Tahun 1260
Di sebuah pulau yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan dan belukar lebat khas daerah tropis terdapat sebuah pedukuhan yang didiami oleh tiga puluh kepala keluarga, daerah pedukuhan ini dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dan besar juga berbagai jenis dari nya, membuat pedukuhan ini menjadi daerah subur dan makmur akan kekayaan alam nya, selain itu pedukuhan ini diapit oleh dua buah bukit yang luar biasa indah nya dan sebuah Danau besar dan sangat dalam penghasil jenis-jenis ikan lezat.
Bukit Ham payang dan Bukit Marimang, pedukuhan ini tidak memiliki nama sebab masyarakat yang berdiam disana bahkan bingung memberinya nama karena jika orang-orang dari daerah Utara hendak datang berkunjung ke daerah ini mereka akan menyebutkan, “Mari kita pergi dan bertukar dengan warga pedukuhan makmur di Bukit Ham Payang,” Sedangkan, jika yang hendak datang berkunjung ke pedukuhan mereka berasal dari orang-orang di daerah selatan mereka akan menyebutkan, “Mari kita Pergi dan bertukar dengan warga pedukuhan makmur di Bukit Marimang.” Keadaan inilah yang membuat warga pedukuhan ini tidak memberikan nama daerah mereka.
Memang benar yang disebutkan orang-orang bahwa daerah ini sangat makmur dan kaya, bahkan untuk bercocok tanam saja mereka tidak perlu bersusah payah, sebab setelah mereka membuka lahan dengan cara memotong pohon-pohon dan semak belukar yang tumbuh subur di lahan mereka, mereka hanya perlu membakar tumpukan-tumpukan belukar dan kayu-kayu tersebut terlebih dahulu sebelum menanamnya.
Keadaan tanah yang sedikit istimewa dari daerah lain ini lah yang membuat apa saja yang mereka tanam dapat tumbuh subur dan menghasilkan sepanjang tahun, sehingga masyarakat disana hidup makmur dan berkecukupan.
Suatu hari Kepala Pedukuhan itu bermimpi bahwa dia akan dikaruniai anak perempuan yang sekarang sedang dikandung istri nya dan anak itu adalah titisan dari Roh Agung Penjaga Bukit Marimang, hal ini tentu membuat Kepala Pedukuhan itu khawatir bercampur rasa bahagia, kekhawatiran nya karena dia takut anak nya nanti akan dibawa pergi suatu hari dari nya oleh Roh Penunggu Hutan untuk dipersunting dan dijadikan sebagai Penunggu di Bukit Marimang yang berada di bagian selatan pedukuhan mereka.
Sedangkan di satu sisi dia sangat bahagia karena mengetahui anak yang dikandung istrinya adalah seorang anak perempuan, sebab Kepala pedukuhan tersebut sudah memiliki empat orang anak laki-laki dia tidak ingin anak ke lima nya adalah seorang laki-laki juga, karena mitos mengatakan jika seseorang mempunyai lima orang anak laki-laki maka dapat dikatakan itu sebagai titisan pandawa lima.
Empat orang anak laki-laki nya tersebut bahkan sudah memiliki kesaktian luar biasa tiada tara, belum lagi jika ditambahkan dengan seorang lagi, membuat nya memastikan bahwa daerah pedukuhan mereka nanti hanya akan menjadi lokasi perang tiada henti seperti daerah-daerah lain nya.
Pulau yang mereka diami sangat luas dan luas, pulai ini juga di kenal akan keangkeran dan kengerian nya selain karena suku-suku pemburu kepala yang mendiami pulau ini, juga karena begitu lebat nya hutan dan belukar di pulau ini, hal tersebut juga menambahkan suasana misterius dan keagungan nya tersendiri, bahkan dari pohon-pohon tinggi besar dan agung ini ada sebuah Legenda yang menyebutkan jika manusia bisa menemukan sebuah pohon yang bernama Batang Garing maka manusia itu akan hidup abadi dengan kekuatan tiada tara.
Pada zaman mereka sekarang praktik saling membunuh dan membalas dendam ini seperti sebuah hal biasa dan lumrah terjadi, Asang ma Asang, Bunu ha Bunu, Kayau ma Ngayau dapat diartikan sebagai kegiatan saling bunuh antar suku, sebab banyak suku-suku serumpun yang mendiami pulau ini.
Karena kedekatan dan kehidupan yang sehari-hari berhubungan langsung dengan hutan-hutan lebat dan misterius ini, orang-orang disana dikaruniai sesuatu kekuatan mistis yang sakti tiada tara dari mahluk-mahluk spiritual dan gaib yang mendiami hutan-hutan tersebut sehingga kekuatan mereka menimbulkan permusuhan tiada berkesudahan.
Namun, tidak semua mahluk spiritual dan gaib disana merupakan roh jahat yang mengajarkan manusia hanya kejahatan membunuh semata, ada juga dari mereka mengajarkan kebaikan hati dan melindungi mereka dari roh-roh jahat.
.
Pada zaman ini jugalah banyak bermunculan pahlawan-pahlawan dan orang-orang Kenamaan yang melindungi dan berperang bagi suku-suku mereka, tidak terkecuali di pedukuhan kecil ini. bahkan kepala pedukuhan mereka juga merupakan salah satu pangkalima perang yang banyak ditakuti orang-orang dari suku lain.
**
Waktu berganti, hari menjadi bulan dan bulan menjadi Tahun, Tambung yang melihat kehamilan istri nya sedikit aneh karena sampai lebih satu tahun ini tidak juga melahirkan, Sehingga dia memutuskan untuk membuat upacara pesta Adat melalui perantaraan roh Jatta Nyai Kambang yang tinggal di pulau Linggang Goyang. Bermacam jenis sesajen dipersembahkan, begitu juga persembahan lainnya berupa kerbau berekor emas dan bangunan beratap ringgit.
Permohonan Tambung sang kepala Pedukuhan pun akhirnya dikabulkan selang beberapa hari acara dilakukan, istri Tambung yang sedang mengandung tua akhirnya melahirkan seorang putri yang diberi nama "Bawin Putir Busu Dirung Kasanang Atei.” Tambung yang saat itu jelas sangat senang karena kelahiran putri nya mengadakan pesta besar.
Pesta diadakan selama Tiga Puluh Hari Tiga puluh Malam sebagai ucapan terima kasih kepada Roh Jatta Nyai Kambang dan juga sebagai ucapan syukur terhadap Ranying Hattala Langit yang merupakan Roh penguasa langit karena bantuan darinya persalinan dilakukan dengan selamat.
Maka Tambung mengundang banyak orang ke acara tersebut, dengan kesaktian nya Tambung mengirim burung-burung Elang peliharaan nya mengabarkan kabar gembira kelahiran Putri nya tersebut ke segala penjuru pulau tersebut.
Semakin hari semakin banyak orang datang ke acara tersebut dari segala penjuru dan dari berbagai suku, dihari pertama acara diadakan hadir dari kampung terdekat Tamanggung Singa Bahandang Bulu Kahetang Atei bersama dengan seratus bawahan nya dari Kampung Ampit Amas Mangandung.
Dihari kedua tidak kalah banyak nya dari pasukan pertama hadir pula Tunggal Antang Kandereng Atei beserta dua ratus bawahan nya dari Kampung Baru Batang Tunggal.
Dihari Ketiga kali ini lebih banyak lagi orang datang dari DAS berbeda dibawah pimpinan Dambung ayah Sumbu Kurung dari Kampung Tanjung Bereng Kalingu.
Dihari Keempat kali ini hadir pula Tamanggung Mara Pati dari Kampung Luwuk Dalam Betawi dia hadir bersama tiga ratus anak buah nya.
Sampai hari-hari berikutnya juga terus berdatangan tamu-tamu yang diundang oleh Tambung jumlah mereka sekarang bahkan mencapai Ribuan orang, tapi dalam hati nya Tambung juga merasa kecewa karena sampai hari ke dua puluh tiga acara pesta berlangsung, tidak juga didapati nya kawan baik nya datang.
