Aisyah, sebuah nama seorang gadis yang sangat cantik. Menempuh pendidikan selama lima tahun untuk menjadi seorang Dokter. Sampai akhirnya gadis itu lulus dengan gelar Sarjana Kedokteran.
Suatu hari, seorang perwira muda bernama Julian datang untuk melamar. Padahal jujur dia tidak kenal sama sekali dengan pemuda tersebut. Tidak disangka bahwa Julian adalah pria yang kini bahkan menjadi imamnya.
Sebuah pernikahan akhirnya terjadi. Kedua manusia yang saling canggung itu akhirnya harus saling terbuka. Mereka merasa sangat gugup untuk melakukan malam pertama. Apalagi Aisyah bahkan belum pernah dekat dengan lelaki mana pun, betapa salihahnya Aisyah. Dia tidak mau berpacaran padahal dulu banyak pria yang mengejar-ngejar dia.
Namun Aisyah tetap dengan komitmennya. Hanya lelaki yang menjadi suaminyalah yang bisa mendapatkan cintanya. Dan terbukti sudah. Julian adalah pria beruntung karena sudah mendapatkan cinta Aisyah sepenuhnya.
"Sayang, Abang mau bicara," kata Julian sambil menggenggam tangan Aisyah dengan tatapan yang lembut.
"Abang, Ade juga mau bicara, Ade mau mengatakan sesuatu yang sangat penting," kata Aisyah dengan sumringah.
"Kamu ada kabar apa, Sayang?" Julian mengerutkan dahinya.
"Emh… ini sangat penting tapi sepertinya informasi dari Abang lebih penting, jadi Abang bicaralah terlebih dahulu," kata Aisyah dengan senyumannya.
"Sayang, pernikahan kita memang masih tergolong baru, ya dua bulan kita berumah tangga, tetapi," ucapan Julian terhenti tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Sabar ya Sayang, aku ditugaskan untuk pergi ke Libanon," lirih Julian.
"Apa, Libanon?" Sesaat Aisyah terpaku. Bibirnya seolah bisu tidak bisa berkata apapun.
"Iya Sayang, aku harus pergi, maafkan aku, ya Sayang," kata Julian dengan wajah penuh sesal.
"Ah, Abang mau pergi?" Tetesan air mata tak bisa dia bendung lagi. Sang suami harus pergi meninggalkan negara ini dan berperang di negara konflik.
"Iya Sayang, maafkan Abang," kata Julian sambil memeluk sang istri dengan mata yang berkaca-kaca. Pria itu sebenarnya tidak tega meninggalkan istri tercinta. Tapi tugas negara tidak bisa dia bantah.
"Berapa lama?"
"Enam bulan."
"Ya, Tuhan lama sekali." Wanita itu meneteskan air matanya.
"Sayang sabar ya," kata Julian.
"Di sana bukannya sedang konflik? Kenapa aku merasa sangat sedih, dan ketakutan, Abang janji akan pulang, kan?" bulir air mata itu terus menetes. Hatinya begitu sakit ketika sang suami harus pergi dan entah bisa pulang atau tidak.
"Abang tidak menjanjikan itu, tetapi selama Abang masih bernapas, Abang pasti pulang Dek, tetapi jika enam bulan tidak ada kabar, Adek sebaiknya mengikhlaskan Abang, dan carilah pria lain, menikahlah lagi."
"Abang tega berbicara seperti itu kepada Asiyah? Di saat Aisyah sedang hamil anaknya Abang," lirih Aisyah dengan pilu.
"Apa? Sayang, kamu sedang hamil?" Julian terkejut mendengar ucapan istrinya. Pria itu pun menangis dengan pilu. Sambil memeluk istri kesayangannya.
"Iya Bang, Aisyah hamil," kata Aisyah dengan tetesan air matanya.
"Sayang, tolong jaga anakku, jaga dia baik-baik. Tolong besarkan dia. Aku tidak menjanjikan untuk bisa pulang, tetapi aku akan berusaha untuk bertahan dan bisa pulang," tangis Julian dengan tetesan air matanya.
Perwira muda itu begitu bahagia dengan kehamilan istrinya. Tetapi di sisi lain perwira itu sangat sedih harus meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil.
***
Waktu yang telah ditentukan kini datang. Sang perwira itu pun harus berangkat mengemban tugas negara. Meninggalkan istrinya dan seluruh keluarga besarnya dan tidak pernah berjanji bisa pulang kembali.
