"Fajar surya mulai menampakkan sinarnya, senandung merdu sahutan ayam jantan dengan kewibawaannya, tak lupa bibir ini mengucap
syukur atas kesempatan menghirup udara pagi nan menyejukkan hati"
"Alhamdulillahilladzi ahyaana ba'da maa amaatanaa wa ilaihinnusyuur," terucap dalam bibirku setiap bangun dari tidur.
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 04.45 WIB. Karena aku sedang datang bulan, jadi bangun jam segitu. Aku beranjak dan merapikan kembali tempat tidurku seperti sunah Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Menyegerakan mandi walaupun saat itu suhu udara terasa dingin sekali.
"Kakak... cepetan dong mandinya. Lama banget sih, kayak ikan kalo lihat air. Betah!" teriak Ira jengkel.
"Sabar lah, Dik. Kakak pun baru aja masuk kamar mandi. Kalo aku ikan jadi, kamu adeknya ikan dong!" balasku setelah keluar kamar mandi.
Seperti biasa di hari minggu ini adalah jadwal kajian islam online. Dan aku menjadi moderator acara tersebut.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, afwan Ukhti Syafa, apakah acara bisa dimulai sekarang? Karena sudah masuk jam 06.50 WIB, jadwal kita jam 07.00 WIB. Mohon tepat waroktu ya, Ukh Syukron ukh." Pesan singkat dari panitia yang terbaca di layar handphone kini membuatku jantungan. Bagaimana tidak? Untuk seorang aku yang baru pertama kali berbicara di depan umum walaupun sekadar lewat layar kotak yang kugenggam ini.
"Astaghfirullahalazim, gimana nih aku belum latihan. Bismillah jangan grogi Fa, tenang." Aku mencoba mengontrol diri, dan segera bersiap membuka aplikasi dan melangsungkan kajian.
Waktu sudah menunjukkan jam 07.00 WIB, aku pun memosisikan diri dan memulai acaranya. Awalnya memang sedikit grogi tetapi lama-kelamaan lancar. Satu jam sudah berlalu, alhamdulillah acara kajian hari ini berjalan lancar dan tepat waktu.
"Ar-rahmaan.... 'allamal qur'an...."
Suara itu masih terngiang di telingaku. Suara merdu dengan irama yang menyejukkan hati. Lantunan ayat suci dari seseorang di seberang sana. Entah sejak kapan, jantung ini berdebar tiada henti. Hatiku bertanya siapakah dia? Entah, aku tidak mengenalinya.
"Astaghfirullah, dosa Fa, dosa!" segera ku menepis perasaan ini dengan mengingat Allah.
Allahu akbar, Allahu akbar...
Kumandang azan bersahutan, menandakan seruan-Nya kepada insan untuk segera dilaksanakan. Dialah tempat kembali seluruh umat manusia di muka bumi. Berserah diri dan merendah
dihadapan-Nya, memohon ampun atas dosa yang telah dikerjakan, merintih di sujud terakhir dalam sholat. Bayangkan kala itu Allah sangat dekat dengan kita dan berkata, "Kemari hamba-Ku, mintalah pada-Ku. Akan Aku kabulkan semua hajatmu, asal kamu mau bersabar."
Segera kubersiap diri dan bergegas menuju masjid yang hanya berjarak 10 meter dari rumah. Aku tidak sendirian, seorang wanita cantik yang selalu menemaniku dari buaian hingga beranjak dewasa. Dia yang biasa kusebut sebagai Ibu.
"Loh Fa, kamu udah selesai uzurnya?" tanya Ibu heran.
"Astaghfirullah, Syafa lupa kalo masih datang bulan, Bu!" jawabku sambil menepuk dahiku.
Dan kini aku melanjutkan menyetrika baju yang tadi sempat kutinggalkan. Hari minggu bagiku adalah hari yang melelahkan. Memang sih holiday tapi tugas rumah numpuk. Tapi enaknya adalah aku punya quality time bersama keluarga. Walaupun hanya sekedar camping di taman belakang rumah, bakar-bakar, sambil memandang luasnya langit yang bertabur bintang. Sungguh, nikmat mana yang mau aku dustakan.
