Gadis cantik bergaun putih itu menatap dengan sendu kearah sungai yang tenang di hadapannya. Di sekitarnya terlihat pemandangan hijau dan pepohonan.
Tubuhnya kini terlihat transparan. Matanya mulai sembab karena menangisi kehidupannya.
Tiba-tiba, seorang kakek tua penjaga taman datang menghampirinya dan berpesan "Ketika kamu berjalan menuju jalan setapak yang dipenuhi aliran sungai, kamu bisa melupakan rasa sakit atas penderitaan kehidupan yang pernah di jalani. Syaratnya, gadis itu perlu meminum air di sungai itu lalu berjalan perlahan menyebrang melewati sungai itu."
Angin datang berhembus, dan suara kakek itu menghilang bersama dengan tubuhnya. Gadis itu bertekad untuk mengakhiri penderitaannya detik itu juga. Ia berlari menuju sungai itu meminum air sungai itu beberapa teguk. Air itu sangat sejuk dan memabukkan, dan Ia lupa diri meminumnya.
Di sisi lain kehidupan,
Seorang pria mengenakan setelan tuxedo, kemeja berwana putih, jas hitam dan celana hitam. Sepatu pantofel terlihat seperti baru di semir. Lengan kirinya terlihat arloji dari brand ternama. Dari balik kemejanya terlihat bercak darah. Air mukanya terlihat tegang dan beberapa kali menatap arlojinya mulai memprovokasi kekhawatirannya.
Pria itu bernama Rangga Steven. Ia terus mengetukkan jarinya di kursi tunggu. Pandangan matanya tertuju ke arah koridor melihat kerumunan orang yang menunggu di baris kursi yang sama dengannya. Ia termenung menahan rasa kantuknya. Air mukanya terlihat tegang. Noda darah ditangannya belum juga terhapus sempurna meski sudah berkali-kali ia bersihkan di wastafel rumah sakit.
Rangga sudah menunggu selama lebih dari 12 jam di ruang tunggu operasi tanpa tertidur sedikitpun. Melewatkan waktu makan, minum dan tidur. Namun belum ada tanda-tanda kemunculan seorang dokter bedah yang keluar dari ruangan operasi memanggil namanya sebagai wali pasien.
Wajahnya tampak pucat pasi, Ia terus berdoa dalam hatinya agar operasi pembedahan otak istrinya berhasil. Angin sepoi-sepoi dari AC mengundang hasratnya untuk merelaksasi tubuhnya. Mengingatkan kepada otak bahwa semua bagian tubuhnya perlu untuk berehat sejenak. Rasa kantuk yang berat memaksanya untuk tidur sejenak.
Di dalam mimpinya wanita bergaun putih itu menangis dan berkata marah padanya. Tatapan matanya terlihat kecewa. Meninggalkan rasa sesak di dadanya setiap kali melihat wanita itu menangis.
"Aku tidak akan memaafkanmu, Rangga. Sampai kapanpun itu!"
Kamu sudah menghancurkan hatiku. Lalu, kini giliranku menghancurkanmu."
Wanita itu perlahan pergi menjauh di tengah kabut. Seakan sengaja meninggalkannya sendirian. Sosoknya terlihat samar dan memudar.
"Cintya.. Tidak kamu salah paham. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Pria itu berusaha mengejar wanita itu. Ia berlari di tengah taman yang terlihat fartamorgana, sepi, senyap dan dingin. Seakan taman itu memang tak berpenghuni hanya ada danau yang memperindah taman itu. Aneh, mengapa udaranya semakin dingin disini.
Sayup sayup, sosok wanita itu muncul kembali. Ia mendorong tubuh Rangga sekuat tenaga hingga nyaris ke terjatuh ke tanah. Tuxedo yang dipakainya kini kotor karena debu dan tanah.
"Cintya kenapa kamu pucat seperti ini. Cintya tolong jangan tinggalkan aku." Pria itu terlihat memohon sambil berlutut. Wanita itu menatapnya marah.
“Mulai malam ini, hubungan ku dengan mu sudah berakhir. Mulai sekarang aku akan melupakan semua kenangan denganmu. Aku akan melupakanmu hingga tidak pernah terjadi hal apapun diantara kita."
Wanita itu mendekati Rangga dengan tatapan matanya yang dingin. Deru nafas Rangga semakin cepat. Ia nyaris ketakutan dengan sosok wanita di hadapannya itu. Kejam dan menakutkan. Sangat berbeda dengan Cintya yang dia kenal, anggun, cantik dan menawan.
