Hari itu langit sudah berwarna jingga. Matahari pun mulai kembali keperaduannya. Diwaktu yang sama,aku bersama teman-teman ekstra Passus. Baru saja selesai dengan kegiatan kami.
"Eh, kata Pak Asrofi bentar lagi kan ada pelantikan anggota Passus kelas 7,kita ada planning apa nih." Ucap Alata, pemuda berkulit coklat tua itu memulai pembicaraan.
"Gak tahu, emang lu ada planning apa ta ?" Balas Charis cewek dengan rambut sebahu.
"Ada,Gue punya planning buat nginep disekolah sebelum hari pelantikan,Kan dulu senior kita juga gitu. Itung-itung ngejalanin tradisi dari senior. " Jawab Alata mengungkapkan pendapatnya
"Ide yang bagus tuh, Kak Nicolas juga pernah cerita ke gue kalo senior-senior kita dulu juga selalu nginep disekolah,setiap ada pelantikan anggota baru. " Cewek berpostur tubuh proposional bak model bernama Arisa menimpalin.
"Iya betul banget. Kan bisa buat nyiapin keperluan nanti. Biar gak ribet pas hari H. " Ucap Cewek Bernama Fuzi.
"Tapi masalahnya gue belum tentu bisa ikut. Orang tua gue pasti gak ngijinin. Apalagi gue cewek." Lanjut Fuzi dengan nada sedih.
"Iya gue juga pasti gak dibolehin." Kini cewek bernama Denta membuka suara.
Disusul Charis,Arisa dan anggota Passus cewek yang lain. Mereka juga sependapat dengan opini Fuzi.
"Ya udah kalo gitu mending anggota cewek gak usah ikut. Yang nginep cuma anggota cowok aja gimana." Usul teman satu kelasku Riki menengahi
"Nah, saran yang bagus. Jadi fiks ya. Yang nginep anggota cowok aja. Yang cewek gak usah." Sahut Denta menyetujui.
"Kalian bertiga bisakan." Tanya Alata menatapku, Riki juga Elang.
"Gue mah bisa aja. Toh juga orangtua gue gak ngelarang. Orang dah paham anaknya kek gimana." Balasku yakin.
Sebelumnya jangan salah paham dulu. Orang tuaku bukanlah tipe orang tua, yang membebaskan anak-anaknya keluar rumah. Terutama untuk malam hari.Orang tuaku cenderung protektif pada anak-anaknya. Terlebih aku,yang merupakan satu-satunya anak laki-laki dikeluarga. Atau ada yang beranggapan,orang tuaku tidak peduli pada anaknya. Bukan-Bukan,Bukan seperti itu. Mereka hanya terlalu capek untuk bertindak. Melihat bagaimana aku lebih banyak waktu disekolah,ketimbang dirumah. Bahkan setiap aku minta izin untuk berkegiatan disekolah. Yang mengharuskanku untuk tinggal lebih lama disekolah. Mereka pasti akan selalu berkata.
"𝘜𝘥𝘢𝘩, 𝘛𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘫𝘢. 𝘎𝘢𝘬 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨!!"
Atau bisa juga dengan...
"𝘓𝘩𝘰, 𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢."
𝘠𝘢,begitulah kenyataannya. Masa SMPku,jadi masa paling aktif dibanding saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Atas. Aku mengikuti 2 Ekstrakurikuler sekaligus, Pramuka juga Passus. Dan kedua Ekstrakurikuler ini sungguh menguras tenagaku setiap harinya. Belum lagi kegiatan OSIS. Yang banyak menyita waktu istirahatku.
"Trus kalian berdua gimana." Alata menatap Riki juga Elang.
"Gue mah ngikut aja." Sahut Riki
"Nanti Gue usahain deh. Tapi gue telat dikit gapapa ya. Soalnya pas malem kita nginep gue ada acara keluarga. " Jawab Elang meminta keringanan.
"Iya santai aja, Jadi semuanya udah fiks ya." Tanya Alata Final.
"Ya" Jawab beberapa dari kami.
Sedangkan yang lain hanya merespon dengan anggukan. Berhubung jadwal ekstrakurikuler telah selesai. Akhirnya aku juga teman-temanku membubarkan diri,Kembali rumah masing-masing untuk mempersiapkan keperluan hari esok. Menanti hari yang sudah ditentukan,yaitu H-1 sebelum acara pelantikan yang diadakan Hari Minggu Pagi. Tapi tak ada yang tahu bahwa Hari itu,akan menjadi hari yang tak akan terlupakan bagi kami.