Suasana meriah menghiasi acara pesta dipedalaman hutan tersebut, sebab setiap hari nya bahkan Tambung harus menyembelih sepuluh ekor kerbau nya untuk memberi makan semua orang disana, belum lagi stok-stok tuak dan beras-beras yang dia keluarkan demi meriah nya acara itu, bahkan Malam ini pun dia kembali mengambil sebuah Guci besar dari rumah penyimpanan nya untuk menyuguhkan Tuak terkenal dari Pedukuhan ini.
Karena kebiasaan orang-orang disana yang saling menghargai kekuatan mulai mengambil alih acara pesta banyak dari mereka mulai bertukar kekuatan dan kesaktian, maka dibawah bintang malam ini mereka yang sedang adu kesaktian itu, satu persatu mulai menunjukkan keahlian nya, rasa khawatir di hati Tambung pun semakin menjadi-jadi sebab sebenarnya dia ingin menjodohkan putri nya Bawin Putir Busu Dirung Kasanang Atei, dengan anak sahabat nya Tamanggung Kilat dari Lewu Garantung Nyahu yang hanya beberapa tahun lebih tua dari anak sahabat nya itu.
Malang tidak dapat ditolak dan untung tidak dapat diraih, walau pun baru berumur beberapa hari Dirung yang masih bayi tidak mengetahui bahwa diri nya sekarang menjadi bahan taruhan para bangsawan yang hadir.
“Lihat dengan tangan ku aku menggenggam api membara di kayu ini.”
Seorang pemuda terlihat sedang memegang sebuah api yang menyala-nyala di sebuah kayu, bahkan dia membiarkan api itu bersentuhan dengan rambut nya tapi tidak terjadi apa-apa, penonton pun bertepuk tangan dengan riang nya karena sudah dalam pengaruh tuak mereka semua terlihat senang dan bahagia.
“Itu tidak ada apa-apa nya lihat kami dari Kampung Luwuk Dalam Betawi.” ucap seorang pemuda yang hati nya panas melihat kesaktian pemuda pertama.
Kali ini terlihat seorang pemuda yang hanya belasan tahun, hampir sama umur nya dari pemuda pertama, dia mengambil air panas yang sedang mendidih dari sebuah kuali yang berada di tengah api unggun didepan mereka.
Byurr..
Dia memandikan diri nya dengan air panas tersebut dan tidak ada terjadi apa-apa, kembali suara tepukan penonton semakin meriah, kini seorang pemuda belasan tahun juga terlihat sedang mengambil tempat.
“Jangan senang dulu, kami dari Kampung Ampit Amas Mangandung akan menunjukan kekuatan.”
Pemuda itu sekarang terlihat sedang berjalan mendekati Danau yang berada dekat di pedukuhan mereka.
Memang pedukuhan ataupun perkampungan dipulau aneh ini, kebanyakan didirikan di Daerah Aliran Sungai atau di dekat danau tempat air banyak mengalir, mungkin karena ketergantungan dari air atau sebab upacara adat yang sering mereka laksanakan, jadi daerah pinggiran sebuah sungai atau danau menjadi tempat perkampungan bagi mereka penduduk dipulau tersebut.
Boom.. bomb.. bomb..
Air danau tadi pun terbang kesana kemari laksana air hujan yang turun membasahi bumi karena sebuah ledakan hebat terjadi juga memadamkan api unggun yang berada di tengah mereka, bagikan sebuah kekuatan peledak berdaya ledak tinggi air danau tersebut berhamburan.
Suasana sekarang menjadi gelap-gulita hanya remang-remang cahaya sedikit terlihat dari rumah-rumah sederhana berdinding kan kulit pohon dan beratapkan daun yang tampak menyinari mereka dan dari cahaya bintang dilangit.
Tapi tiba-tiba dari tengah danau besar itu suara air mengeritik mulai didengar orang-orang semakin lama semakin besar, Pemuda tadi yang masih berdiri di pinggir danau itu pun membalik kan badan nya melihat ke arah danau. Namun saat dia berbalik sebuah kepala yang sangat besar menyambar nya seperti ikan yang menyambar serangga diatas air.
“Ular Naga.. itu Ular Naga, cepat selamatkan diri.”
Terlihat seekor Ular Naga bersisik emas keluar dari dalam danau tersebut dan terlihat lahap sedang memakan pemuda tadi yang sebelum nya meledakan air di danau tersebut.
Semua orang berlarian kesana kemari menyelamatkan diri mereka, sebab bagaimana pun kesaktian yang mereka miliki dibawah kekuatan seekor Ular Naga semua itu tiada arti, hanya jika mereka memiliki kekuatan setara dengan Ular Naga tersebut barulah mereka bisa melawan nya, tapi apalah daya kesaktian manusia ada batasan nya di depan mahluk mitologi ini.
“Cepat lari bawa putri kita Bawin Putir Busu Dirung Kasanang Atei.”
Ucapan Tambung itu memecah keheningan malam itu dan membuat istri nya yang berada didalam rumah terkejut, dengan segera dia membawa putri nya sedangkan Tambung segera mengambil pedang nya dan beberapa harta yang bisa dia selamatkan juga beberapa kain lusuh yang ada didalam sana sebagai bungkusan dari semua harta yang mereka miliki.
Semua orang malam itu pontang panting menyelamatkan diri dan Tambung bersama dengan bawahan-bawahan nya pun berpindah tempat ke arah utara dekat perbukitan Ham Payang, sebab daerah selatan yang kaya dan makmur itu berada di selatan dekat dengan danau besar dan bukit Marimang.
Hari itu mereka sadar telah membuat Ular Naga Emas penunggu Danau Layang tersebut marah dan memusnahkan perkampungan mereka, setelah nya mereka semua membubarkan diri, sedangkan Tambung bersama dengan orang-orang nya mendirikan perkampungan lagi ditempat nya yang sekarang.
Beberapa hari berselang setelah kejadian tersebut Tambung bermimpi dia di datangi oleh orang tua berjanggut panjang dan memiliki rambut serba putih, dengan pakaian dari Kain sutra yang halus dan lembut berwarna Keemasan.
Tambung sadar dalam mimpi nya pasti orang tua didepan nya ini adalah seorang bangsawan ataupun saudagar kaya, sebab mereka saja sulit untuk mendapatkan pakaian dengan kain kasar sekalipun, mereka yang hidup di pedalaman hutan hanya memanfaatkan kulit pohon yang sedikit halus seperti kain untuk menutupi tubuh-tubuh mereka.
“Oh cucu ku mengapa kamu mengadakan pesta besar tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada roh-roh penunggu hutan ini.” ucap kakek tua tersebut.
Tambung hanya terdiam tidak bisa menjawab orang tua tersebut, dia mengingat memang melupakan ritual meminta izin kepada roh-roh penunggu hutan dan tempat-tempat keramat yang berada di pedukuhan nya tersebut.
“Sebab karena kamu melupakan kewajiban yang harus kamu lakukan maka suku bangsa kalian tidak lagi di izinkan berburu dan mengambil apapun yang berada di dekat Danau Layang, jika tidak maka bencana yang akan kalian dapatkan.”
Ucapan kakek tua itu membuat Tambung merasa sakit hati dan tidak berdaya sebab selama ini selain berladang Danau Layang lah tempat nya menggembalakan Kerbau-kerbau nya yang berjumlah ratusan, bahkan sekarang dia tidak lagi bisa mendekati danau itu untuk mengambil kerbau-kerbau nya yang masih banyak terdapat disana.
Malam itu dia terbangun dari mimpi nya dan merasakan pilu di hati nya, sebab semua kekayaan yang dia miliki hilang dalam semalam, begitu juga dengan nasib ke depan dari Suku nya dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi nasib ke depan.
**
Waktu berlalu semakin cepat sudah belasan tahun setelah kejadian itu, pedukuhan sekarang berkembang menjadi kampung tanpa nama sebab orang-orang masih menganggap daerah itu pun seperti dulu, sekarang Bawin Putir Busu Dirung Kasanang Atei tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik jelita, di Kampung nya dia lebih dikenal dengan Nama Dirung.
