Masa itu ketika masih duduk di bangku SMU, masa muda yang ceria, penuh semangat tiada hari tanpa tawa.
Aku merasa termasuk gadis yang beruntung. Bukan dari keluarga bergelimang kemewahan tapi juga bukan keluarga yang kekurangan . Biasa saja. Papa seorang abdi negara, TNI , dan mama seorang guru SD. Kami empat bersaudara. Rumah kami terletak di komplek militer yang agak jauh dari keramaian kota. Bahkan agak pelosok.
Menurutku kehidupan kami biasa saja, kakak pertamku sekarang cowok di sekolah SMUN yang sama denganku, adik perempuanku di SMPN bersebelahan denga SMU. Sedang si bungsu cowok paling ndut di rumah masih SD dimana mamaku juga mengajar di sana. Kebetulan SD nya masih dalam lingkungan komplek militer.
Setiap pagi pukul enam, kami anak-anak satu komplek akan berangkat bersama-sama ke sekolah dengan menumpang truk milik TNI, yang memang disediakan untuk keluarga militer dan anggota lainnya yang hendak keluar beraktifitas di luar komplek. Maklum tidak ada kendaraan umum yang mau masuk dalam komplek kami. Mungkin karena jauh dari aktifitas warga lainnya. Kami akan di jemput lagi untuk kembali ke komplek dengan truk yang sama pada pukul lima sore. Truk akan ada di titik tertentu untuk menunggu kami berkumpul.
Setiap pagi ,kakak dan aku akan mengisi daftar siapa saja yang naik ke dalam truk. Begitupun ketika sore hari ketika turun dari truk. Agar terawasi siapa saja yang ikut dalam truk.
Bila truk sedang digunakan untuk kebutuhan pasukan, kami akan di antar menggunakan bus militer. Namun kapasitasnya tidak sebanyak truk, jadi kami harus sedikit berdesakkan. Tapi tidak masalah, kami menjalaninya dengan senang.
Seperti biasanya,aku dan Didi kakakku menunggu kedatangan kendaraan penjemput kami. Beberap teman yang satu komplek pun sudah banyak berkumpul. Ekstrakulikuler sekolah hari ini tidak terlalu sore selesinya, jadi aku masih sempat membeli beberap kebutuhan pribadi perempuan, roti dan coklat pesanan si bungsu. Sedang Tiwi adikku yang SMP membeli beberapa aksesori rambut dan kebutuhan tulis menulis.
Baju karate yang basah oleh keringat kumasukkan bersama belanjaanku dalam tas sekolah yang lumayan besar. Aku memilih karate sebagai ekstrakulikuler, menuruku itu yang paling menarik. Dibandingkan dengan menari, basket, volly dan atletik. Sebenarnya masih banyak yang lain, tapi di mataku tetap karate yang terbaik. Aku sudah latihan karate sejak masih duduk di bangku kelas tiga SD. Sudah lama kan. Meskipun tidak selalu mengikuti kejuaraan. Karena akunya yang malas. Menurutku karate untuk jaga diri, bukan untuk lomba memperebutkan piala.
Karena itu aku kerap menolak bila di tawari sinpai untuk berlomba. Meskipun sabuk berwarna coklat sudah melilit pinggangku. Aku lebih memilih menjadi mentor bagi juniorku untuk persiapan mereka lomba.
Pukul lima lebih bus jemputan kami baru tiba. Satu demi satu kamipun nai ke dalam. Kali ini ada limabelas murid SMU dan SMP. Beberapa ibu-ibu dan kira- kira dupuluh anggota militer yang ikut. Anggota lainnya mungkin pulang terlambat dan akan ada kendaraan.lain yang menjemput mereka. Khusus untuk para prajurit, dan terlarang untuk orang umum. Papa juga berangkat dan pergi naik kendaraan khusus itu.