"Aku akan menghapus semua kenangan kita berdua di ingatanku. Hingga tidak ada yang tersisa sedikitpun." Lanjutnya kemudian. Cintya berjalan melewati Rangga yang setengah mati ketakutan menahan rasa gugupnya. Sejurus kemudian, tubuh Cintya perlahan menjadi satu titik kecil, memudar lalu menghilang disapa angin yang berhembus.
"Cintya, Cintya! Tidak jangan pergi!"
Rangga yang terduduk sambil melutut menangis seorang diri disebuah taman fartamorgana yang sepi, senyap, dingin dan mencekam. Dia tidak ingin sendirian disini. Taman ini sangat menakutkan. Nafasnya terenggah-enggah sendirian dalam ketenangan ini sangat menyiksa batinnya.
“CINTYYYAAA!” Teriak Rangga. Hanya resonansi suaranya yang bergema di taman itu. Pandangannya tertuju pada danau yang tenang, dari kejauhan ekor matanya melihat Cintya pergi ke arah taman yang berada di seberang danau. Taman di seberang terlihat sepi namun penuh kedamaian.
Rangga berlari mengejar Cintya. Namun kakinya tidak bisa di gerakkan. Beberapa tangan tak kasat mata menahan tubuhnya untuk mengejar Cintya.
"Belum waktunya, jangan pergi," bisik suara seseorang yang tidak terlihat wujudnya. Rangga menangis dan berteriak frustasi. Cintyanya kini tidak terlihat lagi.
"Cintya!!" Teriak Rangga. Pria itu terjaga dari tidur singkatnya. Keringat dingin memenuhi tubuhnya. Mimpi buruk itu terlihat sangat nyata. Pintu penghubung ruang operasi dan ruang tunggu keluarga pasien terbuka. Seorang dokter yang membantu operasi Cintya berjalan mendatangi Rangga. Butiran tanah dari taman fartamorgana yang menempel di celananya terjatuh ke lantai. Mata Rangga yang melihatnya seketika terdiam.
'Tidak, jangan bilang operasinya tidak berhasil' Rangga membatin. Ia tidak siap mendengar jawaban dari dokter bedah syaraf namun dia berdoa akan mendapatkan secercah harapan.
"Saya Dokter Spesialis Bedah Syaraf dr. Andrea. Apa Anda keluarga pasien Ny. Cintya Noviyani ?"
"Benar Dok. Saya Rangga Steven." Pria itu bangkit dari kursinya. Kakinya yang kebas karena menunggu terlalu lama terasa menyiksa hanya untuk berdiri berbicara dengan dokter Andrea.
"Apa operasinya berjalan dengan baik ? Bagaimana keadaan istri saya Dokter." Tanya Rangga. Ia menghapus air matanya dan menyeka dengan tangannya. Air mukanya terlihat tegang. Matanya memandang mata cokelat dokter itu.
"Operasi pembedahannya berhasil, namun kondisi tubuh pasien sangat lemah untuk sementara pasien akan dipindahkan ke ruang ICU. " Kata Dokter Andrea hati-hati
"Apa keadaan istri saya tidak bisa disembuhkan? Saya awam dengan masalah kedokteran bisakah dokter menjelaskan dengan sederhana. Apa pembedahan ini masih belum mampu menyembuhkannya?"
Terjadi keheningan sesaat.
Dokter Andrea membuka suara dengan mimik muka khawatir seraya menjelaskan sejujurnya tentang kondisi Cintya. Rangga mendengarnya nyaris pingsan mendengar keadaan Cintya yang membutuhkan pertolongan serius.
"Pak Rangga, pembedahan ini hanya bisa memperpanjang masa kehidupan pasien. Tidak untuk menyembuhkannya. Kesembuhan seorang pasien bergantung pada masa pemulihan yang memakan waktu cukup panjang." Lanjutnya.
"Bila ada yang ingin di tanyakan silahkan datang ke ruangan saya. Saya permisi."
Dokter itu melangkah pergi meninggalkannya. Selang beberapa menit, tim dokter keluar dari pintu penghubung itu. Di belakangnya tampak dua orang perawat mendorong ranjang pasien yang ditempati oleh Cintya, istrinya.