"Kak Syafaaa...," teriakan itu ya siapa lagi kalau bukan Almaira Khoirunnisa.
"Iya Ra, kaka ada di dapur," melangkah mendekati suara yang memanggilku.
"Ada apa sih Ra, teriak-teriak segala," tanyaku heran dengan keadaan Ira yang terengah-engah sambil senyum-senyum.
"Hayo, siapa itu yang di depan? Ganteng banget!" kalian tau muka orang yang lagi ngeledek, ya itu yang sekarang di praktikkan oleh Ira
"ch, ada tamu? Siapa, perasaan temen kakak gak ada yang mau dateng kerumah loh!" menuju ruang tamu dan menemui mereka.
"Wa'alaikumussalam, maaf mau mencari siapa?" tanya kepada seorang wanita yang berdiri membelakangi pintu.
"Hai Fa! Maaf ya, aku gak bilang kalau mau ke sini!" ya sudah kuduga ternyata memang Nabila.
"Maa Syaa Allah, Bil! Kok gak bilang sih kalo mau ke sini.
yaudah masuk yuk!" ajakku sambil menggandeng tangan Nabila.
"Eh bentar, ini aku ke sini sama Revan, Amira, dan Gibran. Yuk masuk!" ajak Nabila ketemen-temennya.
"Oh ya, yuk masuk
jangan sungkan!" lanjutku mempersilakan mereka masuk.
Di antara mereka aku hanya mengenal Nabila, Amira dan Revan. Karena mereka satu komunitas bersamaku. Untuk Gibran aku tidak terlalu tau siapa dia.
"Oh ya Fa, ini Gibran dia member baru di komunitas kita. Nanti jadi bagian anggota dari seksi humas, ya anggota baru kamu nih!" jelas Nabila
"Oh, iya alhamdulillah kalo anggotanya nambah Bil," jawabku singkat.
Perbincangan pun berakhir karena mentari sudah mula menampakkan jingganya Mereka pun segera berkemas untuk segera pulang mengingat besok ada pertemuan komunitas untuk membahas perihal acara kajian rutinan
"Ya udah kita balik dulu ya Fa, besok jangan lupa kumpul di masjid Jangan telat!" pamit Revan mewakilkan teman-teman yang
"InsyaAllah Allah, Van Kalian hati-hati ya!" jawabku sambil mengantar mereka keluar rumah.
Besok pukul 07.00 WIB aku harus sampai di masjid Bayangkan jarak rumahku dan masjid kota tepatnya dekat kampusku sangatlah jauh, hampir satu setengah jam perjalanan. Alhasil aku harus berangkat pagi hari yang suhunya begitu dingin.
"Besok kan katanya ada tamu dari luar kota dan orang itu adalah dia. Seorang pemuda dengan lantunan merdunya, hingge menggetarkan sesuatu yang ada di relung jiwa," gumamku dalam hati yang entah kapan senyuman ini melukis wajahku, mungkin pipi ini juga memerah jika nanti akan bertemu dengan dia.
"Astaghfirullah Fa, sadar ih!" aku menepis lamunanku dan segera beranjak untuk tidur karena sudah hampir jam sepuluh malam
Keheningan fajar berteman dengan dinginnya udara sekitar, menggigil dibuatnya. Dan aku harus melawan arus dan dinginnya angin pagi.
"Alhamdulillah tepat waktu," syukurku atas nikmat yang Allah berikan.
dia
Acara pun berlangsung hingga tiba masanya menampakkan diri. Jantungku mulai beraksi, terus menerus bibir ini mengucap istighfar agar bisa terkontrol rasa yang menggebu ini.
"Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Sebelumnya perkenalkan nama
saya.... suara itu seketika membuatku mematung dan menunduk. Kewibawaannya muncul ketika menceritakan pengalaman berorganisasinya. Dan yang paling mengejutkan sekaligus kabar bahagia bagiku adalah dia akan mengabdikan diri di komunitas yang bernaung di kampus yang aku singgahi.
