Sindi masuk kedalam rumah dengan senyam senyum sendiri. Ibu bingung, kemarin dia datang sambil menangis, dan sekarang sambil tersenyum. AJAIB.
Sindi mengganti pakaiannya lalu duduk disamping ibu.
"Kita makan sama tahu tempe lagi nak. Gak papa yah". Ucap ibu. Sindi hanya tersenyum kepada ibu. Keadaan inilah yang mampu membuat Sindi menjadi orang yang dewasa sedewasa mungkin.
"Gak papalah bu. Yang penting bisa makan". Ucap Sindi mengambilkan nasi untuk sang ibu.
"Tadi yang nganterin kamu siapa? kok ibu baru liat?". Tanya ibu. Sindi yang sedang menyuapi nasi kedalam mulutnya seketika terdiam.
"Oh... itu.. anu.. euh temen bu". Ucap Sindi. Bisa bahaya jika ibu tahu itu adalah Rio.
"Yaudah, makan yang banyak". Ucap ibu sambil memberikan lagi tahu kedalam piring Sindi.
Rio sedang memarkirkan motornya. Dia sudah ditunggu oleh teman temannya dimarkaz biasa mereka kumpul. Rio masuk kedalam markaz.
"Gimana? udah dapet caranya?". Tanya Rio datang datang. Rio duduk dikursi dekat si Usang.
"Belum bang. Gue bingung". Ucap Riko teman tongkrongan sepergeng permotoran.
"Terus gimana? kita mau terang terangan aja?". Tanya Rio.
"Jangan. Kita main pakek taktik dulu aja". Ucap Usang mengusulkan pendapatnya. Semua sepertinya setuju dengan ucapan Usang, termasuk Rio.
Rio pamit pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya. Rio kembali datang kemarkaz.
"Kita nyerang seperti biasa. Main bersih". Ucap Rio menaiki motornya dan pergi bersama teman temannya.
Rio berada diposisi paling depan. Rio memberhentikan motornya dan menyerang musuhnya dengan telaten.
Semua musuh telah terkapar lemas. Rio pergi dari tempat itu dan diikuti oleh teman temannya.
Sindi sedang menulis puisi. Dia ingin mengikuti lomba menulis puisi yang tanpa pembayaran itu. Sindi pusing, dia bingung ingin menulis puisi yang bertema apa.
Sindi keluar dari kelas untuk pergi ketaman. Sindi ingin mencari inspirasi agar bisa menemukan hal yang tepat untuk menulis puisinya.
Sindi menabrak seseorang hingga Sindi terjatuh kelantai.
Teman teman Rio mentertawai Sindi yang terjatuh, sedangkan Rio tidak. Tumben baik, kerasukan jin apa nih orang.
"Kalo jalan bisa liat liat gak sih!!! sakit tau". Teriak Sindi kepada Rio. Rio tidak menjawab perkataan Sindi. Rio berlalu begitu saja.
"Jangan so kecantikan lo". Ucap Usang ketika melewat. Sindi hanya menatapi punggung kelima laki laki brandal itu.
Tadinya Rio ingin sekali membantu Sindi untuk berdiri, namun Rio urungkan karena ada teman temannya.
"Gue dapet kabar dari Jack, katanya geng yang kemarin kita serang bakalan nyerang balik Bang". Ucap Reki memberitahu kabar penting kepada Rio.
"Nyerang balik kemana Ki? Gimana kalo nyerang balik kesini, bisa berabe". Ucap Sandi. Benar sekali, jika geng kemarin menyerang kesekolah ini. Sudah dipastikan jika geng Rio akan kalah dengan telak.
"Tanya Jack, bakalan nyerang kemana". Ucap Rio. Reki menelepon Jack, namun Jack tak urung untuk mengangkatnya.
"Gak diangkat bang". Ucap Reki. Bel sekolah berbunyi. Seluruh siswa memasuki kelasnya masing masing.
Pembelajaran berjalan dengan lancar. Tidak ada suasana yang mencekam.
Tiba tiba, ada yang melempar kaca jendela dengan batu. Ternyata, geng yang kemarin Rio serang melakukan serang balik.
Bahaya bahaya. Rio tidak bisa melibatkan anak dari sekolah ini. Rio berlari bersama lima temannya untuk keluar dari kelass. Mereka masih melempari dengan batu. Semua murid teriak sehisteris mungkin.
Rio berhasil melewati gerbang yang begitu tinggi. Rio meminta bantuan BangLes. BangLes sedang berada diperjalanan. BangLes datang membawa sekitar dua puluh anak buahnya. Rio berjalan menghampiri musuhnya itu.