Gadis remaja ini memiliki rambut lurus dan panjang yang menjuntai sampai ke pinggul, warna hitam mengkilap rambut tersebut memang mempercantik diri yang memiliki kulit seputih beras, tidak jarang orang-orang bahkan bisa melihat guratan nadi berwarna hijau di kulit nya yang putih tersebut.
Kecantikan Paras nya membuat gadis ini menjadi sempurna, hidung nya yang mancung dan wajah yang oval sempurna dengan mata berwarna coklat jernih, membuat semua pria pasti akan jatuh hati pada nya.
Selain itu Dirung juga dikenal pekerja keras dan baik hati, setiap hari bahkan dia membantu ibu nya bekerja di rumah dan di ladang tanpa takut kulit nya menjadi hitam, tapi aneh nya semakin dia bekerja dibawah terik matahari kulit nya tidak sedikit pun berubah hitam dan tangan nya tidak sedikitpun menjadi kasar.
Banyak gadis sebaya nya menjadi iri melihat Dirung, tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak sebab Ayah Dirung adalah Kepala di Kampung mereka, Kepala Keluarga yang dulu nya hanya berjumlah tiga puluh kepala keluarga pun sekarang menjadi sekitar dua ratus kepala keluarga.
Walau di awal perkampungan itu dibangun Tambung agak kesulitan membuka ladang dan mencari air diri nya tidak patah semangat, dia terus memerintahkan beberapa orang untuk mencoba menggali sumur sampai akhir nya menemukan titik sumur untuk mereka bertahan, seiring berjalan nya waktu, mereka juga membuat beberapa kali kecil dari mata air yang terus menerus keluar dari Bukit Ham payang dan sekarang kali-kali itu sedikit membesar dan dapat menyokong kehidupan Kampung tanpa nama yang dipimpin oleh Tambung.
Kabar kecantikan Dirung pun makin hari makin menyebar dari satu orang ke orang lain nya dan kabar ini pun didengar oleh Para Bangsawan-Bangsawan dari berbagai anak suku serumpun.
Seseorang dapat dikatakan kaya dan merupakan bangsawan pada zaman itu jika dia memiliki ternak kerbau atau sapi sebanyak tiga ratus ekor lebih, ternak babi lima ratus ekor lebih, Guci Tempayan besar sebanyak seratus lebih, memiliki Gong berbagai ukuran sebanyak kurang lebih sepuluh pasang setiap jenis nya, Memiliki Pakaian Kain yang menutup seluruh tubuh nya, keluarga nya, anak-anak nya dan bahkan budak-budak nya dan sebanyak sepuluh lembar lebih harus ada pada nya.
Yang paling penting adalah orang tersebut harus memiliki sebanyak seratus paling sedikit tengkorak kepala manusia dibawah tangga rumah nya.
Kabar akan kecantikan Dirung pun terdengar sampai ke telinga Tamanggung Kilat dari Lewu Garantung Nyahu, yang jarak nya berbulan-bulan perjalanan dari Kampung tempat Tambung berasal.
Karena Kabar kecantikan Bawin Putir Busu Dirung Kasanang Atei itu sudah sampai kesana kemari banyak bangsawan-bangsawan datang ke Kampung Tambung yang berada di daerah paling hulu.
Tidak sedikit dari mereka yang membawa mas kawin berupa Guci, Pakaian indah, kalung-kalung permata, Emas dan intan berlian sebagai tanda ketulusan ingin melamar Dirung.
Selain Bangsawan-bangsawan kecil yang sebelum nya hadir di Pesta besar beberapa belas tahun lalu untuk melamar, datang juga Bangsawan-bangsawan Besar yang gagah perkasa dan terkenal kenamaan di pulau tersebut diantara nya adalah : Tunggal Runjang dari Benteng Kahayan, Tunggal Mambu dari Upon Batu, Tunggal Rasau dari Bukit Kaminting dan Tunggal Iman dari Batu Mapan.
Bahkan tidak tanggung-tanggung orang-orang ini juga membawa lebih banyak lagi mas kawin dan harta benda sebagai tanda ketulusan lamaran tersebut, selain mereka yang hadir adalah pemuda gagah perkasa dan kenamaan, tidak sedikit juga mereka yang ada adalah para Tamanggung yang memimpin suatu daerah, yang juga menginginkan selir bagi mereka.
Tetapi tidak ada satupun yang diterima oleh Dirung karena dia menganggap diri nya masih belum siap untuk berumah tangga dan menikah di usia nya yang baru empat belas tahun.
Karena kabar akan kecantikan ini terus menyebar bahkan melebihi kabar dari pertempuran suku-suku yang ada, sebab selain bangsawan-bangsawan yang hadir melamar telah melihat sendiri kecantikan Dirung, membuat kabar tentang kecantikan gadis ini terus menyebar bagaikan api di padang rumput kering.
Kabar itu pun didengar oleh seorang Saudagar Kaya, Tidak lama berselang datanglah Raja Ginjal Tanah Betawi yang mendengar kabar dari sang saudagar kaya dengan menggunakan sebuah kapal yang sangat besar dan megah bermuatan bermacam barang berharga dari Tanah Laut. Tujuannya adalah untuk meminang Dirung bagi Putra Mahkotanya. Namun lagi-lagi lamaran ditolak dengan alasan yang sama.
Khawatir akan keadaan Putri nya tersebut membuat hati Tambung menjadi sakit dan kalut dia takut bahwa putri nya nanti akan benar-benar menjadi Titisan Roh Agung Penjaga Bukit Marimang, sebelum semua nya berantakan maka dengan paksa Tambung mengasingkan putri nya Dirung Ke sebuah bukit batu tinggi bernama bukit Hakad, dibagian timur Kampung mereka jarak nya sekitar setengah hari jika berjalan kaki.
Sehari sebelum Tambung membawa putri nya Dirung untuk mengasingkan diri ke Bukit Hakad, kembali dia bermimpi dalam mimpi nya kali ini dia di datangi oleh Bawin Kameloh yang merupakan sebuah roh hutan penjaga manusia, di mimpi nya tersebut Bawin kameloh menyerahkan sepasang anting permata yang terbuat dari emas dan memiliki bentuk yang indah dan kekuatan sihir luar biasa anting itu bernama Anting Koram.
Bawin Kameloh merasa kasihan melihat nasib dari Dirung yang akan diasingkan seorang diri ditengah kekacauan zaman dan perilaku manusia yang tak terkendali, sehingga tergeraklah hati nya untuk membantu dengan cara memberikan Anting pusaka milik nya tersebut.
Bukit Hakad memang terkenal indah dan banyak memiliki sumber makanan yang berlimpah, sebab dulu bukit ini menjadi ladang bergantian bagi suku-suku disana, seiring waktu orang-orang ini juga mulai berpindah-pindah tempat mereka menetap maupun berladang, sehingga tanaman buah-buahan yang pernah mereka tanam saat berladang dulu tumbuh subur ditempat ini, saking subur nya bahkan tanaman buah-buahan disini tidak termakan hewan-hewan di bukit Hakad, membuat nya jatuh sendiri, membusuk dan berkembang lebih banyak lagi dari tahun ke tahun.
Saat merasa persiapan nya telah selesai Tambung membawa anak gadis nya tersebut ke Bukit Hakad, selain membawa perbekalan makanan dan kebutuhan lain dia juga membuatkan rumah sederhana untuk anak gadis nya tersebut, Hati Dirung sebenar nya sangat sedih dan terluka karena dia sudah diasingkan oleh ayah dan ibu nya, tapi apalah dikata karena bahkan dia tidak tahu garisan takdir nya sendiri dia hanya menuruti kemauan kedua orang tua nya tersebut.