"Apa dia baik-baik saja." Pria itu mencoba meyakinkan dirinya sendiri mengenai kondisi istrinya. Dokter Andrea sudah menjelaskan kepadanya tentang kemungkinan terburuk. Tapi terlalu awal untuk memvonis keadaan Cintya.
"Apakah Anda suami dari pasien ini?" Seorang suster senior berusia sekitar awal 30 tahun membuka suara berbicara ramah kepada Rangga.
"Ya suster." Sahut pria di samping. Wajahnya sudah sangat kusut tak karuan. Sepanjang malam Rangga menanti sang istri keluar dengan selamat dari ruang operasi.
"Pasien Ny. Cintya kami pindahkan ke ruang ICU karena kondisinya yang mulai melemah. Saya minta Bapak siaga 24 jam jika terjadi sesuatu kepada istri bapak." Pintanya ramah namun meyakinkan. Ia tersenyum lalu memberikan perintah kepada tim nya untuk membawa ranjang pasien ke ruang ICU.
Rangga yang mendengar itu tersenyum dipaksakan. "Tentu saja." Sahutnya.
🎗 THE BITTERSWEET 🎗
8 hari pasca operasi.
00.35 A.M
Sepanjang hari hingga nyaris larut malam Rangga memperhatikan istrinya dari balik kaca ruang ICU. Kondisinya masih sangat lemah. Wajah Cintya yang cantik terlihat sayup dan lesu. Untuk bernafas pun istrinya membutuhkan alat bantu pernafasan dan segala tetek bengeknya.
Ketika dokter mengizinkan dirinya untuk masuk ke ruang ICU mengenakan pakaian sterile. Rangga bahagia luar biasa. Kegugupan dan rasa leganya terbayarkan saat menatap dari dekat wajah kekasih hatinya yang amat ia cintai.
Ia menggengam erat tangan istrinya. Menempelkannya di pipi kanan sambil sesekali mengecup lembut jemari tangannya. Mencari kehangatan yang sangat ia rindukan selama berhari-hari. Wanita yang amat sangat Ia cintai dan menjadi dunia kecilnya.
Jantungnya nyaris tak berdetak mengetahui istrinya mengalami kecelakaan yang sangat parah. Rasa sakit yang merebak di seluruh sendinya selama beberapa hari ini lenyap seketika saat melihat istrinya selamat dari operasi itu. Perlahan air matanya terjatuh. Menetes dengan lembut menyentuh sisi luar kulit Cintya.
Udara malam ini semakin menusuk tubuhku. Tapi aku tidak kedinginan karena aku memilikimu.
“Malam berganti dengan cerah.
Aku merindukan dirimu yang tersenyum cerah kepada ku.
Kesalahan ku yang bertubi-tubi, menghancurkan diriku maupun dirimu.
Cintya, kumohon sadarlah..
Bencilah diriku sepuas yang kamu ingin..
Aku mohon, hiduplah...
Aku... sangat membutuhkan dirimu..”
Sembilan bulan kemudian.
Cintya P.O.V
Aku membuka mataku perlahan. Dan cahaya putih menyilaukan mataku. Seluruh badanku terasa berat dan kaku. Sambil menahan rasa kebas diseluruh tubuhku, aku membuka mataku perlahan-lahan.
"Aku dimana?" Tanyaku pelan sambil melirik ke arah kanan dan kiri. Kepalaku berdenyut terbalut perban.
Tubuhku kebas dan sulit di gerakkan. Berapa lama aku tertidur? Aku kembali memejamkan mataku berusaha mengingat setiap kejadian sebelum aku bisa berada di ruangan ini. Aku hanya ingat aku sedang berniat membeli sebuah belanjaan. Tiba-tiba aku terjatuh dan Ah! Kepalaku nyaris saja meledak.
Rasanya aku ingin mati. Denyutan di kepalaku terasa seperti dipukul dengan palu godam bertubi-tubi.
Wanita berseragam putih dengan hijab berwarna cream datang menghampiriku. Ia membawa sebuah nampan berisikan makanan lalu menaruhnya di meja kecil di sampingku. "Akhirnya Anda sadar nona." Sapanya ramah terhadapku. Aku mencoba tersenyum sebisaku.
"Apa yang terjadi padaku?" Tanyaku perlahan. Pita suaraku sepertinya bermasalah. Hanya suara bisikan yang keluar dari bibirku. Jujur saja aku sama sekali tidak ingat kenapa aku harus berada disini.