Hari-hari kami jalani. Akhirnya tiba dimana aku dan 3 temenku akan menginap disekolah. Dengan tujuan,mempersiapkan keperluan untuk hari pelantikan esok. Hari itu seperti biasa dijalani dengan kehidupan sekolah pada umumnya. Belajar didalam kelas,dan pulang saat jam sekolah selesai. Kami sudah sepakat untuk menggunakan ruang OSIS sebagai tempat menginap kita malam ini. Kini aku sudah ada diruang OSIS. Suasana disekolah sudah mulai sepi. Tinggal beberapa Guru saja yang masih tinggal. Ah iya, Kali ini aku sendiri soalnya ketiga temanku harus pulang untuk packing keperluan mereka selama menginap disekolah. Sedangkan aku sendiri. Aku packing lebih awal saat berangkat ke sekolah supaya tak perlu bolak-balik lagi. Dan agar tidak mengganggu. Aku meletakkan barang-barangku di ruang OSIS bagian belakang.Tidak banyak yang kubawa,hanya Satu setel pakaian, Seragam Passus dan juga keperluan lain.
Oh iya, aku lupa memberitahu kalian. Sebenarnya dulu jika ada kegiatan menginap disekolah seperti ini. Pelatih ekstra juga akan ikut,untuk sekedar mendampingi dan menjaga anak-anak yang menginap. Tapi, saat itu pelatih ekstra tidak ikut. Karena kesalahan pihakku yang lupa berkoordinasi dengan pelatih tentang rencana menginap kami. Dan ya, pada akhirnya kami tak ada yang mendampingi. Tapi itu tak mengubah keputusan kami. Dan tetap berjalan seperti rencana awal.
Hari mulai sore, tapi teman-temanku belum juga memunculkan batang hidungnya. Sempat terpikirkan oleh
"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘨𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘦𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘯 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦? " Gumanku yang mulai kesal menunggu.
Bahkan saat itu aku sudah selesai membersihkan diri Dan menggantikan seragam sekolahku dengan pakaian santai. Dan sekedar info saat itu aku belum punya gawai, Sehingga jika ada info penting tentang ekstra aku selalu tertinggal ketimbang yang lain. Bahkan aku selalu telat mendapatkan informasi. Dan itu yang menjadi kekhawatiranku saat itu. Mungkinkan temen-temenku membatalkannya dan lupa untuk mengabariku karena aku yang tidak punya gawai sehingga sulit untuk dihubungin. Tapi bukankah mereka bisa datang sebentar dan bilang padaku. Pikiranku kalut saat itu belum lagi langit yang mulai Jingga dengan sedikit guratan warna biru tua menandakan pergantian waktu. Tapi sepertinya aku yang terlalu pesimis. Saat pikiranku sedang berkecambuk kulihat Alata yang baru datang.
"Hahhh, Dateng juga akhirnya" Gumamku menghela nafas.
Alata menapakkan kaki masuk ke ruang OSIS dimana aku juga sedang berada disana duduk di kursi Ruang depan OSIS.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Dateng juga lu, Gue kira lu dan yang lain batalin rencana ini trus lupa ngabarin gue. " Ucapku dengan nada yang agak ketus.
"Sorry Bro, Gue ada urusan dikit tadi. Jadi baru bisa berangkat sekarang." Balas Alata menjelaskan.
Aku hanya memutar bola malas, mengingat diriku yang sudah kalut, khawatir setengah mati karena kelamaan menunggu. Helo, Sekolahku bahkan sudah sepi sekarang.
"Yang lain mana. " Lanjut Alata menanyakan 2 orang dari kami yang belum terlihat.
"Belum dateng, Baru lu aja. Makanya tadi gue sempet mikir, Kalo kalian batalin nih acara trus lupa kasih tahu gue." Jawabku lagi-lagi dengan nada yang sedikit ketus
"Santai aja sih, Gue gak bakal setega itu ninggal lu sendirian disini."
"Gak yakin gue."
"Etdah nih bocah dibilang gak percaya."
Setelah itu suasana hening kami fokus pada kegiatan masing-masing. Alata dengan gadgetnya dan aku bermain game PC yang ada di Ruang OSIS. Ya, karena itulah kegiatanku sedari tadi. Untuk sekedar menghilangkan bosan sembari menunggu yang lain. Bermain game di PC yang memang tersedia di Ruang OSIS disamping PC juga ada mesin Printer.
Hari mulai malam, Matahari telah kembali keperaduan. Terdengar pula lantunan adzan di berbagai penjuru kota. Ya bagaimanapun Sekolahku dekat dengan pusat kota bahkan berjarak beberapa meter dari alun-alun kota, Jadi gak heran jika terdengar banyak suara adzan. Oh iya, Temanku si Riki juga sudah datang beberapa saat setelah si Alata.