Menjalani hidup seorang diri di tengah Hutan belantara yang luas tidak membuat gadis cantik ini takut, dia yang adalah anak Kepala Suku jelas memiliki kekuatan dan kesaktian nya sendiri selain itu dia juga mendapat sebuah anting pusaka yang diberikan ayah nya sebelum ayah nya pergi, agar tidak terlihat mencurigakan dan menjadi sasaran orang lain, gadis cantik ini bertahan hidup sendiri di hutan dengan cara merubah diri nya menjadi seekor Burung Tingang yang sangat elok rupa nya dengan kekuatan Anting milik nya itu.
Dia sehari-hari mencari makan dari buah-buah yang ada di pepohonan, kemampuan nya berubah wujud ini tidak lepas dari kesaktian nya yang makin hari makin bertambah serta sehingga dapat lebih lama merubah wujud menjadi Burung Tingang untuk mencari makan nya.
Selain merubah wujud menjadi Burung Tingang dia juga merubah wujud nya menjadi seorang pria gagah perkasa, sehingga dalam wujud pria nya ini dia bisa dengan mudah membuka lahan dan mulai berladang sendiri disana.
**
Bandar nama itu terkenal hampir di seluruh daerah pulau tersebut, dari Kampung Luwuk Dalam Betawi, Kampung Ampit Amas Mangandung, Kampung Tanjung Bereng Kalingu, sampai juga mulai di Kenal di Kampung tanpa nama yang dikepalai Tambung.
Pemuda bernama Bandar adalah anak dari Tamanggung Kilat dari Lewu Garantung Nyahu penguasa di kampung tersebut, Pemuda gagah perkasa ini terkenal karena kesaktian nya, Dia sudah mengalahkan beberapa pasukan musuh yang mencoba menyerang Kampung Lewu Garantung Nyahu.
Selain itu dia dikenal sebagai pemuda yang tampan dan rupawan memiliki aura pahlawan yang memancar dan meningkatkan ketampanan nya membuat banyak putri-putri dari Tamanggung-Tamanggung di daerah lain jatuh hati pada nya, tidak hanya itu pemuda ini juga sudah membuat beberapa Putri Raja dari Negeri seberang Tanah Betawi yang pernah bertemu saat melakukan perdagangan dengan Suku kampung dalam Lewu , sehingga mulai saat itu diri nya terus dicari-cari putri raja tersebut saat mereka berlabuh dipulau ini untuk melakukan perdagangan.
“Dimana Bandar?.”
“Aku ingin mencari bandar, apakah dia ada bersama kalian.?”
“Aku hanya ingin berdagang dengan Bandar tidak dengan yang lain nya.”
Sehingga mulai saat itu setiap orang yang ingin berdagang dengan Pedagang dari Negeri Seberang harus melewati Bandar terlebih dahulu sebagai perantara nya, agar Putri Raja Ginjal dari Negeri Tanah Betawi ingin melakukan perdagangan dengan suku-suku kecil ini.
Bagi Bandar sendiri semua pujian dan sanjungan yang diterima nya hanya sebagai angin lalu, karena Pemuda ini cukup aneh bagi orang-orang kala itu, karena kegemaran nya adalah berburu, seandai nya dia memanfaatkan kedekatan nya dengan Sang Putri yang menjadi kepala pedagang jelas dia akan berkelimpangan harta dan tidak hidup sebagai pemburu lagi. kegemaran nya ini bahkan bisa membuatnya berbulan-bulan berburu dalam hutan rimba belantara seorang diri, hanya bermodalkan pedang di pinggang dan tombak sipet di tangan nya,
Tombak Sipet sedikit berbeda dari tombak pada umumnya karena tombak sipet memiliki sebuah lobang panjang dari ujung bawah hingga ujung atas nya sebagai mata untuk mengisi anak sumpit, anak sumpit ini pun pada ujung nya sudah diberikan racun mematikan, jika sedikit saja terkena pada kulit maka dapat dipastikan dalam beberapa hari orang tersebut akan mati.
Di tengah perburuan nya Bandar memasuki sebuah hutan lebat yang sebelum nya belum pernah dia masuki, bagi nya semua hutan itu sama saja asalkan ada langit yang dapat terlihat dia bisa mengetahui arah dan tujuan nya agar tidak tersasar, selain itu dia juga dapat mengetahui suatu lokasi hanya dengan melihat pepohonan sehingga kemana pun dia tidak akan kehilangan arah, namun naas bagi nya.
Hari itu bandar ternyata memasuki Hutan terlarang Lewu Tatau, dia hari itu mengikuti sebuah Burung besar mirip burung Kuau yang indah dan elok secara diam-diam, beberapa kali juga dia sudah bersiap meniup sumpit di tangan nya tapi secara ajaib juga burung yang di incar nya tersebut selalu terbang mendahului sumpit nya, sehingga membuat nya menunggu waktu yang tepat untuk mencoba kembali, karena asyik menelusuri hutan belantara itu dia lupa melihat tanda-tanda dilangit dan hutan di sekitar nya, secara tidak sengaja dia memasuki sebuah hutan terlarang, sedangkan burung incaran nya itu sudah pergi entah kemana.
Hutan itu memang terlihat seperti hutan pada umum nya tapi ada beberapa tanaman dan binatang yang belum pernah dia temui sebelum nya disana, dia dengan hati-hati dan mengendap-ngendap memasuki hutan tersebut semakin dalam.
Di tengah hutan tersebut Bandar melihat sebuah pohon yang sangat besar dan unik, daun nya memang terlihat seperti daun biasa pada umum nya tapi memiliki keanehan lain yaitu daun pohon tersebut memancarkan kilauan cahaya seperti permata yang mengkilat-kilat jika terkena cahaya.
Di bagian tengah pohon tersebut ada beberapa buah mirip seperti jambu air tapi berwarna merah darah, beberapa Burung yang belum pernah dilihat Bandar sebelum nya, juga terlihat sangat senang memakan buah-buah ini, burung itu bernama Burung Tingang Lewu Tatau, burung Tingang ini berbeda dengan Burung Tingang pada umumnya.
Karena burung yang bandar lihat tersebut bukan seperti Burung Tingang biasa, Bandar tidak berani mendekat kesana sebab burung yang dia lihat memiliki paruh seperti Elang tapi memiliki tubuh seperti Burung Tingang dan ukuran nya sangat besar, bahkan bentang sayap nya pun mencapai beberapa depa panjang nya, di bawah kekuasaan burung-burung raksasa tersebut Bandar yang hanya seorang manusia jelas dengan mudah dapat masuk kedalam cengkraman mereka.
Dia hanya menunggu burung-burung itu pergi dari sana tapi semakin hari menunggu burung-burung tersebut malah semakin banyak bermunculan dan berdatangan dari semua penjuru, bahkan sekarang dia tidak bisa dengan mudah kabur dari lokasi nya yang sudah sangat dekat dengan pohon besar itu.
Tiga hari lama nya dia menunggu bahkan sekarang tidak ada lagi dalam pikiran nya untuk berburu burung-burung besar tersebut, yang ada di pikiran nya dalam beberapa hari ini hanyalah untuk kabur dari tempat tersebut, tapi bahkan diatas kepala nya pun banyak burung-burung itu bertengger, membuatnya bergerak saja sulit apa lagi melarikan diri.
Sehari sebelum nya bandar melihat seekor harimau besar yang berjalan melintas daerah itu, harimau dikenal karena keganasan dan kekuatan nya, membuat para pemburu dari suku nya pun bisa gemetaran terhadap sosok seekor harimau, tapi tidak dengan burung-burung itu, mereka melihat harimau adalah mangsa yang enak dan lezat sehingga mereka dengan segera menyambar harimau tersebut, kecepatan sambaran dari burung-burung itupun bahkan membuat Bandar pun tidak bisa melihat nya dengan jelas, yang dia lihat hanyalah tubuh harimau itu sudah menjadi daging cincang di kaki-kaki burung Tingang yang penuh cakar seperti elang tersebut.
“Sial bangai mana kau bisa pergi dari tempat ini, ratusan burung ini membuatku bisa mati kelaparan.” ucap nya hari itu dalam hati nya.