Sebenarnya perjalanan tidak terlalu lama hanya satu jam saja. Tapi Medan yang harus di tempuh tidak mudah. Jalan yang naik turun dan berbelok tajam. Belum lagi keadaan jalanan yang sepi dan gelap. Jalan yang kami lewati tidak terbuat dari aspal mulus melainkan jejeran batu yang tertanam dan tertata rapih di tanah coklat. Pihak militer yang membuat jalan sepanjang sepuluh kilometer. Tidak jauh sebenarnya, hanya saja kendaraan harus berjalan lambat membuat lama di perjalanan.
Pada belokan 'setengah bola' begitu kami menamainya, seseorang berdiri di tengah jalan menghentikan kendaraan. Seorang prajurit, dengan berseragam lengkap dan senjata yang terkalung di pundaknya. Helm baja dan bajunya penuh dengan tanah coklat.
"Ada apa" tanya seorang anggota yang berada di pintu keluar.
" Siap! Lapor! Ada penyerangan di belokan 'skyland'. "
Para penumpang bergumam kaget. Memang sudah beberapa kali kami mengalami hal ini. Karena memang masih ada kelompok-kelompok yang ingin memberontak.
"Satuan mana yang di serang?"
"Siap! Patroli Kodim 751"
"Ada korban?"
"Siap! Balum tahu Komandan. Saya langsung di suruh keluar pasukan untuk mennyetop kendaraan angkut umum ini."
Anggota militer yang berada di pintu masuk berbalik menghadap kami para penumpang
" Bapak- bapak, Ibu-ibu dan adek-adek samua, perjalanan kita terhambat sebentar ya. Semua prajurit keluar dengan persiapan lengkap."
"Siap komandan!" seru semua prajurit yang ada di dalam bus. Kita yang bukan anggota otomatis langsung duduk di kursi bus untuk memberi jalan pada pasukan. Mereka berjajar keluar dari bus dengan membawa ransel besar yang entah apa isinya.
Tiwi dengan tangan gemetar memeluk lenganku. Aku merangkul punggungnya untuk menenangkan.
"Ayo duduk di lantai ," kata Kak Didi padaku. Aku dan Tiwi duduk di lantai bus. Ini kami lakukan untuk menghindari peluru nyasar atau yang memang sengaja di tembakkan ke arah bus. Sejak SD kami anak-anak prajurit sudah dilatih untuk bertahan hidup.
Aku membantu ibu-ibu yang memasang beberapa plat besi di sisi-sisi bus untuk meredam peluru.
"Adek-adek yang bawa hp di silent dulu ya. Kabari keluarga dulu, terus klo bisa di matikan, supaya GPS tidak terlacak." Kata Om komandan yang tadi memerintah para prajurit. Segera kami memberitahu keluarga dan langsung mematikan hp. Setidaknya menghemat baterai sehingga bisa di gunakan pada saat genting.
Kami duduk di lantai bus dengan diam. Jantungku berdebar sangat kencang, seolah terdengar sampai keluar. Tiwi yang duduk di sampingku, memeluk lenganku dengan kencang. Kulihat keringat dingin mengucur dari dahinya. Beberap helaan nafas ketegangan sesekali terdengar. Kamu harus benar-benar tenang agak bisa mendeteksi dari mana arah serangan. Sangat menegangkan. Tapi juga seru
Beberapa suara tembakan terdengar tidak jauh dari kami berada. Memang belokan Skyland tidak begitu jauh letaknya dengan kami berada saat ini. Aku tidak tahu berapa jarak tepatnya. Yang pasti rentetan tembakan terdengar sangat jelas.
Begitu terdenga rentetan tembakan lagi, kami langsung menunduk sambil memeluk kepala.
"Kak..."Tiwi merintih ketakutan.
"Ssstt...diamlah" bisikku. Tidak Apa-apa, ada om tentara di luar. Jangan takut."
"Tiarap...tiarap..." terdengar suara dari luar. Terdengar jelas gesekan rerumputan di sekitar bus kami.
"Timur waspada! Arah pukul dua!!"
"Sayap kanan!"
"Siap!"
"Sayap kiri!"
"Siap!
"Menyebar...senyap! Formasi gunting!"
"Siap!"
"Laksanakan!"
