“Ronald jangan pergi! Ronald! Ronald!” teriak seorang laki-laki sambil berlari mengejar mobil yang melaju menjauh.
Dia terus berlari sekuat tenaga akan tetapi dia tidak bisa mengejarnya karena kecepatan mobil itu jauh lebih cepat darinya. Dia akhirnya menyerah dia berhenti dan terduduk disana.
Dia memandang mobil itu hingga mobil itu sudah tidak terlihat.
Seorang lelaki paruh baya mendekati laki-laki itu lalu berjongkok dan menepuk pelan bahu laki-laki itu. Dia tersenyum kearah laki-laki itu , senyum yang menenangkan.
“Satria cucuku ayo kita pulang! Kamukan masih bisa telfon ronald jika kangen. Teknologi sekarangkan sudah canggih jadi kamu bisa berhubungan dengannya dengan teknologi yang ada.” Ucap kakeknya untuk membujuknya pulang
“Tapi kek itu semua tidak akan sama seperti saat ronald ada disini. Nanti aku main dengan siapa jika ronald pergi.” Ucap laki-laki itu dengan mata yang berkaca-kaca
Kakeknya yang melihat cucunya seperti membawanya kedalam pelukan hangatnya sambil mengelus punggung cucunya untuk menenangkan.
“Satria Cuma punya ronald , ronald satu-satunya temen satria kek. Semenjak ayah dan ibu meninggal satria Cuma punya kakek lalu setelah itu ronald datang dan Cuma dia yang mau berteman dengan satria yang nggak punya ayah ibu disaat anak-anak lain nggak mau berteman dengan satria karena nggak punya ayah dan ibu. Tapi sekarang ronald ninggalin satria kek. Satria udah nggak punya temen lagi kek.” Ucap satria parau karena dia menangis.
Kakeknya tak bisa berkata-kata lagi karena memang kenyataannya memang begitu. Ayah dan ibu satria meninggal dalam kecelakaan mobil saat satria berumur satu tahun. Dan semenjak itu satria tinggal dengan kakeknya. Saat dia beranjak dewasa dia sama sekali tak punya teman itu semua karena dia tak mempunyai ayah dan ibu dia masih ingat bagaimana anak-anak seusia satria mengejek cucunya tak punya ayah dan ibu. Dan karena itu satria selalu murung.
Hingga ronald datang kedesa ini dan pindah tepat disamping rumahnya ronald mau berteman dengan satria yang tidak punya ayah dan ibu , ronald juga yang membela satria jika dibully teman-teman lainnya , dia tahu bahwa ronald yang membawa keceriaan pada cucunya itu.
Tapi mau bagaimana lagi ronald harus pergi karena penyakit leukimia yang dimiliki dan itu semua karena fasilitas rumah sakit disini kurang memadai sehingga ronald harus pindah ke kota dimana rumah sakit disana jauh lebih baik.
“Sudah jangan menangis lagi , kamukan tahu ronald pindah ke kota bukan tanpa tujuan. Dia pindah supaya dapat penanganan yang lebih baik. Nanti kalau dia sembuh kan dia akan kembali bisa main lagi sama satria.” Ucap kakek satria
“Hiks...iya satria tau kek. Tapi kan disini juga ada rumah sakit kenapa nggak disini aja biar ronald bisa sama satria?” ucap satria
“Disana alat-alatnya kan lebih canggih dari pada disini. Dokter disana juga lebih berpengalaman dan lebih ahli daripada yang ada disini jadi satria harus bisa ngertiin.” Ucap kakek satria
Satria melepaskan pelukan kakeknya lalu mengusap kedua matanya
“Kalau gitu satria mau jadi dokter kek jadi ronald bisa terus sama satria.” Ucap satria
Kakek satria tersenyum melihat cucunya bersemangat seperti itu
“Ahahaha...baiklah kalau itu yang diinginkan satria kakek akan terus mendukung satria. Jadi mulai sekarang satria sekolahnya harus semangat, belajar yang rajin supaya satria bisa menjadi dokter seperti yang satria cita-citakan.” Ucap kakek satria
Satria mengannguk mendengar ucapan kakeknya , lalu kedua orang berbeda usia itupun berdiri lalu berjalan pulang.
Disisi lain ada seorang anak laki-laki yang mengadap keluar jendela mobil sambil memikirkan temannya lalu dia membatin , ‘ Aku akan segera sembuh dan akan kembali secepatnya. Tunggu aku...satria.’