**
Matahari kini kembali bersinar terang menunjukkan keperkasaan nya yang menghidupi semua mahluk dengan sinar keagungan nya, hari ini ketujuh hari nya bandar masih memakukan diri nya di semak belukar di dekat pohon tersebut dan menutupi diri nya dengan dedaunan agar tidak terlihat dan tercium oleh burung-burung raksasa itu.
Tubuh nya bahkan sudah lemas sekarang dan tidak bisa bergerak lagi karena kelaparan, dia bahkan sudah pasrah terhadap nasib nya tersebut, saat hendak memejamkan mata dan tertidur seekor Burung yang berwarna Putih bersih dengan ukuran lebih besar dari pada burung-burung yang ada disana mengusir kumpulan burung tersebut.
Keperkasaan nya bukan lawan bagi ratusan burung-burung tersebut, membuat mereka semua segera menjauh dari Pohon yang diberi nama Batang Garing tersebut. Burung besar berwarna putih itu yang lebih mirip terlihat seperti burung rajawali itu bernama Burung Sambarirang.
Walaupun sekarang Bandar terbaring lemah dan tidak mengeluarkan suara apapun energi kehidupan nya tetap bisa dirasakan oleh Burung Mitos Sambarirang dengan mudah nya, dia yang adalah salah satu Roh Penunggu Pohon Batang Garing itu pun Merasa kasihan melihat Bandar dan segera membawa nya ke Batang Garing.
Ternyata di tengah Pohon itu ada sebuah cekungan berguna untuk menampung Air murni dari Pohon Batang Garing, Burung tadi segera saja merubah diri nya kebentuk manusia untuk membantu bandar meminum air murni dari batang garing.
Sekali tegukan air itu bisa membuat orang yang mati bahkan kembali bernafas, Dua kali tegukan air itu bisa membuat orang sekarat kembali segar dan bertenaga, tiga kali tegukan dapat membuat orang yang sehat memiliki tenaga dalam dan kekuatan magis luar biasa.
Bandar pun tersadar, dia heran melihat lelaki yang gagah perkasa berdiri di dekat nya yang sekarang berada diatas pohon batang garing.
“Siapa kamu? apakah kamu yang menolongku?” ujar bandar bertanya.
“Benar aku adalah orang yang menolong mu, kamu dapat memanggil ku Sambarirang.”
“Aku Roh Penunggu Pohon Batang Garing ini.”
“Batang Garing?”
Seolah tidak percaya bandar bahkan menanyakan kembali nama pohon tempat nya sekarang berdiri, dia sempat melihat sekitar memastikan posisi nya, benar saja sekarang bahkan dia bisa melihat ke bawah, bahkan pohon lain pun terlihat sangat kecil dari atas pohon ini.
“Benar ini adalah Batang Garing, Pohon Suci.”
“Kamu hampir saja mati kelaparan, aku melihat mu dan membawa mu kemari.” ucap lelaki berpakaian serba putih itu yang sekarang berdiri didepan Bandar.
“Maafkan aku yang tidak memiliki sopan santun kepada penolongku.”
“Terima Kasih sebelum nya karena Tuan Sambarirang aku berhasil hidup.”
“Aku Bandar dari Kampung Lewu Garantung Nyahu, Anak dari Tamanggung Kilat.”
“Jangan dipikirkan, sudah suratan takdir kita bisa bertemu disini.”
“Ini makan lah.”
Seketika buah berwarna merah darah melayang ke arah bandar dan pemuda itu dengan segera menangkap nya dengan lincah. Melihat buah itu dia tahu bahwa itu adalah buah dari Pohon Batang Garing yang dia lihat beberapa hari sebelum nya.
“Apakah kamu benar-benar memberikan ku Buah dari Pohon ini?” tanya bandar keheranan.
“Benar, kamu sudah tidak makan beberapa hari, dengan kekuatan dari buah itu kamu bahkan tidak perlu makan lagi selama nya.”
Ucapan itu membuat hati bandar semakin senang, karena dia tahu bahwa menurut cerita suku-suku yang mendiami pulau misterius ini seseorang yang dapat memakan buah dari Pohon Batang Garing akan mendapatkan kesaktian tiada tara dan kehidupan yang abadi.
Jadi dia dengan segera memakan buah itu, saat memakan nya dia merasakan rasa manis yang seperti madu dan tektus yang lembut seperti jambu air, membuat nya melahap buah itu dengan cepat. melihat tingkah nya Sambarirang hanya tersenyum tipis, sebelum berkata.
“Bandar, makan lah dengan perlahan tidak ada yang akan mengambil buah itu dari mu.”
“Kalau masih kurang, ini simpan lah untuk mu di perjalanan pulang nanti.” ucap nya kepada bandar.
Bandar membelalakkan mata nya melihat sekitar lima buah sedang terbang dilemparkan ke arah nya, dengan sigap kali ini dia juga menangkap semua buah-buah tersebut dan menyimpan nya di buntelan kain yang berada di pinggang nya.
“Takdir mu cukup berat rupa nya, untuk membalaskan budi mu bisakah aku meminta mu melakukan sesuatu?” ucap Sambarirang kepada Bandar.
“Tentu bisa Tuan ku, Apa yang dapat ku lakukan untuk Tuan ku?.” ujar nya lagi.
“Lewu Tatau Selama ratusan tahun ini ternyata telah berhasil ditembus dan membuat tercipta nya lubang dimensi yang membuat mahluk-mahluk diluar dapat masuk kedalam sini.”
“Penyebab nya adalah Ular Naga Air Emas yang menunggu Sungai Panatau Sanang telah lepas dan pergi ke dunia manusia dan meninggalkan tugas nya.”
“Untuk menutup lubang dimensi itu kamu harus membunuh Ular Naga Air Emas yang sekarang berada di Danau Layang dekat dengan Bukit Marimang.”
“Dengan kekuatan yang kamu miliki kamu memang bisa melawan nya dengan seimbang sekarang, tapi kamu tidak akan bisa membunuh nya.”
“Karena nya bawalah ini sebagai pusaka mu.”
Kali ini sebuah pedang pusaka Sanaman Mantikei terbang kearah Bandar, pemuda itu sekali lagi menangkap pusaka tersebut yang bersama nya juga terdapat beberapa penyang dan item-item jimat pelindung untuk meningkatkan kekuatan dan kesaktian seseorang sekali lagi dalam beberapa tingkatan.
Dengan ada nya Pedang Pusaka di tangan nya dan setelah berpamitan dengan Sambarirang, Bandar sekarang pun akhir nya pergi meninggalkan Lewu Tatau.
**
Bawin Putir Busu Dirung Kasanang Atei, yang selama bertahun-tahun ini hidup sendiri sekarang sudah berhasil mencapai kesaktian setingkat ayah nya, selain bercocok tanam dan terbang kesana kemari dia juga ternyata membuat hubungan baik dengan Roh Suci penunggu Bukit Batu Hakad.
Dirung sekarang pun menjadi seperti anak bagi Roh Suci tersebut begitu pula se balik nya roh suci itu sudah seperti Ibu bagi Dirung, bahkan setiap hari setelah hari mulai senja roh suci dalam bentuk perempuan tua berbaju putih itu pun sering datang mengunjungi dia di gubuk kecil milik nya tersebut, Ternyata Roh suci tadi adalah Bawin Kameloh yang datang dalam mimpi Tambung ayah Dirung.
Tapi tanpa diketahui Dirung Roh Suci penunggu Gunung Batu Hakad itu yang telah memberi nya Pusaka Anting Koram tersebut juga menjaga nya dalam beberapa Tahun belakangan.
“Dirung hari ini adalah hari terakhir aku akan berkunjung ke tempat mu.” ucap perempuan tua yang sekarang sedang berdiri memasak di dapur sederhana milik Dirung.
“Kenapa Ibu, apakah ibu ingin pergi ke suatu tempat?.” ucap Dirung yang kaget mendengar pernyataan wanita tua tersebut.