Setelah mendengar adzan berkumandang, Kami bertiga bergegas menuju mushola yang letaknya tepat didepan ruang OSIS,untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib berjamaah.
Sebelumnya aku kasih denah nih biar gak bingung.
❌= Bukan Area Sekolah
🏫= Ruang Kelas
🏢= Kantor Guru/Tata Usaha
🏦= Koperasi
🕌 = Mushola
🏛 = Ruang OSIS
🏬 = Ruang Serba Guna
🏪 = Ruang Lab
💒 = Ruang BK + UKS
🏣 = Pos Security
🍱 = Kantin
📚 = Perpustakaan
⛩️ = Gerbang Sekolah
🛋 = Gazebo
🚾 = Kamar Mandi/Toilet
🗑 = Tempat Pembuangan Akhir(TPA)
|----| = Lorong
|/| = Parkiran Sepeda Siswa
_________________________⛩️⛩️⛩️__________
❌| 🚾 ___________________ 🏣_______|
❌| | | 🏫 🏫 🏫 | |🏫🏫🏪|/ |
❌| | __________________| |_____ 🏪|/ |
❌| | / |
❌| | _____________| |_____ ___|
❌| |___ |🏫 🏫 🏦 🏢 🏫🏫| |💒|
❌| 🍱 | |_____________| |______| | |
❌| 🍱 | ________ _______________|
___| 🍱 | __| 🛋 🏫 |-----|❌❌❌
🚾 🕌 | | 🏢 🏢 |-----|❌❌❌
🏫 | | 🏢 🏢 \-----\❌❌❌
🏫 🏫 🏛 | | 🛋 🏢 \-----\❌❌❌
___________| | 🏢 \-----\❌❌❌
_______ ____ ____ \----\❌❌❌
🍱| | 🏬 | \---\___
| | 🚾 🏬🏬 | | |🏫 |
🍱 | | 🚾 🏬🏬 | | |🏫 |
___🗑_| |__________| | |📚 |
| |___|
______________________ _______| _ _|
🚾 🏫 🏫 🏫 |-----| 🏫 🏫 🏫🚾|
______________________|-----|_____________|
L A P A N G A N
Kami sholat berjamaah bertiga. Karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Si Elang bakal dateng terlambat karena ada acara keluarga. Kami mulai menunaikan ibadah Sholat diimami oleh Alata. Oh iya kalian belum tahukan bahwa si Alata ini Ketua Ekstrakurikuler Passus untuk Angkatanku. Jadi gak salah selama dicerita ini dia bakal menonjol.
Kami sholat dengan Khusyuk. Hingga saat Posisi Sujud kejanggalan mulai terjadi. Terutama untukku.
"Astaghfirullah apaan tuh." Batinku terkejut sambil terus melanjutkan Sholatku.
Saat itu entah cuma perasaanku saja atau apa. Tapi aku melihat sekilas bayangan hitam yang melintasi didepan halaman Mushola. Bayangan itu terlihat jelas dari pantulan lantai keramik Mushola. Hingga akhirnya aku dan teman-temanku menyelesaikan sholat kami dan kembali ke ruang OSIS. Aku baru menceritakan hal aneh yang baru saja aku alami.
"Eh, Lu tahu gak." Aku mulai buka pembicaraan.
"Ya gak tahulah, Orang lu belum ngomong" Celetuk Alata memotong.
"Ya makanya dengerin dulu kalo orang mau cerita jangan main potong-potong aja."
"Emang lu mau cerita apa ji." Tanya Riki penasaran.
"Tadi waktu kita sholat, pas posisi sujud. Gue ngeliat sekilas ada bayangan hitam sliweran didepan Mushola." Ucapku yang seketika membuat temanku yang lain terkejut.
"Lu seriusan Ji?" Tanya Riki
"Gue sendiri sih agak ragu, Entah itu cuma perasaan gue atau beneran. Tapi serius itu gue lihat sendiri."
Riki dan Alata terdiam. Aku menatap mereka lekat, Terdapat guratan wajah cemas disana. Hingga Alata buka suara.
"Gue juga ngelihat sesuatu tadi, Pas kita sholat. " Ucap Alata yang seketika membuatku dan Riki menoleh.
"Lu lihat apa ta?" Tanyaku padanya.
"Pas itu gak sengaja gue ngelirik sekilas kearah jendela deket pintu Mushola. " Alata mulai bercerita.
"Gue ngeliat ada sosok kayak orang yang ngeliat kearah kita yang lagi sholat. Tapi disitu cuma keliatan kepalanya doang. Badan sama kakinya gak keliatan."
Seketika suasana hening, Kami bertiga sama-sama diam. Kami hanya saling menatap satu sama lain.