Suara gesekan rumput terdengar lagi. Pasukan bergerak. Suaranya semakin menjauh. Mereka menjauhi bus kami menuju tempat penyerangan pikirku. Bila pasukan bergerak ke sana lalu kami siapa yang menjaga? Aku mulai khawatir. Apakah kami di tinggalkan sendirian di sini? Bagaimana bila para penjahat bersenjata itu menyerang. Mati konyol kita.
"Kak..." aku menarik-narik baju Kak Didi.
"Dian, kau dekat pintukan?" kata Kak Didi setengah berbisik
"Ya..."
"Coba lihat keluar." Kak Didi langsung mengambil Tiwi dari pelukanku.
"Hati-hati nak." kata seorang ibu.
" Ya Bu..." perlahan aku menuju ke pintu keluar dengan cara merayap dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara. Karena posisiku di paling belakang sehingga dengan mudah menuju pintu keluar bus yang belakang.
Pintu dalam posisi terbuka, aku perlahan menuruni beberapa anak tangga tentu dengan posisi masih tiarap. Baru saja aku hendak mengjulurkan kepalaku. Tiba-tiba.....sebuah tangan besar dan kotor terjulur menangkup kepalaku.
"Mau kemana?!" suaranya berbisik dan sedikit membentak. Wajah tercoret-coret warna hitam dan hijau tiba-tiba muncul dihadapanku. Aku pias membeku sesaat. Mataku terbelalak tanpa kedip. Sesaat jantungku serasa berhenti berdetak.
"Hei..." tangan besar itu sedikit mengguncang kepalaku.
"Astaghfirullah Om....bikin kaget.!" kataku masih tetap berbisik.
Wajah hitam itu tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putih.
"Mau apa?" tanyanya lagi.
"Mau liat apa kami di tinggal sendirian atau tidak."
"Tentu saja tidak. Kami masih ada enam orang di sekitar bus. Jangan khawatir."
Aku menghembuskan nafas lega dengan kepala terkulai. Leganya...
Aku merasakan tangan besar milik om prajurit itu mengacak rambutku.
"Sana kembali ke dalam. Tunggu perintah selanjutnya. Jangan berisik!"
"Siap Om..." Aku mengeluarkan dua butir permen pedas dari kantongku. Kemudian menjulurkannya pada pemilik wajah hitam itu.
"Buat Om, biar nggak bosan jaganya. Ingat Om, jangan buang sampah sembarangan."
Wajah besar dan hitam itu sekali lagi tersenyum. Menyentuh helm bajanya dan mengambil dua permen dari tanganku. Aku merayap seperti kadal kembali berkumpul dengan Kak Didi dan Tiwi. Aku menunjukkan jari berjumlah enam pada orang-orang di dalam bus dan menunjuk keluar. Merek mengerti kodeku. Bahwa ada enam prajurit di luar bus yang masih bersama kami. Terlihat wajah mereka sedikit lega.
Suara tembakan terdengar lagi dan kali ini lebih dekat dengan kami. Suara gesekan rerumputan terdengar lagi. Lebih berisik dari terakhir terdengar. Kami mendengar suara seseorang terjatuh membentur tanah kemudian suara erangan kesakitan. Tenang lagi. Sesuatu tiba-tiba membentur badan bus. Dentingannya terdengar beberapa kali, kami menjerit tertahan. Tidak boleh bersuara, semengejutkan apapun keadaannya kami harus tetap tanpa suara.
Terdengar suara-suara orang berkelahi di luar sana. Hentakan kaki, pukulan yang bertubi-tubi, kemudian suara sesorang tercekik. Tanganku yang sedang memeluk Tiwi gemetaran. Ya Allah lindungilah kami. Kak Didi yang melihat itu, langsung menggenggam tanganku berusaha menenangkan.
Di luar tenang kembali. Suara gesekan di rerumputan terdengar lagi. Sepertinya ada seseorang yang diseret di jalan berbatu. Suara gemeletuk batu berbenturan terdengar jelas sekali. Pemberontak kah atau salah satu prajurit TNI yang di seret di jalanan berbatu itu? Ya Allah semoga kami semua selamat. Aamiin.
