Sebuah hamparan hijau seakan menunggunya, bau rumput dan tanah yang basah seakan mengerti apa yang ia rasakan saat ini, sebuah perasaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Nada seorang gadis berusia 16 tahun, memandang sebuah gundukan tanah yang masih basah, dengan pipi yang juga sama basahnya, ia menangis dan menangis.
"Ayah, mengapa semua ini harus terjadi?, Nada sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk Ayah dan Ibu, tapi mengapa Ayah tidak pernah mengerti?, Nada tidak pernah melakukan hal-hal seperti yang mereka tuduhkan", tangisnya kembali terdengar diantara semilir angin, langit yang mendung seolah ikut merasakan apa yang dirasakan gadis itu.
🌧️🌧️🌧️
Hubungan Pak Malik dan anak gadisnya yang bernama Nada memang tidak pernah baik, keduanya ibarat air bertemu minyak, sedangkan Ibu nya Nada yang bernama Hanifah terjepit diantara keduanya, ia selalu serba salah dan ujung-ujungnya dia tidak bisa menentukan kepada siapa dia harus memihak, karena keduanya sama-sama benar.
Nada bukanlah gadis yang terbuka, ia selalu menyimpan semua rasa dalam hati, hal inilah yang tidak bisa diterima ayahnya, Pak Malik ingin anak satu-satunya ini sedikit terbuka padanya, hanya saja mungkin cara mengungkapkannya saja yang salah.
Nada menyadari bahwa dirinya bukanlah berasal dari keluarga mampu, ayahnya hanyalah seorang kuli panggul di pasar, sedangkan ibunya hanya buka usaha kecil-kecilan seperti menjual es dan juga jajanan untuk anak-anak. Jadi tanpa setahu orang tuanya sepulang sekolah ia bekerja di sebuah warung kopi milik seorang janda yang bernama Tante Ani, gajinya lumayan, karena tempat itu selalu ramai.
Sesuai dengan perjanjian, Nada hanya bekerja sampai jam 6.00 sore, dari jam 6.00 sore sampai malam hari, temannya yang bernama Susi dan juga Indah yang menggantikannya. Mereka hanya bertugas membuatkan pesanan minuman dan menghidangkannya bersama cemilan ringan, selebihnya Tante Ani yang menemani para pengunjung berbincang-bincang, tidak ada yang aneh mengenai hal itu.
Karena ayahnya bekerja sampai malam, maka yang tahu tentang apa yang Nada kerjakan hanyalah ibunya. Ibu Hanifah tidak mempermasalahkan hal itu, karena dimatanya anak gadisnya itu tidak pernah memperlihatkan gelagat yang mencurigakan. Seperti biasanya ayahnya pulang jam 7.00 malam, dan karena sudah capek bekerja, ayahnya cepat sekali tidur.
Uang hasil kerjanya di warung Nada simpan sendiri, ia berencana pada saat ayahnya ulang tahun ia akan membelikan sebuah hadiah yang lumayan mahal untuk ayahnya. Ibunya mendukung niatnya itu.
Semuanya berjalan lancar, sampai pada suatu hari secara tidak terduga ayahnya ditraktir minum kopi di warung Tante Ani. Yang mentraktir ayahnya adalah teman sekolah Pak Malik pada waktu SMP dulu. Awal mulanya mereka membicarakan tentang masa-masa sekolah dulu serta keadaan teman-teman mereka saat ini. Pada saat itu pandangan teman Pak Malik seolah-olah mencari seseorang.
"Bapak dari tadi seperti sedang mencari seseorang?, kalau boleh saya tahu siapa yang Bapak cari?", tegur Tante Ani.
"Perasaan saya pernah melihat seorang gadis yang menjadi pelayan di sini, seorang gadis manis", Jawab temannya Pak Malik.
"Oh, apa Nada yang Bapak cari?", jawab Tante Ani.
"Nada masih sekolah Pak, jadi dia hanya bekerja sampai jam 6.00 sore", lanjutnya lagi.
