Srakk
Srakk
Srakk
Kedua kaki depanku masih mengais diantara tumpukan plastik dan kertas serta benda lainnya yang sudah berbau busuk, hidung yang tajam dalam mencium bau masih mengendus satu per satu tumpukan kotor dan menjijikkan tersebut.
Meong ....
Meong ....
Suara yang sarat akan permohonan terdengar dari mulutku dengan gigi yang tajam, buluku yang tidak berkilau bahkan terkesan kumal sudah basah kuyup terkena gerimis.
Hampir setiap hari aku pergi ke tempat yang membuat diriku merasa bahagia, di mana aku bisa menemukan sisa makanan kecil dan sudah basi yang dibuang para manusia.
....
"Nekko, kenapa Sachi diam saja?" tanya Aino temanku, dia menangis, sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi. Sachi temanku tergeletak di bawah benda besar, kepalanya berdarah bahkan hampir tidak kukenali.
"Aino, ada apa ini? Kenapa Sachi berdarah?" teriakku pada Aino, aku sangat terkejut setelah kembali dari tempat sampah, aku bermaksud memberitahu kedua temanku bahwa ada tempat sampah baru untuk kami mencari makan.
"Tadi Sachi bilang sangat lapar lalu dia berbaring untuk menunggumu," jelas Aino dengan terbata lalu menambahkan, "tapi benda ini tiba-tiba berjalan dan menindihnya."
Aino temanku menangis, tatapannya tertuju pada sebuah benda yang aku tidak tahu apa namanya, sering digunakan para manusia saat mereka bepergian.
Aku tidak bisa berbuat apa pun, Aino dan diriku hanya bisa menjilat darah Sachi yang terus keluar dari kepala dan lehernya, berharap Sachi bisa segera sembuh dan sadar.
Sudah beberapa jam, tapi Sachi tidak bangun juga, bulunya yang putih bercampur coklat terang semakin lepek. Aku dan Aino hanya bisa berbaring di sisinya, beruntung ada benda besar lain yang melindungi tubuh kami dari guyuran hujan.
Apa yang harus kami lakukan untuk menolong Sachi,? Ya Tuhan, apa yang terjadi pada temanku?
'Ya ampun, kasihan sekali!'
Aku dan Aino sangat terkejut mendengar suara seorang manusia, dia memiringkan kepalanya untuk melihat kami bertiga yang berada di bawah benda besar.
"Nekko, aku takut, mau apa manusia itu?" tanya Aino, dia berkata dengan gugup.
"Aku tidak tahu, Aino," jawabku, manusia itu mengulurkan tangan dan menarik tubuh Sachi keluar. Dia memegang benda yang melindungi tubuhnya dari air hujan.
"Jangan! Sachi sedang sakit, jangan lukai dia!" sergah Aino, sepertinya dia sangat khawatir pada Sachi.
Meaow ....
Aino menggeram, tetapi manusia itu malah tersenyum, manusia dengan bulu yang tidak terlalu panjang berwarna putih tumbuh di kepala dan bagian wajahnya, di kulitnya terdapat banyak kerutan, dia menggendong Sachi dengan hati-hati.
'Kucing yang malang, dia mati, teman kalian sudah mati!'
Manusia itu berkata sambil mengusap tubuh Sachi, rasanya sakit sekali di dalam dadaku, Sachi sudah seperti adik bagi diriku, kami sudah bersama sejak enam bulan yang lalu. Sachi baru berusia satu bulan saat pertama kali kami bertemu.
Mungkin saat ini wajahku dan Aino terlihat seperti biasa, tapi jauh di dalam hati, kami berdua merasa sangat sedih atas kepergian Sachi.
'Kakek akan menguburnya, kalian lebih baik pergi dari tempat ini, carilah rumah yang aman!’
Manusia itu menyuruh kami pergi, tetapi tubuh kami malah mengikuti langkahnya. Aku masih ingin melihat Sachi sampai dia benar-benar terkubur di dalam tanah.
