Gelap. Itu yang ku rasakan. Aku mencoba membuka mata, tapi terasa sangat berat. Rasanya aku sudah terbaring selama berjam-jam.
"Dimana aku?" gumam ku bingung.
Aku mencoba melihat walau masih sedikit kabur. Aku mencari-cari sesuatu yang bisa menjelaskan keberadaanku. Dan aku sangat terkejut ketika aku tau bahwa tubuhku terbaring di sebuah jalan yang dikelilingi hutan pinus.
"Sepi banget mana gelap lagi", gumamku lagi sambil bangun dari tidurku.
Perlahan dengan rasa takut aku pun mulai berjalan menelusuri jalanan ini. Begitu berkabut dan benar-benar tidak ada satu pun kendaraan yang lewat.
Aku mengambil gawai ku dan untung saja masih menyala. Lalu, aku hidupkan senter dari gawai ku sebagai sumber cahaya.
Sekitar lima menit aku berjalan, dari kejauhan aku melihat ada rumah kayu yang terletak di dalam hutan.
"Astaga, kenapa ada rumah ditempat seperti ini? Tapi, aku selamat", kataku yang senang mengira ada orang lain disini tanpa berpikir hal lain.
Aku memasuki hutan pinus ini dan aku menyusuri semak-semak disekitar rumah kayu itu. Sampainya di depan pintu, aku pun mengetuknya.
" Permisi, apa ada orang?" panggilku dengan perasaan gugup.
Namun, tidak ada yang menjawab panggilanku.
"Permisi, saya ingin menginap untuk semalam, saya tersesat", sekali lagi aku mengetuk pintu.
Namun, tetap tidak ada jawaban. Aku pun berinisiatif membuka pintunnya.
Klek! Ternyata pintunya tidak dikunci. Saat aku membukanya, angin dingin menerpa tubuhku dan membuat dedaunan di pohon sekitarnya bergoyang.
Aku menelan ludah, memberanikan diriku untuk tetap masuk kedalam. Aku menyusuri sudut-sudut rumah kayu ini dan aku melihat hanya ada satu bilik tempat tidur dan sebuah hiasan dinding yang terbuat dari kepala hewan serta terdapat alat untuk berburu.
Tapi, karena terlalu lelah akhirnya aku merebahkan tubuhku dan tertidur tanpa pikir panjang lagi.
Keesokan harinya....
Aku membuka mata dan aku terkejut melihat sosok pria paruh baya sedang menodongkan senapannya ke arahku.
Dengan cepat aku bangun dan mendorong tubuhku ke sudut lain.
"Siapa kau!" tanya pria itu dengan suara beratnya.
"A.. aku Vera. Aku hanya menumpang menginap disini, sungguh", kataku terbata-bata ketakutan.
" Huh... sepertinya kau manusia", jawab pria tua itu.
"Manusia? Ya tentu saja aku ini manusia", ucapku meyakinkan.
" Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini!", perintahnya.
"Ya, tentu aku ingin pergi dari sini. Tapi, anda lihatkan? Dari tadi tidak ada kendaraan yang lewat", jawabku kesal.
" Hah, baiklah aku mengantarmu ke kota. Tapi, setelah aku kembali", jawabnya sambil berjalan ke depan pintu.
"Anda mau kemana?", tanyaku penasaran.
"Aku akan pergi ke pemakaman, menguburkan mayat-mayat", jawabnya berhenti di depan pintu.
"Apa? Mayat? Mayat siapa? tanyaku kaget serta penasaran
"Sudahlah ini bukan urusanmu. Tunggu disini aku akan kembali", Jawab pria itu tegas dan ingin melangkah lagi.
"Tunggu pak, boleh aku tahu nama anda" tanyaku.
"Panggil saja aku paman Sam. Seperti orang-orang memanggilku dulu", jawabnya dan menutup pintu.
Aku menghela napas panjang. Berfikir berapa lama aku harus menunggunya disini di tempat yang sepi ini.
Aku mondar-mandir menelusuri rumah kayu ini dan tanpa sengaja kakiku tersandung sesuatu. Aku melihat ada sebuah benda di belakang keset berwarna hitam.
Sungguh aku penasaran tanpa sungkan aku langsung membuka kesetnya dan melihat ada sebuah pegangan pintu di lantai.
"Apakah ini semacam pintu rahasia?" Gumamku.
Perlahan aku membuka pintunya dan aku menemukan anak tangga menuju kebawah.
"Apa ini ruang bawah tanah?", gumam ku sambil melihat kebawah yang begitu gelap.
Karena penasaran, tanpa ragu aku menuruni anak tangga perlahan. Aku kembali menghidupkan senter dari gawaiku. Tanganku meraba dinding sepanjang jalan berharap mendapat sebuah saklar.
