Nafasku terenggah engah, aku berlarian ditengah hutan ini sendirian, kakiku sudah tak kuat untuk berlari lagi. Rasa takut terus menghantuiku, tapi yang jelas aku harus melarikan diri dari para pembunuh yang terus mengejarku.
BRUK!
Kakiku tersandung, aku sudah tak kuat berlari lagi. Pembunuh itu bersorak riang, ketika melihatku jatuh. Mereka mulai mendekat kearahku. Aku terus berusaha bangun, tapi tubuh ini kembali terjatuh dan terjatuh hingga suara tembakan itu terdengar.
DORR! DORR! DORR!
Kedua dan kakiku terasa sakit, aku benar - benar sudah tak berdaya lagi. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Apa aku akan mati disini? Apa ayah selamat? Ibu… aku takut. mataku mulai berkabut bahkan untuk sekedar mendengar perkataan mereka pun aku tak bisa hingga akhirnya, kegelepan benar benar menjeputku.
°°°
Namaku, Bella. Hari ini aku sedang mengumpulkan beberapa bunga yang menurutku bagus lalu, memegangnya di tanganku. Aku melihat bunga itu, tapi senyum dibibirku belum kunjung terlihat.
"Nona" Aku menengok ketika ibu asuhku memanggilku. Aku berdiri dari dudukku lalu, berjalan mendahuluinya. Aku tahu betul apa yang akan dikatakan ibu asuhku dan aku mulai berjalan memasuki rumah. Aku melihat Seorang pria yang berdiri didepan pintu dia adalah ayahku.
"Sudah selasa bermainya, hm?" Ayah bertanya kepadaku, Aku diam, masih diam. Hatiku sama sekali tidak tergerak untuk tersenyum kearahnya. tanganku bergerak memberikan bunga yang aku pegang. Ayah berterima kasih kepadaku sambil mengusap pucuk kepalaku.
Aku pergi meninggalkan ayah ketika ibu asuhku berkata kepada ayah bahwa aku harus bertemu psikologi. Iya, aku mengidap Alexithymia sebuah kondisi dimana aku tidak dapat mengekspresikan dan mengenali sebuah perasaan. Kondisi ini membuat aku bingung harus bagaimana.
Psikologi itu terus mengajakku berkomunikasi. Aku juga melakukan beberapa terapi bersamanya. Aku terus menjawab percakapannya melalui tulisan dibukuku hingga akhirnya dia mengatakan apa yang aku inginkan. Lalu, aku kembali menulis kalimat dibukuku, 'jika aku mengatakannya apa itu akan terwujud?'
"Aku akan berusaha agar itu terwujud," Psikologi itu tersenyum kearahku. Aku berpikir jika aku memberi tahunya itu tidak akan apa - apa kan? Aku tidak akan tahu jika aku tidak mengatakannya. Kutuliskan kembali dibukuku apa yang aku inginkan 'Aku ingin pulang.'
"Pulang? Ini rumahmu ada ayah, ibu, dan juga adikmu kan?" Psikolog itu bertanya. aku diam, aku tau ini takkan pernah terwujud, Aku tak pernah bisa pulang kembali kerumah dan aku tidak menyukai itu. Aku menuliskan kata kata dalam bukuku agar psikolog itu mengakhiri terapi ini. Setelahnya, aku pergi ke kamarku.
°°°
Hari berikutnya, berikutnya, dan berikutnya masihlah sama tak pernah berbeda. Tidak dengan hari ini yang aku habiskan sepenuhnya dalam kamar sambil melihat kotak musik yang diberikan ibu.
"Bella, makan yang banyak ya" Aku menganggukan kepalaku. Dia ibu tiriku dan disampingnya adalah adik tiriku. Ayah menikah lagi setelah meninggal. Ibu tiriku juga sangat baik (?) tapi aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Aku juga tidak pernah mempersalahkan itu. Selesai makan aku pergi ke kamar. Aku melihat kotak musik pemberian ibu kandungku. Hati nuraniku selalu mengatakan bahwa aku merindukan ibuku.
Aku menuliskan sebuah keinginan keinginanku dan sebanyak itulah keinginanku yang takkan pernah bisa dipenuhi. Aku tidak suka keluar rumah. Aku muak kepada mereka yang mengatakan bahwa aku tidak bisa berbicara. Untuk apa? Untuk apa mempunyai mulut tapi hanya digunakan untuk mencemoh orang. Apakah yang mereka pikirkan hanya sekedar aku tak bisa berbicara, berati aku serendah itu. Aku tak mengerti mereka. Entah kenapa aku gelisah, aku itu akan baik baik saja(?)
