Akatsuki club
Entah sudah berapa kali dirinya menenggak Vodka, yang jelas dipikirannya hanya minum,minum dan minum.
Hatinya berdenyut nyeri jika teringat kejadian yang dilihatnya sebelum kemari dan berakhir dengan minum berbotol-botol Vodka.
Iris tembaganya meredup, seperti tak ada semangat hidup.
"Sialan" desisnya tajam, ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Hancur sudah apa yang diimpikannya, membayangkan sang pujaan hati bersanding dengan orang lain saja ia tak mampu. Apalagi melihatnya secara langsung?
"Harusnya aku yang mendampingimu, harusnya aku yang berada disana" ucapnya parau.
Hatinya berdenyut perih saat kilasan kejadian itu terulang.
Flashback
Ia melangkah dengan pasti, tak bisa dipungkiri jantungnya berdegup kencang meski ia terlihat biasa saja. Gugup, itulah yang dirasakannya. Ia Sudah menantikan hari bahagia ini, awalnya ia tak percaya sampai harus membuktikannya sendiri dengan mencubit ataupun menjambak rambutnya yang tadinya rapih kini berantakan.
Saat ingin melangkahkan kakinya keluar ruangan, ia mendengar isakan di ruang sebelahnya. Karena rasa penasarannya yang tinggi, ia mendekatkan telinga nya ke sisi pintu yang menjadi pembatas.
Jelas, sangat jelas ia mendengarnya. Ternyata sang ibulah yang menangis, namun ia juga mendengar isakan yang lain ia hampir tak percaya mengingat sosok Itu tak pernah menunjukan rasa sedih sedikitpun.
"Sei-kun hiks.. Hiks-" ini suara ibunya, tapi mengapa ibu menangis? Ia bertanya dalam hati.
"Oka-sama, jangan menangis. Aku sudah bilangkan? Aku baik-baik saja. Kumohon jangan bersedih ini hari bahagianya" suaranya lembut, namun lirih. ia hampir saja tak mengenalinya.
"Tapi Sei-kun! Kenapa kau tak berjuang lebih keras lagi? kenapa kau menyerah begitu saja?" nada ibunya terdengar sangat frustasi, ia penasaran sebenarnya apa yang mereka bicarakan?
"Aku memang bukan jodohnya Oka-sama, mengertilah" kini suaranya terdengar jelas.
Sei-kun tadi ibunya memanggil nama kakaknya, berarti suara tadi.. Tidak salah lagi!
"Tapi kau juga mencintainya! Ka-san tidak sanggup melihatmu begini Sei-kun. Ka-san tau, dalam lubuk hatimu menantikan janji suci dengannya kan? Jujurlah pada Ka-san sayang. Kau tahu? Hatiku hancur saat melihatmu hancur anakku" entah mengapa ia mengukir senyum miris. Ini hari bahagianya, mengapa harus sekarang?
Mendengar pembicaraan mereka walau sedikit, ia tahu apa penyebabnya. Penyebab mereka bersedih dihari bahagianya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengalah padanya?" ia bergumam lirih, hanya dirinya lah yang mendengar.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat nya tersadar, ia bangun dan membenah diri. Ia tak boleh membuat orang curiga padanya setelah melihat penampilannya yang sedikit berantakan.
"Masuk!" ucapnya mempersilahkan si pengetuk pintu.
Ia melihat Tou-sannya tersenyum tulus seraya menghampirinya, tak dipungkiri matanya langsung memanas saat berpandangan dengan sang ayah.
Sasori mendekap putranya erat, berharap bisa menyampaikan rasa kasih yang selama ini ia pendam.
"Tou-san ak-"
"Lakukan bila menurutmu itu benar anakku, ikutilah apa kata hatimu " Sasori memotong ucapan Karma.
Karma mengerjapkan matanya kemudian menghapus lelehan air yang turun di pipi nya yang sedikit tirus.
