Langit biru yang cantik, ditemani dengan awan putihnya. Memaparkan teriknya sinar matahari pagi menjelang siang ini. Terpaan sinar matahari itu menerpa meja kerja seseorang dari balik kaca jendela besar, yang sepertinya adalah sebuah gedung perusahaan yang besar. Secangkir kopi yang ada di atas meja itu diraihnya oleh seorang wanita yang nyatanya adalah seorang yang sukses menjadi Psikiater di Rumah Sakit Jiwa bernama 'RSJ Dewi Sartika' di Lampung Tengah, tepatnya di Bandar Jaya.
Wanita itu adalah Kiara Adriani. Ia duduk seraya menyeruput kopi hangat yang baru saja ia seduh. Ia duduk, menatap jendela yang terkena terpaan sinar matahari. Gedung tinggi di lantai empat, ia terkalut dalam pikirnya.
Ia tersenyum, mengingat bagaimana susah-senangnya ia selama masih muda, tepatnya saat masih SMA. Ia mengingat semua itu, saat SMA.
Beberapa Tahun Yang Lalu...
"Kamu ini tiap hari cuma nuntut saja kerjaannya!"
"Aku ga akan nuntut banyak kalau kamu kerja yang benar!"
Kiara yang tengah mengancingkan baju sekolahnya menghela nafas panjang.
"Ya tuhan pagi-pagi udah berantem lagi," ucapnya.
Ia meraih tas nya yang tergantung di dinding lalu pergi ke garasi untuk mengendarai sepedanya.
…….
20 menit kemudian gadis itu telah sampai di sekolahnya, ia berjalan ke kelasnya tak lupa dengan senyuman seperti biasanya.
"Selamat pagi kawan kuuuuu!" ucapnya saat masuk ke kelas.
Beberapa murid yang tengah berbincang menoleh cepat lalu membalas ucapan Kiara.
"Pagi jugaaaa Kiara~" ucap mereka serempak.
"Ada PR?" tanya Kiara pada Nara sahabatnya.
"Ga ada kok ra, santuy~" jawab Nara.
"Nanti kita bagi rapor ya? Duh nilaiku jelek ga ya?" kata Kiara.
Nara merotasikan matanya, "Nggak lah kamu kan pinter, nggak mungkin jelek lah nilainya."
"Oh iya katanya mau ada Kakak-kakak dari universitas Muhammadiyah Lampung mau dateng ke sekolah kita, mereka mau ngasih penyuluhan dan tips biar bisa lulus Jalur prestasi loh!" sambung Nara.
"Wah keren! Aku kan pengen masuk universitas itu!" ucap Kiara semangat.
Kringgggg
Bel tanda masuk telah berbunyi anak-anak duduk di tempatnya masing-masing.
Seorang guru masuk ke dalam kelas dengan 3 mahasiswa beralmamater hijau kebiruan di belakangnya.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi buuuu~" ucap para murid serempak.
"Ini ada kakak-kakak dari universitas muhammadiyah mohon didengarkan dan dihargai ya ibu permisi dulu," ucap Ibu guru lalu mempersilahkan para mahasiswa tersebut.
"Hai adik-adik!" sapa salah satu mahasiswa.
"Hai kak~"
"Sebelumnya Assalamualaikum Wr.Wb. nama kakak Reyhan, ini kak intan, dan ini kak putri. Kami mahasiswa dari universitas Muhammadiyah Lampung sedang melakukan KKN akan memberikan beberapa informasi dan tips agar bisa lulus tes jalur prestasi dan bisa masuk ke universitas kami," sambung mahasiswa yang bernama Reyhan itu.
"Kakak mau tanya nih, cita-cita kalian apa? Coba tunjuk tangan salah satu," ucap Putri.
Kiara mengangkat tangannya, "Jadi psikiater kak!"
"Kenapa mau jadi psikiater?" tanya Reyhan.
"Karena jaman sekarang kesehatan mental remaja tidak dipedulikan, dan angka kematian bunuh diri remaja karena depresi semakin tinggi, mereka mengakhiri hidup karena merasa dirinya tidak berharga saya ingin menolong dan mengobati mereka yang masih bisa ditolong sebelum terlambat kak, agar semua generasi penerus bangsa sehat secara fisik maupun mental dan bisa memajukan negeri ini kak!" jelas Kiara.
"Wah cita-cita yang mulia sekali! Kebetulan di universitas kami ada jurusan psikologi loh! Sekarang kakak akan berikan tips supaya lulus jalur prestasi, siap?"
"SIAP!"
Para mahasiswa itu menjelaskan semuanya, Kiara mendengarkan sampai selesai dengan mata berbinar.