"Anda koma 9 bulan setelah menjalani operasi bedah otak akibat kecelakaan lalu lintas." Tutur perawat itu sambil menatapku iba. Sungguh, aku sangat benci dikasihani, terutama saat ini.
"Koma selama 9 bulan ? Luka di tubuhku karena kecelakaan ?" Gumamku. Perawat itupun mengangguk. Ah! Kepalaku sangat sakit hingga membuatku nyaris merintih kesakitan. Perawat itu mengecek keadaanku. Wajahnya tampak cemas.
"Suster jam berapa ini?"
"Pukul 05.30 A.M. Apa nona merasa tidak nyaman dengan temperatur Ac diruangan ini ? Anda terlihat menggigil."
"Ya, bisa kau kecilkan, aku nyaris beku disini."
"Suster aku haus boleh bantu aku minum?" Pintaku.
Baru bergerak sedikit, membuat tubuhku terasa sangat sakit. Badanku sangat kram dan kepalaku pusing tidak tertahankan. Tenangkan dirimu, hii dirimu.
Tunggu siapa diriku dan aku sama sekali tidak ingat kenapa aku disini dan tidak mungkin. Aku tidak ingat dengan diriku?
"Suster, kepalaku sangat berat. Rasanya seperti ingin meledak. Aku berusaha mengingat dengan keras. Tapi aku tidak bisa mengingatnya. Siapa aku dan ada apa denganku?" tanyaku berbisik.
Suster itu menatapku sambil mengobservasi setiap bagian tubuhku. Ia kemudian mencoba mengecek tanda vitalku.
Sungguh saat ini aku sangat kesulitan menjelaskan kepada semua orang bahwa aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak ingat apapun. Ini sangat mengecewakan. Kecelakaan apa yang kuhadapi sampai aku tidak mampu mengingatnya sedikitpun. Badanku yang keram membatasi diriku untuk bergerak.
"Apa anda tidak ingat sama sekali nona Cintya ?" Ia cemas. Begitu juga denganku, hanya saja aku menyembunyikan nya dengan baik.
"Tidak." Jawabku tegas sambil menghela nafas. Aku memalingkan wajahku, seraya menatap dinding sambil menahan rintihanku. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan kacaunya batinku.
"Cintya, apa itu namaku?" Tanyaku ramah tanpa menoleh sedikitpun ke arah perawat itu. "Ya, nona." Sahutnya cepat.
"Apa nona Cintya membutuhkan sesuatu?"
"Tolong panggilkan dokter, kepalaku sangat sakit."
"Baik, saya segera memanggilnya. Tunggu sebentar Nona."
"Terima kasih."
Perawat itu segera berjalan keluar mencari dokter jaga. Dari balik pintu seorang pria bertubuh atletis, bermata cokelat terang, kemeja merah dan jeans biru. Sepatu kets Nike Jordan berwarna putih mempercantik kaki jenjangnya. Di lengan kirinya terlihat arloji berwarna senada dengan kemejanya.
Pria itu tampak tidak terurus dengan baik, rambutnya tidak tertata rapi, dan terlihat tidak bercukur. Matanya cekung dan wajahnya terlihat putus asa.
Ekor matanya berbinar-binar mendapatiku terbangun dari tidur panjangku. Dia segera menyapaku dengan nama Cintya. Pria itu menunjukkan senyum terbaiknya. Aneh, jantungnya tiba-tiba berdetak cukup kencang setelah melihat pria ini dari dekat.
"Cintya.." serunya sumringah. Pria itu segera mendekatiku, menarik kursi di dekat ranjang dan mengelus ranbutku. Dia mencium keningku cukup lama. Ada perasaan hangat yang tidak bisa aku jelaskan setelah bertemu pria asing ini.
Pria itu tersenyum sambil menangis menatap wajahku lekat. Memegang tanganku sambil mencium lembut. Air matanya terjatuh perlahan mengenai lenganku.
'Tampan sekali, benar-benar tipeku. Tapi siapa pria ini? Kenapa pria ini menangis seperti orang bodoh.' Cintya membatin. Matanya memandang mata cokelat pria itu.
"Benar-benar maha karya Tuhan yang sempurna." Kata-kata itu terlontar begitu saja ketika Cintya melihat Rangga.