Ayah dan ibu tiriku juga selalu mendesaku agar aku belajar bahasa isyarat saja. Aku tidak mau karena aku tidak benar benar tidak bisa berbicara. Aku sudah berjanji kepadanya bahwa aku takkan berbicara walaupun aku tahu kenyataan bahwa aku bisa berbicara sekalipun. Iya, baginya jika aku berbicara akan banyak orang yang sakit jati karenaku. Karena Alexithymia-ku ini membuat aku selalu berbicara tanpa nada bahkan jika aku mengatakan kata maaf mungkin mereka akan menggangap kata maaf ku itu tidak tulus. Makanya aku tidak akan pernah berbicara.
°°°
Aku terbangun dari tidurku. Ini sudah tengah malam. Malam ini lebih sepi dari biasanya. Aku melangkahkan kakiku keluar kamarku. Aku juga tak lupa membawa buku tulis dan juga pulpen.
DEGH! TAK!
Aku membeku tepat di pagar penghalang tangga. Tanpa ku sadiri pulpenku jatuh. Aku tidak salah liat kan? Dibawah sana ayah dan ibu tiriku berusaha melindungi adik tiriku dari para penjahat yang menodongkan senjata api kepada mereka. Bahkan para pelayan pun ikut melindungi adik tiriku. Pikiranku terus beradu tentang apa yang aku lihat. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana mengeksperikan ini.
Ayah… Ayah… Apa ayah yang aku punya juga akan meninggalkanku sama seperti ibu?
"No-Nona!"
Ibu asuh?
"Nona, kemarilah saya benar-benar kaget ketika nona tidak ada dikamar" Ibu asuh memeluk. Pelukannya benar benar hangat seperti pelukan ibu kandungku.
"Nona padahal kamar anda adalah tempat teraman. Ketika para pembunuh itu mengobrak - abrik rumah ini. Mereka tidak membuka kamar anda, harusnya anda tetap disana sa-"
"HEI YANG DISANA TURUN ATAU KU TEMBAK!" Pembunuh itu sudah mengetahui keberadaan kami. Aku mengangguk kepalaku, tanda bahwa kita harus turun atu kita akan mati disini. Ibu asuhku mengangkat tubuhku sambil turun dia mengendongku. Seolah olah dia berkata bahwa semuanya baik baik saja.
Kami turun dari tangga secara perlahan. Aku juga semakin erat memegang buku dan pulpenku. Tepat ketika kami turun, aku terkejut ketika tubuhku melayang. Aku dilempar oleh ibu asuhku.
"HEI!"
"Nona tenanglah ini saya, pengawal yang akan selalu melindungi anda" aku mengangukan kepalaku tanda bahwa aku percaya kepadamu. Lalu, aku mengalihkan pandanganku kepada ibu asuhku. Dia tahu kalo ketika aku turun aku akan dijadikan sandera oleh mereka oleh karena itu dia melemparku.
Ayah menatapku. Seolah olah ia baru sadar kalau dia melupakan keberadaanku. Aku turun dari gendong pengawalku, lalu aku menuliskan sesuatu bahwa ibu asuh harus diselamatkan.
Belum sempat kami menolong ibu asuhku, tapi dia malah melompat dan berlari kearah kami. Dalam hatiku, aku bersyukur bahwa ibu asuhku selamat. Tapi jarak kami dengan para pembunuh itu lebih dekat daripada tempat di mana ayah berada.
Aku lihat para pembunuh itu mulai mendekat kearah kami. Pengawalku terus berusaha melindungiku hingga akhirnya dia malah terjatuh dilantai. Ibu asuhku mulai menghalangi pembunuh itu. Hingga akhirnya ibu asuhku berakhir sama seperti pengawalku.
"Ukh" tanganku dipegang erat oleh dia lalu aku diseret tepat di depan ayahku hanya saja masih tercipta jarak diantara kami. Dia menyimpan pisau dileherku. Jika aku bergerak sedikit saja aku akan mati.
"Ahh… bagaimana yah jika gadis kecil ini mati? Aku benar benar benar penasaran hihihi" ucap pembunuh itu. Aku lihat ayah akan melangkah ke arahku, tapi belum selangkah ayah melangkahkan kakinya, langkah ayahku dihentikan oleh ibu tiri.
"Than, jangan khawatir aku yakin bella pasti baik baik saja jika kita tidak terburu buru!!"
'Apa dia bilang? APA TADI KATANYA?! DIA BILANG AKU BAIK BAIK SAJA YANG BENAR SAJA!! AKU INI JIKA BERGERAK SEDIKIT AKAN MATI?!!'