“Benar sudah waktu nya kami para Roh Suci untuk kembali ke tempat kami di Lewu Tatau.”
“Karena sekarang Takdir sudah membawa perubahan besar, sebelum kami terpenjara diluar dan tidak bisa kembali ke tempat asal kami lagi, aku harus berpamitan dengan mu.”
“Ingatlah anak ku Titisan Roh Suci, jangan sekali-kali kamu menginjakkan kaki mu ke daerah Danau Layang.” ujar nya menatap Dirung dengan serius.
“Mengapa ibu? Apakah karena Ular Naga Emas yang menjaga disana?.” ujar Dirung memastikan apa yang selama ini berada di kepala nya, sebab selain Bawin Kameloh, ayah nya juga berpesan kepada seluruh orang di suku mereka untuk menjauhi Danau Layang.
“Benar, karena Ular Naga Emas itu sebenarnya adalah merupakan pasangan dari titisan roh suci penunggu bukit Marimang, yang sekarang juga kekuatan nya ada bersama mu.”
“Dia meninggalkan Lewu Tatau demi mencari titisan tunangan nya tersebut.”
“Jadi itulah mengapa ayah mu dulu ingin sekali lekas mengawinkan kamu dengan bangsawan-bangsawan yang melamar mu.”
“Sebab jika kamu sudah dinikahi oleh mereka kamu akan dibawa menjauh dari tempat ini dan menghindari Ular Naga Emas tersebut.”
Dirung hanya terdiam mendengar ucapan wanita tua yang telah dia anggap sebagai ibu tersebut, dia baru mengetahui semua nya sekarang tujuan ayah nya ingin menikahkan nya dan mengusir nya menjauh dari Danau Layang adalah karena dia merupakan Titisan dari Roh Suci Penjaga Bukit Marimang yang berada tepat didekat Danau layang.
Malam itu dia menangis tersedu-sedu karena baru mengetahui kebenaran nasib nya yang bahkan sudah di pingit oleh Ular Naga Emas yang merupakan tunangan dari Roh Suci ditubuh nya jauh sebelum dia dilahirkan, belum lagi malam ini adalah malam terakhir nya bersama Ibu angkat nya.
Subuh hari sekali Bawin Kameloh membangunkan Dirung dan hendak berpamitan, dia memeluk Dirung dengan erat dan mencium kening gadis cantik tersebut.
“Anak ku... sekarang kecantikan mu bahkan jauh melebihi Sumbu Kurung dari Kampung Tanjung Bereng Kalingu.”
“Pasti banyak Pria Gagah dan Perkasa yang ingin mempersunting mu di kemudian hari dan ku harap kamu hanya mengambil suami dari seorang pria yang dapat menjaga Anting Koram yang kuberikan itu.”
“Ingat lah Anting yang ada pada mu merupakan perantara roh suci yang dapat kau gunakan untuk memanggil ku.”
“Walaupun wujud ku tidak bisa seperti ini lagi mendatangi mu, tapi kita masih bisa berbincang-bincang dalam mimpi mu.”
Ucapan tersebut merupakan ucapan terakhir yang di dengar Dirung di hari itu dari sosok ibu angkat nya tersebut dengan wujud manusia nya. Setelah sosok itu menghilang seperti kabut didepan mata nya, tangisan Dirung yang terhenti karena tertidur kembali terdengar hari ini.
Seharian dia menangis dan meratapi nasib nya bahkan tidak akan ada seorang pun yang mendengar nya di belantara hutan lebat itu, tapi bukan orang yang diharapkan datang.
Suara kaki orang berlari terdengar semakin kuat, suara yang awal nya kecil tersebut ternyata semakin besar, Bumi pun berguncang kuat membuat tangisan Dirung berhenti seketika.
Kali ini Suara pepohonan roboh terdengar menakutkan makin lama makin mendekat, Dirung segera keluar dari Gubuk nya karena hari masih terang dia pun mencari sumber suara menakutkan itu.
Dia yang berdiri didepan rumah nya melihat kesana kemari namun tidak juga menemukan sumber suara tadi, sekarang bahkan suara angin saja tidak terdengar, kejadian itu mungkin saja terjadi jika ada hujan lebat yang membuat tanah longsor, tapi hari ini sangat cerah bahkan tanpa ada hembusan angin sedikitpun, jelas Dirung bertanya-tanya apa penyebab kejadian aneh tersebut.
Tis.. Tis.. Tis..
Beberapa Air menetes dari langit dan mengenai tangan nya, dia sontak saja kaget dan segera melihat ke atas, betapa terkejut nya dia melihat sosok Jin raksasa bermata satu dengan ukuran sangat besar sekarang sedang memandang nya dengan tatapan penuh nafsu yang bahkan meneteskan liur.
“Tidakkk, pergi dari sini..”
Teriakan Dirung yang terkejut itu pun membuat Jin raksasa tersebut juga terkejut, sosok Jin raksasa itu segera menangkap Dirung dengan cepat dan membawa nya pergi dari sana.
“Cepat Turunkan aku.”
“Turunkan Aku sekarang.”
Dirung berteriak sepanjang jalan berada di genggaman jin raksasa tersebut, sedangkan sang Jin raksasa bermata satu itu tidak juga mengindahkan perkataan Dirung, dia dengan senyum sumringah terus berlari ke arah selatan.
Tiba di suatu danau cukup besar, jin Itu bahkan memperlambat lari nya dan terlihat sedang mengendap-ngendap, tampak nya dia tidak berani berlari dengan kencang karena takut Sang Ular Naga Emas penunggu Danau Layang terbangun dari tidur nya.
“Segera turunkan aku atau aku akan menyerang mu.”
“Kamu ku berikan waktu hanya beberapa tarikan nafas untuk menurunkan ku.”
Mendengar teriakan Dirung di tangan nya, kali ini bahkan raksasa tersebut mengangkat tangan kiri nya yang memegang Dirung, Jin raksasa itu yang awal nya tidak mendengarkan Dirung pun ingin bernegosiasi kali ini dengan gadis cantik tersebut.
Dengan tangan kiri nya memegang Dirung dan tiba-tiba tangan kanan nya berada di bibir nya sendiri dengan telunjuk yang mengacung ke langit, memberikan tanda untuk Dirung agar tidak berteriak.
Jelas saja gadis pemberani itu tidak menuruti kemauan sang Jin Raksasa dia terus saja berteriak meminta tolong dan meminta agar diturunkan dari cengkraman jin tersebut.
Kali ini Jin raksasa tersebut sudah berada di pinggir Danau Layang dan karena dia tidak memperhatikan Danau yang berada dibelakang nya itu, tapi malah memperhatikan Dirung yang berada di genggaman tangan nya dan terus memberikan kode universal tanda diam tersebut, membuat nya tidak waspada.
Dari arah danau layang tempak sosok Ular Naga air raksasa yang terbang melayang sedang mengaga menyambar Jin besar tersebut, Bahkan Jin raksasa yang lebih tinggi dari pohon itupun disambar nya dalam sekali gigit, membuat kepala nya putus seketika.
Sedangkan Dirung yang sekarang mendapatkan kebebasan nya segera berubah menjadi Burung Tingang dan kabur secepat kilat dari tempat itu, Ular Naga Emas itu pun hanya meratapi calon pengantin nya pergi didepan mata nya sendiri, dia bahkan tidak melihat Dirung awal nya karena tertutup tubuh jin raksasa itu, dia hanya berhasil melihat calon pengantin nya tersebut lari dari sana dengan cepat.
Tapi tanpa diketahui oleh Dirung salah satu anting nya ternyata terjatuh ke dasar danau itu saat dia mencoba melepaskan diri dari raksasa tersebut.
Sosok Dirung yang terbang dengan ketakutan pun terus terbang menuju arah Perkampungan nya, tiba disana dia segera berubah menjadi sosok manusia kembali dan segera pergi ke rumah nya.
