"Berapa lama lagi waktu saya Prof?"
Aku hendak masuk ke ruang rawat untuk menjenguk Mommy yang sedang sakit. Tapi langsung menghentikan langkah saat mendengar suara bincang-bincang Mommy dengan seseorang. Aku ingin tau penyakit apa yang dideritanya selama ini.
"Paling lama ... satu tahun ini."
"Itu suara Prof. Heru Sudjatmoko" batinku.
Prof. Heru adalah spesialis yang selama ini menangani penyakit Mommy.
"Terima kasih sudah membantu saya bertahan beberapa tahun ini. Saya jadi punya cukup waktu untuk melimpahkan cinta dalam hidup Danisha."
Aku tak dapat lagi terus bersembunyi di balik pintu.
"Sebenarnya Mommy sakit apa? Kenapa tidak pernah mau bicara jujur? Mommy tidak memikirkan perasaan Danisha!" teriakku marah.
Mommy dan Prof. Heru terkejut melihatku sudah berdiri di depan pintu. Buket lily putih kesukaan Mommy ku lempar sembarangan.
"Danisha ...."
Suara Mommy yang tercekat dan kerapuhannya tak lagi dapat menutupi kekecewaanku.
"Daddy tidak pernah mencintai Danisha. Selalu menganggapku sebagai pembawa sial. Nisha bertahan untuk tidak gila itu karena cinta Mommy. Tapi Mommy selalu berahasia padaku. Nisha selalu dianggap tidak tau apa-apa!" Air mataku jatuh tak terbendung.
"Jika Danisha tidak pernah dianggap, lebih baik Nisha pergi saja! Jadi Mommy dan Daddy bisa berbahagia lagi. Seperti dulu, sebelum Nisha lahir!"
Aku berbalik badan dan lari meninggalkan ruang rawat Mommy. Hatiku sakit sekali.
"Danisha!"
Suara panggilan Mommy tak lagi terdengar.
Bertahun-tahun Mommy sakit, tapi tak pernah mau mengatakan apa sakitnya. Namun Daddy selalu menuduhku sebagai penyebabnya. Aku masih berharap tuduhan itu salah. Masih berharap hati Daddy melunak jika Mommy kembali sehat seperti dulu.
Tapi tadi Prof. Heru mengatakan bahwa waktu Mommy hanya tinggal setahun lagi. Berita itu pasti akan meledakkan amarah Daddy di rumah. Dari pada aku bertahan di rumah yang hanya akan menimbun rasa kecewa dan benciku, lebih baik aku pergi dari rumah.
Keluar dari Rumah Sakit, aku masih terus berlari. Aku tak peduli orang-orang memperhatikanku yang berlari dengan mata basah. Sampai di persimpangan, aku tak tau mau ke mana.
"Non Danisha! Tunggu Non!"
Aku menoleh. Itu panggilan Mang Sapta, sopir rumah yang selalu mengantarku ke mana-mana. Dia mengejarku yang berlarian di trotoar. Di tangan kirinya ada ponsel. Mommy pasti telah menelepon dan meminta Mang Sapta untuk menahanku.
Aku seketika kembali berlari, menerobos lampu merah di perempatan. Para pengendara itu mengumpatku karena membuat kemacetan di perempatan.
Aku berbelok di blok berikutnya. Dengan begini, meskipun Mang Sapta tadi berhasil lolos dari kemacetan, tetap tak dapat menemukan jejakku. Aku terus berlari hingga akhir blok bangunan itu.
"Sekarang mau ke mana?" batinku?
Ku perhatikan sekitar. Banyak orang lalu lalang di sore ini. Ku putuskan untuk mengikuti arus gerak para manusia itu. Hingga senja turun dan kakiku mulai lelah.
Ku arahkan langkah ke taman kecil di sudut Pusat Perbelanjaan. Aku mulai mengatur rencana untuk menata hidupku tanpa dukungan keluarga. Hal pertama adalah mencari tempat tinggal. Lalu mencari kerja. Aku mereka-reka pekerjaan apa yang bisa ku lakukan. Lalu kos seperti apa yang mungkin bisa ku dapatkan dengan penghasilan itu.
Bangku taman hampir penuh. Aku terus berjalan mencari tempat untuk beristirahat. Kakiku letih dan perutku mulai lapar. Ku lihat sisa uang di dompet.
"Masih cukup untuk beli bakso," batinku.
"Isi perut dulu yang penting. Setelah kenyang, baru bisa mikir," gumamku sambil tersenyum sedih.