Kini aku mengetahui sedikit tentang dia. Seorang mahasiswa lulusan fakultas teknik mesin 2019 jalur beasiswa dengan predikat cumlaude. Seorang hafiz 30 juz yang mengabdikan diri sebagai guru mengaji dan menjadi imam salat tetap di masjid komplek tempat dia tinggal. Dan yang membuatku semakin kagum adalah dia terlahir dari keluarga sederhana, tapi didikan yang orang tuanya beri sangatlah luar biasa. Entah mengapa aku termovitasi dari sosok dia. Lebih tepatnya aku terkesima.
"Kok bisa lulusan kampus lain masuk ke kampus kamu, Fa?" Oh ya, jadi gini. Komunitas ini terbuka untuk umum. Jadi siapa pun boleh mengabdikan diri asal mau menaati peraturan yang sudah ditetapkan pihak kampus.
Langit pun sudah melahap habis senja. Allah memberikan waktu siang untuk beraktivitas dan malamnya untuk beristirahat. Aku membuka beranda instagram.
"Cinta adalah anugerah yang Allah kasih untuk kita.
Mengagumi seseorang itu wajar apalagi karena kesalehannya, tetapi
jangan sampai hati ini terperosok jauh hingga menuruti hawa nafsu.
Cukup adukan pada Allah, agar Allah yang mengatur pertemuannya.
Mintalah yang terbaik menurut-Nya. Ikhtiarkan dengan menjaga hati,
jaga pandangan dan memperbaiki diri. Jangan karena makhluk tetapi
semata-mata karena Allah Ta'ala." Sepenggal video di layar
handpohone kini membuatku terdiam dan merenung.
Yaa Allah, terima kasih engkau sudah mengingatkan hamba di kala langkahku mulai berbelok dari jalan-Mu. Batinku diikuti tetesan air berlinang di kedua pelupuk mata. Aku bersyukur dan kini aku sadar bahwa mencintai dalam diam adalah yang terbaik untuk saat ini. Sampai Allah menyatukan hati kedua insan di waktu yang tepat.
Tangan ini meraih pena dan buku kecil bersampul warna biru. Jari mengalun, menari dengan syahdunya. Hingga merangkai kalimat yang mengalir dengan sendirinya.
๐๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข ๐ค๐๐๐ข๐ฅ๐
๐๐ฎ๐ป๐ถ๐ช๐ฐ๐ช ๐๐ช๐ฝ๐ฒ, 3 ๐๐ช๐ท๐พ๐ช๐ป๐ฒ 2021
๐๐ผ ๐ฝ๐ฎ๐ป๐น๐ช๐ท๐ช ๐ธ๐ต๐ฎ๐ฑ ๐ผ๐พ๐ช๐ป๐ช ๐๐ช๐ท๐ฐ ๐ถ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ผ๐ช๐ฝ ๐ฝ๐ฎ๐น๐ช๐ฝ ๐ถ๐ฎ๐ท๐ฐ๐ฎ๐ท๐ช๐ฒ ๐ฑ๐ช๐ฝ๐ฒ ๐๐พ๐ป๐ช ๐๐ช๐ณ๐ช๐ฑ ๐๐ช๐ท๐ฐ ๐ฝ๐ฎ๐ป๐น๐ช๐ท๐ฌ๐ช๐ป ๐ถ๐ฎ๐ท๐ช๐ท๐ญ๐ช๐ด๐ช๐ท ๐ด๐ฎ๐ผ๐ช๐ต๐ฎ๐ฑ๐ช๐ท๐ท๐๐ช
๐๐ด๐ฑ๐ต๐ช๐ด ๐ฒ๐ท๐ญ๐ช๐ฑ ๐ด๐ฎ๐น๐ช๐ญ๐ช ๐ผ๐ฎ๐ผ๐ช๐ถ๐ช
๐๐ฎ๐ถ๐ซ๐พ๐ช๐ฝ ๐ด๐ช๐ป๐ฒ๐ผ๐ถ๐ช๐ท๐๐ช ๐ซ๐ฎ๐ป๐ฝ๐ช๐ถ๐ซ๐ช๐ฑ ๐ผ๐ฎ๐ถ๐น๐พ๐ป๐ท๐ช
๐๐ฎ๐ท๐ช๐ฝ๐ช๐น๐ท๐๐ช? ๐๐ด๐พ ๐ฝ๐ช๐ด ๐ถ๐ช๐ถ๐น๐พ
๐๐ฒ๐ช ๐ซ๐ช๐ฐ๐ช๐ฒ๐ด๐ช๐ท ๐ถ๐ฎ๐ท๐ฝ๐ช๐ป๐ฒ ๐ญ๐ฒ ๐ด๐ช๐ต๐ช ๐น๐ช๐ฐ๐ฒ ๐ญ๐ช๐ท ๐ผ๐ฎ๐ท๐ณ๐ช
๐๐ฎ๐ท๐ฎ๐ท๐ช๐ท๐ฐ๐ด๐ช๐ท.