"Sekarang kita ke mana, Nekko?" tanya Aino, tatapan matanya terlihat sayu. Setelah mengubur Sachi, manusia itu pergi, tetapi sebelumnya dia memberi sedikit makanan untuk mengganjal perut kami yang belum terisi sejak kemarin.
Aku tidak akan melupakan kebaikan manusia tersebut, semoga Tuhan membalas semua dengan imbalan yang setimpal.
****
Kami berjalan menjauhi gundukan tanah merah yang di dalamnya terbaring jasad teman kami berdua, Aku dan Aino harus melanjutkan hidup tanpa Sachi.
Setelah sang kakek pergi, kami tidak tahu harus ke mana. Harapan mendapat rumah baru sepertinya hanya mimpi belaka, karena ternyata sulit menemukan manusia yang mau memelihara kucing liar seperti diriku dan Aino.
Sampailah kami di depan sebuah tempat yang dinding dan pintunya terbuat dari kaca, Aku dan Aino berhenti untuk beristirahat setelah berjalan jauh.
Kedua pasang mata kami menatap ke dalam sana menembus dinding kaca yang memperlihatkan semua aktivitas yang terjadi di tempat tersebut.
Banyak manusia yang duduk sambil memakan semua hidangan yang disajikan, tidak satu pun dari mereka yang menyadari kehadiran kami, hewan kecil yang menatap penuh harap mereka akan berbagi sedikit makanan.
....
"Nekko, lihatlah banyak sekali makanannya, itu pasti sangat enak!" seru Aino, matanya berbinar melihat sepotong daging yang sedang dimakan manusia yang memiliki bulu hitam panjang di kepalanya.
"Iya, itu benar.” Mataku juga tertuju ke sana, tidak bisa kupungkiri, hatiku merasa senang melihat makanan yang melimpah di dalam sana.
"Apakah kita bisa masuk dan makan bersama mereka?" Aino kembali bertanya.
'Hei, hushh, pergi kalian!'
'Hushh ... Hushh ...!'
Seorang manusia mengusir kami, dengan terpaksa aku dan Aino berlari karena takut manusia itu membawa benda untuk memukul kami. Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja aku pernah mengalaminya, dipukul dengan keras dan itu sakit sekali.
Aku dan Aino sudah merasa lelah, kami lapar dan kedinginan, buluku yang kelabu masih basah, begitu pun bulu kuning Aino. Entahlah kenapa hujan terus mengguyur bahkan sampai langit sudah menjadi gelap.
Sebuah kotak kertas berwarna coklat menjadi tempat berlindung kami saat ini, kotak bekas makanan dengan wangi yang menyegarkan, ada yang berwarna merah, kuning juga hijau, dengan bentuk yang sangat lucu.
Seandainya kucing bisa memakan makanan itu, pasti sangat menyenangkan. Kami tidak perlu mencari makanan yang berbau amis yang sulit untuk dicari.
Aku melihat Aino yang tidur dengan posisi tubuh yang melingkar, terlihat nyenyak padahal aku tahu perutnya kelaparan, tapi para kucing liar seperti kami bisa bertahan seharian tanpa makanan.
“Tunggulah, Aino, Aku akan mencari makanan untukmu,” ucapku, segera kupergi ke sebuah tempat yang disebut ‘Pasar’ oleh para manusia. Langkahku pasti menuju kesana, di mana banyak ikan segar yang baru mati. Manusia selalu melakukan pertukaran satu sama lain, ikan itu ditukar dengan benda berbentuk lembaran warna-warni.
Ah, sepertinya keberuntungan sedang memihakku, ada potongan kepala ikan yang cukup besar tergeletak di bawah, tanpa ragu segera kuambil dengan menggunakan mulut, gigiku yang tajam menancap di daging ikan yang sedikit licin.
Srett
Srett
Meaow ….
Aku mengerang, sesuatu yang tajam menggores punggungku, terasa sedikit perih, beruntung benda itu tidak menancap sepenuhnya karena terhalang oleh buluku.