Aku mencari-cari Angkringan Bakso yang umumnya ada di taman.
"Tolong ... tolong!"
Aku menoleh ke kiri dan kanan mencari asal suara minta tolong tadi.
"Tolong ... tolong ...."
Aku bergegas ke arah suara itu berasal. Di bagian taman yang sedikit sunyi, seorang Nenek dengan begitu banyak barang bawaan di sepedanya, terperosok ke dalam lubang got.
"Sini ku bantu, Nek. Bagaimana bisa masuk got?" kataku khawatir.
"Jika malam, mata nenek tidak awas lagi," sahutnya.
Ku bantu Nenek itu berdiri dan membawanya duduk di bangku taman yang kosong. Sepedanya yang penuh barang, ku dorong ke arahnya.
"Coba ku lihat. Nih, kaki Nenek terluka. Apa mau ku temani ke Rumah Sakit?" tanyaku benar-benar khawatir. Bagian betis dan tulang keringnya baret-baret dan bernoda darah. Itu pasti sakit sekali.
"Tidak! Tidak usah Cu," tolaknya. Biar nenek istirahat sebentar, baru pulang," katanya lagi.
"Apa rumah nenek jauh?" tanyaku ragu. Meragukan kesanggupan Nenek sepuh ini pulang seorang diri dalam keadaan terluka dan mata yang kurang terang.
"Tidak. Tidak jauh. Jangan kha—"
Perkataan Nenek terhenti ketika mendengar perutku yang berbunyi tak tau malu. Kami berpandangan sejenak, lalu tertawa keras. Aku terpingkal-pingkal hingga mataku berair.
"Kau lucu sekali," ujar Nenek masih dengan suara geli. Senyumnya lebar dan memperlihatkan ompong di gigi depannya.
"Nenek juga lucu sekali," kataku terus tertawa terpingkal-pingkal.
"Ehemm ... sudah. Jangan tertawa lagi. Perut Nenek sudah sakit menahannya," ujar Nenek masih dengan senyum lebar. Tangannya memegangi perutnya erat.
"Tolong ambilkan kotak hijau di dalam keranjang," pintanya.
"Oke." Aku mengeluarkan kotak dari kayu yang berwarna hijau tua, dan memberikannya pada Nenek. "Ini Nek."
Nenek membuka kotak dan memperlihatkan isinya. Ada bermacam-macam penganan kecil yang aku bahkan tak tau namanya.
"Ini, makan dulu. Perutmu pasti sudah sangat lapar." Nenek mengangsurkan sepotong kue ke tanganku.
"Tapi Nek, bukankah ini dagangan Nenek? Apa tidak rugi?" tolakku halus.
"Dagangan Nenek selalu tutup jika sudah malam. Habis tak habis, ya pulang saja. Besok cari rejeki lagi," ujar Nenek bijak.
"Makanlah. Anggap itu sebagai rasa terima kasih karena kau sudah membantu nenek," bujuknya.
Aku mengangguk. "Terima kasih Nek."
Pelan-pelan kami menikmati kue buatan Nenek. Tak terasa air mataku kembali menetes. Betapa orang yang baru ku temui bisa begitu baik padaku? Sementara Daddy membenciku sejak aku lahir ke dunia.
Sebuah tangan halus mengusap-usap punggungku. Aku menoleh. Senyum Nenek menenangkanku. Tanpa sadar ku sandarkan kepala di pangkuannya.
"Apa yang menganggumu?" tanya Nenek hati-hati. Tangannya masih mengelus punggung untuk menenangkanku.
"Mommy sakit. Sudah bertahun-tahun tidak juga sembuh. Tadi aku dengar dokter mengatakan waktu Mommy tinggal setahun lagi," kataku mulai menangis lagi.
"Jika Ibumu sakit, harusnya Kau pulang dan berada di sisinya." Nenek menasehati.
Aku menggeleng. "Aku sengaja pergi, agar Daddy punya cukup waktu berdua dengan Mommy tanpa kehadiranku. Karena Daddy membenciku. Daddy bilang, akulah penyebab Mommy sakit seperti sekarang."
Ku Hela nafas panjang. Hidungku tersumbat karena sudah menangis sejak sore.
"Aku ingin belajar hidup mandiri Nek. Belajar hidup tanpa Mommy."
Nenek menggeleng, tidak setuju dengan pemikiranku. Lalu mendesak, "Beri tau Nenek apa yang paling Kau inginkan!"