"Ya udah sih, Gak usah dibahas lagi. Jangan terlalu dipikirin. " Ucap Riki memecahkan keheningan.
"Intinya disini mereka gak ganggu kita, kita juga gak ganggu mereka."
"Iya,disini juga kita jangan macam-macam cukup ngelakuin apa aja yang perlu dilakuin. " Kini Alata ikut menimpali dibalas anggukanku dan Riki
Jujur ucapan itu hanyalah penenang saja. Kami sendiri masih kalut pada pikiran masing-masing. Mencoba melupakan apa yang sudah terjadi. Tapi ini hanya permulaan dari malam yang mencengkam.
Setelah puas dengan pembahasan tentang hal aneh yang baru saja kami alamin. Akhirnya aku, Riki juga Alata memilih untuk membeli makanan untuk makan malam. Kami berjalan beriringan menuju Gerbang sekolah. Terlihat Petugas Jaga Malam yang sedang santai di Pos Security dengan Secangkit kopi dan Televisi yang menyala menampilkan pertandingan bola.
"Malam, Pak. " Sapa Alata pada Pak Suhen, Penjaga Malam yang juga Tukang Kebun Sekolah.
"Iya, Mau kemana?" Tanyanya dengan nada yang sedikit datar.
"Mau cari makan Pak."
"Ya sudah, Nanti jangan lupa gerbangnya ditutup lagi. "
"Siap Pak!" Jawab kami serempak.
Alata menggeser sedikit gerbang agar ada celah untuk jalan. Hingga Akhirnya kami berada diluar dan menutup kembali gerbang agar tak ada yang bisa masuk kedalam sekolah. Karena jika malam hari Trotoar depan sekolah akan dipenuhi oleh muda mudi yang sedang Nongkrong. Bahkan tak jarang ada dari beberapa mereka menikmati minuman memabuk bersama teman-temannya. Dan saat itu kami juga melihat situasi yang sama.
Kami berjalan menyusuri jalan kota. Mengedarkan pandangan pada pedagang kaki lima yang menyajikan banyak aneka makanan.Namun setelah lama berjalan. Kami belum juga menemukan makanan yang cocok untuk kami, Dan berakhir hanya dengan jalan-jalan santai menikmati suasana malam di alun-alun kota. Hingga kami memutuskan untuk kembali dan membeli gorengan dipedagang kaki lima yang letaknya persis disamping sekolah. Kami menikmati gorengan sambil memandang jalan kota yang ramai lalu kembali masuk ke sekolah.
Kini kami sedang berada di ruang OSIS. Seperti biasa semua sibuk pada kegiatan masing-masing. Alata dan Riki dengan Smartphonenya dan aku dengan game PC. Hingga suara deru motor memecahkan keheningan. Ah, Ternyata itu Kakak Kelasku Kak Reyz dan Kak Ade.
"Assalamualaikum wess, Lagi santai nih. Gimana semua aman?" Kak Reyz berbicara diambang pintu.
Mendengar itu aku,Alata dan Riki menghentikan aktivitas kami sejenak, Menatap Senior Ekstra Pramuka dan Passus kami itu,Mempersilakan mereka untuk duduk. Walaupun sebelum kami suruh mereka sudah mendudukkan bokong mereka di kursi.
"Waalaikumsalam."
"Untuk Sekarang sih masih aman terkendali. Tapi kita gak tahu kedepannya. " Sahut Alata menjawab pertanyaan Kak Reyz sebelumnya.
Mendengar itu Kak Reyz hanya tersenyum tipis ia seperti sudah tahu apa yang sedang atau sudah kami alami.
"Emang ada apa?" Kini Kak Ade yang buka suara.
Ia awalnya sama Seperti Kak Reyz hanya tersenyum tipis, Tapi seketika berganti dengan dahi yang mengerut.
Dan Pada akhirnya kami menceritakan apa yang barusan kami alami. Merapatkan posisi. Menjelaskan setiap detail kejadian aneh dan mistis yang kami lihat secara langsung sebelumnya. Hingga ditengah kami bercerita.
𝘉𝘳𝘢𝘬𝘬
Suara dobrakan Pintu memecahkan keheningan. Kami berlima saling tatap. Menatap satu sama lainnya. Dengan tatapan yang seakan menyiratkan satu hal "𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪". Keadaan yang membuat suasana kini tambah mencengkam. Pintu yang awalnya tertutup rapat. Ditahan oleh galon berisi air yang sedikit berkurang volumenya dan juga penggaris kayu. Tiba-tiba didobrak entah oleh siapa atau apa dari luar. Hingga galon yang masih berat itu bergeser seberapa centi dan penggaris yang mental.
"E-eh a-apaan tuh tadi."
"Ji coba lu check keluar deh."
