Sudah setahun kamu menjadi asisten manager Stray Kids. Pun, sudah setahun pula kamu menahan sakit hati kepada salah satu dari mereka.
Lee Know.
Cowok yang digandrungi banyak wanita.
Cowok yang katanya berwajah malaikat.
Cowok yang sangat boyfriend-able.
Cowok yang MENYEBALKAN dimatamu.
Biasanya, Lee Know mulai beraksi setelah pukul lima sore. Dengan alasan cari angin, Lee Know akan keluar dari gedung lalu pulang ketika Chan sudah mengunci pintu dorm. Laki-laki itu bukannya merengek pada membernya, malah pergi ke apartemen kamu yang bersebelahan dengan dormnya.
Lee Know mengetuk pintu dengan keras, juga sesekali meneriaki namamu lewat telepon. Sialan!
Kamu terbangun lantaran tidak tahan ditelepon olehnya. Kamu langsung mengenakan sandal, mengikat jubah tidur lalu berjalan gegabah menuju ruang tamu.
Klik!
Pintu terbuka menampilkan senyum bodoh cowok itu. Kamu mendengus kesal. "Ngapain lo disini?!"
Lee Know masih tersenyum aneh lalu tanpa aba-aba, jarinya mencolek pipimu. Kamu melotot seraya menariknya masuk.
"Lo bukan Idol di rumah gue. Jadi, jangan banyak gaya. Risi tau!"
Kamu menutup pintu dengan keras, sengaja supaya si pembawa masalah sadar diri. Tetapi, namanya juga Lee Know. Jiwa absurdnya tidak bisa ditebak.
"Masakin mie buat gue, dong!" teriaknya tanpa berdosa. Pun, dia malah rebahan disofa.
Kamu mencebik lalu menghampirinya. "Apa?! Bisa diulang?!"
Lee Know menatapmu. "Bikinin mie buat gue, yeobo....."
"Cih!" Wajahmu berpaling. "Gue mau tidur."
Segera, tubuhnya menegak. "Ya!"
Kamu menoleh kaget. Jelas! Pernah denger suara Lino pas debat sama Changbin? Seperti itu bunyinya. "Jangan teriak! Berisik!"
"Bikin mie dulu terus tidur!" Lino belum juga menurunkan suaranya.
Kamu tersenyum miring. "Ini apartemen gue. Gue bukan pembantu lo!" Jelasmu menohok wajahnya. "Diluar jam kerja, lo cuma manusia biasa. Jadi, nggak usah manja!" Setelahnya, kamu bergegas pergi ke kamar. Persetan sama Lino. Mau dia mati kelaparan bahkan sampai jadi bangkai, kamu nggak bakal peduli.
Kamu sudah duduk diatas kasur, tinggal berbaring dan menutup mata. Namun, suara ketukan pintu memecahkan kesabaranmu. Lagi, kamu dibuat kesal olehnya.
"Hush! Jauh-jauh dari kamar gue!" Serumu masih duduk ditempat.
Bukannya berhenti, suara itu malah semakin keras. Kamu frustrasi. Akhirnya, memilih berdiri lalu menghampiri si pembuat onar.
"AP—"
Lidahmu kelu. Tubuhmu nyaris tumbang ketika dibawa kedekapannya. Kamu terdiam cukup lama, mencerna keadaan. Apa-apaan ini?!
Kamu cuma sebatas asisten managernya!
Lalu pantaskah asuhanmu bertingkah seperti ini?!
Batin dan kepalamu saling berperang. Kamu ingin melepaskannya tetapi sial, kamu menyukai pelukan ini!
"Lepas...." Ujarmu dengan suara bergetar.
Lino membuka matanya, tangannya mengelus punggungmu. "Kenapa?"
"Gue yang harusnya tanya kenapa?!" sentakmu enggan membalas perlakuannya.
Alis Lee Know mengernyit. Perlahan, rengkuhannya kian mengendur dan kalian saling bertatapan. Kamu dengan sorot menuntut dan Lino yang tampak santai. Ada apa ini?
"Cukup Lee Know-ssi! Ini udah terlalu malam. Nggak baik buat lo dan gue."
"Kenapa?" Dia memancing emosimu.
"Karena lo!"Akhirnya, kamu mengeluarkan semuanya. "Gue capek Lee Know...."
"Capek? Lo capek karena jadi asisten manager?"
"Gue capek denger berita tentang lo!" Jelasmu serius. "Media bilang lo punya masalah sama member lain karena sering keluar dari dorm. Mereka juga nyebarin gosip kalo lo punya hubungan sama gue. Dan lo yang punya badan malah bodo amat. Selama ini, gue diam. Bukan berarti gue nggak peduli."
"Terus gue harus gimana? Stress?"
Sesimpel itu?
Mulutmu membulat, tidak jadi menyumpahi cowok didepanmu. "Terserah! Pulang sana ke dorm!"
Dengan wajah serius, dia membalas, "Nggak."
"Lee Know, plis... Gue nggak mau dikejar sama media. Mereka sekarang lagi nyari gue!" Kamu memukul kepalamu sendiri tetapi cowok itu tidak peduli.
"Kalo begitu, gue bakal ngomong ke publik...."
Kamu menatapnya penuh tanya.
Sementara Lee Know tampak tenang. "Kita punya hubungan sekarang."
"Dasar gila! Gue bisa tewas ditangan penggemar lo! Nggak! Nggak!" Makimu. Pun, kakimu ikut menjauhi sosok itu. "Lagian, staff dan idol nggak boleh jadi seperti yang lo harapkan. Gue nggak mau jadi perusak jalan hidup orang."
"Berarti kalo gue berhenti jadi Idol, lo bakal nerima gue?"
Ucapan Lee Know makin menusuk kepalamu. Pusing. Kamu kehabisan alasan. "Nggak. Karena gue benci sama lo! Jadi, pergi dari hadapan gue sekarang!" Kamu mendorong bahunya dengan keras hingga cowok itu terhuyung.
Berulang kali kamu melakukannya, tiba-tiba, Lee Know menangkap pergelangan tanganmu. Kamu dan dia saling terpaku. Bedanya, bibirnya sedikit terangkat. Ciri khas Lee Know saat berhasil menguasai sesuatu.
"Coba aja kalo bisa." Udara memang dingin tetapi suara Lee Know berhasil membuat tubuhmu membeku. Dia melangkah maju hingga punggungmu menubruk dinding.
"Aaarrgghhh...." Erangmu pendek.
Lee Know menyunggingkan senyum terburuknya. Kamu meringis ketakutan. "Terima gue atau—"
"Nggak, Lee Know. Kita udah jelas beda. Lo nggak bisa maksa."
"Gue bukan Lee Know. Panggil gue Lee Minho. Sekarang gue manusia biasa. Jangan ingat 'title' gue."
Kamu menelan ludah merasakan embusan napasnya.
"Alasan kenapa gue selalu keluar dorm adalah lo. Gue capek liat lo. Gue nggak bisa nahan perasaan ini. Mungkin ini waktunya kita."
"Ngaco!" Kamu mencoba tetap tidak peduli.
"Gue serius! Apa harus ada bukti nyata dulu supaya lo nggak bisa lari lagi?"
"Brengsek!" umpatmu keras.
Lee Know menyentak, "Diam!" Raut wajahnya benar-benar menyeramkan. Sebelumnya, kamu tidak pernah melihatnya seperti ini. "Gue bakal maksa."
"Cinta nggak bisa dipaksa. Gue punya hak buat nolak!"
Lee Know mengeram. Lalu memukul dinding disamping wajahmu. "Sialan!"