuannya, ibu dari anak itu, tapi keesokan harinya, Asma akan kembali datang menjemputnya, atau sekedar bermain dengannya di rumah adiknya itu.
Hari-hari yang bahagia Asma lewati bersama Rian dengan kehadiran anak itu di tengah-tengah mereka berdua. Hingga anak itu tumbuh dan tinggal bersama mereka seperti anak kandung mereka sendiri.
Bertahun-tahun telah berlalu, ujian kembali datang menerpa rumah tangga mereka. Usaha mereka mengalami bangkrut, hingga memaksa mereka menjual toko mereka. Akhirnya, Rian memilih untuk belajar berkebun di hari tuanya. Hasil kebunnya bisa ia jual dan cukup untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Asma pun turut membantu dengan berjualan es di rumahnya.
Pasangan yang selalu mendukung satu sama lain. Selalu menguatkan satu sama lain dan tidak pernah melepaskan tangannya satu sama lain, meski apapun yang terjadi. Meski angin badai selalu menerpanya, tangan itu selalu saling menggenggam karena itulah arti ikatan pernikahan yang sesungguhnya bagi mereka. Ikatan yang tidak boleh dilepas sampai kapan pun.
Kemudian, di tengah-tengah masalah keuangan yang menerpa, anak yang sudah begitu mereka sayangi memilih untuk kembali kepada orangtuanya. Bukan salah siapapun. Anak itu hanya ingin tinggal bersama orangtua dan saudara kandungnya karena memang dari awal, Asma dan Rian tidak pernah mengakui diri mereka sebagai orangtuanya. Mereka selalu mengatakan yang sebenarnya, bahwa mereka hanya bibi dan paman untuknya.
Rumah itu pun kembali sepi. Terlebih saat Rian pergi ke kebunnya. Asma akan sendirian di rumah itu dan menghabiskan waktunya dengan mengaji. Lantunan merdu ayat suci Al-Quran selalu terdengar dari rumah itu. Seperti senandung nyanyian yang menenangkan hatinya yang sepi.
Sampai suatu hari sebuah berita meluluh-lantakan dunia Asma. Rian ditemukan meninggal di kebunnya seorang diri karena serangan stroke mendadak yang memecahkan pembuluh darah di kepalanya. Dunia Asma kini benar-benar menjadi sepi, sungguh sepi.
Asma memilih tinggal seorang diri di rumahnya. Ia tidak ingin merepotkan saudara-saudaranya untuk menampungnya. Tidak ada yang tahu bagaimana ia menjalani hidupnya seorang diri di sana. Hingga sampai keributan terjadi di rumah itu. Saudara almarhum suaminya yang baru meninggal seminggu datang meminta warisan.
"Apa-apaan kalian!" ucap kakak lelaki Asma yang hadir di sana. "Tidakkah kalian memiliki hati? Bahkan ini baru seminggu kematian adikmu dan kau datang menggugat warisan!" bentak adik perempuan Asma, "tidakkah kau lihat betapa terpukulnya kakakku?" lanjutnya di tengah isak tangisnya. "Apa yang ingin kau tuntut, sedangkan semuanya sudah habis sebelum almarhum meninggal?" tanya kakak lelaki Asma.
"Bukankah kalian juga yang sudah membuatnya bangkrut! Kalian meminjam uang padanya dengan jumlah yang banyak, tapi tidak pernah ingin mengembalikannya dan saat almarhum menagihnya, kalian malah kabur entah ke mana, lalu kini saat almarhum baru dikuburkan seminggu, kalian datang menagih warisan, bahkan tanah di kuburannya saja belum mengering!" ucap adik perempuan Asma yang tampak sangat emosi melihat kelakuan ipar dari kakaknya itu.
"Asal kalian tahu, uang yang kalian pinjam adalah milik kakakku, bukan milik almarhum. Dan harta yang tersisa ini adalah peninggalan almarhum ayah kami. Apa itu yang ingin kau tuntut?" lanjut adik Asma seraya memperlihatkan bukti-bukti kepemilikan harta Asma yang atas nama orangtua mereka, sedangkan Asma hanya terdiam duduk mendengarkan keributan itu.
Sungguh semua ini benar-benar membuatnya hancur. Suami yang begitu ia cintai telah pergi meninggalkannya tanpa pamit. Satu-satunya teman hidupnya kini telah tiada untuk selamanya. Meninggalkannya seorang diri menghadapi dunia dengan segala rasa sepinya yang semakin hari semakin membungkus dirinya, menikam hatinya dan melahap jiwanya.
"Lakukanlah..." lirih Asma yang pada akhirnya membuka mulutnya, "bagilah apa yang ada sesuai perhitungannya," lanjut Asma. "Tapi kak, semua itu milikmu, bukan milik kakak ipar," protes adiknya. "Tak apa, aku ikhlas," sahut Asma, "lakukan saja. Jangan buat almarhum menangis dalam kuburnya hanya karena masalah warisan yang tak seberapa," ucapnya pelan dengan tersenyum getir.
Sakit! Sungguh hatinya sakit, tapi ia tetap mengikhlaskan semuanya untuk cintanya pada suaminya. Warisan pun dibagikan dan Asma hanya meminta rumah yang sudah ia tinggali puluhan tahun ini sebagai bagiannya. Rumah yang menyimpan segala kenangannya bersama pria yang paling ia cintai. Tempat ia berteduh untuk menghabiskan sisa hidupnya.
Bulan berlalu dengan kesendiriannya. Datang sebuah lamaran untuk Asma dari seorang duda yang jatuh cinta padanya, tapi dengan halus Asma menolak lamaran itu karena bagaimanapun hati dan cintanya hanya untuk Rian seorang. Asma tidak berniat membuka hatinya untuk pria lain.