Aku mengangguk dan membuka Pintu yang kini sudah sedikit terbuka. Kebetulan posisi dudukku saat itu juga berdekatan dengan pintu,bahkan beberapa kali aku menyenderkan tanganku digalon.Dan tebak apa yang terjadi. Keadaan luar begitu hening. Sepi dan sunyi itu yang mendominasi keadaan luar sekarang. Hanya suara dan dingin angin malam yang terasa saat itu. Menambah suasana mencengkam. Hal itu tak cuma aku yang melihat. Alata,Riki dan kedua seniorku pun melihatnya. Setelah itu aku menatap kearah orang-orang yang ada didalam ruang dengan tatapan yang seperti berkata "𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪".
"Gak ada siapa-siapa di luar." Aku berucap dengan nada yang berat.
"Udah tutup tuh pintu tutup aja." Riki berkata sedikit berteriak.
Dan aku langsung menutup pintu itu kembali seperti semula.
"Apaan tadi kak, Apa itu-"
Ucapku terpotong kala Kak Reyz memberikan isyarat telunjuk yang ia letak dibibirnya. Menyuruhku untuk diam. Dan kembali ia mulai bercerita, memberikan wejangan pada aku dan teman-temanku. Untuk selalu berhati-hati dan tetap berpikir positif dan terpenting jangan melamun.
Dan kembali ditengah pemberian wejangan itu. Kejadian tak terduga kembali terjadi.
𝘛𝘢𝘬.. 𝘛𝘢𝘬.. 𝘛𝘢𝘬..
Sebuah suara benda kecil hitam dan keras menghantam kaca ruang yang kami tempatin. Sangat terlihat jelas benda tersebut benar-benar menghantam kaca tersebut. Batu-batu kerikil yang terus saja menghantam kaca yang menjadi jendela bagian depan Ruang OSIS tersebut.
"Kak.. " Ucapku menatap horror kejadian yang kulihat dengan kepala mataku sendiri.
Aku beralih menatap Kak Reyz dan kaca secara berganti. Semua orang diruang itu juga melihat apa yang sedang terjadi.
"Ji check ke keluar." Titah Kak Reyz
Lagi-lagi aku yang mengcheck keluar dan dengan sedikit keberanian yang ku punya. Kubuka pintu lebar dan melihat sekitar. Dan sekali lagi suasana dan keadaan yang sama seperti awal. Sepi, Sunyi dan Hening. Itu yang ketangkap dengan indraku.
"Sepi kak gak ada orang sama sekali." Sahutku kembali menatap keluar memastikan jika yang indraku tidak salah. Tapi lagi-lagi hanya sunyi yang aku temukan. Lalu siapa yang melakukan itu.
Aku kembali masuk dan sekali lagi, Baik Kak Reyz dan Kak Ade. Mereka sama-sama memberikan nasehat dan wejangan untuk kami agar selalu berhati-hati dan waspada. Karena disekolah kami sedang tidak sendiri. Hanya suasana saja yang kami rasa selalu hening. Tapi jika dilihat dari sudut pandang lain. Maka yang terlihat justru sebaliknya.
Hingga ditengah pembicaraan itu. Elang datang bersama seorang pria paruh baya dan anak kecil perempuan disampingnya. Ternyata adalah Ayah Elang dan adik perempuannya.
"Assalamualaikum." Salam Elang dengan suara beratnya memecahkan ketegangan di Ruang sibuk itu.
"Waalaikumsalam." Jawab aku dan yang lain serempak.
"Udah Dateng lu Lang."
"Hehehe iya maaf telat baru selesai acaranya." Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh,Oke. Eh... itu Ayah lu Lang." Aku menunjuk kearah Ayah Elang yang seperti menelisik tiap sudut area sekolah yang dapat ia tangkap dengan indranya.
Elang hanya menoleh lalu mengangguk. Lalu Ayah Elang mendekat dan berbicara di ambang pintu.
"Ini yang nginep cuma kalian aja?"
"Iya Om. Cuma berempat aja termasuk sama Elang."
"Gak ada pembinanya."
"Kebetulan acara nginep ini inisiatif dari kami saja Om, Jadi pembina gak ikut."
"Trus kalian ini." Ayah Elang menunjuk kearah Kak Reyz dan Kak Ade.
"Kita berdua cuma mampir aja Om, sekalian ngecek keadaan."