Tiba-tiba kami mendengar ketukan bernada, perlahan di dinding bus. Seperti ketukan 'om tolelot om' yang sempat firal waktu itu. Kami semua tahu itu ketukan dari salah seorang prajurit yang memberitahu kepada kami, semua aman terkendali. Okeh...sementara aman. Debaran jantung juga aman... karena mulai mereda.
Untuk beberapa saat kami tidak mendengar lagi suara berisik apapun. Hanya suara hewan malam di kejauhan dan jangkrik yang bersahutan. Sunyi yang menegangkan menurutku.
Kami mendengar sesorang masuk lewat pintu bus bagian depan. Serentak semua mendongak melihat siapa yang datang. Om tentara! Aman....Horeee...
"Semua ok?" tanyanya.
"Siap!" Jawab kami bersamaan. Dia mengacungkan jempol sambil memamerkan deretan giginya yang putih. Karen hanya itu yang terlihat jelas di balik tubuhnya yang terlihat hitam seluruhnya.
"Semua bisa keluar dari bus untuk melemaskan otot-otot. Tapi jangan jauh-jauh. Bantuan akan segera tiba. Cahaya cukup remang-remang dulu ya."
Satu demi satu kami keluar bus. Otot kaki terasa kaku karena hampir tiga jam kami harus duduk tanpa bisa bergerak bebas. Aku membantu Tiwi berdiri karena kakinya katanya mati rasa, alias kebas. Aku dan Tiwi keluar lewat pintu belakang. Karen itu pintu terdekat. Baru saja kakiku menyentuh rerumputan, aku dikejutkan dengan teriakan Tiwi. Kulihat tangannya dicekal sesorang, spontan kutarik Tiwi dan mendorongnya menjauh. Tangan itu terlepas dan dan berusaha menggapai wajahku. Aku mundur, belum sempat menghindar pundakku sudah dalam cengkeramannya. Tubuhku di tarik dengan kasar.
"Kak Dian!" Tiwi mencoba menarik tanganku. Namun tubuhnya yang kecil malah terhempas ke tanah. Aku sendiri merasakan seseorang mencekik leherku dengan tangannya, dan menyeretku menjauh dari bus. Aish....kalau saja keadaan lebih terang meskipun remang-remang, aku bisa melakukan sedikit perlawanan.
"Lampu!" teriakku. Tangan Kasar itu mencekik leherku lebih kuat. Sakit slompret!
"Lepaskan dia!" seorang prajurit tiba-tiba berdiri tidak jauh di hadapanku. Dan sebuah lampu hp menyorot ke arahku dari samping. Kemudian beberapa lampu hp lainnya menerangi keberadaan ku. Penyandera menyeretku menjauh ke arah hutan. Dari caranya berjalan aku tahu salah satu kakinya pasti terluka. Kanan!
"Matikan lampu!" teriak Om tentara yang mengikuti kami. Lampu sorot hp mati, susana kembali gelap. Hanya diterangi oleh cahaya temaram bulan sabit di langit.
Tangan kanannya mencengkeram leherku, sedang yang kiri mengacungkan sebuah pisau besar. Pisau atau golok ya ini? Om tentara dihadapanku mengikuti kami perlahan.
"Jangan mendekat!" teriak penyandera. " Atau anak ini kubunuh!" ia mengarahkan pisau besarnya ke leherku. Terasa dingin dan....perih.
Dadaku terasa berdegup kencang, bergemuruh. Hah...persetan! Tanpa pikir panjang jempol tangan yang menodongkan golok ke leherku langsung kutarik keluar sekuat tenaga. Golok sedikit menjau dari leherku, kesempatan ini ku gunakan untuk menyikut rusuknya sekeras mungkin, kakiku menendang kaki kanan penyandera yang terluka dan bebas!
Eh..belum!