Pak Malik agak terkejut mendengarnya, nama anak gadis yang dicari oleh temannya mempunyai nama yang sama dengan nama anaknya. Jantung Pak Malik berdetak tidak karuan. Ia sangat mengenal sekali kelakuan temannya itu.
Besoknya Pak Malik pergi bekerja seperti biasanya. Nada sepulang sekolah pergi membeli hadiah untuk ayahnya bersama teman satu kelasnya. Dengan gembira ia lalu menunjukkan hadiah itu kepada ibunya dan dengan cepat menyembunyikan hadiah itu di suatu tempat.
Nada kembali bekerja di warung Tante Ani, tanpa setahu dirinya ternyata Pak Malik pulang lebih cepat dan langsung menuju warung Tante Ani, Pak Malik hanya bisa terdiam melihat anaknya sedang melayani para pembeli, ada rasa sakit di dadanya, warung itu mempunya reputasi yang buruk, sudah sering menjadi buah bibir di kalangan masyarakat sekitarnya. Dan sekarang apa yang ada dihadapannya adalah anak gadis satu-satunya.
Secara perlahan ia mendekati Nada dengan menahan marah ia berkata," Nada, ayo pulang, ada yang harus Ayah bicarakan denganmu".
Nada menoleh, alangkah terkejutnya ia melihat ayahnya berada tepat dihadapannya dengan pandangan yang penuh amarah. Tante Ani melihat hal itu, segera menyuruh Nada pulang, ia tidak mau ada keributan di warungnya.
Di perjalanan pulang, ayah dan anak itu hanya saling diam. Sesampainya di rumah, Pak Malik langsung memanggil istrinya dan menanyakan apakah selama ini istrinya itu tahu apa yang telah Nada lakukan selama ini.
Bertambah besar kemarahan Pak Malik setelah Pak Malik mengetahui bahwa istrinya ternyata mengetahui apa yang Nada lakukan, ia adalah laki-laki yang menjunjung tinggi kehormatan perempuan, walau ia hanyalah seorang pekerja kasar, ia tidak mau keluarganya melakukan hal yang tidak pantas.
Tanpa mau mendengar perkataan istri dan anaknya, Pak Malik mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya ia ucapkan, ya, ia menyebut anaknya itu adalah seorang perempuan n***l. Istrinya hanya bisa menangis, sedangkan Nada tidak terima dengan perkataan ayahnya itu, mereka bertengkar hebat, dan berakhir dengan ambruknya tubuh Pak Malik.
Ketika akan dibawa ke rumah sakit nyawa Pak Malik tidak tertolong lagi, dia meninggal saat itu juga, hasil diagnosa dokter, Pak Malik terkena serangan jantung.
Dunia Nada terasa runtuh, ia tidak menyangka semua yang ia lakukan sia-sia belaka.
🌧️🌧️🌧️
Sekarang Nada duduk di samping pusara ayahnya sambil berkata," Ayah, mengapa Ayah tidak mau mendengarkan penjelasan Nada?, Nada tidak pernah melakukan hal yang Ayah benci, Nada sayang Ayah, Nada hanya ingin membahagiakan Ayah, Nada ingin membelikan Ayah hadiah, walaupun itu hanyalah sebuah motor bekas, Nada tidak ingin Ayah terlalu capek, setidaknya Ayah pulang tidak perlu berjalan kaki lagi, mengapa Ayah malah pergi meninggalkan Nada, apakah Ayah tidak sayang sama Nada?, Ayah bangunlah, tolonglah jawab pertanyaan Nada?, Ayah!", air mata mengucur deras dari pipinya.
Perlahan rintik air hujan membasahi bumi seakan ikut bersedih.
🌨️TAMAT🌧️
Kadang kala kita sebagai anak, tidak mengerti dengan apa yang ada didalam pikiran kedua orang tua kita, kita selalu menganggap orang yang telah melahirkan, menjaga dan merawat kita adalah orang yang egois dan terlalu mengekang, tapi ketahuilah ada banyak rasa sayang dibalik semua itu.
I love You Mama dan Papa, aku bahagia mempunyai orang tua seperti kalian. You are my everything..💞💞💞