Benar apa yang dikatakan ayahnya, ikuti kata hati. Kini ia menatap iris yang hampir sama dengannya. Senyumpun terbit di wajahnya yang tampan.
"Aku tau Tou-san, arigatou" ucapnya sambil memberi hormat pada Sasori kemudian keluar ruangan.
Sasori mengulas senyum, ia tahu apa yang ada dipikiran putra bungsunya itu.
Altar
Karma berdiri sambil menyalami tamu yang datang di upacara pernikahannya, banyak teman-temannya yang hadir. Kecuali Nagisa, ah pria mungil itu membuatnya iri meski sedikit. Ia tak bisa hadir karena istrinya Kayano sedang melahirkan dirumah sakit. Sungguh mengejutkan bukan? Namun ia diwakili oleh sepupunya yaitu Kuroko Tetsuya, mengingat sepupu dari sahabatnya ia jadi teringat pada kakaknya.
Upacara akan segera dimulai, para tamu telah duduk di bangku yang telah disediakan. Pendeta sudah berdiri di hadapannya, tinggal menunggu sang mempelai wanita.
Dentingan bel pernikahan telah dibunyikan, Karma menoleh. Dan benar saja, ia melihat mempelainya tengah berjalan kearahnya dituntun oleh sahabatnya Sasuke. Karena gadis pujaannya tak memiliki orang tua, ia besar di panti asuhan. Namun Karma tak memperdulikan itu, yang terpenting adalah hati.
Hati, jika ia menikah dengannya hari ini. Ia akan menyakiti hati kakaknya, ia tidak mau hal itu terjadi. Sudah cukup, cukup sudah.
Semakin dekat mempelai wanita, semakin berat pula langkah yang diambilnya.
Kini Sasuke menyerahkan Tenten padanya, ia pun mengucap terima kasih meski tak rela.
Pandangannya beralih pada kakaknya yang juga tengah menatapnya, Karma melihat Seijurou mengulas senyum meski gagal, karena ia tau kakaknya terpaksa.
Saat sang pendeta akan memulai acaranya ia melepas tangan mungil yang sedari tadi ia genggam. Ia tahu Tenten mengarahkan pandangan penuh tanya padanya, namun ia tidak peduli.
"Gomennasai" ucapnya pelan, sang pendeta menatapnya bingung.
"Bukan aku yang akan menikah, tapi kakakku. Akashi Seijurou" sambungnya kemudian.
Para tamu undangan berbisik-bisik, Karma tidak peduli. Sedang Seijurou masih terpaku karena mendengar sang adik menyebutkan namanya.
Karma melangkah mendekati Seijurou, lalu ia menggandeng tangan kakaknya untuk menuju ke Altar.
"Kumohon nii-sama, bahagia kan dia, berjanjilah padaku" ucapnya dengan lirih, suaranya bergetar walau sedikit.
"Apa maksudmu Karma ak-" ucapan Seijurou terpotong.
"Aku tahu semuanya kumohon berbahagialah dengannya" Setelah mengucapkan kalimat tersebut Karma meraih tangan Tenten dan Seijurou lalu menyatukannya.
"Berbahagialah, aku mendukung kalian" senyum tulus terulas, Karma berbalik dan berjalan menuju Sasori.
"Apa yang kau lakukan sudah benar nak, Tou-san bangga padamu" ucapnya tulus.
Karma hanya mengangguk untuk menanggapi sang ayah, kini matanya tengah tertuju pada pengantin yang tengah mengucap ikrar suci di altar.
Sampai ketika Seijurou dan Tenten menghadap satu sama lain, menasangkan sebuah cincin di jemari mereka. Dan berciuman untuk mengesahkan pernikahan mereka. Karma mengalihkan pandangannya, ia melihat keluar jendela Gereja.
Tanpa sadar ia melangkah menuju kesana, beberapa kali Sasori memanggilnya namun Karma tak menggubris.
Sosok itu, rambut pirangnya masih sama, senyumnya pun masih sama, senyum manis terulas meski sedikit.