Tanganku rupanya masih sempat di pegangnya dengan kuat. Sebuah tendangan kulayangkan padanya. Meleset! Ia sempat menghindar. Sekali lagi...kali ini menyasar atas... tiba-tiba aku merasa ada yang mengangkat pinggangku. Alhasil tendanganku yang keras menyasar ke wajah si penyandera. Terhempas dia ke tanah. Ternyata Om tentara tadi yang mengangkat tubuhku agar tendanganku tepat sasaran. Ia juga sempat menendang si penyandera sebelum di ringkus oleh prajurit lainnya.
Wah...adegan mendebarkan. Seru! Seperti di film-film laga. Nafasku tersengal-sengal, rasa takut, kaget dan lega becampur jadi satu. Tubuhku rasanya lemas tak bertenaga. spontan aku melorot jongkok, kakiku rasanya berubah jadi jelly. Tidak bisa berdiri.
"Lemas?" tanya Om tentara yang menolongku. Ia berjongkok di sampingku.
"Iya Om. Lemes nih."
"Takut?"
"Banget... Tapi seru!
"Duduk dulu kakinya di luruskan." ia membantu meluruskan kakiku. Kemudian mengeluarkan perban dari salahsatu kantongnya. Dengan perlahan Om tentara membalut tanganku, yang ternyata tanpa kusadari tergores golok tadi.
"Sakit?"
"Nggak Om. Makasih Om sudah membantu saya."
Dia tersenyum dan terlihat gigi putihnya.
"Gadis permen. Ternyata pemberani juga."
"Eh...Om yang tadi?"
"Iya. Lihat lehermu juga terluka. Untungnya tidak terlalu dalam. Hanya tergores."
"Namamu siapa?"
"Dian Om. Om namanya siapa?"
"Ayo saya bantu berdiri. Kita harus kembali kumpul dengan yang lain. Ayo.."
"Nanti Om. Masih lemes kakinya....nggak tau nih . Kaki manja"
"Saya gendong saja ya."
"Tapi..."
Belum sempat Aku melontarkan penolakan, tangan kuat itu sudah mengngkat tubuhku dengan mudahnya. Kemudian ia berbalik memunggungi ku dan hap!.... Sekali angkat aku sudah berada di punggungnya.
"Pegangan. "katanya sambil melingkarkan tanganku di pundaknya yang lebar. Tangannya yang besar melingkar di belakang lututku.
"Maaf Om merepotkan jadinya."
"Tidak apa-apa."
"Maaf Om, saya berat ya? Harus diet ya? Teman-teman bilang saya nggak gemuk, jadi ya nggak pernah diet. Kalau Om cape saya jalan aja Om. nggak apa-apa kok. Tapi pelan-pelan ya jalannya. Kakinya rasanya masih gemeteran."
"Biar saya gendong saja."
Om ini irit banget bicaranya. Bank kata-katanya terbatas kali ya. Dari kejauhan Aku melihat Kak Didi dan Tiwi berlari-lari kecil mendekati kami.
"Dian...kamu tidak apa-apa?"
"Dian tidak apa-apa, Hanya lemas saja. Lukanya juga sudah tidak mengeluarkan darah." jelas Om tentara.
"Luka?" Tiwi langsung memegangi tanganku.
"Om, biar saya yang gendong Dian." kak Didi mengulurkan tangannya.
"Biar saya saja. Ayo kita kumpul sama yang lain. Jangan terlalu lama terpisah. Masih agak bahaya."
Tanpa basa-basi kami langsung menuju bus. Setelah pasukan bantuan datang dengan beberapa tenaga medis. Kami bisa beristirahat di dalam bus dengan tenang. Luka di leher dan tanganku sudah diperban. Begitupula dengan beberapa prajurit yang terluka.
Kami masih harus tinggal untuk beberapa waktu. Pasukan penyisir masih harus berkeliling mengantisipasi serangan susulan. Tadi seorang suster mengatakan memberiku obat tidur agar bisa langsung beristirahat.
Entah berapa lama aku tertidur, mata ini rasanya sulit terbuka. Aku merasakan sedikit guncangan, bus sudah bisa melanjutkan perjalanan kembali rupanya. Pulang kita.