๐จ๐ช๐ช ๐ก๐ช๐ซ๐ซ ๐ซ๐ธ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ด๐ช๐ฑ ๐ช๐ด๐พ ๐ซ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ช๐ป๐ช๐น?
๐๐ธ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ด๐ช๐ฑ ๐ช๐ด๐พ ๐ถ๐ฎ๐ท๐๐ฒ๐ผ๐ฒ๐น๐ด๐ช๐ท ๐ท๐ช๐ถ๐ช๐ท๐๐ช ๐ญ๐ฒ ๐น๐ฎ๐ท๐ฐ๐ฑ๐พ๐ณ๐พ๐ท๐ฐ ๐ญ๐ธ๐ช-๐ด๐พ?
๐จ๐ช๐ช ๐ก๐ช๐ซ๐ซ...
๐๐พ๐ณ๐พ๐ป, ๐ช๐ด๐พ ๐ถ๐ฎ๐ท๐ฐ๐ช๐ฐ๐พ๐ถ๐ฒ ๐ถ๐ช๐ด๐ฑ๐ต๐พ๐ด-๐๐พ
๐๐พ๐ท๐ฐ๐ด๐ฒ๐ท ๐ฌ๐พ๐ด๐พ๐น ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ถ ๐ญ๐ฒ๐ช๐ถ
๐ข๐ช๐ถ๐น๐ช๐ฒ ๐๐ท๐ฐ๐ด๐ช๐พ ๐ถ๐ฎ๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ๐ถ๐พ๐ด๐ช๐ท ๐ด๐ช๐ถ๐ฒ
๐๐ฒ ๐๐ช๐ด๐ฝ๐พ ๐๐ช๐ท๐ฐ ๐ฝ๐ฎ๐ต๐ช๐ฑ ๐๐ช๐พ ๐ฝ๐ฎ๐ท๐ฝ๐พ๐ด๐ช๐ท
๐จ๐ช๐ช ๐ก๐ช๐ซ๐ซ...
๐ฃ๐ช๐ด ๐ถ๐ฎ๐ท๐ฐ๐ช๐น๐ช ๐ณ๐ฒ๐ด๐ช ๐ฌ๐ฒ๐ท๐ฝ๐ช ๐ฒ๐ท๐ฒ ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ซ๐ฎ๐ท๐ฝ๐พ๐ด ๐ผ๐ฎ๐ฐ๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ฐ๐ช
๐๐ฒ ๐ถ๐ช๐ท๐ช ๐ฑ๐ช๐ท๐๐ช ๐ช๐ด๐พ, ๐ด๐ช๐ถ๐พ, ๐ญ๐ช๐ท ๐๐ฒ๐ช
๐๐ฒ๐ช ๐๐ช๐ท๐ฐ ๐ท๐ช๐ถ๐ช๐ท๐๐ช ๐ช๐ด๐ช๐ท ๐ด๐พ ๐ฒ๐ด๐ฑ๐ฝ๐ฒ๐๐ช๐ป๐ด๐ช๐ท ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ถ ๐ญ๐ธ๐ช