🌹🌹🌹🌹Selamat membaca🌹🌹🌹🌹
♢
♢
♢
♢
Di malam harinan sepi, hawa dingin menerpa tubuhnya, hembusan angin lembut membelai rambutnya. Seorang wanita tengah menangis seorang diri, berjalan tanpa tahu tujuannya, wanita itu iyalah Veronica Pranawinata wanita yang kerap di panggil Ica. Sang Bibi dengan tega mengusirnya tanpa memperbolehkan dirinya membawa apapun.
Kini dirinya bingung harus kemanakah ia singah berlabu. Sejenak ia berhenti mendudukan dirinya di bangku taman, menyandarkan tubuhnya mengarahkan pandannya menatap langit Malam.
Bintang yang menemani dan bulan yang menjadi penerangnya menabah Kesunyian malam ini. Sesaat membuatnya teringat kenangan mengenai kedua Orang Tuanya.
Flasback On
Saat itu Ica serta kedua orang tuanya tengah berada dalam perjalanan, canda tawa menemani perjalanan mereka, saat itu Ica dan ledua orang tuanya akan merayakan hari ulang tahunnya yang memasuki usia 10 tahun, tetapi saat di tengah perjalanan sebuah mobil menubruk sisi kiri mobil sang Ayah, iapun tak dapat mengusai kemudinya membuatnya menabrak pembatas jalan dan menyebabkan mobil jatuh ke dalam jurang, Kendaraan Hancur Lebur Tak Berbentuk Menyebabkan Ica kehilangan kedua orang tuanya. Kuduanya tak dapat diselamatkan, Ayah Dan Ibunya meninggal di tempat kejadian. Sementara dirinya berhasil selamat karena sang Ibu menajadi pelinduk keselamatanya untuk sang anak memeluknya dengan erat, saat akhir hayat sang Ibu meminta agar dirinya harus tetap menjalani hidup menjadi pribadi yang kuat.
Flasback Off
Setelah kejadian naas tersebut ternyata sudah lama sang Ayah Dan Ibu menuliskan surat wasiat terakhir meraka, yang menyatakan bahwa semua aset kekayaan mereka di serahkan ke sang anak bila mana seandainya mereka berdua harus meninggalkan buah cintanya terlebih dahulu. Meninggalkan harta kekayaan yang cuku banyak untuknya, membuat Bibi yang merupakan satu satunya Kerabat dari mendiang sang Ayah, mengantiak kedua orang tuaku untuk mengurusku, saat tahu aku mewarisi harta kekayaan kedua mendiang Ayah Dan Ibu, menjadikan Bibi pemegang harta kekayaan kedua orang
tuanya, samapai usiaku mencukupi untuk mengurus semuanya.
Kupikir Bibiku akan nengantikan sosok Ibu yang menyayangi dan memberikannku perhatian, tetapi semua itu hanya sekedar angan bagiku, setelah diriku tinggal dengannya, aku di pelakukan layaknya seperti sapi perah, menyuci, mengurus rumah, masak, melayani anak perempuannya dengan usianya sama denganku, samapi hingga diriku mengijak dewasa aku bekerja untuk membiayai sekolahku hingga aku lulus sekolah dan bekerja.
Tak pernah sekalipun bibi memberi uang untuku, Bibi hanya membiayai diriku sampai aku lulu Seolah Menengah Pertama. Jika aku meminta uang padanya ada saja alasannya. Bahkan untuk makan dan pakaian yang ku kenakan sajah sisa sisa yang telah di gunakan oleh anaknya.
Tanpa ia sadari ada sosok yang menperhatika dan mendekat ke arahnya.
"Nak sedang apa dirimu di malam sedingin dan selarut ini?" Tanyanya orang tersebut membuyarkaan lamunannya.
Ica mengarahkan pandangannnya mengarah ke asal suara. Dirinya tampak melihat garis kerut halus menghiasi wajah Tuanya, kulit hangus terbakar oleh teriknya matahari, serta rambut disanggul tinggi.
"Aku hanya sedang bingung, tak tahu arah dan tujuan ku." Kesedihan terukir di wajahnya.
Melihat raut wajahnya nampak sedih, Membuat rasa Iba Kepanya.
"Bagaimana tinggal dengan Nenek saja, kebetulan Nenek hanya tinggal seorang diri." Ujarnya duduk di samping Ica.
"Apakah Nenek yakin, diriku hanya orang asing, tanpa Nenek mengenalku mempercayai diriku untuk tinggal dengan mu." Tanyanya memandang lekat sang Nenek.
"Jika bigitu mari kita saling mengenal, saya Nenek Sumiati, saya biasa di panggil Nek Sumi." Tampak senyum menghias di wajahnya.
"Maaf Nek, Namaku Veronica Pranawinata. Nenek bisa memanggilku Ica." Mulutnya melengkung membentuk senyuman.
"Tampaknya hari semakin larut udahpun bertambah dingin, lebih baik lekas meninggakkan tempat ini." Ujar Nenek Sumi berlalu pergi, diikuti olehnya.
♢
♢
♢
♢
Tak berselang lama Ica tiba di kediaman rumah Nenek Sumi. Nenek mempersilakan Ica untuk masuk kedalam rumahnya.