"Hei Bakamura, kenapa kau duduk disini?" uapnya dengan nada mengejek. Sang pemilik surai pirang menoleh, bola matanya berbinar saat ia mendapati Karma duduk di sampingnya.
"Kenapa pengantin pria berkeliaran disini? Ah aku tau! Pasti pernikahan mu gagal benarkan? Aku yakin tak ada wanita yang tahan denganmu, mengingat sikap dan sifatmu seperti itu, saat kita sekolah dulu pun tak ada gadis yang ingin berteman denganmu selain aku" ungkapnya dengan penuh percaya diri, Karma sampai terkekeh mendengar nya.
"Kau benar, tak ada tang tahan dengan sikapku" balasnya lirih.
"Lalu apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengubahnya?" tanya nya dengan suara parau.
Gadis pirang itu tau, sahabatnya oh ralat teman sejawat kejahilannya nya sedang terpuruk.
Rio mendengus samar sebelum mengatakan kalimat.
"Kau tak perlu merubah dirimu, jadilah dirimu sendiri, aku yakin suatu saat nanti kau pasti menemukannya" uapnya sedikit ragu.
Karma menyeringai, la menatap Rio dengan tatapan meremehkannya.
"Lihat siapa yang berbicara" balasnya pedas.
Flashback off
"Karma! Karma! Woy bangun setan merah!" pelipis Maehara berkedut, jujur saja ia kehabisan cara untuk membangunkan Karma.
Puk!
Ia menoleh, melihat siapa yang menepuk bahunya.
"Biar aku yang mengurusnya Mae" ucap Rio.
Maehara memandang nya tak yakin, tapi kemudian ia mengangguk mengiyakan. Bagaimana pun, teman pirangnya ini bisa dipercaya, mengingat dulu mereka adalah teman akrab.
"Baiklah, kuserahkan dia padamu!" setelah mengatakan hal itu Maehara kembali melayani para tamu.
Rio langsung memapah sahabatnya menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, Rio ragu apa ia mengantarkan Karma pulang atau tidak? Setelah melihat keadaan Karma, Rio memutuskan untuk membawanya ke apartemen miliknya. Rio memandang wajah Karma dengan tatapan sendu, jujur saja ia sedih melihat sahabatnya seperti ini.
Sahabat? hubungan yang tak bisa di lepas olehnya.
Rio tersenyum miris kemudian ia mencium dahi Karma.
"Seandainya kau membuka hatimu untukku"
****
Seijurou dan Tenten kini mereka tengah duduk berhadapan, raut Tenten cemas. Bukan hanya Tenten, Seijurou,Sasori dan Karin mencemaskan Karma yang belum juga pulang. Malam makin larut, acara resepsi pun telah usai dari satu jam yang lalu.
"Sei" panggil Sasori pelan pada putra sulungnya.
Seijurou mendongak menatap sang ayah, ia tidak menjawab namun menanti apa yang akan di ucapkan oleh ayahnya.
"Bawa Tenten ke kamar, dia butuh istirahat" ungkapnya kemudian, ia melirik Karin dari ekor matanya.
"Kalian istirahat lah, biar aku yang menunggunya pulang, aku tau kalian lelah"
Mereka hanya mengangguk mengiyakan, meninggalkan Sasori yang kini duduk sendirian di sofa.
"Tuhan.. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka, apakah salah?" tanya nya pada diri sendiri.
****
"Apa kau bahagia?" tanya Seijurou pada istrinya.
"Ya, aku memang bahagia. Tapi.." Tenten menjawab namun ia bingung.
"Tapi?"
"Aku tak tega melihatnya seperti itu Sei"
Seijurou tahu ini akan rumit, namun ia tak akan menyianyiakan kesempatan ini.
"Kau tahu? Ia ingin melihat kita bahagia, maka dari itu kau jangan menangis hm? Tersenyumlah" ucap Seumurku sambil mengulas senyum tulus.
Tenten mengangguk, senyum Seijurou menular padanya.
End..