Jingga bumi mewarnai, memberi bekas dan pergi.
Aku terus berdiri, berjaga jaga saat tiba masa dimana aku takut kau tak kembali.
─ 🦋
"Nama kamu?"
"Arkana. Kamu?"
"Saya Angkasa, calon dokter ternama."
"Suka halu juga ya ternyata?" aku terkekeh mendengarnya. "Kata orang, halusinasi itu satu banding satu," dia mengernyit. "Maksudnya?"
"Antara berhasil, atau cuma angan angan belaka."
-
Rembulan malam datang berkunjung, menyapa si pecinta hujan yang sibuk memandangi bulan purnama yang muncul dengan malu malu.
Namanya Arkana, seorang pemuda dengan syal berwarna biru muda tengah memandangi indahnya ciptaan Tuhan. Matanya menyipit tak terlihat, lengkung bibir pun tercipta jelas dengan lebarnya yang dapat menenangkan hati raga lainnya.
Nama lengkapnya Arkana Mahija. Sosok yang orang bilang, si putra bumi penerang bagi para jiwa. Wajah tampan rupawan berkukit putih bersih, rambut tebal klimis yang menambah Poin ketampanannya. Seorang pemuda yang Tuhan hadirkan pada keluarga Mahija untuk dijaga kehadirannya.
Tuk.
"Obatnya di minum dulu, mas," terlalu sibuk menikmati anila yang memeluk diri, Arkana menoleh pada sang ibunda yang datang seorang diri. Bibir tipisnya mengulas senyum, melangkahkan kedua kakinya dengan perlahan dan hati hati. "Mas -"
"Bunda diam disana, ya. Aku mau coba perlahan," tak menyangka akan apa yang terlihat di depan mata, raga yang disapa dengan sebutan 'bunda' menutup mulut dengan kedua tangan lentiknya. Dirinya benar benar tak menyangka dan menganggap bahwa ini mimpi belaka. Namun, ketika tangan Arkana menyentuh pundak rapuhnya, ia tersadar. Ia tersadar dan termenung..
"Anak bunda, sudah bisa berjalan, nak?" Arkana tersenyum sendu. Kedua bola matanya berkaca tatkala senyum manis sang ibunda menggetarkan jiwanya. Mata terharu keduanya tak terlihat satupun rasa kecewa, karena dua hati yang dahulu tak berwarna, kini dihiasi dengan banyak kupu kupu indah; rasa syukur tak dapat dihitung seberapa besar, juga rasa cinta yang bertambah tak tahu seberapa banyak tertuang hingga tak tersisa.
"Bunda, kalau Arkana sudah bisa berjalan, bolehkan aku bertemu dengan angkasa?"
-
Bagaskara bertamu pada langit yang berbincang hangat dengan si putih awan. Kaca jendela otomatis terbuka pada pukul enam pagi, agar ketika makhluk bergelung selimut itu ditinggalkan, masih mengingat waktu jika setiap harinya, si tampan itu harus terbangun di pagi hari.
Senyumnya mengembang, matanya masih setia memejam tapi salah satu tangannya terangkat seolah tengah memberi hormat entah pada siapa, "Pagi candala, duniamu akan hancur kembali!" secarik kertas di atas nakas ia remat dengan erat, ia tak peduli tentang apa yang terisi disana. Karena pagi ini, ia ingin bermain main dengan si tuan rumah yang sampai saat ini tak pernah berpikir untuk mengusir orang aneh sepertinya.
"Hari ini, aku mau pergi ke jembatan! Aku mau bertemu senja! Karena Senja adalah keadan waktu dimana keadaan sekitar menjadi setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam. Waktu senja dimulai setelah matahari tenggelam saat cahaya masih terlihat di langit hingga datangnya waktu malam! Aku ga sabar!!!"
-
Arkana terduduk tenang di bangku taman. Ia memandangi sepasang anak laki laki bermain di atas jungkat jungkit. Keduanya tertawa, menekan tuas untuk terjatuh. Kadang pula, yang berada di tempat tertinggi ikut tertawa; menganggap tubuhnya tengah terbang seperti burung elang.
Disampingnya, ada sebuah benda. Tertutup karton hijau tosca dihiasi pita merah muda dan beberapa kata. Wajahnya sangat bersinar mengalahkan si bulat yang bertugas menyinari bumi. Kehadirannya pun tak lepas dari arah pandang orang orang yang tak sengaja melewatinya.