Mendengar kabar yang dikata kan oleh anak nya tersebut membuat Tambung menjadi terkejut dan khawatir, sekaligus bahagia bahwa anak bungsu nya itu bisa selamat dari Jin raksasa dan Ular Naga Emas.
Kekhawatiran Tambung itu pun menjadi-jadi karena Dirung memberitahukan bahwa salah satu pusaka Anting Koram yang ada pada nya terjatuh di danau layang. Kekhawatiran tersebut adalah karena dia ingat sosok Bawin Kameloh yang memberi nya Anting Koram pusaka berpesan kalung itu adalah sebagai penekan kekuatan dari Roh Suci penunggu Bukit Batu Marimang, jadi jika salah satu nya hilang maka ada kemungkinan kekuatan Roh Suci itu pun bisa terlepas dan mengambil alih tubuh Dirung.
Maka dari itu dalam beberapa hari ini mereka semua mempersiapkan pasukan untuk menyerang dan menyerbu kesana, Ke empat kakak laki-laki Dirung pun bahkan kali ini ikut pergi dan bersiap berperang untuk mengambil anting koram di danau layang.
Sedangkan Tambung tidak ikut dia hanya mengantarkan kepergian mereka semua setelah melakukan ritual suci peperangan, tabuh dan genderang katambung pun dibunyikan mengiring kepergian tiga ratus orang dari Kampung tanpa nama itu.
**
Selama satu minggu belakangan tidak juga didapat kabar dari para pasukan yang mereka kirimkan ke Danau Layang, sehingga membuat Tambung dan Dirung menjadi semakin cemas terjadi apa-apa dengan mereka semua.
Benar saja, sore hari menjelang malam seorang pasukan yang juga ikut berangkat bersama dengan mereka berlari ketakutan dan dengan tenaga-tenaga nya yang tersisa menghadap Tambung dan memberikan kabar duka, semua pasukan yang mereka kirim sudah dimusnahkan dan dimakan oleh Ular Naga Emas tersebut.
Perasaan bersalah dan sakit hati bercampur aduk dihati Dirung dia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi bencana tersebut, berhari-hari bahkan Tambung pergi ke Kampung-kampung terdekat meminta pertolongan tapi, jelas mereka yang berada di dekat dengan Kampung Tambung mengetahui sosok kuat Ular Naga itu, tidak ada seorang pun yang bersedia membantu mereka.
Sekarang bahkan masyarakat di kampung itu pun semakin ketakutan kalau saja sosok ular naga itu bisa merasakan keberadaan mereka yang hanya beberapa bukit saja dari Danau tersebut, mereka takut ular naga itu balas dendam dan pergi ke kampung mereka.
Diguncang pergolakan batin yang sangat besar Dirung pun mengingat perkataan ibu angkat nya bahwa cara satu-satu nya untuk bisa berkomunikasi dengan ibu nya tersebut hanyalah anting milik nya itu, selain itu dia juga mengingat bahwa sebaik nya dia mencari suami dari orang yang bisa menjaga anting koram tersebut untuk nya.
Jadi Dirung pun memanggil ayah nya dan memberitahukan agar ayah nya membuka sayembara, bagi siapa saja yang bisa membunuh Ular Naga Emas dan membawa Anting Koram milik nya yang terjatuh di Danau Layang.
“Jika orang itu seorang pria belum beristri dia akan menjadikan orang itu suami bagi nya.”
“Jika orang itu seorang pria sudah beristri tetapi meninggal dunia dia akan menjadikan orang itu suami juga bagi nya, berapa pun umur nya dan anak orang itu.”
“Jika orang tersebut beristri tetapi memiliki anak laki-laki yang seumuran dan lebih tua dari dirinya dia akan menjadikan anak orang tersebut sebagai suami asalkan orang itu tidak ber istri.”
“Jika orang yang berhasil menolong nya adalah orang tua tanpa anak dan tanpa istri dia akan tetap menjadikan orang tersebut suami bagi nya.”
“Jika orang yang menolong nya sudah beristri dan tidak memiliki siapa pun yang bisa dikawinkan dengan nya dia akan mengangkat orang itu sebagai ayah angkat bagi nya dan berjanji akan merawat orang itu seumur hidup nya.”
“Jika orang itu adalah perempuan muda dia akan menjadikan orang tersebut saudara, jika orang tersebut adalah wanita tua dan berumur dia akan menjadi kan orang tersebut ibu angkat nya.”
Perkataan Dirung itu terdengar cukup jelas di telinga Tambung dia pun segera mengabarkan sayembara yang diminta Dirung anak nya itu.
Kabar akan sayembara tersebut menyebar dengan cepat seperti sebuah wabah penyakit, selain itu Tambung juga menggunakan kekuatan nya dan mengerahkan semua binatang magis peliharaan nya terbang ke segala penjuru mengabar kan berita ini.
Hanya dalam beberapa hari saja Sudah ribuan orang-orang kenamaan dan pahlawan-pahlawan datang ke Kampung mereka, semua orang itu tidak menunggu lebih lama kedatangan orang lain, mereka pun menyerang langsung ke danau layang tapi tidak ada satu pun yang berhasil kembali dengan selamat.
Semakin hari semakin banyak yang ikut dan berpartisipasi dalam penyerangan tersebut, ratusan orang berubah menjadi ribuan, ribuan menjadi puluhan ribu, bahkan tidak ada dari mereka yang berhasil kembali, bak seekor Ular Naga yang rakus Naga Emas penjaga Danau layang itu pun melahap semua orang yang datang menyerang nya.
Di saat kekecewaan menumpuk dan putus asa terlihat di semua wajah orang dikampung tanpa nama itu, datang sesosok pemuda tampan gagah perkasa, tubuh nya berwarna putih seperti beras, dada nya lapang dan terbentuk sempurna, walau hanya memakai pakaian rompi dari kulit kayu orang-orang dapat mengetahui kekuatan pemuda yang datang tersebut.
“Aku Bandar anak Tamanggung Kilat Kampung Lewu Garantung Nyahu, datang ke sini untuk mengikuti sayembara dari Bawin Putir Busu Dirung Kasanang Atei.”
Bandar berteriak lantang didepan rumah tambung yang bentuk nya seperti rumah panggung itu, membuat tambung dan Dirung yang berada didalam sana pun terkejut mendengar perkataan lantang pemuda itu.
Masyarakat disana juga merasa kasihan terhadap pemuda tampan yang sedang mereka lihat sekarang, orang-orang dikampung itupun berkerumunan didekat Bandar, sedangkan Tambung sekarang keluar dan bertanya kepada Bandar.
“Apakah kamu Bandar anak dari Tamanggung Kilat dari Kampung Lewu Garantung Nyahu?” ucap Tambung.
“Benar tetua aku adalah Bandar anak Tamanggung Kilat dari Kampung Lewu Garantung Nyahu.”
“Aku dan ayah mu adalah sahabat, sebaik nya masuk kerumah ku sebelum kita membicara kan hal ini lebih lanjut.”
Setelah mempersilahkan Bandar masuk kedalam rumah nya, pemuda itu pun melangkahkan kaki nya menaiki tangga dari batang pohon yang dipakai untuk naik ke rumah tambung.
Saat berada di dalam dia melihat seorang gadis cantik jelita tiada tara yang dapat membuat hati nya bergetar dan membuat jiwa nya menjadi damai. Begitu pula se balik nya Dirung pun baru pertama kali nya melihat seorang pria yang tampan dan gagah laksana bukit tinggi yang perkasa, hati nya luluh melihat keindahan pemuda didepan nya tersebut.
Sedangkan Tambung mengkhawatirkan bandar yang sekarang bersih keras untuk pergi melawan Ular Naga Emas tersebut, dia tidak ingin nasib anak dari sahabat nya itu sama seperti orang-orang kenamaan lain nya, sehingga dia melarang bandar untuk ikut serta.