"Aku ... aku cuma ingin Mommy sembuh seperti dulu lagi. Biar Daddy tak lagi membenci dan menyalahkanku."
Tangisku kembali pecah. Aku menangis hingga sesenggukan.
"Dulu ... saat muda, Nenek juga punya masalah yang pelik. Saat sudah jatuh begitu dalam dan sudah putus asa, seseorang menyelamatkan Nenek. Dia bilang, setiap masalah itu akan ada jalan keluarnya. Kita hanya perlu bersabar menjalaninya. Dia memberi Nenek kalung ini, dan meminta Nenek untuk terus berbuat baik selama hidup."
Aku mendengarkan cerita nenek di sela-sela tangis. Tidak terlalu peduli. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Sampai kemudian aku terkejut ketika Nenek memasangkan sebuah kalung di leherku. Kalung itu bercahaya saat menyentuh kulitku.
"Apa ini Nek?" tanyaku tak mengerti.
"Berjanjilah pada Nenek, kau akan selalu berbuat baik seumur hidupmu. Perbuatan baikmu mungkin bisa memanjangkan usia Ibumu. Mungkin juga bisa melembutkan hati ayahmu," ujar Nenek sambil tersenyum tulus.
"Benarkah?" tanyaku tak percaya.
"Segala hal jadi mungkin jika Kau, mempercayai dan mengikuti petunjuk kalung itu." Nenek mencubit kedua pipiku gemas.
"Petunjuk?" tanyaku masih bingung.
"Nanti kau akan mendapatkan petunjuk dan tugas-tugas untuk berbuat kebaikan. Lakukan sebisamu."
"Sekarang pulanglah. Berjanjilah pada Nenek, kau tidak akan meninggalkan mereka seperti ini lagi."
Nenek menatapku serius. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa segan padanya.
"Baik, aku akan pulang. Tapi, biar ku antar Nenek pulang dulu. Kaki Nenek masih sakit," bantahku.
"Tidak perlu. Itu Kakek sudah menyusul ke sini."
Aku melihat ke arah mana tatapan Nenek. Di sana berdiri seorang Kakek yang ku tebak, pasti sangatlah tampan di masa mudanya. Kakek tersenyum mesra dan dibalas Nenek dengan kehangatan yang sama.
"Ehemm ... baiklah. Karena Kakek sudah datang menjemput, maka aku bisa pulang dengan tenang," kataku tersenyum.
"Anak yang baik. Ingat pesan Nenek. Lakukan semua tugas untuk berbuat kebaikan pada sesama. Maka Kau akan bahagia."
"Iya Nek, aku pamit dulu," ujarku sambil mencium tangan Nenek dan Kakek.
Aku melambaikan tangan dan melangkahkan kaki dengan ringan. Begitu aku keluar dari taman, Mang Sapta baru saja lewat di depanku.
"Mang!" panggilku.
Mobil berhenti, lalu mundur ke arahku berdiri. Aku langsung membuka pintu mobil dan masuk.
"Pulang!" kataku yakin.
"Non ke mana saja tadi? Mamang cariin berputar-putar ke seluruh kota," protes Mang Sapta.
"Mommy bilang apa?" tanyaku acuh.
"Nyonya bilang, Mamang gak boleh pulang sebelum ketemu Non Danisha dan membawa pulang," gerutunya.
"Xixixiii...."
Aku terkikik geli melihat ekspresi Mang Sapta dari kaca mobil.
*
*
Sejak hari aku berjumpa Nenek di taman, aku berusaha berbuat baik pada siapa saja seperti yang ditugaskan kalung itu. Bahkan pada kucing-kucing dan burung-burung liar di taman. Sesekali aku menyempatkan untuk datang ke taman itu, berharap bertemu Nenek penjual kue itu lagi. Aku ingin berterima kasih padanya.
Sekarang sudah lewat lima tahun sejak kejadian itu, kesehatan Mommy menjadi lebih baik. Dan Daddy juga mulai menyayangiku.
Aku percaya, bahwa usaha tidak mengkhianati hasil. Kesabaranku berbuah manis. Keluarga kami kembali harmonis.
Tapi aku tidak akan berhenti melakukan kebaikan. Bukan lagi demi Mommy dan Daddy, tapi demi kebahagiaan batinku sendiri.
Berbagi dan berbuat baik pada sekitar, ternyata dapat membawa kebahagiaan pada diri kita sendiri.
Kamu percaya?
Short Story' by: Seruling Emas