"Dasar gila!!" apa ibu asuhku sedang mengumpat kepadanya?
"NYONYA ANDA BENAR BENAR GILA!! EUKH" Ibu asuh dia benar benar mengumpat kepadanya, ahh… darah mengalir dari mulutnya.
"APA?! KATAKAN SEKALI LAGI!!"
"ANDA GILA!! ADA ORANG YA SEPERTI ANDA YANG MENGATAKAN ORANG YANG AKAN DIBUNUH BAIK BAIK SAJA?!" Ibu asuh berdiri dan menunjuk wajah ibuku sambil berteriak. Aku pusing… aku tak mau mati disini!
"TUAN JIKA ANDA BENAR BENAR AYAH KANDUNG NONA! ANDA HARUS MENYELAMATKANNYA!!"
"KAMU GILA YA?! NATHAN AKAN MATI JIKA MENYELAMATKANNYA?!"
"ANDA PIKIR SEKARA NONA JUGA TIDAK AKAN MATI JIKA DISELAMATKAN?! ANDA BENAR BENAR KEJAM!"
"UKH… TAPI KITA JUGA TIDAK BOLEH GEGABAH!"
"BIAR SAYA TEBAK ANDA PASTI BERPIKIR JIKA ANDA MEMBIARKAN NONA DIBUNUH ANDA AKAN SELAMATKAN?!
Ibu asuh? Apa itu benar? Ibu tiriku yang aku pikir baik ternyata sekejam ini? Apa dia benar benar akan membiarkan aku dibunuh? Itu tidak mungkinkan? Ayah pasti menyelamatkan aku!
"RAINA KATALAN KALO YANG DIKATAKAN IBU ASUH BELLA ITU BENAR?!"
Ayahh…
"IYA, BENAR!! MEMANGNYA KENAPA JIKA AKU INGIN MENGORBANKAN NYAWA PUTRIMU? TOH, SATU NYAWA ITU TIDAK BERATI BAGIKU!!"
"Hey, berati jika aku membunuhmu semuanya akan baik baik saja" pembunuh itu berbisik tepat di telingaku, meraka tidak sadar akan hal itu, karena neraka sibuk melihat aksi ayah yang sedang bertengkar debgan ibu tiriku dan yang lainnya sedang berbisik betapa kejamnya ibu tiriku.
Aku membuka bukuku sambil nafas yang terengah - engah tanda jika aku panik. Lalu, kutuliskan sebuah kata, 'Jika aku mati kau juga akan mati'
"Hahaha kau pikir aku akan mati semudah itu?!"
Aku kembali menjawab kata katanya dalam tulisan di bukuku 'Kau akan mati'
"Memangnya kau siapa sampai aku akan mati jika aku membunuh mu?"
'Sudah aku bilang, kau akan mati'
"Ka-"
PRANG!
Belum selesai pembunuh itu menyelesaikan kata katanya, tiba tiba tubuhnya didorong bahkan pisau yang tadi bertengger di leherku tergeletak ke lantai. Aku melihat siapa pelakunnya ternyata dia adalah pengawalku yang mendorong pembunuh itu.
Ayah berlari ke arahku dan mengondongku lari kami berdua berlari kearah pintu depan yang tak ada pembunuh disekitarnya. Ayah berbisik kepadaku, "Bella tenang saja ayah akan melindungimu!"
"CEPAT KEJAR DIA! TAK BOLEH ADA SATU PUN YANG HARUS DILEPASKAN!" Teriak pembunuh itu lalu, diikuti oleh anak buah yang mengejar kami. Aku memeluk ayah dengan kencang aku juga melihat pengawal dan ibu asuhku yang menahan para pembunuh itu. Berbeda dengan ibu asuhku yang terus mengumpat tentang tindakan gegabah ayahku.
Saat tidak dirasa suara derap langkah kaki selain kaki ayah. Ayah meurunkanku dari gendengannya sambil memegang punyaku setelah aku benar benar berdiri.
"Bella, dengar ayah larilah pergi ke rumah kakekmu ok?" tanya ayahku. Aku memengangukan kepalaku. Aku menatap ayah aku ingin mengatakan bahwa ayah pasti baik baik saja, tapi buku terjatuh bersamamu dengan jatuh pisau pembunuh itu.
Aku mengerakkan mulutku, tapi aku masih tak mengeluarkan suaraku. "A…yah… A? Akan… me…nyusulku? Tentu saja ayah akan menyusulmu. Ingat ini baim baik jika kau pergi kearah hutan kau bisa bertemu orang orang yang sedang camping kau minta tolong kepada mereka ok?"
"Sial, cari mereka sampai ke temu!!"