Tak disangka waktu berjalan begitu cepat , 3 tahun sudah berlalu sejak kepergian ronald. Dan disinilah sekarang satria berdiri menghadap cerahnya langit biru ditemani awan-awan putih yang jika dibayangkan seperti kumpulan permen kapas yang berterbangan diudara , dengan sebuah lengkungan keatas yang tersungging indah dibibirnya menandakan dia sedang bahagia saat ini , iya karena sebelum dia berdiri disini sambil memandang awan dia baru saja dari ruang kepala sekolah , dia diberitahu bahwa dia mendapatkam beasiswa disalah satu universitas terkemuka di kota disanalah dia akan mewujudkan mimpinya untuk menjadi dokter yang hebat agar bisa menyembukan sahabat kecilnya. Sahabat yang menjadi alasan dia bekerja sangat keras dan belajar mati-matian untuk menjadi dokter.
Disisi lain di sebuah rumah sakit seorang laki-laki yang menggunakan baju pasien diatas kursi roda sedang memandang langit cerah yang sama seperti yang dilihat satria. Dia tersenyum meskipun keadaan tubuhnya sebaliknya karena siapapun yang melihat kedaannya sekarang mungkin tidak akan bisa tersenyum. Bibir pucat dengan mata sayu menghiasi wajahnya juga tubuh kurus yang terlihat sangat rapuh seakan jika kita tak berhati-hati mungkin kita bisa menyakitinya hanya dengan satu sentuhan.
Hal itu terjadi karena penyakit leukimia yang dimilikinya sehingga tubuhnya tidak bisa bugar seperti kebanyakan remaja lainnya. Dengan obat-obatan yang terus diminumnya untuk memperpanjang umurnya.
Namun dia bahagia menjalani semua pengobatan yang menyakitkan ini karena dia tahu diluar sana ada orang yang sedang menunggunya kembali. Sahabat yang selalu menjadi penyemangat hidupnya , hingga ia rela menjalani pengobatan yang menyakitkan ini.
Dua orang laki-laki dengan umur yang sama ditempat yang berbeda memandang langit cerah yang sama sambil menyunggingkan senyuman secara bersamaan berkata,
“Tunggu aku ronald , aku akan kesana.”
“Tunggu aku satria , aku akan kembali.”
Satria pulang kerumah dengan gembira, ia tak sabar memberitahu kakeknya juga sahabat terbaiknya mengenai beasiswa yang ia terima. Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah dan segera mencari dimana keberadaan kakeknya.
“Kakek! Kakek ada dimana? Aku punya kabar gembira untuk kakek.” Teriaknya sambil mengelilingi rumah
Kakeknya yang mendengar teriakan cucunya pun menyahut.
“Kakek ada dibelakang rumah satria.” Teriak kakeknya
Satria yang mendengar teriakan kakeknya segera berlari kebelakang rumah , sesampainya disana dia bisa lihat pungung tegap milik kakeknya yang sudah sedikit membukuk menandakan usianya yang sudah tidak muda lagi.
Satria langsung memeluk kakeknya dari belakang. Karena tidak siap menerima pelukan tiba-tiba dari satria akhirnya badannya sedikit terhuyung kedepan setelah menyeimbangkan kembali tubuhnya Kakeknya pun menoleh kearah satria lalu melepaskan pelukam cucu satu-satunya itu , disana dia bisa melihat wajah bahagia satria yang berseri-seri hatinya terasa bahagia melihat pemandangan itu.