Tidak lama setelah lamaran itu, Asma dibawa paksa saudara-saudara dari rumahnya. Mereka mengkhawatirkan kondisinya. Asma selalu terlihat melamun dengan tatapan kosong. Sungguh, kesepian yang ia rasakan sudah melahap habis jiwanya.
Asma benar-benar hilang akal. Wajahnya selalu murung. Tatapannya kosong dan mulutnya selalu diam. Kalau pun ia bicara, pasti hanya racauan yang sulit dimengerti. Kini, Asma tidak peduli lagi dengan dirinya, bahkan untuk melakukan semua aktivitas, ia harus dibantu. Kepergian Rian sungguh membawa pergi serta jiwanya.
Sang adik merawat Asma dengan baik di rumahnya. "Anggaplah ini sebagai balas jasaku karena kakak sudah merawat putriku dengan baik," ucap adiknya seraya mengelus lembut pipi Asma yang kini sangat tirus. Asma hanyalah pasien dengan depresi berat yang sudah kehilangan dunianya.
Dengan menggerak-gerakkan tangannya, Asma memanggil anak gadis berumur 17 tahun. Gadis itu mendekat padanya dengan tersenyum, "Bibi, mau apa?" tanyanya, tapi Asma hanya diam menatap anak perempuan yang sudah ia besarkan dan tengah berdiri di depannya itu.
"Bibi sudah mandi, belum?" tanya gadis itu dengan manja. Asma menggelang pelan. "Aku sama ibu mandikan, ya?" ucapnya dengan tersenyum manis. Asma pun tersenyum cantik membalasnya. Mereka pun memandikan Asma dengan teliti.
Setelahnya, gadis itu membantu Asma berpakaian. Ia mengeringkan dan menyisir rambut bibi yang sudah seperti ibunya itu. Dengan santai, ia melakukannya karena sudah terbiasa merawat Asma.
"Lihatlah, bibimu dari tadi selalu tersenyum. Sepertinya, hari ini hatinya sedang bahagia," ucap adik Asma yang datang membawa makanan untuk Asma. "Bibi makan, ya? Aku suapi," bujuk gadis itu seraya menyambut sepiring makanan dari ibunya.
Adiknya itu menatap Asma yang sedang makan dengan lahapnya saat disuapi anaknya. Entah ada perasaan apa yang mengganggu di hatinya. Perasaan tidak enak yang sedari tadi menghampirinya.
Setelah selesai makan, Asma memain-mainkan kancing bajunya. Tangannya turun naik seperti menghitung kancing-kancing itu. "Kenapa kancingnya dilepas? Sini, aku betulkan," ucap gadis itu seraya memasang kembali kancing piyama Asma. Asma kembali tersenyum manis melihatnya.
Saat gadis itu tengah merapikan baju bibinya itu, Asma menyodorkan tangannya. "Apa?" tanya gadis itu bingung. Asma menjawabnya dengan memain-mainkan kukunya. "Oh, kuku bibi sudah panjang? Mau dipotong?" tawar si anak gadis. Lagi-lagi Asma tersenyum.
Gadis itu pun memotong kuku tangan bahkan kuku kaki Asma dengan pelan. "Kenapa kuku bibi biru?" gumamnya pelan, lalu menengadahkan wajahnya memandang wajah bibinya dan mendapati bibinya itu tengah memandang ke satu arah dengan tersenyum manis.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah pandangan Asma, "Bibi lihat apa?" tanyanya saat mendapati tidak ada siapa-siapa di sana. Karena tidak ada jawaban dari bibinya, ia pun kembali melanjutkan memotong kuku bibinya.
Setelah selesai, gadis itu menyuruh Asma untuk tidur. Asma menurut dengan memejamkan matanya, tapi sesaat kemudian matanya kembali terbuka, saat gadis itu mengecup keningnya lembut, "Aku sayang bibi. Istirahatlah..." ucapnya tersenyum manis pada wanita yang nyatanya ia sayangi itu. Asma tersenyum cantik membalasnya, sangat cantik, bahkan senyum itu adalah senyum tercantiknya.
Selang beberapa menit setelahnya, "Bibimu sudah tidur?" tanya ibunya pada gadis itu. "Sudah, baru saja," jawabnya. Wanita itu pun masuk ke kamar Asma untuk melihatnya.
Sang adik melihat Asma tidur dengan tersenyum indah, tapi ada yang mengganjal di hati wanita itu saat melihatnya. Ia pun menyentuh bahu kakaknya itu dan menggoyangkannya pelan. Tidak ada respon dari Asma, bahkan bahu ringkih yang kini tampak seperti tulang yang hanya dilapisi kulit dengan sedikit daging itu terasa begitu kaku.
"Kak..." panggilnya pelan, lalu meletakkan tangannya di wajah kurus itu. Dingin seperti es! Dengan tangan gemetar, ia meletakkan jarinya di depan lubang hidung Asma, kemudian melanjutkan dengan pergelangan tangan Asma, "Inna lillahi wa inna ilayhi roji'un..." lirihnya dengan airmata yang turun tanpa aba-aba.
Akhirnya, Asma pergi dalam kesendiriannya dan membawa serta rasa sepinya. Menuntaskan cintanya pada satu-satunya pria yang ia cintai dalam hidupnya dan mengakhiri kesetiannya hanya untuk suaminya, Rian.
***
Teruntuk dua malaikatku...
Semoga kalian selalu bahagia di sana.
Maafkan anakmu yang belum sempat membalas semuanya.
Do'aku selalu untuk kalian.
Al-Fatihah
H. Asmah binti H. Anang & H. Syahrian bin Asnawi