Tidak lama, aku pun menemukan saklarnya dan langsung menyalakannya. Namun, aku sangat terkejut melihat peti mati di hadapanku. Peti itu di sandarkan sebelah perapian yang tak terpakai lagi.
Aku masih saja penasaran. Aku menarik napasku dan dengan rasa takut aku mencoba memberanikan diri ingin mengetahui apakah peti itu berisi atau kosong.
Aku mencoba mendekati peti itu namun, saat baru beberapa langkah ada sesuatu yang terinjak olehku. Aku melihat kebawah dan aku sangat terkejut melihat bahwa yang ku injak itu adalah genangan darah. Aku buru-buru mundur menghindari genangan darah itu. tersungkur.
Seketika ruangan ini terasa dingin membuat ku semakin merinding dan semakin takut.
Aku kembali ke atas dan mencoba melupakan apa yang terjadi tadi. Namun, aku tidak bisa menghilangkan ketakutan ku. Jadi aku berinisiatif berjalan menuju pintu dan membukanya.
Saat Berada diluar aku terpaku dengan pemandangan yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Hamparan pohon pinus yang diselimuti
kabut dan diterpa sinar matahari pagi. Sangat menakjubkan, pikirku.
Kemudian, aku berjalan-jalan disekitar rumah kayu ini.
"Aaaa.....!"
Tiba-tiba aku mendengar sebuah teriakan dari dalam hutan. Suara itu sangat keras memekakkan telingaku. Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku erat-erat.
Beberapa saat suara tersebut menghilang. Aku membuka dekapan tanganku dari telingaku namun...
"Ayo... ikuti aku!"
Seperti ada yang Berbisik padaku. Tanpa sadar aku mengikut suara itu kearah dalam hutan. Aku terus melangkah berjalan lebih jauh lagi masuk ke hutan. Setelah beberapa saat, aku menemukan sebuah Desa tua yang sudah tak berpenghuni lagi.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu disini",gumam ku.
Aku terus berjalan menelusuri Desa itu dengan rasa was-was dan takut. Aku menemukan banyak sekali bangunan dengan noda darah.
Saat ku tengah melihat-lihat, aku menjerit terkejut melihat mayat yang ditusuk dengan garpu jerami di dadanya dan tertancap di tiang.
Aku mundur kebelakang dan sialnya, aku melihat mayat lagi, Ini lebih mengerikan mayat Itu sudah membusuk dan terlihat sudah digrogoti oleh belatung. Mencium aromanya membuat perutku mual apalagi dengan melihat belatung-belatung itu membuatku semakin merasa jijik dan bertambah mual. Dan seketika membuatku mengeluarkan isi perutku.
Aku tidak tahan lagi dengan pemandangan ini. Aku pun berlari untuk keluar dari desa ini namun, aku tidak menemukan jalan keluar. Padahal desa ini tak terlalu besar. Tapi, aku tetap berlari dan mencoba untuk keluar.
Kemudian aku menemukan sebuah pemakaman. Dan terlihat sosok paman Sam yang sedang menguburkan mayat. Aku penasaran dan bersembunyi di balik pohon, memantau apa yang dilakukan paman Sam.
Aku melihat banyak sekali tumpukan mayat di sekitar pemakaman. Terlihat kondisi mayat yang ada di area pemakaman sama dengan yang kutemukan di desa. Namun, tiba-tiba saja paman sam menoleh ke arahku. Ia berjalan berlahan kearah dimana aku berada dan sekaligus bersiap dengan senapannya.
'Siapa disana !!", tanya paman Sam lantang.
"Ini aku Vera", ucapku ketakutan sambil keluar dari balik pohon.
" Mengapa kamu datang kesini? Sudah aku bilang tetap berada di dalam rumah", teriaknya dengan nada marah.
"A..Aku takut berada di sana sendirian. Lalu aku keluar dan menemukanmu disini", Jawab vera gugup.
"Hah... Baiklah!! Tunggu disini Aku akan menyelesaikan ini dengan segara", ucapnya kembali ke pemakaman.
Aku berjalan mengikutinya dari belakang dan melihat area sekitar. Aku melihat sebuah Gereja tua di dekat pemakaman tersebut.
"Kenapa ada sebuah Gereja disini?", tanyaku penasaran.
"Ah Gereja itu dibangun beberapa tahun lalu. Penduduk desa yang membangunnya." Jawab paman Sam.
"Penduduk desa?", tanyaku heran.
"Ya penduduk desa. Tentu kamu sudah melihat desa itukan? karena untuk kesini kamu terlebih dahulu harus melewatinya", jelas paman Sam.
"Tapi.... aku hanya melihat mayat yang kondisinya sangat buruk sekali. Aku tak melihat seorang pun di sana. Lalu... ada dimana mereka semua?", tanyaku lagi.
" Mereka semua? Mereka semua ada disini", jawab Paman Sam.