Sementara Nenek Sumi membuat minum untuknya. Matanya berkeliling melihat sekeliling rumah Nenek Sumi. Suasana rumah terasa tenang dan nyaman.
Walau bukan rumah berlapis emas tetapi seperti hidup di jeruji besi.
Di dalam rumah Nenek Sumi hanya terdapat satu buah Tv yang menghiasi ruangan serta tempat duduk tebuat dari bambu dan terdapat satu buah kamar. Serta dapur berada disamping kamar, dan meja makan disatukan di ruang depan.
"Beginilah kondisi rumah Nenek, Nenek harapa kamu betah tinggal disini Nak." Ucapnya datang menyuguhkan segelas air minum.
"Terimakasih Nek." Langsung meminum air tersebut tenggorokannya memang sangat kering sedari tadi menahan dahaganya.
Merekapun bercerita, selang bercerita sang Nenek mengajaknya untuk tidur di kamar bersamanya.
Kesimpulan dari cerita yang Nenek Sumi bicarakan dia bekerja menyiapkan makanan dan membangunkan Tua Muda di ediaman tempat Nenek bekerja. Tetapi karena kondisi sang Nenek yang sering sakit dan mudah lelah akibat faktor usia Nenek Sumi yang sudah tua membuatnya ingin mengundurkan diri tetapi belum ada penggantinya. Nenek Sumi menawarkan pekerjaan itu padanya tetapi Ica belum memberi jawaban apapun dan Sang Nenek menghargai itu memberi ruang untuknya berfikir.
Aku juga tak mungkin bekerja kembali disina, pasti sepupunya akan mencari ulah dengannya dan tempat kerjanya terlalu dekat dengan kediaman tempat Bibinya. Perlahan ia merasa kantupun mulai datang, perlahan dirinya memejamkan kedua matanya dan tertidur di samping sang Nenek.
Pagi harinya sang Nenek sudah bangun tak berselang lama Icapun ikut terbangun, Membantu sang Nenek membereskan rumah dan membuat sarapan. Ica yang sudah terbiasa melakukannya membuatnya terlihat cekatan dan terampil, itu semua tak luput dari pandangan sang Nenek.
Selang semua sudah selesai dan makanan sudah tertata rapih di meja makan, mereka akhirnya makan bersama di sela sarapan Ica terpikir dengan ucapan sang Nenek.
"Nek Sumi." Panggilanya di saat selesai sarapan dann merapihkannya kembali.
"Ada apa Nak?" Tanyanya.
"Ica udah memikirkan ini semalam, dan Ica fikir. Ica bakalan menerima tawaran dari Nenek." Ujarnya.
"Bagus kalo begitu Nak, Nenek akan segera memberi kabar kepada majiakan Nenek." Uajrnya tamapak berseri seri.
Tepat pukul 06.30 pagi sang Nenek akhirnya pergi meninggalkan rumah dengan riang gembira, sementara Ica menunggu kepulangan sang Nenek di dalam rumah.
♢
♢
♢
♢
Sesampainya Nenek di kediaman tempat tinggal majiakannya, nenek langsung membuat sarapan dan pagi untuk mereka semua dan membicarakan keinginannya kepada sang nyonya rumah. Sudah hampir 40 Tahun dirinya bekerja di kediaman keluar ini. Ia tak pernah merasa sendiri, karena di keluarga ini mereka semua memperlakukannya seperti keluagan mereka sendiri.
"Tok. Tok." Suara ketuakn pintu terdengar.
"Ia masuk." Ucap wanita tersebut tengah duduk di meja rias, dan sang suwami yang duduk di atas temapt tidur.
"Maaf Nyonya sarapan sudah siap." Ucap Nenek Sumi membuka pintu kamar.
"Ia terimakasih Bu Sumi, saya akan segera kesana, tolong bangunkan sekalian anak itu." Pintanya.
Tuan dan Nyonya memang suda menggap Nenek seprti orang tua mereka sehingga memanggil Nenek Sumi dengan sebutan Ibu. Tetapi Nenek Sumi tetap memanggil majikannya itu dengan sebutan Nyonya Dan Tua. Walau mereka sudah melarang sang Nenek memanggil mereka seperti itu.
Melihat Nenek Sumi masih berdiri tak meninggalkan ruangan. Membuatnya kembali bertanya.
"Apa masih ada yang ingin Ibu bicarakan." Tanyanya.
" Begini Nyonya, Tuan saya sudah menemuka orang untuk menggantikan saya." Ucapnya.
"Benarkah? Siapa dia? Berapa umurnya?, dan apa dia sudah tahu tentang semua ini?" Tanya Tuan dan Nyonya bergantian.
"Sudah Nyonya, usianya tidak terpaut jauh dengan tua muda, dia anak yang baik dan dia pasti bisa melalukan perkeejaan dengan baik." Ujarnya.
"Baiklah, silakan Nenek Sumi membawanya terlebih dahulu, jika memang dia sanggup dan dapat di percaya maka saya akan menerimanya bekerja disini." Ujarnya.
"Baik Nyonya."
"Saya permisi Tuan Nyonya." Ucapnya meninggalkan ruangan.
🍁🍁🍁🍁Sampai jumpa🍁🍁🍁🍁
🌺🌺🌺🌺Bersambung🌺🌺🌺🌺