Kata orang-orang langit bisa berubah-ubah, namun tetap saja selalu indah. Dimana yang paling dinanti ketika mentari mulai terbenam, menyisakan warna jingga dan secercah awan kelabu. Dialah yang selalu membuat orang ingin melihatnya, memujinya dengan kata "Indah". Tak hanya kata atau ucapan namun penuh cerita di balik Senja.
Happy reading guyss😊
"Ahh.. Aku harus cepat. Dia pasti sudah menungguku", ucapku sambil bergegas keluar dari bus yang ku tumpangi.
Saking buru - burunya, tanpa sengaja aku menabrak seorang wanita yang berada di depanku.
"Ahhh.. Maaf aku tak sengaja. Kau tak apa kan? ", ucapku kepada wanita itu dengan perasaan sedikit khawatir.
"Ehh.. Iya tak apa, aku baik-baik saja", ucap wanita itu sambil tersenyum ramah.
"Ohh.. Baiklah sekali lagi aku minta maaf, aku harus pergi sekarang permisi", ucapku terburu-buru.
Tanpa sadar dompetku terjatuh saat aku menabrak wanita tadi. Aku pun terus melanjutkan perjalananku.
"Ahh... Heii tunggu, ini dompetmu! ", teriak seorang pria ke arah ku.
Aku menoleh ke belakang sembari memeriksa dompet. "Ahh.. Ya ampun dompetku! ", ucapku baru tersadar jika dompetku terjatuh.
"Ini.. ", ucap pria tersebut sembari memberi dompetku.
"Terima kasihh banyak tuan, aku ceroboh sekali huhh", diriku kesal karena kecerobohan ku.
"Baik, sama-sama nona", tersenyum tipis.
"Ahh iya aku harus pergi sekarang, sekali lagi terimakasih tuan karena telah menemukan dompetku", aku segera bergegas kembali melanjutkan perjalanan.
"Dia terburu-buru sekali, aku belum sempat menanyakan namanya. Semoga kita bisa bertemu dilain waktu", gumam pria tersebut.
Aku terus menyusuri jalan menuju dermaga. Aku bersemangat sekali karena setelah sekian lama aku menanti akhirnya bisa bertemu jua dengannya. Hari ini cuacanya cerah sekali, angin sepoy-sepoy bersemilir di telingaku. Jalanan pun dipadati berbagai transportasi. Tak sedikit juga manusia yang hulu hilir di terotoar. Aku memperlambat langkahku sembari melihat arloji yang terpasang di lengan kiri ku. Jam menunjukan pukul 14.00 WIB.
"Hufttt... Sedikit lagi aku akan sampai", ucapku sambil mengatur napas.
"Tap, tap, tap... ", suara langkah terdengar dari arah belakangku. Aku tak menghiraukan, ku lanjutkan perjalananku. Namun langkah itu semakin terdengar dekat.
"Deg, deg, deg... ", jantungku berdegup cepat seakan baru usai lari maraton. "Siapa? ", batinku.
Langkah ku terhenti ketika orang yang tadinya dibelakang mengikuti ku, kini berada di hadapan ku. Ku tatap sekilas wajahnya.
"Sepertinya tak asing", gumam ku.
"Hei, apa kau masih ingat aku? ", tanya pria di hadapanku. Aku mencoba mengingat, dan akhirnya aku mengingatnya.
"Ohh ya, kau tadi yang menemukan dompetku di terminal? ", tanyaku sedikit ragu.
"Yap, itu aku. " jawabnya singkat. "Beruntung sekali bisa bertemu lagi dengan mu.... ", mengisyaratkan menanyakan namaku.
"Senja", ucapku sambil tersenyum.
"Nama yang baguss", ucapnya. "Aku Alam", tersenyum.
"Hai Alam, senang bertemu denganmu. Tapi maaf aku tak bisa berlama mengobrol karena aku masih ada urusan penting. Lain kali saja kita mengobrol dan aku akan mentraktirmu sebagai ucapan terimakasih ku karena kau telah menemukan dompetku tadi. Ini kartu nama ku, hubungi saja nanti. Aku pergi dulu", aku melambaikan tangan seusai mengakhiri perkataan ku.
"Yah baiklah, sampai bertemu nanti", membalas lambaian ku.
Akhirnya aku sampai di dermaga. Tapi tak kulihat dia di sana. Aku terus mencari ke sekelilingku. Namun hasilnya nihil. Tiba-tiba penglihatan ku gelap. Mataku tertutup oleh dua bidang telapak tangan yang entah milik siapa.
"Siapa kau?!", ucapku ketakutan sambil berusaha melepaskan tangan itu dari permukaan mataku.
"Hai sayang, aku dari tadi sudah menunggumu. Kenapa lama sekali? ", ucap bintang sambil menangkup pipiku.