Aisyah pun hidup sendiri. Dia berusaha tegar di saat kehamilan bahkan sedang mengalami banyak keluhan.
Sudah enam bulan lamanya Julian pergi dan tidak ada kabar berita sama sekali. Teman seperjuangan julian sudah pulang. Namun Julian tidak ada.
Tangis Aisyah tak terbendung. Ketika para ibu Persit menjemput sang suami di bandara. Tetapi suaminya tidak ada. Tidak ada yang memberi tahu keberadaan suaminya sama sekali. Karena bahkan mayatnya tidak ditemukan—jika memang meninggal. Tetapi jika masih hidup maka harusnya Julian ikut pulang bersama dengan tentara lainya.
Hati Aisyah hancur. Hanya pada Tuhan dia megadu. Dibukalah kerudung yang dia kenakan, dan mengambil air wudhu. Wanita itu sholat, selepas itu dia pun berdo'a.
"Tuhan, aku harus apa? Usia kehamilanku sudah 6 bulan, memang masih belum terlihat besar tetapi bayiku sudah mengerti bahwa ibunya begitu gelisah karena memikirkan ayahnya, Tuhan tolong beri aku petunjuk untukku menemukan suamiku," lirih Aiyah sambil membuka kedua telapak tangannya. Bersimpuh dengan air mata yang terus keluar dan tak bisa dia bendung lagi.
Satu Minggu setelah upacara penyambutan para perwira yang pulang. Aisyah mencari sebuah informasi untuk menjadi dokter relawan di Libanon. Keluarga sempat melarang keras. Tetapi Aisyah tidak bisa tinggal diam.
"Aku harus mencari keberadaan suamiku," tangis Aisyah.
"Tapi kamu sedang mengandung Nak, tiga bulan lagi kamu akan melahirkan," lirih sang ibu dengan sendu.
"Maafkan Aisyah Ibu, keputusan Aisyah sudah bulat, Aisyah akan menjadi Dokter relawan dan berangkat ke Libanon." Wanita itu benar-benar keras kepala.
Seluruh keluarga melarang. Tetapi Aisyah tetap dengan pendiriannya. Wanita itu pun berangkat ke Libanon dengan perut yang sudah mulai membesar, memang tidak terlalu terlihat. Karena enam bulan memang perut hanya sedikit menonjol namun tidak terlalu besar. Sehingga orang lain tidak tahu bahwa sekarang Aisyah sedang mengandung. Orang lain tahunya Aisyah itu masih lajang.
Sesampainya di Libanon ternyata banyak Tentara Indonesia yang jatuh cinta kepada dokter cantik itu. Aisyah sosok perempuan yang sangat sempurna. Wanita berhijab dengan kulit putihnya yang kemerahan, dan tubuh layaknya sebuah boneka Barbie.
Namun Aisyah selalu dingin kepada setiap tentara di sana. Aisyah tidak mengungkapkan rahasianya bahwa dia ke sana untuk mencari suaminya yang hilang. Tetapi sebagai dokter relawan.
Satu bulan sudah Aisyah di tenda peperangan. Bergelut dengan tentara yang terluka. Dan dia tak kenal lelah. Banyak tentara yang meninggal dan dikuburkan di sana. Tetapi wanita itu masih tidak menemukan suaminya.
"Abang di mana?" lirih Aisyah sambil meneteskan air matanya. Tiba-tiba saja seorang tentara datang dengan keadaan terluka parah.
"Abang, Abang kenapa?" teriak Aisyah dengan ketakutannya. Sekilas pria itu mirip suaminya Julian.
"Tolong aku Dokter, tanganku sepertinya tertembak," kata pria tersebut dengan wajah kesakitan.
"Ya Tuhan aku pikir kamu… ah yasudah tidurlah di sini, akan aku bantu mengobati semua lukamu," kata Asiyah sambil menyiapkan alat untuk dia pakai. Karena sepertinya peluru sudah bersarang di lengannya.
"Terima kasih Dokter." Tentara itu menatap Aisyah dengan tatapan kagum. Dan akhirnya Aisyah bisa mengeluarkan peluru yang sudah menancap ke daging tersebut.
Perwira muda itu bernama William Putra Pamungkas. Seorang tentara seumuran dengan suaminya. Namun beda kesatuan saja.
Perwira muda itu sembuh karena bantuan dokter Aisyah. Dan hampir setiap kali Wiliam datang hanya untuk melihat keberadaan Aisyah. Namun sayangnya Aisyah selalu dingin. Sehingga Wiliam hanya bisa mencuri pandang saja. Dan sepertinya perwira tampan itu mulai jatuh cinta kepada Aisyah.