Tapi di satu sisi Dirung memperbolehkan bandar untuk ikut kedalam sayembara tersebut, membuat bandar yang saat itu sudah tidak sabar lagi menunjukkan kesaktian nya, segera melangkah keluar, sosok bandar pun terlihat terbang seketika, saat sudah berada didepan rumah tambung, kejadian itu membuat semua orang disana kagum dan secara otomatis rahang mereka terbuka melihat kesaktian yang di tunjukan bandar.
Jika ada orang yang terbang tanpa merubah wujud nya jelas lah kesaktian orang itu sudah sangat tinggi dalam pikiran mereka, sehingga mereka yang awal nya khawatir dengan bandar sekarang memiliki harapan.
Tiba di Danau Layang bandar melihat sosok Naga tersebut sedang mengunyah beberapa tubuh manusia di pinggiran danau, dia pun memanggil Ular Naga Emas itu.
“Ular Naga Air Emas Penunggu Sungai Panatau Sanang, hari ini kuperintahkan diri mu untuk segera kembali ke Lewu Tatau, dan menutup gerbang dimensi dua dunia.”
“Jika tidak aku akan memusnahkan mu.”
Ular naga tersebut hanya melirik Bandar sebentar dan melanjutkan acara makan nya, membuat Bandar menjadi panas hati nya dan segera saja dia mengeluarkan Pedang Pusakan Sanaman Mantikei dari sarung nya.
Merasakan aura dari Pedang Pusakan Sanaman Mantikei, Ular Naga Emas itu sekali lagi melihat sosok Bandar dan membelalakkan mata nya kali ini, bahkan belum sempat dia menjawab pemuda didepan nya itu sudah melayang terbang kearah nya dengan pedang yang terhunus.
Pertarungan terjadi Ular Naga Emas itupun segera merubah diri nya ke sosok manusia bersayap dan bertanduk dengan sebuah pedang gelap pekat ditangan nya, kini dia siap menghadapi bandar.
Perkelahian terjadi diantara mereka, serangan demi serangan diarahkan nya menuju Bandar sedangkan pemuda tersebut menghindar dan menangkis dengan sempurna setiap tebasan yang datang.
Kali ini pertarungan dilanjutkan kedua sosok tadi pun terbang ke udara, setiap gerangan pedang seperti tebasan, tusukan dan potongan pun mereka dua keluarkan, sama-sama kuat pusaka mereka berdua pun beberapa kali beradu dan mengeluarkan suara keras.
Peng..!!
Peng..!!
Suara itu bahkan bisa terdengar beberapa kilo meter dari situ karena energi kekuatan kedua nya yang seimbang.
Pertarungan sengit terus terjadi antara Bandar dan Ular Naga Emas yang sekarang berada dalam wujud mirip manusia, tak ada satupun orang bahkan binatang berani mendekat Danau Layang.
Pohon-pohon besar rebah dengan mudah nya akibat efek kekuatan mereka, hutan lebat di sekitar lokasi pertarungan mereka berdua pun sekarang berubah, layak nya rumput yang diinjak-injak hutan itu pun hilang dari pandangan, berubah menjadi hamparan lahan yang luas.
Karena kekuatan mereka yang seimbang dan tenaga dalam yang sama-sama besar, bahkan membuat Ular Naga Emas pun terkejut ada sosok manusia yang menyamai kekuatan nya. membuat diri nya beberapa kali mengeluarkan ilmu pamungkas nya tapi didepan Bandar semua kekuatan nya itu bagaikan kertas yang dilemparkan tidak bertenaga, begitu pula sebaliknya hingga pertarungan mereka terjadi selama tiga puluh hari tiga puluh malam tanpa makan dan minum juga tanpa berhenti sedikitpun.
Awal nya Ular Naga Emas ini mengharapkan sosok bandar akan kehabisan tenaga sebab manusia seberapa sakti pun dia pasti akan kelelahan, tapi tak dia sadari bahkan sampai bertarung selama tiga puluh hari tiga puluh malam pun sosok Bandar bahkan tidak terlihat ngos-ngosan seperti diri nya yang sekarang sudah sangat kelelahan.
Selain karena pertarungan dengan Bandar Ular Naga Emas itu pun sudah melakukan pertarungan tanpa henti dalam beberapa bulan terakhir melawan para pahlawan dan orang-orang kenamaan yang juga memiliki kekuatan besar, sehingga tampak nya hal itu juga membuat nya kelelahan.
Hal itu dimanfaat kan dengan baik oleh Bandar dia dengan segera meluncurkan serangan pamungkas saat Ular naga Emas sedang tidak berfokus pada nya karena termundur akibat benturan keras pedang mereka berdua terakhir kali.
Jlebb...
Kelapa Ular Naga Emas itu pun putus seketika dikarenakan jurus Bandar yang sangat cepat dan bertenaga, membuat tubuh nya yang terbang melayang sebelum nya jatuh ke tanah di pinggir danau, tubuh nya pun perlahan-lahan berubah menjadi wujud asli nya kembali, Ular Naga Emas raksasa dengan sisik-sisik kuat nya namun tanpa kepala.
Memperhatikan tubuh lawan nya yang sudah tidak bernyawa sekarang Bandar pun mendekati Danau tadi dan mencari keberadaan Anting Koram Pusaka yang berada di dasar danau tersebut, dia menyelam beberapa kali sebelum ketiga kali nya dia berhasil merasakan energi anting tersebut dan menyelam sekali lagi untuk mengambil anting tersebut, selain menyelam untuk mengambil anting tersebut dia juga mengumpulkan puluhan ribu pedang dan harta benda yang berada didasar danau tersebut.
Sangat mudah bagi nya yang sakit mandra guna mengumpulkan semua barang ini hanya dalam beberapa kali menyelam saja, setelah nya dia membawa tubuh Ular Naga Emas tersebut dan puluhan ribu pedang juga pusaka lain dari dasar danau layang menuju Bukit Batu Marimang.
Diatas bukit batu marimang tersebut dia menanamkan tubuh Ular Naga Emas raksasa serta Pedang Pusakan Hitam milik nya, sedangkan tubuh Ular Naga Emas raksasa itupun yang masih mengeluarkan darah membuat Batu dibagian atas Bukit batu tersebut meleleh dan menjadi telaga dengan darah Ular Naga Emas menggenang didalam nya, melihat hal tersebut Bandar pun meneteskan sedikit Air Kaharingan Belum dari Batang Garing kedalam nya membuat air telaga darah naga tadi berubah menjadi air telaga yang sangat jenih.
Setelah itu dia kembali membawa banyak harta benda dari dasar danau layang berserta banyak sisik naga yang sekarang berubah menjadi emas, dia juga membawa mayat-mayat dari saudara-saudara Dirung dan membangkitkan nya dengan Air Kaharingan Belum, sehingga ke Empat kakak laki-laki Gadis cantik itupun kembali hidup lagi.
Mereka akhir nya menikah, kampung yang tadi nya tanpa nama sekarang mereka beri nama dengan Nama Dirung Koram.
The End
***
Halo Pembaca,
Cerita ini sepenuh nya adalah hasil Fantasi Author yang juga digabungkan dengan beberapa event nyata kisah terbentuk nya sebuah Desa di Wilayah Kalimantan Tengah.
Ide Cerita di ambil dan inspirasi dari :
- Cerita rakyat Kalimantan Tengah tentang Keperkasaan Bandar dan Sumbu Kurung.
- Mitologi tentang Pohon Batang Garing, dan
- Campur dengan Cerita terbentuk nya Desa Dirung Koram, Wilayah Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, Kecamatan Kapuas Hulu
- Beberapa tulisan juga Author ambil langsung dari : http://infoitah.blogspot.com/2016/05/kisah-bandar-sumbu-kurung.html
Author sudah berusaha agar cerita ini tidak termasuk kedalam Dongeng, hehe tapi tampak nya susah jadi kalian saja yang menilai, sebab belum ada nya bagian Dongeng pada Novel Toon sehingga Author memasukan cerita ini kepada Cerpen.
Semoga Kalian bisa terhibur dan ku harap cerita ini bisa menjadi pengisi waktu kalian saat Senggang.
Thanks XL