Note : meskipun judulnya seperti itu tapi di dalamnya tetap seorang manusia ya bukan hewan yang dimaksud di judulnya.
MATURE CONTENT+++
Hutan Armageddon, hutan yang sangat mengerikan tidak ada orang yang berani memasuki hutan tersebut. Hutan ini diliputi oleh kabut tebal dengan angin kencang yang terdapat hampir di seluruh hutan. Dan satu lagi hutan Armageddon adalah hutan yang memisahkan antara desa kelinci dan juga kerajaan serigala. Di antara dua desa tersebut tidak ada yang berani masuk ke dalam hutan tersebut. Karena jika sudah masuk mereka tidak akan pernah kembali atau mungkin dia sudah mati di dalam hutan.
"Mah, mamah" panggil Aura, gadis kelinci yang sangat cantik.
"Ada apa sayang?" ibunya yang sedang memasak membalikkan badannya untuk merespon anak semata wayangnya.
"Kenapa di desa ini hanya diisi oleh kaum wanita saja? Dimana para pria dan dimana ayahku?" dengan rasa penasaran yang sangat tinggi Aura berhasil membuat ibunya tersenyum lembut.
"Belum saatnya kamu tahu nak, umurmu saja masih sepuluh tahun. Nanti jika kamu sudah menginjak usia delapan belas tahun. Mamah akan memberitahukannya" jawab mamahnya dan dia kembali memasak.
Tahun demi tahun berlalu, Aura selalu mencari jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan kepada mamahnya. Hingga tahun berlalu begitu cepat, dia sekarang sudah menginjak usia delapan belas tahun. Dan selama delapan belas tahun dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan nya. Tapi sekarang dia bisa menagih janji kepada ibunya yang akan memberitahu jika dia sudah berumur delapan belas tahun.
"Mamah" pekiknya masuk kedalam rumah tidak sabar ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan delapan tahun yang lalu.
"Mah?" panggilnya lagi karena tidak mendapatkan sahutan dari mamahnya, biasanya mamahnya selalu cepat merespon tapi berbeda mamahnya sama sekali tidak merespon jawabannya.
Aura mendadak pucat setelah dirinya masuk kedalam kamar mamahnya, dia melihat mamahnya berlumuran darah. Mamahnya dibunuh, dengan cepat dia memeluk tubuh mamahnya dan menangis sejadinya. Andai saja dia tidak pergi ke hutan terkutuk itu pasti mamahnya tidak akan berlumuran darah seperti sekarang ini. Dia menyesalinya, "Na-ak" ujar mamahnya dengan suara yang sangat lirih.
"Iya mah ada apa, mamah jangan tinggalin Aura" Aura semakin menangis tersedu-sedu, dia tidak berani menatap mata mamahnya.
"Lihat mata mamah" ujar mamah langsung dituruti oleh Aura dengan air matanya yang terus mengalir.
"Ambil ini, uhuk" perintah mamahnya terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Ini apa mah?" tanya Aura tetapi sudah telat, mamahnya telah tiada, dia sudah tidak bernafas lagi. Mamahnya sudah meninggal kan dirinya untuk selama-lamanya.
Tangisnya semakin kencang membuat semua orang yang berada di desa kelinci langsung menghampirinya. Mereka tidak mengira jika panglima perang mereka telah tiada, disusul dengan tangisan beberapa teman mamah Aura.
Dua hari berlalu setelah kematian mamahnya, dia sama sekali belum membuka surat yang diberikan oleh ibunya. Aura masih ingin bersedih, Sira teman mamahnya yang sekarang merawat dirinya setelah kepergian ibunya. Tetapi Sira sangat khawatir dengan keadaan Aura karena dua hari ini dia belum memakan makanan yang dia berikan. Hingga Sira memaksa masuk kedalam kamar Aura, dilihatnya anak itu masih menangis.
"Cepat habiskan makanannya, dasar anak ngga tahu diri. Sudah dirawat masih saja tidak menurut, cepat makan" ujar Sira dengan tangannya yang menjambak rambut Aura.
"Kalau tidak kamu makan, kamu akan kubunuh seperti ibumu. Kamu mau? hmm" ujar Sira dengan tatapan matanya yang sangat menakutkan, matanya melotot hampir keluar.