“Kenapa cucu kakek ini tersenyum lebar seperti ini memang satria nggak takut giginya kering apa senyum kayak gitu.” Ucap kakeknya menggoda satria
“Ahh kakek mah gitu suka banget ngeledekin satria.” Ucap satria sambil memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang sudah merajuk
“Ahahaha padahal kamu sudah besar tapi kelakuan masih seperti anak kecil. Baiklah maafkan kakek ya? kakek hanya bercanda.” Ucap kakek satria
“Iyaa kakekku satria tahu kok. Oh iya satria jadi lupa tadi kan satria mau bilang sesuatu sama kakek.” Ucap satria sambil menepuk keningnya
“Apa?” tanya kakeknya satria
“Satria dapat beasiswa kuliah jurusan kedokteran di salah satu universitas di kota kek. Akhirnya Satria bakal jadi dokter. Satria nanti akan bisa sembuhin ronald , dan dengan satria kuliah ke kota itu artinya satria bakal bisa ketemu ronald lagi kek.” Ucap satria bahagia
“Kakek senang mendengarnya. Kapan kamu akan berangkat ke kota?” ucap kakek ronald
“Seminggu lagi satria bakal ke kota kek. Untuk mengurus beberapa dokumen yang diperlukan sebelum mulai kuliah. “ ucap satria
“Itu berarti tidak lama lagi , ya kamu harus segera siapkam dokumen kamu juga harus mulai berkemas supaya nanti kamu siap saat disana.” Ucap kakek satria
“Iya kek tenang saja semua dokumen sudah satria siapkan. Jadi sekarang satria tinggal mengemas beberapa baju untuk satria tinggal disana.” Ucap satria
“Baguslah kalau begitu. Satria sebelum kamu pergi kakek ingin mengatakan sesuatu. Apapun yang terjadi kakek akan selalu mendukung kamu. Kakek percaya kamu akan menjadi dokter yang hebat. Kakek juga ingin mengatakan kalau kamu kehilangan dirimu saat mencapai tujuanmu selalu ingat bahwa kehilangan sesuatu yang berharga itu memang menyakitkan namun kamu harus tahu saat kamu kehilangan sesuatu yang berharga yakinlah bahwa sebenarnya mereka tidak hilang melainkan berganti dengan sesuatu yang lebih berharga. Disaat itu mungkin kamu goyah karena kehilangan tujuanmu namun kamu harus tahu tujuanmu bukan hilang melainkan diuji untuk lebih kuat dari yang sebelumnya dan saat kamu tahu itu kamu akan sadar bahwa tujuanmu jauh lebih kuat dari sebelumnya.” Ucap kakek satria
Satria yang mendengar kata-kata itu langsung menghambur kedalam pelukan sang kakek.
“Terima kasih untuk semuanya kek. Terima kasih karena selalu ada untuk satria. Satria akan selalu mengingat kata-kata kakek. Terima kasih kek. Terima kasih.” Ucap satria
Kakek satria yang mendengar itu tersenyum dan memeluk sang cucu dan sore itu diakhiri dengan pelukan dua orang lelaki yang berbeda umur ditemani dengan terbenamnya matahari di ufuk barat.
Malam harinya satria memandang bulan yang menghiasi langit malam dia tersenyum membayangkan wajah sahabatnya disana. Dia tak sabar untuk bertemu dengannya setelah tiga tahun lamanya.
Dia mengambil telfonnya dari dalam sakunya lalu dia mencari nomor temannya itu dan memanggil nomor tersebut.
Tut...tut...tut...
“Halo” jawab orang diujung sana
“Halo...nal. Aku punya kabar gembira buat kamu” ucap satria antusias
“Hm? Kabar apa sat?” tanya ronald penasaran
“Aku keterima di universitas XX di kota nal. Itu artinya kita bakal bisa ketemu.” Ucap satria sambil tersenyum cerah
“Waahhh...beneran? Kamu nggak bohong kan?” tanya ronald masih belum percaya
“Beneran nal. Aku bakal berangkat kesana minggu depan.” Ucap satria
“Kalau gitu kamu harus tinggal dirumah aku, nggak ada penolakan! Nanti kamu bakal kuajak jalan-jalan terus kita main lagi kayak dulu. Nanti aku juga bakal tunjukin tempat-tempat yang indah disini dan bla...bla...bla” ucap ronald antusias
Satria mendengarkan setiap kata-kata ronald sambil tersenyum dia sangat senang mendengar temannya yang begitu antusias sama seperti dirinya. Dia semakin tak sabar untuk bertemu dengannya secara langsung bukannya hanya suara seperti saat ini dan juga sebelum-sebelumnya.
“Sat...satria...satria kamu dengerin aku nggak sih!” teriak ronald kesal merasa dicuekkan
Dan teriakannya itu menyadarkan satria dari lamunannya
“Aku denger kok nal , aku Cuma nggak sabar aja buat ketemu kamu. Aku berharap minggu depan segera datang. Nal...ronald? Kamu kok nggak jawab? Kamu baik-baik aja kan?” Ucap satria sedikit khawatir mengingat kondisi satria
“Eh? Oh? Aku gak papa kok aku Cuma ngantuk sat hehe soalnya kamu hubungin aku malem banget sih...dan ya aku juga gak sabar buat ketemu kamu.” Ucap ronald setenang mungkin
“Hmm? Begitu? Aku senang kalau kamu baik-baik aja. Yaudah aku tutup telfonnya ya? Dadah. Tidur yang nyenyak!” ucap satria
“Iya aku tahu aku bukan anak kecil lagi. Kamu juga tidurnya jangan malem-malem. Dadah.” Ucap ronald
Satria yang mendengar hanya terkekeh lalu dia mematikan telfonnya. Namun dia masih merasa ada yang aneh dengan ronald karena tidak biasanya dia mengantuk jam segini. Apakah ronald berbohong padanya? Tidak mau memikirkan hal-hal negatif tentang sahabatnya, satria memilih untuk menyiapkan baju-baju dan kebutuhan lainnya untuk dikota minggu depan.