Dalam kantukku, aku merasakan seseorang membelai rambutku beberapa kali.
Beberapa hari setelah kejadian mengejutkan itu, aku bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Mama melarangku sebenarnya, tapi dengan sejuta kata- paksaan dariku akhirnya ijin keluar juga. Tanganku masih harus di perban, karena lukanya cukup dalam. Duabelas jahitan harus aku terima.
Hari ini, sepulang sekolah aku hanya duduk-duduk saja melihat teman-temanku berlatih. Sinpai juga belum mengijinkanku melakukan latihan berat. Hanya pemanasan biasa agar otot tubuh tidak kaku. Kak Didi sedang berada di kota pelajar untuk mendaftar keperguruantinggi incarannya. Kali ini aku bersama Tiwi menunggu truk jemputan kami.
Kulihat Tiwi sedang membeli telur gulung pesanan si bontot. Aku sedang berdiri sambil mengamati tanganku yang masih di perban. Sekilas aku mengingat rentetan kejadian malam itu. Apa kabar Om tentara itu ya? Apa aku masih bisa bertemu dengannya lagi? Ku dengar prajurit yang ada di bus malam itu mendapat pengangkatan pangkat satu tingkat sebagai penghargaan sudah mengusir para pemberontak, menolong satuan yang diserang, juga melindungi masyarakat umum.
" Masih sakit?" tegur seseorang yang sudah berdiri dihadapanku. Aku mendongak, tinggi, besar , berseragam prajurit TNI. Dan tersenyum manis. Tampan juga.
"Tidak lagi Om."jawabku. Sesaat aku tertegun terhipnotis dengan pandangan tajamnya.
"Gadis permen."
"Om...yang itu?" Mataku terbelalak. "Aku kira Om orangnya hitam. Ternyata putih sekali."
Si Om tentara tersenyum, " Suka sama yang putih?"
"Pasti dong. Semua orang suka sama yang putih-putih."
"Aku tidak. Aku suka yang berwarna. Seperti kulitmu."
"Kok bisa?"
"Mau hidup sama Om yang putih ini?"
"A..ap..apa Om?" aku tidak mengerti, mencoba mencerna pertanyaannya. Hidup dengan Om ini? " Maksudnya Om?"
"Aku sudah berbicara dengan Papamu. Memintamu untuk kuhalalkan."
"Papa...mak...maskudnya apa Om?"
"Kamu jadi istri Om. Mau?"
"Hah!?....isstrrrii?" kali ini aku langsung gugup. Apa-apaan ini orang. Tiba-tiba ngomongin istri.
"Tapi tidak sekarang. Tunggu sampai kamu lulus SMU, itu sudah dianggap dewasa dan bisa menikah."
" Tapi...tapi..."aku kehilangan beribu kata yang biasanya dengan mudah terlontar dari bibirku.
Om tentara tersenyum lagi, " Om tidak memaksa. Kalau Dian tidak mau tidak apa-apa."
"Bu...bukan begitu. Tapi..." ah!!...sulit amat berbicara.
"Jadi maukan?"
"I...iya. Tapi..." wajahku terasa menghangat. Pasti merah bak kepiting rebus.
"Tapi lagi....kita diskusi setelah kamu tidak gugup lag, ok?"
"Ya.." itu lebih baik. Tidak main tembak bikin aku mati kutu gini.
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu. Kalau kuingat-ingat lagi rasanya gemas sekali. Tidak ada hujan, angin bahkan badai. Tiba-tiba melamarku langsung ke papa. Aku sendiri seolah tak berdaya menerima semuanya begitu saja.
Tiba-tiba sudah menjadi istri seseorang. Punya anak-anak yang manis. Sibuk dengan rutinitas keluarga. Dan...begitulah.
Panggilan Om saat ini kugunakan bila sedang merayunya. Xixi...genit tapi efektif.
Ini secuil kisah ku. Maaf nama dan tempat kusembunyikan. Demi kenyamanan kita semua.💞💕💞