"Heh?". Ucap Rio kepada mereka. Mereka menghentikan aktivitasnya melempari batu.
Seluruh siswa menyaksikan keluar sekolah. Rio, Rio begitu berani dengan berjalan dipaling depan bersama BangLes.
"Gue bakalan luapin semua amarah gue karena kemarin lu udah ngubrak ngabrik markaz gue". Ucap goni selaku ketua dari mereka. Tanpa basa basi mereka menyerang. Rio bertarung dengan Goni. Itu adalah kali ke empat untuk Rio bertarung dengan Goni. Mereka adalah dua gengster yang tingkat permusuhannya sudah sangat akut. Mereka tidak akan bisa damai karena kedua leluhur dari geng mereka bersumpah jika suatu saat dari kedua geng mereka damai. Berarti ada satu pihak yang dinyatakan kalah.
Sindi bisa melihat Rio yang begitu gagah bertarung dengan orang yang jauh lebih besar darinya. Rio, dia memang jahat kepada Sindi, tapi Sindi tidak bisa membencinya. Apalagi sekarang sikap dia sudah berubah menjadi manis kepada Sindi. Manabisa dia benci.
Suara tembakan peringatan berbunyi. Semua yang sedang berkelahi melarikan diri karena ada polisi yang merasa mengganggunya. Rio berlari menaiki motor bersama BangLes.
Tujuan Rio sekarang adalah kemarkaz. Rio sangat geram. Dimarkaz sudah terlihat Jack yang sudah tidak bernyawa. Rio mendekati Jack. Semuanya menangis mendapati kondisi Jack yang jauh dari kata baik baik saja.
"Goni.. Siap siap lo buat senasib sama seperti Jack". Ucap Rio geram.
Sindi sedang berjalan pulang seperti biasa. Sindi berjalan dengan sedikit ceria karena dia bisa membereskan puisinya itu.
Rio sudah menunggu Sindi. Rio dapat melihat Sindi yang jalan sebegitu sumringahnya.
"Masih jalan kaki aja". Ucap Rio. Sindi menghentikan langkahnya. Sindi merasa ngeri dengan banyaknya luka diwajah Rio.
"Ihh muka lo gila amat". Ucap Sindi. Rio hanya tersenyum kepada Sindi. Aneh, sedang luka begini jika Rio tersenyum tetap aja keliatan gantengnya.
"Gue anterin pulang, gak ada penolakan". Ucap Rio menaiki motor milik BangLes ini "Naik". Lanjut Rio.
Mereka tidak memakai helm, sehingga memudahkan mereka untuk berinteraksi.
"Kenapa lo tadi berantem". Teriak Sindi agar Rio bisa mendengarnya.
"Gue kan laki laki. Jadi terserah gue". Teriak Rio menjawab pertanyaan Sindi.
Rio sampai dirumah Sindi. Sindi turun dari motor Rio
"Makasih. Hati hati lo" Ucap Sindi.
"Nanti malem gue kesini. Lo harus ada pokoknya". Ucap Rio meninggalkan Sindi yang bertanya tanya.
"Kapan kita habisin geng Goni itu". Teriak Rio. Rio sudah dilumuti oleh sejuta kemarahan. Rio sangat sangat marah.
"Sabar dulu bang. Kita butuh proses dulu". Ucap Usang menenangi Rio.
"Jack temen kita. Emang kita terima hah?". Teriak Rio kepada temen temennya.
"Lo jangan maksain kehendak lo sendri bang. Lo terlalu egois". Ucap Reki. Rio merasa sangat marah ketika Reki berbicara seperti itu.
"Gue egois karena gue punya solidaritas terhadap Jack. Gak kayak lo yang bisanya cuma kabur" Ucap Rio sambil memukul pelipis Reki. Rio pergi meninggalkan mereka. " Kalau semua kagak mau. Biar gue aja yang pergi sendiri". Lanjut Rio pergi menaiki motornya.
Rio berniat untuk pergi kerumah Sindi. Dia sudah berjanji pada Sindi untuk datang nanti malam.
"Assalamualaikum". ucap Rio dengan mengetuk ngetuk pintu.
"Waalaikumsalam". Ucap Sindi membuka pintu. Sindi sangat kaget. Rio tiba tiba memeluknya dengan erat. Entah kenapa.
"Jangan suruh gue buat lepasin pelukan ini. Gue lagi pusing". Ucap Rio yang masih memeluk Sindi. Sindi merasa aneh. Aneh karena merasa nyaman ketika dipeluk oleh Rio.
Part 2 nya nih.