Sedangkan disisi lain tempat ada seorang lelaki yang sedang mencoba menghentikan darah yang terus saja keluar dari hidungnya. Dia membasuhnya dengan air hingga air yang tadinya jernih berubah menjadi merah saat ia gunakan.
Dia berbohong pada sahabatnya jika dia baik-baik saja karena kenyataannya dia sama sekali tidak baik-baik saja. Namun dia tak mau membuat sahabatnya itu khawatir jika tahu keadaannya saat ini.
Tak terasa seminggu telah berlalu dan saat ini satria sudah sampai di kota. Dia baru saja keluar dari kereta yang mengantarkannya. Dia berjalan hingga tiba-tiba dia tertabrak oleh seseorang lalu dibelakang laki-laki tadi seorang wanita berteriak pencopet. Satria yang tanggap langsung mengejar laki-laki yang menabraknya tadi.
Setelah mengejar beberapa lama akhirnya dia mengkap pencopet tadi , dia beberapa kali baku hantam dengan pencopet tadi hingga akhirnya satria berhasil mengalahkan pencopet tadi. Dia mengambil tas yang diambil pencopet itu. Lalu seorang satpam datang dan menangkap pencopet tadi sedangkan disisi lain satria menyerahkan tas yang berhasil ia rebut dari pencopet tadi ke pemiliknya yaitu seorang perempuan muda cantik dan dilihat dari wajahnya perempuan itu seumuran dengan dirinya.
Setelah itu satria langsung pergi menuju keluar stasiun dia benar-benar tak sabar untuk segera bertemu dengan sahabatnya.
Disisi lain kota seorang pria dengan tubuh kurus dan wajah pucat itu terlihat sangat bersemangat. Dia melihat kamar yang ia dekor dengan puas, dia yakin sahabatnya akan suka dengan hasil dekornya. Dia yang sedang melihat kamar yang sudah ia dekor sendiri itu terhenyak saat meningat bahwa ia harusnya menjemput satria di stasiun pukul 10 pagi sedangkan sekarang sudah pukul 10 lewat 15 menit yang artinya dia terlambat menjemput sahabatnya.
Diapun langsung berlari menuruni tangga dan berteriak memanggil ayahnya.
“ Ayah?! Ronald jemput satria ke stasiun ya?” teriaknya sambil berlari ke luar rumah dan memberhentikan sebuah taksi untuk menuju stasiun.
Sedangkan ayah ronald yang baru saja keluar dari ruang kerjanya ketika ingin melihat anaknya dia sudah tak menemukannya disana. Dia benar-benar tak habis pikir pada anaknya itu jika sudah menyangkut satria anaknya itu benar-benar sangat bersemangat.
Disisi lain Ronald benar-benar terburu-buru karena dia telat menjemput sahabanya.
“Pak, lelet banget sih kayak siput. Cepetan dikit lah” ucap ronald memarahi supir taksi itu
Sedang sang supir hanya bisa bersabar dan mengelus dada saat dikatai mobilnya siput. Tak menunggu beberapa lama mereka pun sampai di tempat tujuan.
“Sud- “ belum sang supir selesai berbicara namun ronald sudah tidak ada di bangku penumpang. Dia meneriaki ronald yang belum membayar taksinya lalu ronald menoleh dan menyuruh sopir itu untuk menunggunya disana.
“huft...huft...huft...satria dimana ya?” ucapnya sambil menengok kanan kiri mencari orang yang dia kenal.
“ Ah kenapa nggak ku telfon aja” monolognya lalu mengambil telfon di saku celananya dan menelfon nomor satria, tak menunggu lama telfon pun diangkat
“ Halo, sat. Lo dimana? “ ucapnya dengan nafas masih tersengal-sengal karena berlari tadi
“lihat kebelakang lo.” Ucap satria dari seberang telfon lalu ronald pun menoleh dan mendapati sahabatnya disana, tak menunggu lama ronald langsung menghambur kepelukan sang sahabat.