Setelah itu Elang dan Ayahnya keluar entah untuk apa tapi terlihat mereka seperti sedang Berbincang-bincang. Dari yang kudengar sekilas sepertinya Ayah Elang khawatir dengan keadaan anaknya yang mengikuti acara nginep disekolah karena tidak ada orang dewasa atau pembina yang mendampingi. Bukan maksudku menguping, namun saat itu aku sedang membuang bungkus plastik ke tempat sampah yang ada didepan Ruang OSIS dan secara kebetulan disampingnya juga Elang dan Ayahnya sedang berbicara empat mata. Tapi pada akhirnya Ayah Elang mengizinkannya untuk ikut menginap disekolah dan pamit pulang.
Tak berselang lama kak Reyz dan Kak Ade juga pamit pulang. Mereka berpesan untuk selalu berhati-hati dan tidak berbuat yang macam-macam yang mengganggu keberadaan makhluk lain disekolah.
Dan semuanya kembali pada kesibukan masing-masing. Masih sama hanya saja sekarang bertambah Elang yang juga sibuk dengan gawai ditangannya. Tak jarang Alata juga ikut nimbrung main game PC bersamaku saat ia mulai jenuh dengan gawainya. Kami juga menceritakan semua yang kejadian aneh yang baru saja terjadi pada Elang. Dan Elang pun merespon dengan hanya bergeming. Entah apa yang sedang ia pikirkan dan rasakan setelah mendengar cerita kami.
Waktu semakin berlalu. Tak terasa kini sudah masuk waktu sholat Isya. Adzan pun sudah berkumandang beberapa saat lalu. Aku dan teman-temanku akhirnya memilih untuk melaksanakan sholat Isya berjamaah di Mushola seperti sebelumnya. Berbeda dari sebelumnya kini kami sholat berjamaah berempat. Dan tak ada drama mistis selama kami menunaikan ibadah. Hingga sholat selesai semua masih baik-baik saja dan kami kembali ke ruang OSIS yang kini sudah ditata sedemikian rupa agar bisa jadi tempat beristirahat kami malam ini. Kursi dan meja digeser menyisakan tempat lapang untuk kami gelar sepanduk lama yang sudah tidak dipakai sebagai alas tidur dan bantalan sofa kursi kami jadikan sebagai ganjalan kepala saat tidur a.k.a bantal.
Malam semakin larut, Tapi sebagai seorang anak remaja yang labil. Yang dalam masa peralihan menuju kedewasaan. Membuatku dan temen-temen,tak berpikir untuk terlelap dalam lautan mimpi lebih awal. Yang berakibat pada kami yang sudah kehabisan akal akan melakukan apa. Baik Alata,Riki dan Elang sudah lelah dengan gawainya. Akupun sama,sudah jenuh dengan game PC yang hanya itu-itu saja.
"Eh, Jalan-jalan keluar yuk. Gabut juga lama-lama disini gak ngapa-ngapain." Ucap Elang memecahkan keheningan.
"Ayoklah gue juga bosen dari tadi cuma diem mulu." Alata menimpali.
Alata memang tipe orang yang gak bisa diem. Dia sebisa mungkin mencairkan suasana dengan lelucon dan tingkahnya yang ciptakan suasana dan tawa. Kalo kata orang dia nih kalo gak ada sepi tongkrongan.
Setelah sedikit perbincangan kami setuju untuk berjalan-jalan malam sebentar. Mencari angin sekaligus cuci mata. Biasa anak muda.
Alata dan Riki sudah jalan duluan kearah gerbang. Sedangkan aku dan Elang paling belakang karena harus mengunci Pintu OSIS. Takut-takut jika ada barang yang hilang.
"Udah ji."
"Sebentar ini baru mau gue dikunci."
Aku merogoh kunci di saku celanaku dan mengunci pintu Ruang OSIS. Dan saat berbalik menghadap Elang yang dibelakangku. Aku....
"Ayo- Lang. "
"Yok"
Ucapanku sedikit terjeda dan langsung dibalas oleh Elang yang seketika melangkah meninggalkanku yang masih terdiam beberapa langkah darinya. Tapi setelahnya aku hanya menggeleng kepala ribut dan menyusul Elang tergesa-gesa. Dan setelah berlari kecil, Aku dapet menyusul Elang dan berjalan beriringan.
"Lang, Lu napa jalannya cepet banget dah. Gue tahu kaki lu panjang. Tapi santai aja doang jalannya." Gerutuku kesal.
Elang diam. Dia bergeming, matanya juga natap lurus kedepan.
"Lang, Lu kenapa."
Elang masih diam, tak merespon sama sekali.
"Lang gue tadi lihat ada cewek berkebaya duduk digazebo."
Elang menghentikan langkah. Menatap Horror kearahku.
"Ji, G-gue juga lihat tadi."
Nafasku tercekat, Aku kesulitan menelan salivaku sendiri. Aku menatap Elang lalu melirik kearah Gazebo kosong yang beberapa meter dibelakangku.
"Lang... " Suaraku lirih begitu parau.