Aura kaget mendengar perkataan Sira, "Ka-kamu yang bunuh mamahku?" tanyanya akhirnya bersuara setelah dua hari tidak mengeluarkan suara nya.
"Tapi bohong, hahahaha. Saya hanya ingin membuatmu berbicara, cepat dimakan dulu keburu dingin" ujar Sira dengan senyuman manis nya, tangan yang tadi menjambak rambut Aura berganti mengelusnya dengan sangat lembut.
Dengan segala penasaran, Aura ingin segera membuka surat yang diberikan oleh mamahnya. Setelah melihat teman dari mamahnya seperti itu, dia yakin jika mamahnya meninggal dunia bukan karena terbunuh di medan perang seperti yang dikatakan oleh detektif. Melainkan dia dibunuh oleh seseorang yang sangat membencinya, atau mamahnya sedang mencari sesuatu yang tidak lazim. Itu bisa dipikirkan nanti, untuk sekarang Aura harus mengisi perutnya terlebih dahulu.
Setelah selesai makan sampai dia tambah lagi karena saking laparnya, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sira sudah pergi semenjak dia berperilaku aneh tadi, sekarang dirumahnya tinggal dia seorang. Dengan hati-hati dia membuka surat yang diberikan oleh ibunya untuk dirinya. Di dalam surat tersebut terlampir kertas berwarna merah jambu, mungkin untuk mengelabuhi. Ada tulisan di dalamnya, Aura membaca tulisan yang hanya terdapat dua paragraf di dalamnya.
'Nak, jika terjadi sesuatu dengan mamah kamu jangan sedih ya. Katanya kamu ingin tahu jawaban dari pertanyaan mu dulu dan konsekuensinya adalah kamu akan kehilangan mamah. Kamu bisa? pasti bisa kamu kan anak mamah jadi pastinya kamu bisa. Kamu sudah siapkan untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan mu dulu. Semoga saja sudah siap....
Jawabannya adalah hutan Armageddon, kamu harus masuk kedalam hutan itu. Dan setelah sampai di sana kamu harus bertemu dengan ayahmu. Dia bernama Harris, jangan sampai ada orang yang mengetahui nya. Jika kamu sudah bertemu dengan ayahmu tanyakan semua pertanyaan yang kamu pendam kepadanya. Ingat jangan ada yang tahu, peta hutan itu ada di laci di kamar ibu'
Aura membaca surat tersebut dengan air mata yang dia tahan, "Kamu sudah makan semuanya?" tanya Sira yang datang tiba-tiba ke dalam kamarnya, dengan cepat Aura menyembunyikan surat itu.
"Sudah kamu tenang saja" jawab Aura keluar dari kamarnya. "Kamu bisa pulang saja, jangan khawatir aku sudah tidak sedih lagi" imbuhnya mengusir halus Sira.
Sepertinya ada sesuatu, batin Sira dengan senyuman liciknya. "Awas saja kalau dia berani macam-macam, nasibnya akan seperti ibunya" gumam Sira keluar dari rumah Aura dengan sedikit kesal karena dia diusir secara halus oleh tuan rumah.
"Ketemu" pekik Aura menemukan peta yang dimaksud oleh ibunya, senangnya bukan main. Nanti tengah malam dia harus segera melakukan aksinya, sekarang dia harus segera melakukan persiapan.
"Tunggu aku pernah masuk ke jalan ini, bukannya di sini tempat monster itu berada" gumamnya melihat peta, tapi dia percaya dengan mamahnya dan dia akan melawan monster itu.
Persiapan Aura dimulai dari senjata hingga makanan, dia menyiapkan semua kebutuhan yang sewaktu-waktu dapat di gunakan untuk dirinya di dalam hutan terkutuk itu. Beberapa jam dia menyiapkan semuanya, tanpa ada yang menggangu. Paling Sira yang datang ke rumahnya dan dia akan menyembunyikan persiapannya agar tidak diketahui oleh Sira. Siang berganti sore dan sore berganti malam, tinggal menghitung menit jam akan menunjukkan pukul dua belas malam.
Dengan tas yang dia pakai dia keluar dari rumahnya dengan sangat hati-hati, bahkan dia memakai masker untuk menutupi wajahnya. Tidak butuh waktu lama, dia sudah sampai dibibir hutan karena jarak rumahnya dengan hutan sangatlah dekat. Sebelum masuk kedalam hutan dia sedikit takut, tapi kemudian dia meyakinkan dirinya lagi lalu melangkah masuk kedalam hutan. Memang seperti yang dirumorkan hutan Armageddon memang sangatlah menakutkan.
