Pada suatu malam yang dingin. Disebuah jalan yang gelap dan suram, seorang anak lelaki berjalan dengan lesu menelusuri jalanan gelap itu.
Pikirannya kosong dengan mata yang lesu tanpa kehidupan. Anak lelaki itu bernama yordan. Seorang anak biasa pada umumnya, setidaknya begitulah sebelumnya. Sebelum kejadian naas itu menimpa dirinya.
Kejadian itu bermula ketika yordan baru saja pulang dari sekolahnya. Saat itu, awan menjadi gelap gulita, tetapi anehnya, tidak ada setitik hujan pun turun dari langit yang gelap itu.
"Kenapa awannya mendung gelap gini, kok bisa bisanya engga ada hujan yang turun sama sekali" batinnya bingung.
Walau dirinya bingung dengan fenomena alam ini, tetapi disisi lain dirinya juga bersyukur dengan ini. Bagaimanapun juga, jika hujan turun, dirinya pasti akan pulang dengan basah kyub dan dia tidak ingin pulang basah basahan.
Takut akan hujan yang dapat turun kapan pun, Yordan mempercepat langkah kakinya melangkah dengan tujuan agar secepat mungkin sampai dirumahnya.
Tetapi naas. Ketika yordan baru saja tiba di depan gang rumahnya berada, suatu fenomena aneh tertangkap oleh kedua matanya.
"Drruarr..."
Suara keras terdengar dan seklibat cahaya menyilaukan menyerupai petir tepat menyambar rumahnya.
Dalam detik itu juga, setelah kilatan cahaya menyambar rumahnya. Seluruh halaman dan termasuk rumahnya hilang tak bersisa, dan kini hanya menyisakan sebuah lubang besar misterius yang mumcul tepat di mana rumahnya sebelumnya berada.
Yordan yang melihat kejadian tak masuk akal itu, dengan panik berteriak histeris dan berlari sekencang mungkin menuju lubang besar yang sebelumnya adalah rumah keluarganya.
"Ayah! Ibu! Wini! Dimana kalian berada?" Teriaknya dengan air mata dan tangis yang tak dapat ia bendung.
Yordan hanya dapat menangisi keluarganya yang hilang. Dirinya hanya dapat mengutuk kesialan yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi.
Ketika malam tiba, dan angin malam datang dengan dingin menusuknya. Yordan mulai bangkit dari tempatnya menangis sebelumnya dan berjalan menajuhi tempat itu, tanpa tujun yang jelas.
Sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Yordan adalah, mengapa bisa tidak ada satu orang pun yang sadar dengan kehilangan rumah dan keluarganya secara misterius. Apalagi jika dipikirkan, sebelum kilat itu menyambar rumah keluarganya, terdengar suara yang amat sangat keras dan seharunya tetangga yang berada di sekitar sana sadar dan keluar dari rumah mereka untuk melihat kejadian yang terjadi.
Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Hingga Yordan selesai menangis pun, tidak ada satupun tetangga yang keluar rumah mereka dan dirinya sangat membenci semua itu.
Dirinya membenci semua tetangganya yang tidak keluar saat itu, dirinya juga membenci dirinya sendiri karena tidak tahu apa yang terjadi dan tidak dapat melakukan apapun, dan dirinya paling membenci dunia ini yang memunculkan fenomena aneh yang tidak masuk akal itu yang menimpa keluarganya.
Sekarang, ia hanyalah anak sebatang kara, yang tidak memiliki apapun selain dirinya sendiri.
Ketika berjalan tanpa tujuan di jalanan malam yang sepi. Yordan tanpa diduga dipalak oleh sekelompok pria berotot sangar yang sangat menakutkan jika bertemu dimalam hari.
"S-siapa kalian ?" Teriak Yordan ketakutan.
"Jangan banyak tanya. Cepat serahkan uang mu" bentak salah satu pria yang memalak Yordan.
"S-saya t-tida ada uang. Mo-mohon belas kasihnya"
"Bodo amat! Kalian berdua, pegang dia"
Setelah menyuruh kedua temannya untuk memegang Yordan yang tak berdaya. Si pemalak dengan perawakan paling garang diantara teman temannya mulai menggeledah Yordan dan memeriksa seluruh pakaiannya.
"Ini dompet ada. Kamu beraninya berbohong pada kami" ucap garang si perampok sebelum dirinya memukul perut Yordan dengan keras.
"Blak.."
"Uhg .." ringis Yordan kesakitan.
"Uh.. mampus" ucap si pemalak.
"Wuih.. lumayan, ada lima puluh ribu zenian. Engga sia sia nih"
"Hahah. Terimakasih bocah. Sampai jumpa"
Yordan hanya bisa menatap mereka dengan penyesalan dan rasa sakit. Dia bukanlah seorang yang ahli bela diri, jadi mana mungkin bisa melawan empat orang berbadan kekar seperti mereka. Dan sekarang dia benar benar tidak memiliki apapun, bahkan sepeser uang pun tidak ada.
"Entah bagaimana aku akan hidup nantinnya" ucapnya lesu dikala dirinya melihat kondisi menyedihkannya saat ini.
Disaat Yordan tengah merenungkan nasibnya yang semakin sial itu. Tanpa di sangka, langit mulai bergemuruh kencang dan awan gelap menjatuhkan hujannya dengan deras bak air terjun dari langit.
"Ahrg.. sial. Sekarang malah turun hujan"
Yordan berusaha menahan sakit pada perutnya akibat pukulan preman yang memalaknya sebelumnya dan dirinya berusaha secepat mungkin berlari menuju tempat yang dapat dia gunakan untuk berlindung dari hujan.
Nasib sial kembali menghampirinya. Entah bagaimana ceritanya, tidak ada satupun atap atau pun area yang tidak terkena hujan dan bahkan pohon rimbun pun tetap basah oleh lebatnya angin dan hujan yang turun.
"Jika begini ceritanya, aku sudah tak kuat lagi untuk hidup dan semoga saja ini semua cepat berakhir" ucap yordan yang bersender pada sebatang pohon tinggi yang terletak pada sebuah bukit didekat kota dirinya tinggal.
"Semoga ketemu di kehidupan selanjutnya. Ayah, Ibu, Wina. Dan selamat tinggal DUNIA SIALAN!"
"Druarr... "
Setelah mengatakan kalimat terakhirnya dan umpatan kekesalan pada dunia sampah yang di tinggalinya. Sebuah kilat pertir menyambar tubuhnya dan pohon yang ditempatinya. Dengan suara keras yang menggelegar, angin yang bertiup kencang, dan suara derapan tetesan hujan yang jatuh menimpa bumi. Sekali lagi berhasil menutupi peristiwa sambaran kilat itu untuk kedua kalinya.
Tak berselang lama setelah semua itu. Awan kembali menjadi normal, angin menjadi tenang, dan hujan secara bertahap mereda dan menghilang.
Dan Yordan tak pernah terlihat kembali setelah peristiwa itu.