" Kau tau aku mengidolakanmu sedari dulu tapi sayangnya aku tidak tau namamu. Tapi sekarang aku bahagia telah memilikimu Dion", Tiara.
" Aku juga diam - diam menyukaimu semenjak aku pertama kali melihatmu Tiara", Dion.
Waktu hari minggu pagi Tiara dan temannya Puspa sedang melakukan jogging pagi. Dia tak menyadari bahwa lelaki yang dia idolakan tengah berada di belakangnya dan sedang memperhatikan dirinya. Karena kelelahan Tiara memutuskan mengajak Puspa untuk beristirahat di salah satu bangku tempat duduk yang tersedia disana.
Tiara dan puspa telah berteman sejak mereka masih kelas X SMA. Tiara adalah gadis yang baik, pintar dan juga lugu. Dan sekarang dia tengah duduk di kelas XI. Sebenarnya laki - laki yang dia idolakan adalah kakak kelasnya sendiri yang duduk di kelas XII. Namun sayang dia tidak memberitahukan ciri - cirinya kepada puspa dan dirinya juga tidak tau bahwa laki - laki itu bernama Dion. Yang juga mengidolakannya. Hanya saja dia hanya tau rupanya dan dia tidak berani menanyakan nama Dion kepada teman - temannya begitupun sebaliknya.
"Kau tunggu aku disini dulu ya Puspa, aku akan membeli minuman untuk kita berdua. Oh iya apa kamu pengen makan sesuatu?", tanya Tiara kepada Puspa.
"Ah tidak aku hanya ingin minum saja", jawab Puspa. Tiara hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan pergi meninggalkan Puspa untuk membeli 2 botol minuman.
Saat kepergian Tiara, Dion mengambil kesempatan untuk bertanya kepada Puspa mengenai siapa nama gadis yang dia ingin kenal sejak lama. Selama ini Dion tak pernah mendapatkan kesempatan namun sekarang kesempatan itu ada di depan matanya.
" Ekhemm", Dion berdehem dan mengagetkan Puspa.
" Kakak siapa?", kata Puspa bertanya kepada Dion.
" Aku Dion. Oh iya apa aku boleh bertanya sesuatu? ", tanya Dion.
"Boleh kak emang kakak mau bertanya apa?"
"Siapa nama temanmu yang tadi?" Dion.
"Oh diaa, namanya Tiara kak. Ciiiee kakak suka ya sama dia?", kata Puspa sedang menggoda Dion.
Dion yang mendengar Puspa sedang menggodanya dia hanya tersenyum dan kembali mengintrogasi Puspa dan meminta nomor handphone Tiara. Tak membutuhkan waktu lama untuk berpikir langsung saja Puspa memberikan nomor handphone temannya itu. Setelah mendapatkannya Dion memutuskan untuk pergi meninggalkan Puspa.
Beberapa menit kemudian Tiara datang dengan membawa minuman kesukaannya dan Puspa. Melihat Puspa memandanginya sambil tertawa kecil membuatnya bingung akan tingkah laku sahabatnya itu.
"Kamu kenapa kok senyum - senyum gak jelas kayak gitu?" tanya Tiara.
"Ah tidak ada kok hanya lucu aja melihatmu minum", kata Puspa yang tidak ingin memberitahukan tentang Dion yang meminta nomor hp-nya.
Sebelumnya dia sudah berjanji tidak akan menyebarkan nomor hp Tiara. Karena melihat Tiara tidak mau memiliki pacar dan hanya menunggu laki - laki idamannya yang tak jelas menurut Puspa, akhirnya dia memberanikan diri untuk memberikan informasi mengenai Tiara kepada Dion.
Hari mulai siang matahari semakin terik akhirnya dua sejoli itu memutuskan untuk pulang. Saat sampai dirumah Tiara langsung segera mandi dan istirahat sejenak dikamarnya. Tiara melihat hp-nya berbunyi langsung mengambil dan melihat nomor baru telah masuk di hp-nya tersebut.
"Nomor siapa ini?", gumamnya dalam hati.
Kemudian Tiara memutuskan untuk mengangkatnya.
"Haloo disini dengan Tiara anda siapa ya?", katanya dengan sopan.
"Hai Tiara apa kabar?", tanya Dion.
Mendengar suara Dion, Tiara jadi gemetaran dan menjawab pertanyaan Dion dengan terbata - bata.
"Ke..kenapa kau bisa tau namaku?", tanya Tiara dengan rasa takut.
"Temanmu yang kau ajak jogging tadi yang memberitahuku dan dia juga yang telah memberiku nomor hp mu", kata Dion memberitahukan Tiara.
"Dasar teman gak ada ahlak berani - beraninya dia", gumam Tiara dalam hati.
Mereka terus bercakap - cakap dan akhirnya Dion memutuskan untuk mengajak Tiara bertemu besok pagi di lapangan.
"Enak saja kau mengajakku ketemuan, kau saja kesini. Aku besok sekolah", kata Tiara.
"Oke kalau begitu kita bertemu di sekolah nanti bagaimana?", Dion.
Mendengar hal itu Tiara terkejut dan hatinya langsung berdebar.
"A..apa yang kau katakan memangnya kau bersekolah di tempat sekolahku?", tanya Tiara.
"Kalau iya kenapa sayang", kata Dion sambil menggoda Tiara. Mendengar hal itu Tiara langsung menutup telfonnya dan memegang dadanya yang bergemuruh sedari tadi.
Siapa dia sebenarnya?, Tiara terus saja bergumam dalam hati. Tiba - tiba Dion mengiriminya pesan singkat.
"Aku tunggu di perpustakaan ya Tiara cantik", kata Dion. Sebenarnya Dion sering melihat Tiara mengunjungi perpustakaan dan dia kerap kali memperhatikannya diam - diam tanpa Tiara sadari.