Dokter Aisyah selalu menggunakan baju yang longgar. Sehingga saat kini usia kandungannya berumur tujuh bulan masih tidak ada yang tahu perihal kehamilannya.
Sampai suatu ketika, sebuah bom memporak porandakan markas besar tempat mereka tinggal. Banyak sekali dokter dan perawat relawan yang meninggal. Mayat berserakan dimana-mana. Dan itu sangat mengiris hati.
Wiliam terkejut mendengar markas besar tempat para relawan kesehatan telah hancur. Dia pun bergegas ke tempat kejadian untuk memastikan bahwa dokter Aisyah baik-baik saja. Sesampainya di sana matanya terbelalak banyak dokter yang terluka. Dan juga meninggal.
"Di mana Aisyah?" lirih Wiliam dalam hatinya. Perwira tampan itu cemas dan takut terjadi sesuatu hal kepada sang dokter. Dokter yang sudah menyelamatkan nyawanya dan sudah membuat dirinya jatuh cinta. Ternyata seseorang mengatakan bahwa dokter Aisyah sedang di utus ke markas perbatasan untuk membantu mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh salah satu perwira di sana.
Setidaknya Wiliam lega. Aisyah ada di sana dan aman, Aisyah tidak meninggal dalam insiden pengeboman markas kesehatan. Tetapi tiba-tiba ada laporan masuk ke padanya. Bahwa mereka harus bersiap dengan segera untuk menyelamatkan sandera.
Ada apa gerangan, perwira itu mengerutkan dahinya. Tersebar kabar ternyata markas di perbatasan kini sudah di kuasai oleh musuh.
"Apa? Aisyah ada di sana?" Jantung Wiliam berdetak begitu cepat. Dia harus ikut menyerang markas perbatasan agar bisa menyelamatkan Aisyah.
Akhirnya barisan para perwira dan prajuritnya sudah siap hendak berangkat ke tempat pembebasan sandera.
Kapten Wiliam yang gagah dan tampan itu sudah siap dengan pasukannya, hendak berangkat dan menyarang. Dalam hati pria itu hanya ada nama Aisyah. Wanita itu harus dia selamatkan. Apapun yang terjadi dia harus berhasil menyelamatkan gadis yang kini sedang bertaruh nyawa di tangan musuh.
Beberapa anggota perwira memutuskan untuk menyerang secara tersembunyi. Taktik ini bertujuan agar sandera bisa segera bebas, setelah itu pasukan prajurit bebas untuk mengobarak abrik musuh.
Suara tembakan terdengar jelas. Satu persatuan prajurit yang ditawan itu ditembak. Darah sudah mengalir deras dan membuat semua tawanan ketakutan. Begitu pula dengan Aisyah.
"Ya Tuhan lindungilah, aku." Wanita itu berkata dalam hatinya. Sambil mengelus perutnya yang agak membuncit. Usia kandungannya sudah tujuh bulan. Bayinya sudah bergerak dengan begitu aktif dan sekarang dia bahkan tidak tahu apakah dia bisa selamat atau tidak.
Tetesan air mata tak bisa dia tahan lagi. Ketika kini bahkan sejawatnya telah ditembak tepat di kepala. Teman yang tadi menemani dia operasi pengangkatan peluru.
Ada juga yang disiksa terlebih dahulu dengan cara dipecut, ditonjok, ditinju, dipukuli hingga mati. Gambar seperti ini bahkan tidak ada dalam bayangannya. Kini dia bisa melihat dengan jelas bahwa kekejaman prajurit musuh sangat nyata.
"Anaku, kita tidak bisa menemukan ayah, kita sudah mencari ke mana-mana, bahkan sampai di markas ini pun ayah tidak ada, sayang. Mungkin saja ayah memang sudah meninggal, dan ayah sudah diambil Tuhan karena kekejaman prajurit musuh. Anakku, jika memang takdir kita harus berjumpa dengan ayahmu di surga, maka maafkanlah ibu, karena tidak sempat melahirkanmu ke dunia dan membuat kamu kembali ke surga," lirih wanita itu di dalam hatinya.
Bibirnya terus menbacakan asma Allah. Terus mengucapkan kata-kata dzikir. Berdo'a semoga ada penolong untuk mereka. Walau sebenarnya semua hanya patamorgana.