“satria gue kangen sama lo.” Ucap ronald
“gue juga nal” ucap satria sambil membalas pelukan sang sahabat
Mereka berpelukan sangat lama dan akhirnya melepas pelukan itu saat orang-orang mulai melihat kearah mereka. Dan mereka berakhir dengan tertawa, karena mereka tahu arti tatapan orang-orang itu.
Mereka masih tertawa pelan sambil berjalan menuju keluar stasiun dan memasuki taksi yang tadi mengantarkan ronald.
Saat didalam mobil,
“maaf ya sat, gue telat jemput lo” ucap ronald sambil menunduk sedih
Satria yang melihat temannya murung bukannya ikut sedih malah dia merasa temannya ini begitu imut. Satriapun yang gemas mengacak rambut ronald dan berkata’
“ nggak masalah nal, lagi pula tadi juga ada sedikit insiden. Dan malah kukira aku yang membuatmu menunggu. Jadi kau tepat waktu kok menjemputku.” Ucap satria
“benarkah?” tanya ronald dan dijawab anggukan oleh satria.
Sesampainya di rumah ronald, ronald langsung menarik satria menuju kamar satria yang sudah ia siapkan dan ia dekor sendiri.
Satria terpukau dan terharu akan apa yang dilakukan oleh sahabatnya ini. Ini adalah kamar yang diimpikan oleh satria saat kecil dan temannya itu sekarang masih mengingat hal itu dan bahkan mewujudkannya. Tak sadar bulir air mata membasahi matanya. Ronald yang melihat hal itu terkejut.
“eh? Kenapa kau menangis ? apakah dekorku jelek? Kalau jelek apa mau kuubah” ucap ucap ronald sambil berjalan ingin mengganti dekor diruangan itu, namun satria mencekal tangan ronald dan membuat ronald berbalik menatap satria.
Disana dia melihat satria menggeleng lalu menghapus air matanya. Hingga akhirnya ronald berakhir di rengkuhan satria.
“hm? Kenapa sat?” tanya ronald lagi
“aku benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertimu bahkan setelah bertahun-tahun kita terpisah akan tetapi kau masih mengingat hal-hal kecil tentang diriku bahkan dekorasi kamar impianku sejak kecil kau masih mengingatnya. Aku benar-benar terharu dan bahagia.” Ucap satria memeluk ronald erat
Ronald yang mengerti alasan satria menagis tadipun tersenyum lalu membalas pelukan satria. Dia senang bahwa ternyata satria suka dengan dekor yang ia buat.
“udah dong acara peluk-pelukannnya, ayah kan juga pengen dipeluk” ucap ayah ronald yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka
“eh? Om?” ucap satria kikuk
Ayah ronald yang melihat satria salah tingkahpun tertawa, “ahaha udah sini peluk om. Om kangen sama kamu.” Ucap ayah satria lalu satria pun memeluk ayah ronald yang sudah ia anggap ayahnya sendiri lalu ronald pun ikut berpelukan juga dan jadilah mereka bertiga berpelukan seperti teletubis.
Hingga suara dari ibu ronald yang menyuruh mereka bertiga turun untuk makan siang terdengar barulah ketiganya melepas pelukan itu.
Satria bahagia bisa mengenal ronald dan keluarganya karena semenjak ia mengenal keluarga ini dia bisa merasakan seperti apa rasanya punya keluarga dan saudara.
Dia bertekad akan menjadi dokter yang hebat dan menyembuhkan sahabatnya ini dia tidak ingin kehilangan keluarga ini ia juga tidak ingin kehilangan sahabatnya.
Pada malam harinya dia dan ronald duduk di balkon kamar satria memandang bintang di langit. Mereka berbincang mengingat masa kecil mereka.
Mereka ingat bahwa dulu ronaldlah yang pemberani menyelamatkan satria dari teman-teman yang membullynya namun sekarang kenyataannya berbeda ronald sudah tak bisa melindungi satria seperti dulu dan hal itu membuat ronald menunduk sedih. Satria yang menyadari perubahan itu segera memegang pundak ronald dan meghadapkannya ke arahnya.
“kau tahu nald, tak peduli sekarang kau lemah aku akan tetap ada disampingmu. Dan kalaupun sekarang kau tidak bisa melindungiku maka akulah yang akan melindungimu. Maka dari itu kau harus ada disiku hingga aku jadi dokter. Aku pasti akan menyembuhkanmu. Kau bisa janji padaku kan?” ucap satria dan entah kenapa bulir air mata jatuh dari mata satria ketika mengatakan itu.