Dan tanpa babibu, Kami lari secepet kami bisa hingga sampai didepan gerbang menyusul Alata dan Riki. Sungguh, baik pikiranku maupun Elang sama-sama kacau saat itu. Yang kami pikirkan hanya lari tanpa tahu apa yang terjadi apa kami waktu itu. Apa itu nyata? Atau hanya Halusinasi? Tapi jika halusinasi bagaimana kami melihat sosok yang sama diwaktu yang sama pula.
Malam semakin larut tapi kami berempat masih menikmati suasana jalanan kota yang ramai. Lampu warna-warna menjadi penghias jalan kota menambah kesan malam yang indah mencerminkan Jalanan Pusat Kota yang gemerlap cahaya.
Setelah puas menikmati jalan kota. Kami memutuskan kembali kesekolah. Tak diduga ternyata Fuzi dan Charis datang berkunjung. Kami pun akhirnya jalan beriringan masuk menuju ke ruang OSIS. Tapi hanya kami berempat yang berjalan sedangkan Fuzi dan Charis naik motor yang lajunya diperlambat. Tapi saat berada ditikung dekat dengan kantin dan salah satu gedung sekolah yang terdapat 2 kelas dan Koperasi (#Yang gak paham lihat dipeta yang udah ku buat diawal#). Alata yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya dan merentangkan satu tangannya menghentikanku dan yang lain.
"Ada apa ta." Tanyaku mengernyit dahi heran.
Tapi yang kudapat bukan jawaban melainkan isyarat telunjuk yang ditempelkan dibibir. Alata menyuruh kami diam.
Hingga beberapa saat kami akhirnya melanjutkan langkah kami menuju Ruang OSIS. Dan akhirnya Alata pun menceritakan apa yang baru saja terjadi.
"Gue tadi mengeliat... Ada nenek-nenek berkebaya berdiri di depan Kantinnya Bu Wina. " Terang Alata membuat kami seketika pucat pasi terutama untukku, Elang dan Riki. (#Bu Wina salah satu pemilik kantin sekolah#)
"Maksud lu apaan dah Ta. Kita aja tadi gak lihat siapa-siapa lho. " Fuzi menyangkal.
"Iya karena setelah gue nyuruh kalian berhenti Tuh nenek-nenek itu ilang gitu aja. " Sahut Alata membuat suasana menjadi hening dan mencengkam.
"Sebelum kita keluar tadi, Gue juga ngeliat ada cewek berkebaya duduk di Gazebo." Ucap Elang menarik seluruh atensi di ruang itu.
"Iya, Awalnya gue pikir juga cuma halusinasi gue aja. Tapi pas tahu si Elang juga ngeliat gue ragu kalo itu cuma halusinasi guea aja." Timpalku membenarkan cerita Elang.
Seketika suasana jadi hening. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terutama bagi Fuzi dan Charis. Terlihat gurat pucat dan shock diwajah mereka setelah mendengarkan cerita yang misti yang temen-temennya alamin.
"Kok jadi serem gini ya. Kalian gak takut apa." Fuzi berucap penuh gelisah.
"Iya nih mending acara ini dibatalin aja. Kalian pulang kerumah aja daripada kenapa-napa nanti." Ucap Charis memberikan saran.
Tapi sekali lagi tekad kami berempat terlalu kuat. Kami tetep berpegang teguh pada keputusan kami. Dan pada akhirnya tetap pada rencana awal. Pembicaraan kami beralih kini membicarakan soal hal-hal yang berbau anak muda. Entah bergosip soal pasangan atau temen yang membuat telinga panas Dan bersin bagi orang yang sedang dibicarakan.
Waktu terus berjalan, kembali lagi hanya kami berempat. Fuzi Dan Charis sudah pamit beberapa waktu lalu. Kami juga sekarang tak bisa keluar karena habis dikasih kuliah oleh Pak Suhen Dan Pak Karso. Karena keluar masuk Sekolah. Bahkan Kami juga diberikan sedikit kisah Horor Sekolah yang pernah mereka alamin.
"Dulu Pak Suhen pernah tidur di bangku depan Kelas paling ujung yang deket sama Lab. Pas tidur ada yang imbas-imbasin rambut di depan mukanya Pak Suhen. Cewek pakai baju putih nunduk sambil main rambutnya di depan muka Pak Suhen yang lagi tidur."
"Dulu juga waktu itu saya keliling kebelakang, Waktu di Lapangan. Ada Kakek-kakek yang Ngehembus asep,Saya gak lihat sosoknya tapi saya tahu Ada dia sana. Terus saya cuma bales *Duh asepmu yi* ". (#Asep disini mungkin lebih spesifik kita sebut asep rokok aja ya#)
" Dan saya juga pernah lihat ada Sosok yang mukanya hancur banget sama Kaki berjalan. Waktu itu saya kira kucing tapi pas saya lihat lagi Ternyata kaki yang jalan di lorong kelas deket lapangan."