Di antara 20 prajurit yang menjadi tawanan, kini tersisa 5 orang yang masih disiksa, dipukuli lalu digantung diatas tungku api. Sedangkan 15 prajurit lainnya sudah meninggal dunia.
Aisyah semakin ketakutan ketika bahkan 4 petugas medis sudah meninggal, dan kini tersisalah dirinya. Dia sudah menangis dengan lirih, dia pun bersembunyi dibalik hijabnya dan menutupi wajahnya dengan masker tersebut. Namun salah satu tentara musuh tiba-tiba mendekati dirinya. Menarik masker yang dia kenakan. Sampai akhirnya terlihatlah wajah cantik putih kemerahan, bersinar dengan kecantikan yang sangat alami.
"Waw sangat cantik," ucap tentara musuh itu.
"Ada apa?"
"Lihat cantik sekali."
"Benar juga, ayo kita lepas pakaiannya, kita tiduri dia sebelum kita bunuh."
"Baiklah."
Mendengar itu, Aisyah sangat ketakutan. Dia pun mencoba berontak untuk menyelamatkan diri dari prajurit hidung belang yang hendak menodai dirinya.
Tetapi seseorang tiba-tiba datang. Dan itu adalah kapten Wiliam. Dia menampakkan diri demi Aisyah. Harusnya kapten Wiliam tidak muncul tetapi dia tidak mau Aisyah sampai ternoda.
"Dokter Aisyah?" Wiliam memeluk erat Aisyah dan mengajak Aisyah bersembunyi. Aisyah sangat senang melihat kedatangan Wiliam. Sayangnya rasa bahagia itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba saja mereka berdua ditodong oleh sangkur dan senapan laras panjang.
Mereka mau tidak mau harus menyerah. William disiksa, dipukuli, dan tidak bisa melawan sama sekali. Karena diancam kalau melawan maka mereka akan melukai Aisyah.
"Tidak kapten Wiliam, jangan seperti ini? Melawanlah, jangan khawatirkan aku!" Wanita itu menjerit saat wiliam secara membabi buta dipukuli oleh balok kayu, sampai berdarah-darah dan akhirnya lemas tak berdaya. Seluruh tubuhnya kesakitan. Dan dia masih bisa tersenyum kepada Aisyah.
Tetapi, tentara musuh ternyata berbohong kepada Wiliam. Setelah Wiliam lemas tak berdaya, kini mereka malah mencoba untuk menggangu Aisyah.
"Tidak jangan!" teriak Aisyah karena kini kerudungnya sudah dilepas oleh pria-pria hidung belang yang berkedok tentara tersebut.
"Aisyah tidak." Wiliam berusaha bangun. Dia tidak mau tentara musuh menyentuh Aisyah walau seujung rambut. Dia begitu mencintai Aisyah. Tetapi kini bahkan rambut panjang Aisyah terderai kemana-mana. Rambut yang indah sehitam malam menambah kecantikan dan pesona wanita tersebut.
Setelah itu mereka berusaha melepaskan pakaian Aisyah sampai akhirnya dada Aisyah terumbar dengan jelas.
"Ya Tuhan ampuni dosaku, tolonglah hamba," lirih Aisyah sambil terus berontak. Wiliam berusaha bangun tetapi tubuhnya sangat lemas, dia tak punya kekuatan untuk melawan banyak orang. Tetapi dia masih berusaha untuk bangun. Air mata pria itu menetes ketika badan bagian atas Aisyah terpampang dan punggung putih Aisyah kimi sudah terumbar dengan jelas. Wiliam merasa tidak berguna sebagai seorang pria karena tidak bisa menyelamatkan wanita yang dia cintai.
Tetapi tiba-tiba saja prajurit musuh mengetahui dan melihat perut Asiyah yang membuncit.
"Apa, dia sedang hamil? Hilang sudah nafsuku," seru pria itu sambil menendang perut Aisyah dengan kencang.
Brug.
"Ah, ya Allah!" Aisyah kesakitan, perutnya sudah di tendang sampai dia terpental ke dekat kapten Wiliam.
"Aisyah, Aisyah bertahanlah," lirih Wiliam sambil mencoba meraih tangan Aisyah dan melihat Aisyah kini terbaring tak berdaya dengan darah yang sudah keluar dari organ kewanitaannya.
"Kap-ten Wiliam, bayiku kapten, aku berdosa pada bayiku," lirih Aisyah sambil menatap kapten Wiliam.