"Terima kasih Tuhan, akhirnya kau sadar." Pria itu memandang wajahku dengan lembut. Seperti mengenal diriku dengan baik. Namun aku tidak mengingat wajahnya. Sejenak kupandangi matanya yang seterang madu memancarkan rasa syukur yang sangat dalam.
Jangan bodoh, sadarlah..
Aku sama sekali tidak mengenal pria ini.
Dia pria asing....
"Jangan sentuh aku. Aku tidak mengenalmu!" Ujar Cintya setengah berbisik. Suaranya tidak bisa keluar seperti yang dia mau. Badannya juga sulit bergerak jadi dia tidak bisa menendang pria ini ketika Pria ini menyentuhnya dan membelainya tanpa permisi. Meskipun aku menikmatinya, aku hanya khawatir pria ini bukan orang yang aku kenal.
"Cintya kau.... " Rangga terdiam sejenak.
"Apa kau sama sekali tidak mengingat diriku ?" Tanyanya kepadaku. Matanya yang seterang madu menatap intens kedua bola mata Cintya. Wajahnya tampak cemas. Pertanyaan itu sukses membuat Cintya kebingungan.
Jujur saja, Ia tak berselera menanggapi pertanyaan remeh semacam ini. Membuang energi. Terlalu melelahkan untuk membuat dirinya mampu mengingat siapa pria di hadapannya saat ini.
"Ah, kau pasti orang yang membuatku kecelakaan, kau yang menabrak ku 'kan?" Jawabku sekenanya.
"Apa kamu sama sekali tidak ingat, bahkan dengan suaraku ini? Wajahku, apa kau benar-benar tidak mengingatnya sayangku?" Suaranya tampak parau. Ia menyentuh tangannya sambil menggengam jemari Cintya. Menuntunnya untuk menyentuh wajah pria di hadapannya itu.
"Ada apa dengan dirimu!" Bisik Cintya penuh penekanan.
"Harus berapa kali kukatakan aku tidak mengingatmu, aku tidak mengenal dirimu. Dan aku bukan sayangmu!"
Rangga menatapku dengan tatapan terluka. Aku tidak suka hal ini. Kenapa mataku memanas setiap kali melihat tatapan matanya yang terluka seperti itu. Aku sengaja mengalihkan pandanganku ke arah lainnya.
"Cintya, aku mengerti jika kamu marah kepadaku. Aku merasa sangat bersalah padamu. Seharusnya aku tidak meninggalkan mu saat itu. Harusnya aku berada di sampingmu saat itu. Kau boleh memakiku sepuas yang kau inginkan. Namun tolong, jangan seperti ini."
Aku kembali menatapnya lekat. 'Matanya luarbiasa indah.' batinku mengagumi pria ini.
"Mari kita bernegosiasi. Kau harus membayar semua tagihan rumah sakit, memberiku tumpangan tempat tinggal sampai aku dapat pekerjaan." Cintya bersikeras mengelak.
Rangga memperhatikan istrinya secara intens. Seulas senyum terpoles dari bibirnya yang berwarna pink kemerahan alami.
Damn! How's could be he so sexy because of smile. Gerutuku dalam hati.
"Cintya, ada apa denganmu. Semua permintaanmu tadi dapat ku kabulkan dengan segera. Tapi apa kau selalu seperti itu bahkan dihadapan pria yang menurutmu asing ini."
"Aku tidak ingat siapa diriku. Semua orang memanggilku Cintya. Aku tidak kenal dengan Cintya yang dimaksud semua orang." tuturku singkat.
Rangga berusaha tampak tenang dibalik senyum pahitnya. Dokter Andrea benar. Kondisi Cintya membutuhkan pertolongan serius. Kenyataan bahwa Cintya terbangun dari komanya sudah cukup untuk menghiburnya. Setidaknya ia tidak kehilangan Cintya untuk selamanya.
"Biarkan aku perkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Rangga Steven dan Aku adalah suami mu Cintya." Gadis itu menoleh sambil melotot kearah Rangga. Tatapannya yang setajam elang sukses membuat Rangga bergidik ingin meninggalkan ruangan yang mendadak menjadi kutub antartika.
"APA KATAMU? KAMU SUAMIKU???"
***
Catatan harian Rangga :
"Hari yang paling aku sesalkan di sepanjang hidupku adalah
Hari dimana aku nyaris kehilangan dirimu untuk selamanya.
Setidaknya untuk saat ini, aku tidak sendirian."
written by Cheezy Haze.