“sat, hidup itu misteri kita tak pernah tahu apa yang kan terjadi esok hari. Tapi aku akan selalu mendukungmu. Kau jangan pernah menyerah meskipun tak ada aku disampingmu. Kau tahu kan selama ini kita berjauhan tapi kita sebenarnya dekat karena aku ada disini.” Ucapnya sambil menyentuh jantung satria dia tersenyum ke arah satria.
Senyum itu senyum yang berbeda entah kenapa senyum itu seakan senyum perpisahan seakan besok dirinya tak akan bisa melihat ronald lagi. Namun satria langsung mengenyahkan pikiran itu dari otaknya.
‘tidak, ronald akan sembuh. Ronald akan ada disampingku sampai aku jadi dokter hebat’
Satria memandang langit malam itu sendiri sambil memikirkan wajah ronald tadi. Iya saat ini satria sedang di balkon sendiri karena ronald berkata ingin kekamar mandi tapi ini sudah sekitar 30 menit kenapa ronald belum keluar juga. Jangan jangan.........
Tak mau berpikir negatif diapun menuju kamar mandi dan menggedor pintu kamar mandi sambil memanggil satria akan tetapi tidak ada jawaban. Lalu dia memutuskan untuk membuka pintunya dan disana dia bisa melihat ronald trkapar di kamar mandi dengan darah mengalir dihidungnya hingga membuat bajunya berwarna merah berlumuran darah.
Dia panik dan langsung membopong tubuh ronald , dia berteriak pada orang rumah. Orang rumah pun panik lalu mereka segera membawa ronald ke rumah sakit.
Satria duduk di bangku rumah sakit sambil melihat ruangan operasi yang ada di depannya dengan lampu menyala hingga lampu itu pun mati. Disana dia bisa melihat dokter mengatakan sesuatu pada orang tua ronald tapi rasanya saat ini dia tak bisa mendengar apapun yang ada disekitarnya dia bisa melihat ibu ronald menangis meraung-raung dan sedang ditenangkan oleh ayah ronald.
Lalu dokter tadi menghapiri satria dia mengatakan sesuatu padanya tapi dia tidak mendengar apapun, dia merasa kepalanya berputar dunia yang ada di sekitaarnya berjalan dengan lambat. Dia berjalan melewati dokter tadi menuju ke arah ruang operasi ronald namun saat sesampainya disana. rasanya dunianya hancur.
Kenapa? Dia baru saja bertemu dengan sahabatnya setelah bertahun-tahun tapi kenapa? Sahabatnya sekarang sudah terbujur kaku disana dengan ditutupi kain putih. Sekali lgi orang yang ia sayangi pergi.
Satria sekarang berdiri didepan sebuah makam yang masih basah, tatapannya kosong. Seakan dirinya hanya raga tanpa jiwa.
Setelah dia dari pemakaman dia menuju ke rumah ronald, dia akan mengemasi barang-barangnya dan pulang. Karena ia merasa sudah tak ada tujuan lagi dia disini. Saat dia mengemasi barang-barangnya dia tak sengaja melihat balkon dan teringat akan ronald. Dia pun terduduk di kasur sambil menundukkan kepalanya.
Sebuah tangan menepuk bahunya, dia mendongak dan melihat orang yang menepuk pundaknya dia adalah ayah ronald. Dia menyerahkan sepucuk surat untuk satria. Lalu berlalu pergi dari sana. Satria membuka surat itu dan disana dia bisa melihat tulisan seseorang yang sangat dia hapal itu adalah surat dari ronald.
Untuk sahabatku satria,
Aku sangat bahagia mendengar dirimu akan kesini, akan tetapi aku tahu kondisi tubuhku semakin memburuk. Aku tidak tahu apakah aku masih bertemu denganmu atau tidak. Dan aku akan sangat bahagia jika aku masih bisa bertemu denganmu. Tapi mungkin setelah itu hidupku tidak akan lama lagi. Namun aku sudah ikhlas menerima semua ini. Aku sudah lelah sat, aku capek merasakan rasa sakit ini. Jadi apabila aku pergi kau harus melepaskanku. Ah sayang sekali karena aku tak bisa melihat kau menikah dan tua nanti haha. Tapi aku bahagia telah mengenalmu satria. Terima kasih sudah menjadi penyemangat dalam hidupku. Hei jangan menangis saat membaca surat ini.
Dari sahabatmu ronald
L.D.F
Long Distance Friendship
[THE END]