1 jam berlalu para mahasiswa tersebut pamit undur diri, dan para murid sedang istirahat.
"Wah aku jadi makin semangat tau Nar," kata Kiara.
"Aku juga ih, Kak Reyhan ganteng banget, fiks, aku mau kuliah di sana nanti!" Nara berucap dengan girangnya, seraya menatap Kiara.
"Kamu mau kuliah atau nyari jodoh? Mending fokus belajar, jangan sampai kaya orang tuaku," balas Kiara tak acuh.
"Mereka berantem lagi?" tanya Nara.
Kiara yang tengah menulis di note nya menjawab dengan anggukan kepala.
Nara memeluk Kiara sejenak, "Aduh my bestie yang kuat oke!"
Kiara hanya tersenyum mengiyakan lalu kembali menulis di catatannya yang berisi hal yang ingin ia tuju.
"Nomer 1, harus rajin belajar! Nomer 2, kuliah terus harus dapet beasiswa, nomer 3 jadi psikiater!" batin Kiara dengan harapannya.
"Nanti kalau sudah jadi psikiater tolong obati aku ya," kata Maya.
"Lah emang kamu kenapa?" tanya Nara.
Maya mengusap-usap lengan kirinya,"Biasalah, Kiara pasti paham."
Kiara yang paham langsung menjawab,"Jangan coret-coret lagi May, daripada melampiaskan ditangan lebih baik kalo ada masalah cerita oke? Aku bisa kok dengerin, janji?"
"Ahaha oke thanks Kiara," kata Maya.
Tiba-tiba wali kelas masuk ke kelasnya Kiara.
"Anak-anak ibu akan bagikan hasil rapor ujian kemarin."
Semua murid terdiam, mereka tegang dengan nilai mereka nantinya.
"Kiara kamu…." guru itu menggantungkan kalimatnya, hal itu membuat jantung Kiara berdetak lebih cepat.
"Mendapatkan peringkat 1! Ayo beri tepuk tangan untuk Kiara," kata wali kelas.
Semua murid bertepuk tangan untuk Kiara saat gadis itu berdiri untuk mengambil raportnya.
"Selamat kiara, Pertahankan nilaimu ya nak!"
Ia menerima rapot itu dengan bahagia, "Terima Kasih bu."
…….
Siang harinya, Kiara pulang kerumah seraya bersenandung bahagia sembari menenteng kertas rapor-nya.
"Assalamualaikum, bunda, aku pulang. Hari ini aku dapet peringkat satu loh!" Tidak ada respon, keadaan malah hening.
Gadis itu tak melirik sebuah kertas yang tersimpan di atas meja. Ia mengambil kertas itu untuk ia baca. Ia mengerutkan keningnya setelah membaca risalah itu.
"Ayah sama Bunda mau cerai?!" Suara Kiara itu nyaring terdengar.
"Iya, nak," sahut Bunda yang tiba-tiba muncul dari arah kamar.
"Maaf, Bunda gak bisa bertahan. Ayahmu tadi pergi bersama wanita lain dan ngasih surat cerai," lirih Bunda dengan tangisan.
Kiara memeluk bundanya, "Aku harus bisa tanpa ayah!" batinnya.
Hari demi hari Kiara semakin giat belajar hingga di hari kelulusan Ia dinobatkan sebagai siswa lulusan dengan nilai terbaik.
Kiara sempat merasa stres dan nyaris menyerah karena perjalanannya sangatlah tidak mudah, belum lagi karena masalah utama keluarga yang membuatnya semakin terpuruk.
Ia pun berhasil masuk ke universitas yang diimpikannya, walaupun banyak orang yang iri dan mencibir Kiara tidak memperdulikannya.
"Kuliah psikologi jadi apa sih? Ngurusin orang gila?"
"Mendingan langsung aja jadi Pilot atau Polisi, daripada kuliah kaya gitu buang-buang uang tapi gajinya kecil."
Kiara hanya selalu membalasnya dengan senyuman, tak memperdulikan kritik yang ia terima. Yang penting, ia hanya mau fokus pada tujuan besarnya, yaitu menjadi seorang Dokter Psikiater.
Kiara yang sekarang telah sukses menjadi seorang Psikiater itu pun tak segan mendapatkan pasien anak muda SMA yang mengalami gangguan jiwa, depresi dan keinginan bunuh diri karena masalah utama keluarga. Mirip dengan kisahnya saat SMA lalu. Dan karena itulah, Kiara memiliki keinginan besar untuk menjadi seorang Psikiater, sampai bisa sesukses ini.
Tamat.