Dengan kabut tebal dan juga hawa yang sangat dingin, untungnya Aura membawa jaket tadi sehingga rasa dinginnya tidak menembus ke dalam tubuhnya. Dia melewati hutan tersebut sesuai dengan peta yang diberikan oleh mamahnya kepada dirinya. Dan betapa terkejutnya setelah dia melewati goa, di dalamnya terdapat sebuah Padang rumput yang sangat hijau. Tidak ada kabut atau cuaca dingin lagi, yang ada hanyalah terik matahari yang membuatnya melepaskan jaket yang dia pakai.
"Tempat apa ini?" tanyanya pada rumput yang bergoyang, Aura melihat peta. Kurang beberapa meter lagi dia sampai di tempat tujuan.
"Jangan masuk" seorang pria menghentikan langkahnya, "kamu siapa?" tanya Aura memundurkan tubuhnya.
"harusnya aku yang bertanya padamu, kamu siapa?" ujar pria itu dengan dingin dan juga wajah datarnya.
"Namaku Aura, aku disuruh ibuku untuk menemui ayah ku" ujar Aura sedikit ketakutan dan menunjukkan peta yang dia bawa kepada pria yang mungkin seumuran dengannya itu.
"Oh" jawab pria itu dengan dingin dan pastinya dengan tatapan datarnya, " ikut aku" imbuhnya berjalan mendahului Aura.
Dengan sedikit keberanian yang tersisa Aura melangkah mengikuti pria yang tidak dia kenal. Entah kenapa hatinya mengatakan jika pria di depannya itu adalah orang baik. Pria itu mengantarkan nya ke sebuah rumah yang tepat ditunjukkan dengan tanda x di peta. Dan dia melihat seorang pria seumuran dengan mamahnya keluar dari rumah itu setelah pria baik yang mengantarnya memanggilnya. Jantung Aura langsung berdetak kencang, dia langsung memeluk tubuh pria paruh baya itu.
"Hei kamu siapa?" tanya pria itu tanpa membalas pelukan Aura.
"Papah" ujar Aura membuat pria itu langsung mengenalinya, gadis yang memeluknya adalah anaknya.
"Aura, kamu beneran Aura kan?" tanya pria yang sekarang sudah membalas pelukan dari Aura yang mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
"Kamu cantik sekali seperti Shana, dimana mamah?" tanya pria itu mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya.
Bukan mendapatkan jawaban melainkan tangisan yang dia dapatkan, "Kenapa menangis, dimana ibumu bilang saja papah Arga merindukannya" ujar pria yang bernama Arga kembali memeluk anak gadisnya.
"Ibu sudah meninggal dunia" jawab Aura memberikan surat yang satunya lagi, ya dia menemukan surat tersebut bersama dengan peta yang dia ambil di dalam laci kamar mamahnya.
"Ini tidak mungkin, padahal baru kemarin dia kemari" papahnya yang menerima surat yang di ulurkan oleh Aura langsung menangis sejadinya.
Sedangkan pria dengan wajah datar hanya bosan melihat drama keluarga yang tiada hentinya, padahal sebentar lagi peperangan akan dimulai. Benar peperangan antara desa kelinci yang di isi oleh wanita semuanya melawan desa serigala yang diisi oleh kaum pria seluruhnya. Dan sekarang mereka berada di pihak netral, tidak memihak di antara keduanya. Mungkin jika Arga kembali ke desa nya sekarang nasibnya akan seperti istrinya yang terbunuh di desanya.
Setelah drama keluarga berakhir Arga meminta Aura anaknya dan juga Leo pria yang mengantarkan anaknya untuk masuk ke dalam rumah. Arga masih terlihat sedih, tetapi dia harus menjelaskan semua rasa penasaran yang sudah menumpuk di pikiran kedua anaknya. Eh bukan, hanya Aura saja anaknya sedangkan Leo adalah anak angkatnya. Hari demi hari hubungan mereka semakin dekat, hanya tinggal menghitung hari saja peperangan akan meletus.
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" tanya Aura kepada Leo, dia sangat ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan pria.