“Ikan itu milikku! Cepat berikan padaku!” Seekor kucing besar berbulu hitam menunjukkan taringnya seolah mengatakan bahwa dialah penguasa tempat tersebut.
Sebagai sesama kucing jantan, aku tidak ingin menyerah. Terkadang perlawanan dibutuhkan untuk mempertahankan apa yang menjadi milik kami.
“Aku yang melihatnya lebih dahulu. Kau bisa mencari di tempat lain!” bentakku. Kucing itu semakin marah, dia menyerang dan aku tidak bisa menghindar dari perkelahian.
Si hitam mencakar, menggigit dan terkadang menendang. Tubuhnya yang lebih besar jelas membuatku kewalahan, tetapi kugunakan satu kesempatan untuk mencakar wajahnya, dan itu berhasil. Dia terlihat kesakitan, tanpa menunggu lama aku segera pergi dengan kemenanganku mendapatkan kepala ikan.
….
Purrr
Purrr
Aku kembali dan segera membangunkan Aino, tetapi ada yang aneh dengan temanku, dia terlihat lebih lemah dari sebelumnya, ada luka di atas mata kiri kucing betina itu.
“Aino, bangunlah! Kau kenapa?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Ada manusia yang melemparku dengan batu,” jawab Aino dengan suara yang lemah, aku sangat terkejut.
“Apaa? Tapi kenapa mereka melemparmu?” tanyaku untuk yang kedua kali, kenapa hal itu bisa terjadi?
“Aku mencarimu, lalu ada anak manusia menginjak ekorku, aku mencakar kakinya karena terkejut, tapi ibu manusia marah dan melemparku, sakit sekali,” jawab Aino, dia menangis. Sepertinya benar-benar merasa kesakitan.
“Aku mencari makanan untukmu, Aino.” Aku berusaha menjelaskan padanya, kudekatkan kepala ikan itu supaya Aino bisa memakannya.
“Makanlah!” Kucing betina itu menatapku, mata kiri Aino berkedut, dan darahnya kembali keluar.
“Aku tidak mau, aku ingin punya rumah untuk kita pulang, Nekko,” lirih Aino. Sungguh malang nasib kami, para manusia tidak suka pada kucing liar, mereka lebih suka memelihara kucing ras yang berwajah lucu dan berbulu lebat.
Aku selalu iri pada kucing peliharaan, mereka hanya perlu berteriak kelaparan dan dengan segera para majikan akan memberikan makanan yang lezat untuk mereka.
Terkadang tubuh kami terlihat menjijikan karena banyaknya luka, semua itu karena kami harus berkelahi dengan kucing lain untuk berebut makanan dan betina.
Apa salah kami? Sehingga kami diperlakukan dengan tidak adil, padahal kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Dan kami tidak akan membalas semua ketidakadilan yang kami dapatkan.
“Aino, apa kau baik-baik saja?” Tubuh Aino terlihat lemah, sudah beberapa jam dia tertidur, rasa takutku semakin menjadi. Apakah Aino akan meninggalkanku seperti Sachi?
“Aino, Bangunlah! Ayo kita cari rumah.” Ku goyangkan tubuh Aino, kujilat juga darah di matanya, tapi semua sia-sia, temanku tidak mau bangun, dan pada akhirnya aku hanya sendirian.
‘Ibu, ada kucing mati!’
Seorang anak manusia berteriak, aku terkejut kupeluk tubuh Aino yang sudah dingin, aku ingin menangis, aku tidak ingin berpisah dengannya.
Seorang ibu manusia muncul, tubuhnya besar dan terlihat menakutkan.
‘Dasar kucing bodoh, kenapa kau mati disini?’
Ibu manusia itu terlihat marah, dia mengambil tubuh kaku Aino yang tak bernyawa. Aku berlari mengejarnya dan aku merasa duniaku kiamat saat ibu manusia itu melempar tubuh Aino ke sungai dengan aliran air yang sangat deras.