Aku langsung memeluknya. Rasanya kebahagian kini menyelimuti ku. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Bukan karena sedih tapi karena aku sangat bahagia. Bagaimana tidak, sudah sekian lama jauh darinya kini dia ada di hadapanku. Rasanya rindu yang telah lama kini terobati.
"Heii, mengapa kau menangis hah? ", ucap bintang sambil menyeka air mata di pipiku.
"Aku bahagia sekali bisa bertemu dengan mu.. Huhuhuuu.... ", aku kembali mempererat pelukan.
Rasanya tak ingin melepaskannya. Aku tak ingin lagi berpisah dengannya. Hatiku tak kuat menahan rindu padanya. Langit semakin menunjukan bahwa akan berganti malam. Warna jingganya sungguh indah. Aku dan kekasihku bintang menghabiskan waktu bersama ditemani senja di langit jingga.
"Sayang maafkan aku", ucap batin bintang.
Aku memandang raut wajahnya yang gelisah.
"Sayang kau kenapa? ", tanyaku sembari memalingkan wajahnya supaya menatapku.
"Hmmm... Ada yang ingin aku bicarakan. ", jawabnya serius.
"Apa itu? Bicaralah, aku akan mendengarkan mu", ucapku penasaran.
"A-aku minta maaf", ucapnya gugup.
"Maaf... Kenapa? ", tanyaku tak mengerti.
"Sepertinya kita tak bisa bersama lagi", jawabnya menatap ku.
"Tapi kenapaa??! Apa aku berbuat kesalahan, atau kau sudah tak cinta kepadaku lagi??! ", tanyaku hendak menangis.
"Maafkan aku, aku harus pergi", kata terakhir bintang dan pergi meninggalkan ku.
Aku hendak menahannya pergi tapi sekujur tubuhku terpaku tak percaya. Air mataku tumpah menatap dia yang semakin menjauh. Di sisa-sisa berakhirnya senja ini, berakhir pula hubungan kita.
"Kenapaaaa?! ..... Haruskah aku merasakan ini semuaaaa??! ... Argggghhhh..... Kau jahatt tapi aku tak bisaa membenci mu ", aku menangis sambil menatap langit jingga yang indah namun hatiku hancur berkeping-keping.
Rasa rindu yang sekejap terlepas, rasa bahagia yang singgah sebelum pada akhirnya lenyap. Pikiranku kembali mengingat memori lama. Dulu rasanya bahagia sekali disaat senja terbenam akan hadir malam yang penuh bintang. Namun kini bintang ku telah pergi, malam ku yang kembali gelap seperti sebelum aku bertemu dengannya. Aku tersenyum jengkel. "Kenapa dia setega itu... ", teriak hatiku. "Tanpa alasan yang jelas ia pergi begitu saja", batinku.
Aku ingin mengejarnya, tapi aku tak ingin bicara dengannya. Suaranya mengatakan "aku harus pergi", terus bergema di telingaku bersaut dengan semua pertanyaan-pertanyaan mengapa dia meninggalkanku. Saat itu adalah hari yang terburuk bagiku. Setiap kata dan ucapan yang ia berikan selalu membuatku percaya bahwa tuhan mengirimkan bintang satu satunya hanya dirimu untukku. Tapi semuanya sirna.
Aku berjalan entah tak tahu ingin kemana. Seakan aku tak punya arah tujuan. Aku berpikir, mengapa aku terlalu baik padanya. Dia sudah meninggalkanku tanpa memikirkan perasaanku tapi aku masih bisa memikirkan dirinya.
"Aku tak bisa berhenti memikirkan mu bintang", isak ku dalam hati.
Malam ini langit bertabur bintang. Tapi tetap saja rasanya seluruh dunia ini gelap tanpanya. Ku jajaki kursi di taman. Lelah sekali rasanya ingin mati saja. "Tapi apa pantas aku mati hanya karena dia meninggalkan ku? ", batinku. Itu bodoh sekali. Memang benar di balik senja penuh cerita yang tertulis. Mulai dari bahagia, sedih, luka, dan kecewa. Semua pernah ku rasakan. Aku masih berkelana di sekitar taman. Mencari udara segar, menenangkan hati dan pikiran ku. "Semuanya akan baik-baik saja", gumam ku. "Tanpanya aku masih bisa hidup bahagia", tersenyum tanpa sadar air mata mengalir di pipi ku.
"Huhh... Sudahlah senja, masih banyak cerita yang akan menantimu", ucapku sambil mengejapkan mata. Meski tak mudah untuk melupa, perlahan lahan aku pasti bisa. Semoga kau bahagia dengan siapapun itu. Dan harapanku saat ini hanya satu, semoga aku bisa bertemu dengan bintang yang selamanya akan tetap disisi ku.
_______________________________
Siapa yang setuju aku buat S2 nya?? Komen dibawah ya guysss😊😉
Dan nantikan cerpenku yang selanjutnya yaaa🙌