"Bella larilah ayah akan menahan mereka" aku menggengam baju ayah ketika ayah mulai berdiri. "Cepatlah bella, ayah akan baik baik saja ayah akan menyusulmu nanti!"
Aku percaya kepada ayah. Aku mulai berlari kearah hutan saat aku sudah berlari jauh. Pembunuh itu menemukan keberadaan ayah dan ayah menghadang mereka. Aku kembali berlari. Aku akan meminta tolong kepada orang orang itu. Ayah tunggu aku.
Langkah kakiku semakin jauh aku sudah masuk terlalu dalam kedam hutan, tapi aku belum menemukan mereka. Bagaimana ini?
"Itu dia anak kecil itu cepat tangkap!"
Apa tidak mungkin! Ayah baik baik saja kan? Penglihatanku juga sudah tak jelas, karena malam hari aku harap tak ada hewan buas. Ahh jangan bilang kalo orang yang sedang bercamping berada di dekat hilir sungai. Kalau itu benar jaraknya terlalu jauh.
Ibu… katakan kalo aku akan baik baik saja kan? Ayah kau harus tetap hidup… aku akan meminta tolong agar mereka memanggil polisi! Aku mohon… aku belum sembuh dari gangguan psikisku. Aku ingin sembuh supaya aku bisa mewujudkan keinginan ibu. Aku tidak boleh mati disini!!
Nafasku terengah engah, aku berlarian ditengah hutan ini sendirian, kakiku sudah tak kuat untuk berlari lagi. Rasa takut terus menghantuiku, tapi yang jelas aku harus melarikan diri dari para pembunuh yang terus mengejarku.
BRUK!
Kakiku tersandung, aku sudah tak kuat berlari lagi. Pembunuh itu bersorak riang, ketika melihatku jatuh. Mereka mulai mendekat kearahku. Aku terus berusaha bangun, tapi tubuh ini kembali terjatuh dan terjatuh hingga suara tembakan itu terdengar.
DORR! DORR! DORR!
Kedua kakiku terasa sakit, aku benar - benar sudah tak berdaya lagi. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Apa aku akan mati disini? Apa ayah selamat? Ibu… aku takut. mataku mulai berkabut bahkan untuk sekedar mendengar perkataan mereka pun aku tak bisa hingga akhirnya, kegelepan benar benar menjeputku.
°°°
"Nathan Danielle, sudah bangun?" Geramnya
"A-anda siapa? Ah, putriku? Putriku dimana?"
"Cucuku dinyatakan koma. Bersyukurlah, bahwa ia hanya tertembak di kedua kakinya dan untungnya dia tidak kehilangan banyak darah karena bawahanku dengan cepat langsung melarikannya kerumah sakit dan beberapa jam lalu peluru di tubuhnya suda dikeluarkan." jelasnya.
"Cu-cucu jangan bilang kalau anda ayah dari istriku yang sudah meninggal?"
"Humph, kau benar."
"Maafkan saya saya tidak becus menja——"
"Kau tidak salah, ini semua salahku!"
"Maksud anda apa saya penyebab anak anda meninggal saat kecelakaan!"
"Itu semua salahku! Kau tau siapa yang menabrakan truk kalian?" tanyannya yag dijawab gelenggan kepala pria yang lebih muda darinya.
"Dia musuhku. Kau tau saat umur cucuku 5 tahun putriku membawanya kerumahku, betapa bahagianya aku saat bertemu cucuku senyumnya yang polos dan mata berbinarnya mengingatkanku kepada neneknya yang tak lain istriku. Penyebab kematiannya juga karena musuhku ingin melihatku menderita. Nathan Danielle biarkan putriku pergi dengan tenang dan aku memintamu menjaga cucuku satu satunya jangan sampai dia meninggal seperti ibunya." seusainya dia pergi yang dijawab anggukan kecil pria itu.
°°°
5 bulan kemudian
"Ella!"
"Bella!"
"Bella!"
Aku membuka mataku perlahan saat mendengar seseorang memanggil namaku. Pandangannku yang kabur mulai terlihat jelas saat orang familiar dihadapanku. Ayah, Syukurlah ayah baik baik saja.
Aku juga bersyukur, aku masih hidup. Ayah berkata kepadaku bahwa ia bercerai dengan ibu tiriku. Ibu asuhku juga selalu merawatku selama dirumah sakit bersama pengawalku saat ayah pergi bekerja. Terkadang kakek juga menjenggukku.
Aku bertanya kepada ibu asuh bagaimana para pembunuh itu dan ibu masuk menjawab bahwa mereka sudah mati. Sudah aku bilang kau akan mati!