"Maksud paman?", tanyaku tidak mengerti maksud Paman Sam.
"Kau lihat tumpukan mayat yang ada disini? Mereka semua adalah penduduk desa", jelas Paman Sam.
Aku menelan ludah dan mencoba untuk mempercayai perkataan paman Sam.
"Berarti mereka semua baru saja meninggal?"
Lalu Paman Sam berkata, " Mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
"Beberapa tahun lalu? Tapi kenapa paman baru menguburkannya sekarang?" tanyaku bingung.
Kemudian paman Sam menjawab sambil tersenyum, "Setiap hari aku mengubur mereka. Selalu saja seperti ini. Dan setelah aku selesai menguburkannya aku berdoa berharap mereka tetap tenang untuk selama nya. Walaupun itu tak pernah terjadi!"
" Apa maksudmu.......", belum lagi aku menyelesaikan kalimat ku Paman Sam menodongkan senapannya ke arahku.
Aku terkejut. Tapi, setelah melihat raut wajah paman Sam yang ketakutan, aku menlihat kebelakang. Dan aku melihat sosok anak perempuan dengan kulit yang sangat pucat. Rambutnya panjang yang terurai, dengan Dress putih selutut. Anak itu tertunduk sehingga aku tidak mengetahui rupanya.
Anak itu berjalan ke arahku. Aku sedikit takut, perlahan aku pun mundur kebelakang. Tiba-tiba ia menegakan kepalanya dengan cepat. Aku tersentak dan terlihatlah Wajahnya yang mengerikan.
Anak itu tidak memiliki bola mata.
Ia berjalan Sambil bergumam, "Pendosa Harus Mati... pendosa harus mati.... pendosa harus mati.....".
Lalu saat itu juga paman sam menembakkan beberapa peluru ke arah anak Itu. Namun anak itu tak bereaksi apapun.
Anak itu tiba-tiba berhenti bergerak lalu.....
"Aaaa........!!!"
Anak perempuan itu berteriak kuat sekali, la seperti ingin memecahkan telingaku. Setelah ia berhenti berteriak seketika para mayat berdiri dan bangkit kembali.
"Sialan!" kata paman Sam marah.
Aku tak percaya pada apa yang aku lihat. Lutut ku gemetaran dan tak mampu menopang tubuh ini lagi. Aku hanya diam dan terpaku. Sekejap saj para mayat itu sudah mengelilingi kami. Anak itu menunjuk kearah kami dan berkata dengan kuat, "Pendosa harus mati!
Paman Sam langsung menarik tanganku.
"Ayo, cepat! Kita harus lari!" Perintah paman Sam.
Aku pun berlari dengan paman Sam menelusuri semak dan pepohonan yang berkabut.
"Sialan! kali ini aku tak sempat untuk berdoa", ucap paman Sam sambil berlari.
Aku berlari dan sesekali menoleh kebelakang melihat para mayat itu yang mengejar kami juga.
Aku sangat takut melihat mayat-mayat hidup itu. Kaki sangat lelah dan aku pun terjatuh dan tersungkur ke tanah. Aku sudah sekuat tenaga untuk berdiri tapi tetap saja tidak bisa. Paman Sam menghentikan langkahnya karena melihatku terjatuh. Ada dua mayat yang datang mendekat padaku. Paman Sam cepat-cepat ingin menolongku. Tapi, mayat itu pun sudah terlalu dekat padaku. Akhirnya Paman Sam mengeluarkan sebuah kapak yang ia selipkan di celananya.
Ia mengayunkannya dengan sangat keras sehingga memenggal kepala mayat tersebut. Dan setelah itu paman Sam menancapkan kapak pada mayat yang satunya lagi. Melihat mayat mayat itu terkulai, paman Sam cepat-cepat membantuku berdiri dan kemudian kami mulai berlari lagi.
Kemudian ada sebuah mobil Pick-up, " Ayo masuk lah", Ucap paman Sam.
Paman Sam kemudian menyalakan mesin mobil dan berjalan menuju ke arah jalan raya. Aku duduk disebelah paman Sam. Aku masih sangat takut dengan apa yang terjadi padaku tadi. Lutut ku masih saja bergetar, begitu juga Paman Sam wajahnya juga masih terlihat cemas dan ketakutan.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak sosok anak perempuan tadi. la menunjuk kearah mobil yang kami naiki.
"Aaaaaaa!! "
Lagi-lagi ia berteriak sangat kuat.
Baaammmm!
Sebuah pohon pinus besar tumbang dan menutupi jalan kami. Paman Sam mencoba mengerem namun sudah tidak sempat lagi.
Aku dan Paman Sam pun berteriak sambil menutup wajah dengan tangan.
Braaaakkkkk!!!
Mobil yang kami naiki pun menabrak pohon besar itu.