"Mau" jawab Leo singkat plus dengan wajah datarnya, dia juga penasaran dengan apa yang dimaksud wanita. Tapi berbeda dengan perasaan yang berada di dalam hati Leo, ada kesenangan sendiri setelah Aura menyatakan cinta kepadanya.
Cup
Kecupan singkat di pipi Leo membuatnya langsung menatap ke arah dalangnya, benar Aura langsung menciumnya. Jantung mereka berdua berdetak kencang, tanpa sadar wajah mereka sudah saling berdekatan. Hingga bibir mereka sudah menempel dengan lumatan yang diberikan oleh Leo. Kenapa mereka bisa mempelajari semua itu, karena mereka berdua adalah orang yang rasa penasaran nya tinggi. Leo semakin melumat bibir manis Aura, hingga mereka sama-sama terbuai.
Leo membuka bajunya menampilkan tubuh kekarnya, begitupun dengan Aura yang juga membuka bajunya menampilkan tubuh seksinya. Kemudian mereka melanjutkan ciumannya, hingga Leo yang sudah menelanjangi tubuhnya dan juga tubuh Aura. Dengan sekali hentakan junior Leo sudah berhasil masuk ke dalam lubang hangat milik Aura. Dan mereka saling berpelukan melanjutkan adegan panas di atas ranjang dengan penuh gairah.
•••••
Peperangan dimulai, dua belah pihak yang bermusuhan bertemu di padang rumput yang ditempati oleh Arga, Aura, dan Leo. Tapi mereka sudah menyiapkan rencana untuk menyatukan kedua desa tersebut. Jika kedua desa itu bisa bersatu kutukan di hutan ini akan hilang dan sistem prostitusi yang dilakukan oleh kedua belah pihak akan hilang. Mereka bisa merasakan apa yang dinamakan dengan cinta dan juga mereka akan menjadi keluarga yang utuh.
Dua belah pihak telah sampai di padang rumput, peperangan antara keduanya berlangsung. Banyak sekali pertumpahan darah, bahkan Arga sekarang sudah merenggang nyawa saat menghalangi orang yang mengejar anaknya. Harapannya tinggal berada di tangan Aura dan juga Leo, dan sekarang saatnya mereka mengeluarkan sihir mereka. Benar mereka selama ini belajar sihir, untuk menghentikan peperangan. Mereka berdua sampai di batu Laess....
"Dengan kekuatan elemen, kita mempersembahkan kekuatan yang begitu besar kepada alam" ujar Aura dan Leo bersamaan dengan kedua tangannya yang di tumpukan di atas batu Laess.
Blarrr
Suara petir langsung menghentikan peperangan antara keduanya, karena petir itu menyambar pemimpin dari belah pihak. "Akhirnya ketemu kalian berdua" ujar Sira dengan satu pria yang mungkin dikenali oleh Leo.
"Apa yang kau mau, Tama?" tanya Leo kepada pria yang bersama dengan Sira.
"Kalian berdua harus mati, siapa yang merusak adat harus dimusnahkan" ujar pria bernama Tama dengan amarah di wajahnya.
"Apa budaya? budaya apa yang membuat kedua orang tua kami meninggal karena terbunuh dan budaya apa yang tidak mempertemukan anak dengan kedua orangtuanya" ujar Aura membuat Sira marah.
"Kalian" ujar Sira mengeluarkan senjata begitu juga dengan Tama dan mereka langsung maju untuk menyerang.
Karena Aura dan Leo sudah sangat terlatih sejak kecil dia bisa mengimbangi permainan lawannya, mereka saling bertarung. Dan pemenangnya adalah Aura dan Leo meskipun dia sudah babak belur tapi mereka berhasil membunuh lawannya. Setelah lawannya mati peperangan sudah berakhir, sepertinya semua orang telah di cuci otaknya oleh Sira dan Tama. Buktinya setelah keduanya sama-sama terbunuh semua orang langsung pingsan.
"Huh capeknya" ujar Aura menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah disusul oleh Leo yang duduk disampingnya.
"Aku cinta kamu nona kelinci" ujar Leo tersenyum melihat Aura, karena pipi gadis itu sudah memerah seperti tomat.
"Aku lebih mencintaimu tuan serigala" ujar Aura tidak ingin kalah, dengan begitu keduanya saling berciuman.
TAMAT.