Arkana Mahija, definisi pria yang sempurna.
"Angkasa, aku rindu kamu.. "
-
Kakinya berlari tunggang-langgang. Tas selempang besar berwarna cream dengan topi hitam dan sepatu putih lusuhnya ia gunakan. Setelah berlalu lalang di gedung besar yang tak terlihat arah pintu untuk pulang, Angkasa tertawa lepas kala Sang aksa menemukan sosok lelaki di bangku taman tempat ia bersandar diri.
Hati dan logikanya bersatu, iris kelamnya dengan yakin berlari menuju si hitam legam yang setia memandangi kedua bocah di depan sana.
Dengan semangat, Angkasa berteriak. Menyerukan nama si pemilik tubuh terduduk itu dengan senyum mengembang dengan langkah kaki yang tergesa.
"Mas Kana! Angkasa datang membawa kue buatan tante maya! Angkasa juga mengaduk tepung di campurkan air. Kata tante maya, Tepung adalah partikel padat yang berbentuk butiran halus atau sangat halus tergantung proses penggilingannya. Biasanya digunakan untuk keperluan penelitian, rumah tangga, dan bahan baku industri. Mas Kana mau - 'BRUK!'
"ANGKASA!"
-
Cengiran khasnya menguar. Baju putih yang ternoda merah darah tak digubris si empunya. Pipi kanan yang tergores aspal, kedua lengan yang terlupas kulitnya, juga celananya terkoyak kan.
Arkana menghampiri dengan rasa khawatir. Syal merah muda yang ia pakai dengan cepat membungkus di atas pundak Angkasa-nya, "asa, tolong jangan buat aku khawatir."
"Hehe, Arkana tidak boleh takut. Terjatuh itu hal wajar. Angkasa juga sering terjatuh lalu keluar merah merah. Kata tante maya, merah merah itu namanya darah. Darah itu cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Jadi -"
"Iya Angkasa, aku tau. Tapi tolong jangan ceroboh lagi, ya? Nanti kamu dimarahi tante maya loh.."
"Iya kah? Kalau begitu, saya tidak boleh ceroboh, ya?"
"Iya, jangan diulangi, ya?" Angkasa tersenyum lembut, "saya akan usahakan ya Arkana.."
-
"Kamu bawa apa?" yang lebih muda bergerak gesit membuka tas nya. Si pemuda yang terluka lantas dengan segera mengeluarkan toples berisi makanan yang ia buat sebelum berangkat ke sekolah subuh pagi tadi.
"Saya membuat kue. Kata tante maya, kue itu lezat sekali. Warna nya sungguh banyak, mas Arkana. Kue yang saya bawa warna nya juga beragam. Ada yang hijau, biru, merah, kuning, dan lainnya! Mas Arkana mau mencicipi tidak? Saya tidak bawa banyak soalnya," Arkana tertawa, ia mengambil satu potong kue dengan mesis yang menjadi toppingnya, "Angkasa buat sendiri?" Angkasa menggeleng.
"Tidak, Angkasa membantu tante maya membuatnya. Tante maya berjualan kue. Penjualan adalah aktivitas atau bisnis menjual produk atau jasa. Dalam proses penjualan, penjual atau penyedia barang dan jasa memberikan kepemilikan suatu komoditas kepada pembeli untuk suatu harga tertentu. Penjualan dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti penjualan langsung, dan melalui agen penjualan. Nah, saya hanya membantu saja, tapi saya mendapat upah karena sudah menolong tanpa meminta imbalannya," jelasnya, membuat Arkana mengusap pucuk kepalanya dengan sayang.
"Ini enak, Terima kasih ya Angkasa."
"Kata tante maya, kalau ada yang berterima kasih, saya harus menjawab dengan kata 'Terima kasih kembali' mas Arkana.. "
-
Sunyi. Satu kata beribu makna bagi si pencinta sinar rembulan. Indurasmi yang nyata keberadaannya, menghadirkan tawa riang untuk Angkasa; si pemuda tampan kesayangan Arkana Mahija.
"Mas Arkana, kamu tidak ingin pulang?"
"Kamu belum pulang, aku juga gak mau pulang," Angkasa tertawa mendengarnya.