Kondisi kami sangat memprihatinkan. Tanganku terkena serpihan kaca mobil dan itu sangat perih sekali. Kakiku juga terhimpit tapi, untung saja masih bisa aku keluarkan.
Tapi, sepertinya paman Sam tidak sadarkan diri. Aku melihat kepalanya di atas setir mobil dan kakinya juga terhimpit dinding mobil yang reot.
Aku merasa takut dan bingung. Apakah paman Sam telah meninggal atau hanya pingsan. Sekumpulan mayat datang lagi kearah mobil kami.
"Paman... paman.... paman Sam ayo bangun. Mereka mengejar kita lagi", aku berusaha membangunkan Paman Sam.
Dengan sangat cepat mereka telah mengerumuni mobil kami. Sampai ada yamg memanjat keatas mobil. Mayat yang dari atas itu memasukkan tangannya melalui kaca mobil depan yang telah pecah sebagian. Ia ingin menggapaiku.
Aku menjerit ketakutan. Aku masih saja membangunkan paman Sam. Tapi, paman Sam belum juga bangun.
Mayat satu lagi juga ikut memasukkan tangannya ke dalam mobil dan menarik-narik kepala paman Sam.
Aku masih saja berteriak tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dan mayat yang lain datang menarik pintu kemudi dengan sangat kuat dan akhirnya terlepas. Mereka langsung menggotong paman Sam. Sungguh aku tidak tau harus berbuat apa.
Tiba-tiba ada yang menarik pintu di sebelahku juga dan akhirnya terlepas. Mayat itu ingin menarik ku juga. Reflek aku menendangnya dan langsung kabur dari mobil.
Aku lari sekuat tenaga untuk menghindari mereka. Tapi, karena kakiku yang masih lemas aku pun terjatuh lagi.
Dan langsung kakiku di pegang oleh mayat itu.
"Aaa... lepaskan aku!" aku berteriak sambil menendang-nendang mayat itu.
Usahaku pun berhasil. Kakiku terlepas dari genggaman mayat itu. Aku berlari lagi menjauhi mereka. Namun, sialnya di ujung jalan ini adalah sebuah jurang yang curam.
Lebih sialnya lagi yang mengejar ku kini adalah anak perempuan itu. Wajahnya sungguh menyeramkan. Sangat terasa sekali ada aura pembunuh padanya.
Di belakang anak itu terdapat banyak sekali mayat hidup berjalan ke arahku. Aku sungguh ketakutan. Apakah ini akhir hidupku? Aku belum mau mati.
"Tidak! Jangan mendekat! ku mohon", Ucapku memohon.
Tapi, sepertinya mereka tidak menghiraukan permohonan ku. Aku melihat salah satu mayat yang tertancap kapak di badannya, mengambil kapak tersebut dan mendekat ke arahku.
Aku merasa sangat lemas. Aku terduduk tidak berdaya sambil menangis.
" Ku mohon, jangan lakukan itu padaku. Aku tidak tahu apa-apa", aku terus menangis dan memohon.
Tapi, sia-sia. Mayat itu sudah sangat dekat denganku lalu mengayunkan kapak itu padaku.
"Aaaaaa!! "
Aku terbangun, mataku terbuka lebar melihat langit-langit kamarku. Keringat bercucuran membasahi tubuh dan bajuku.
"Vera apakah kau sudah bangun? Ayo sarapan", ibu memanggilku dari luar kamar.
Napas ku masih tidak teratur dan keringat masih bercucuran.
"Apa itu tadi mimpi? Tapi mengapa seperti nyata?" Gumam ku.
Aku ingin segera bangun tapi, seperti ada yang aneh pada tubuhku. Aku merasa sangat letih dan seluruh tubuhku terasa pegal seperti habis olahraga. Dan aku merasakan perih di tangan dan kakiku.
Aku duduk dan melihat tanganku penuh dengan luka. Luka yang sama di dalam mimpiku.
Deg. Aku mulai merinding lagi. Lalu aku buka selimut yang menutupi separuh badanku dan benar saja aku melihat kakiku penuh luka dan darah seperti di mimpi efek terjepit di mobil.
Aku pun panik dengan apa yang terjadi. Aku masih bingung benarkah ini aku sudah di rumah atau aku masih dalam mimpi? Bulu kudukku pun berdiri.
Aku masih bisa merasakan sakit, sudah pasti aku telah terbangun. Tapi kenapa efeknya sampai ke dunia nyata? pikirku ketakutan.
Tiba-tiba kamarku menjadi sangat dingin. Dari mataku seperti ada seseorang di hadapanku. Ragu-ragu aku melihatnya. Dan benar saja itu adalah Anak perempuan yang ada di mimpiku tadi. Ia mengangkat tangannya dan menunjukku.
"PENDOSA HARUS MATI!"
"Aaaaaaaa............ "