"Kamu sedang mengandung Aisyah," dengan tenaga yang tersisa, kapten Wiliam membuka pakaiannya dan menutupi perut dan dada Aisyah.
"Aku datang ke sini untuk mencari keberadaan suamiku, kapten Julian, tetapi dia mungkin sudah wafat, dan kini aku dan anak kami akan segera menyusulnya," lirih Aisyah dengan perlahan.
"Aisyah, kamu adalah istri dari kapten Julian, dia adalah sahabatku, dia sudah meninggal karena ledakan bom, dan tubuhnya tidak bisa ditemukan karena mungkin sudah hancur," lirih Wiliam dengan tenaga yang tersisa.
"Aku kini pasrah, kalau memang dia sudah menunggu kami di surga. Terima kasih kapten Wiliam." Aisyah memejamkan matanya. Karena perutnya sudah sangat sakit. Darah segar sudah keluar begitu banyak dari selangkangannya. Wanita itu tidak sadarkan diri.
"Aisyah, bangun," lirih Wiliam dengan tetesan air matanya, lalu seseorang kini memukul kepala Wiliam dengan sangat kencang. Sehingga Wiliam akhirnya pingsan.
"Mereka sepertinya akan segera mati, sebaiknya kita bakar markas ini, karena sudah kita habisi semua orang yang ada di sini."
"Baiklah komandan, ayo kita keluar dari markas ini dan segera kita bakar."
Prajurit musuh sudah keluar dari markas tersebut dan kini salah satu prajurit musuh sudah menyulut api. Aisyah dan Wiliam masih berada di dalam.
Kepulan asap sudah mengurung mereka berdua. Dan suara tembakan kini terdengar begitu kencang di luar sana. Ternyata tentara musuh dan tentara Indonesia Libanon kini sudah memberondong musuh dengan tembakan. Dan seluruh prajurit musuh sudah tewas karena tertembak.
"Kapten Wiliam masih ada di dalam."
"Tapi api sudah mulai besar."
"Tidak-tidak aku yakin Kapten Wiliam belum wafat, dia pasti masih bertahan di dalam dan menunggu kedatangan kita."
"Baiklah kalau begitu."
Akhirnya pasukan rela mati itu menerobos ke dalam kepulan asap, berusaha untuk mencari keberadaan Kapten Wiliam di dalam. Dan benar bersyukurlah mereka segera menemukan Kapten Wiliam.
"Lihat ada Dokter Aisyah juga."
"Ya Tuhan dokter Aisyah sedang hamil dan perdarahan."
"Ayo kita angkat mereka berdua."
Akhirnya kapten Wiliam dan dokter Aisyah terselamatkan. Mereka segera dibawa ke rumah sakit di Libanon. Tetapi karena keadaan dokter Aisyah sangat kritis akhirnya wanita itu segera di operasi sesar. Dan melahirkan bayi laki-laki dengan bobot 1,4kg, sangat kecil. Tetapi tangisnya sangat keras. Aisyah masih terbaring koma, dan kini sudah dipindahkan ke rumah sakit di Singapura. Wanita itu tidur begitu lama sampai akhirnya 3 bulan kemudian wanita itu bangun. Dan melihat seseorang ada di sampingnya.
"Aisyah."
"Wiliam," lirihnya dengan lemah.
"Selamat datang, di Singapura. Lihatlah bayi kita ada di sana."
Aisyah melihat inkubator kaca yang memperlihatkan bayi mungil yang kini sedang tertidur begitu lelap.
"Anak kita?" Aisyah mengerutkan dahinya.
"Iya, karena aku selama ini sudah merawatnya dan menjadi ayahnya, dia tampan dan kuat seperti Julian."
"Aku ingin memeluknya."
"Tidak bisa Aisyah, kamu harus menikah dulu denganku baru bisa memeluk anakku."
"Hah?"
"Menikahlah denganku."
"Aku.."
"Aku sudah meminta ijin kepada keluarga kita dan mereka sudah setuju, jadi aku tidak bisa mendengar kata penolakan."
"Terima kasih Wiliam karena sudah menyelamatkan kami, baiklah nyawa baru kami adalah milikmu, aku akan mengabdi padamu."
Mendengar ucapan Aisyah. Kapten Wiliam begitu senang. Dia hendak memeluk Aisyah. Tetapi Aisyah menolak karena mereka belum mahram. Wiliam tersenyum malu karena sikapnya yang terlalu agresif. Mereka saling bertatapan. Berharap ini akan menjadi awal kebahagiaan untuk mereka.
Selesai