"Aaaahhhh masa bodo aku memikirkannya. Dasar laki - laki gila", umpatnya. Dia mengacak rambutnya prustasi dan pergi untuk mencari udara segar.
Keesokan harinya Tiara pergi kesekolah bersama Puspa. Dan dia tak ingin berbicara kepada Puspa karena dia masih sedikit kecewa pada sahabatnya itu.
"Haii gadis manis jangan cemberut gitu donk ayo senyuuummm", goda Puspa.
"Apaan sih loe bikin orang kesel aj".
"Aaiiisshhh ganti nada bicara lagi jadi loe gue niihh".
"Siapa suruh bikin aku marah lain kali kalau mau ngasih nomor orang itu tanya dulu setuju apa enggak. Jangan main kasik emangnya sembako pake dikasi - kasi segala", omel Tiara.
"Iyaa daahh aku salah maafin aku ya babyyy", kata Puspa sambil memeluk sahabatnya itu dari samping.
"Karna kamu hari ini aku diajak ketemuan tau gak di perpustakaan. Iya kalau dia ganteng coba bayangin kalau dia jelek".
"Hehe maafin aku toh juga dia orangnya ganteng".
" Sok tauuu", Tiara kemudian meninggalkan Puspa menuju kelas.
Jam istirahat pun berbunyi Tiara dan Puspa memutuskan pergi kekantin terlebih dahulu untuk makan siang. Setelah dia baru ke perpustakaan untuk membaca buku favoritnya. Seringkali dia melakukan hal itu bersama sahabatnya Puspa untuk menghabiskan waktu istirahat mereka.
Beberapa jam kemudian Tiara dan Puspa ke perpustakaan tanpa mereka sadari seseorang telah mengikutinya dari belakang. Saat hendak berpencar ternya Dion telah mengikuti Tiara dan tanpa sengaja saat berbalik badan Tiara menabrak Dion membuatnya hampir terjatuh. Segera Dion memegang pinggang Tiara dengan satu tangan dan memeluknya membuat Tiara terkejut.
Astagaaa kenapa dia bisa ada di depankuu, gumam Tiara dalam hati saat melihat pria didepannya adalah idamannya. Membuat jantungnya terasa mau keluar.
"Kau tidak apa - apa?" tanya Dion.
Namun Tiara masih memandang mata Dion dengan tatapan kosong.
"Heellooo kenapa kamu malah begong?"
"Ehemm.. I iya aku tidak apa - apa", akhirnya Tiara tersadar dan melepaskan dirinya dari dekapan Dion.
Saat hendak pergi Dion menghentikan Tiara dengan cara menarik tangannya.
"Kau mau kemana? Bukankah kau mau bertemu denganku kemarin??", kata Dion.
Petir terasa menyambar tubuh Tiara membuat dirinya sedikit gemetar namun dalam hatinya merasa bahagia.
"Ja..jadi kamu yang nelfon aku kemarin?", tanya Tiara dengan suara terbata.
"Iyha, kenalin aku Dion", kata Dion mengajak Tiara berjabat tangan. Tiara membalasnya.
Hari - hari telah mereka lalui bersama, singkat ceeita mereka telah jadian tapi sayangnya mereka jadian saat Dion sudah lulus sekolah. Walaupun begitu mereka kerap kali bertemu di taman atau saat mereka berolahraga bersama.
Dua bulan berlalu kisah cinta mereka seketika tak sebahagia dulu. Kini Dion tak mengabari Tiara dari seminggu yang lalu namun meskipun begitu Tiara tetap setia menunggu Dion sampai dia kembali. Satu Bulan setelah Dion menghilang Tiara terus mencarinya seringkali dia menanyakan keadaan Dion kepada teman dekat pacarnya namun hasilnya tetap nihil. Tak seorang pun yang tau ada apa dengannya dan apa yang terjadi.
Tiara sedang duduk dikamarnya sambil terus memandangi foto Dion sambil menangis dia terus bertanya kenapa Dion tak pernah mengabarinya. Tiba - tiba seseorang telah mengetuk pintu utama, membuat Tiara bergegas untuk membuka pintu sambil berharap bahwa yang datang adalah Dion. Kenyataan pahit kembali menyelimutinya saat teman Dion memberi tau bahwa Dion ingin mengakhiri hubungannya dengan Tiara. Tanpa penjelasan lagi teman Dion pergi meninggalkan Tiara.
Berbulan - bulan Tiara jalani dengan kesendiriannya hingga dia telah lulus sekolah. Dia memutuskan untuk merantau supaya dia bisa melupakan kenangan masa lalunya. Setelah tiga bulan bekerja tiba - tiba Dion kembali menghubungi Tiara dan membuat tiara merasa bahagia. Dibalik kebahagiaannya dia tidak mau meneruskan hubungannya lagi dengan Dion walaupun Dion selalu ingin meminta kesempatan kedua padanya.
"Dion saat kau pergi tanpa pamit aku tidak bisa membuka hatiku lagi untuk lelaki lain karena dihatiku cuma ada kamu. Namun penantianku itu berakhir dengan goresan luka yang telah kau perbuat saat kau ingin memutuskan hubungan denganku tanpa penjelasan", Tiara berhenti sejenak karena dadanya merasakan sakit yang teramat perih.
"Maafkan aku Tiara aku masih sangat mencintaimu", Dion
"Cukup Dion aku tak mau berhubungan denganmu lagi. Dan mulai hari ini biarkan aku sendiri dan carilah wanita yang pantas untukmu", kata - kata terakhir Tiara kepada Dion. Dan Tiara memutuskan untuk tak menghubungi Dion lagi.