"Mas Arkana, di rumah saya itu berisik sekali. Laki laki dan perempuan itu berteriak dan bertengkar hebat. Kepala saya pening mendengarnya. Karena itu, saya akan pulang tengah malam saja agar kepala saya tidak berdenyut. - Keras sekali sampai rasanya mau mati!"
Arkana tertegun.
-
"Sudah malam, cepat tidur, ya.. Besok pagi kita bertemu lagi di tempat yang sama. Dan aku ga mau kamu datang berlari lagi, mengerti?" Yang lebih muda mengangguk kepalanya berkali kali. Ia sangat bersemangat untuk bertemu dengan esok hari, "baik Mas, saya akan bersihkan diri lalu tidur dengan nyenyak di atas kasur yang keras!" hatinya mencelos kembali..
`Selamat beristirahat, Angkasa..`
-
Paginya, dunia kembali hadir menyapa. Matahari pun datang dengan sinarnya. Kebetulan, Angkasa tahu betul bahwa hari ini semua orang mendapatkan hari libur. Ia juga tak tertidur saking tak sabarnya dengan pagi ini. Maka dari itu, ia ingin berangkat sebelum waktunya dan memakai pakaian yang pernah Arkana belikan. Sehingga pada saat ia beradu pandang dengan sosok yang pernah menolongnya, ia dengan rasa percaya diri memamerkan keindahan pakaian itu pada khalayak yang bertemu dengannya juga pada Mas Arkana-nya.
"Setelah kita bertemu, saya janji akan beristirahat, Mas Arkana!"
-
Arkana sengaja tak duduk di bangku taman. Dirinya ingin melihat langkah Angkasa dari jauh. Ia juga ingin melihat seberapa gemasnya Angkasa yang berlari dengan rambut tebalnya yang bergoyang naik turun mengikuti ritme kaki bergerak kencang.
Tak lama, keinginannya terkabulkan. Dirinya melihat dengan jelas betapa gemasnya Angkasa yang memakai baju bermotif kucing anggora. Celana jeans denim yang juga ia berikan pada Angkasa, ditambah topi hitam yang sama seperti yang ia pakai, juga boneka beruang dalam pelukannya. - Arkana langsung mengambil ponsel dan memotret nya. Lalu nanti, ketika ia sudah sampai ke rumah, ia akan memperlihatkan pada ibunda bahwasanya Angkasa sangat tampan.
.
.
.
.
.
Benar.. Angkasa sangat tampan. Senyumnya rupawan. Indah tawanya membekas pula di ingatan Arkana. Di tambah ocehannya yang tak ada hentinya masih pula mewarnai luka masa lalunya. Dan hingga kini, di detik terakhir sebelum senyum itu hilang dari tempat lengkung nya, Arkana Mahija hanya bisa menangis pilu dengan kedua bola mata sendu yang tak dapat di hitung seberapa hancur hatinya..
.
.
.
.
.
.
"Kecelakaan besar menewaskan beberapa warga setempat. Lima orang luka berat, dan satu orang tewas sebelum di larikan ke rumah sakit. Beberapa korban berinisial R, J, K, L, dan M mendapat perawatan intensif."
"Maaf, maaf atas kecerobohan saya, Mas Arkana."
.
.
.
.
.
Dengan gemetar, Arkana menjumpai sosok yang ia anggap adiknya sendiri. Si tampan menggemaskan yang tertidur dengan darah yang mengucur deras, si manis yang tersenyum lemah, dan mata lelahnya menatap pilu pada Arkana yang menangkup kedua pipinya, "Mas Arkana, s-saya janji akan beristirahat setelah bertemu kamu.."
"Angkasa.. Tolong jangan pergi." genggaman Angkasa pasa lengan Arkana terlepas, ia tersenyum sebelum matanya terpejam dengan hembusan napas terakhirnya berada pada pelukan Arkana Mahija..
"Mas Arkana, saya istirahat, ya.. Sampai jumpa."
.
.
.
.
.
"Angkasa, selamat beristirahat. Saya harap, kamu bahagia disana.. Tanpa saya."
` Hai mas Arkana. Saya membawa surat ini untuk kenangan kita. Saya harap mas arkana bahagia. Semoga kita bertemu lagi mas arkana!
- Angkasa!!!!`
Arkana, Angkasa, dan Arkasa.
─ 🦋