Byurrr
“Ainooo!”
Meong … Meong ….
Ibu manusia itu tidak peduli, padahal aku memohon padanya untuk mengambil mayat Aino yang sudah hanyut, setidaknya kuburlah temanku seperti yang dilakukan kakek manusia kepada Sachi.
Sakit, sangat sakit, hatiku terasa berdenyut nyeri, semoga hal ini tidak dialami keturunanku di masa yang akan datang.
‘Sachi, Aino, selamat tinggal kuharap kita bertemu lagi di tempat yang lebih baik.’
Brakk …
‘Oh, Ya Tuhan!’
Samar kudengar seorang manusia berteriak. Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya ingat baru saja hendak menyeberangi sebuah jalan. Rasa kehilangan tengah kurasakan, dua temanku mati di hari yang sama, dan apakah aku akan menyusul mereka?
Kepala dan perutku terasa sakit, aku tidak bisa menggerakkan kaki, terasa kaku, samar kulihat bayangan kedua temanku yang sedang menari di tengah rerumputan hijau dengan bunga yang tumbuh dengan indah.
‘Apa dia baik-baik saja?’
‘Aku tidak tahu, Sean!’
‘Cepat bawa dia, kita harus menolongnya!’
‘Ayo, Nata!’
‘Kucing malang, maafkan aku!’
….
Mataku terbuka, tempat apa ini? Sangat bersih dan hangat, sungguh aku merasa nyaman, belum pernah kurasakan seperti ini, apa aku sudah mati?
‘Dokter, bagaimana kucingnya?’
‘Tidak apa, dia masih hidup dan bisa sembuh.’
‘Syukurlah!’
Kulihat sepasang manusia menghampiriku, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku.
‘Maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja melakukanya!’
Apakah aku bermimpi, tangan manusia itu mengusap tubuh dan kepalaku, jadi inikah rasanya? Sangat menyenangkan, aku menyukainya.
‘Bolehkah kita merawatnya, Sean?’
‘Tentu, sayang!’
Apakah aku bermimpi, pasangan manusia itu ingin memelihara kucing liar seperti diriku. Rasa haru membuatku ingin menangis, mengingat dua temanku yang sudah tiada, seandainya pasangan manusia itu datang lebih awal.
‘Ya Tuhan, apa aku tidak salah lihat? Kucing ini menangis, Sean!’
‘Benar, aku belum pernah melihat kucing menangis.’
Ya aku menangis, rasa sedih dan haru bercampur aduk dalam hatiku, aku bahagia masih ada manusia yang peduli pada kucing liar seperti diriku, tetapi aku juga bersedih karena kehilangan teman yang kusayangi.
‘Ayo, kita pulang ke rumah!’
Tubuhku di pangku dengan hati-hati, aku sangat senang, rasa sayang muncul begitu saja di hatiku untuk mereka, Terima kasih.
…
Satu bulan kemudian …
Trrrr
Trrrr
‘Kau manja, Nicko.'
Nicko? Iya itu nama yang diberikan majikan baruku, berbeda sedikit dengan nama asliku. Sekarang, aku tahu manusia berambut panjang itu disebut wanita, dia sangat menyayangiku, aku suka sekali duduk di pangkuannya yang terasa hangat, seringkali dia mengusap dan memanjakan tubuhku. Dia adalah pelipur lara bagiku, pengobat untuk rasa sakit dan kesedihanku.
Ya Tuhan, semoga masih banyak manusia di luar sana yang seperti mereka, dan semoga semua kucing liar mendapat kebahagiaan seperti diriku. Mendapat rumah baru untuk bernaung, bermain dan juga beristirahat.
Kami hanya meminta perlakukan kami seperti makhluk Tuhan lainnya, sayangi kami, bagilah sedikit makanan dan senantiasa kami akan mendoakan kebahagiaan bagi mereka yang menyayangi kami.
Selesai.