Ya begitulah kira-kira cerita mistis yang Pak Karso cerita padaku juga temen-temen, Dia juga bercerita kalo dulu dia pernah bekerja sebagai penjaga Kuburan. Dan banyak mengalami hal-hal ghaib. Dan itu sedikit menggoyahkan tekad kami. Tapi kami tetep menyemangati diri kami, Dan menyakinkan diri masing-masing bahwa semua baik-baik saja. Terutama untukku yang juga dapet sedikit semangat dari Elang yang semakin menyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.
Dan setelah kuliahan dan dongeng misti yang dibawakan oleh Pak Suhen dan Pak Karso. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali dan beristirahat hari pun semakin larut. Kami perlu istirahat untuk mengumpulkan Energi untuk esok hari.
Dan saat di jalan menuju Ruang OSIS kami melantunkan Sholawat. Berharap terhindar dari gangguan. Tapi entah apa yang terjadi padaku. Saat melewati kantin tempat Alata melihat Sosok Nenek berdiri. Mata kananku menitipkan air mata. Padahal aku sedang tidak dalam keadaan sedih ataupun berduka. Justru rasa takut dan was-was yang mendominasi. Aku berpikir apa mungkin mereka berniat masuk. Tapi anehnya setelah melewati kantin dan sampai di Ruang OSIS. Tak terjadi apa-apa aku masih sadar dan masih berada ditubuhku. Aku bersyukur akan hal itu.
Dan disinilah sekarang kami. Terbaring diatas alas seadanya, berbantalkan sofa kursi tapi begitu nyaman bagi kami berempat. Hingga akhirnya kami terlelap dalam mimpi masing-masing.
Malam yang Melelahkan dan 𝘔𝘦𝘯𝘤𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘮
•••••••••
Pagi hari menyambut. Sang Surya mulai menampakan diri. Cahayanya mulai menembus celan-celan pohonan. Kami berempat sudah siap dengan seragam dinas kami. Didominasi warna putih dan merah dengan aksen garis biru dan sebuah tulisan dipunggung bertuliskan Nama Pasukan Ekstrakurikuler Passus kami. Tali kur dan Peluit merah juga bertengger di Lengan Kiri dan saku.
"Eh nanti kalo kalian ditanya "Eh gimana semalem kalian nginepnya, Aman?" Jawab aja "Gak kak semalem kita diganggu sama makhluk kecil item" Nah Pas nanti ditanya lagi. "Apaan tuh" Jawab aja "Nyamuk Kak" "
Aku terkekeh dengan rencana konyol temen humoris satuku ini. Alata memang alihnya membuat lelucon dan Menciptakan suasana ditempat tongkrongan. Sungguh kalo gak ada dia bakal sepi tongkrongannya.
Meski begitu kami setuju saja dengan ide konyol Alata. Dan itu membuatku teringat dengan cerita misti lain yang kami tidak tahu. Karena kejadian ini hanya dialami oleh Alata seorang diri. Dan Alata juga menceritakan cerita ini pada kami saat Sarapan tadi.
Alata menceritakan semalam dia tidak bisa tidur dan beralih menonton video online melalui gadgetnya. Dia bilang saat dia tengah asyik menonton video komedi. Tapi atensinya teralihkan oleh suara tangisan perempuan di ruang belakang OSIS. Waktu ia berusaha untuk mengabaikan dengan fokus pada video di ponsel pintar miliknya. Hingga suara dobrakan pintu ruang belakang kembali menyita atensinya. Sebuah dobrakan yang terdengar seperti pukulan dan dengan kesan paksaan. Sungguh keras dan menuntun. Huuu aku sungguh tidak bisa membayangkan jika berada diposisi Alata. Tapi sungguh Alata bahkan terlihat santai akan hal itu. Bahkan saat bercerita tak ada raut ketakutan diwajahnya. Sungguh temenku satu ini sangat berani ya guys.
Tamat
Ya,begitu sedikit ceritaku. Mungkin beberapa ada yang sudah tahu tentang cerita ini. Soalnya aku pernah ceritain Kisah ini Di salah satu Room Chat. Dan maaf kalo ada typo atau semacamnya. Jujur aku buat cerita ini perlu beberapa hari bahkan minggu. Soalnya mau cari Dan ngerangkai kata-kata yang mudah dipahami tapi kalo ada bagain yang gak kalian mengerti bisa typing di kolom komentar. Jadi gitu. See you next my Story👻👻👻