"Kenapa mencintaimu bisa semenyakitkan ini?"
*******************
Rona mengayuh sepedanya dengan kencang berharap akan memenangkan pertandingan sepeda kali ini. Di samping kanan dan kirinya terisi oleh beberapa temannya.
"Hoo cepet! Cepetan! Rona ayo cepet!"
Suara seorang laki-laki terdengar begitu kencang menyemangati Rona. Seulas senyum kecil terbit di wajah Rona. Tiba-tiba adrenalinnya terpacu, ia mengayuh sepeda kecilnya dengan kuat. meskipun tubuhnya kecil namun tenaganya sangat kuat. Rona terus mengayuh sepedanya menuju garis finish. Sepeda kecil Rona meluncur dengan cepat mendahului tiga sepeda lainnya. Rona tertawa girang saat tinggal satu meter lagi ia mencapai garis finish. Teman-teman yang lain masih tertinggal di belakangnya, Rona tersenyum lebar saat dia berhasil menyentuh garis finish yang dibuat secara sederhana dengan menggunakan arang bara api itu.
"Hahahha, a-a-ku menang heh." Rona berbicara di sela napasnya yang tersengal-sengal.
Semua teman-temannya berkumpul dengan rasa kecewa namun tak menutup kenyataan jika mereka juga merasa bahagia dengan keseruan permainan yang sudah mereka lakukan.
"Wah, selamat Na. Akhirnya kau berhasil, aku yakin kau pasti menang!" Ucap laki-laki yang tadi menjadi supporternya.
Rona mengangguk semangat dengan binar bahagia terlukis di wajahnya. Wajah rona memerah saat melihat laki-laki itu tersenyum padanya. Senyuman yang sangat menyejukkan dan karena itulah Rona menyukainya. Astaga, dia memang masih kecil, tapi tidak ada yang bisa menghentikan perasaan yang dinamakan "suka" itu datang bukan?
"Zein, ayok balik cuaca udah mendung, apalagi jarak ke rumah masih jauh banget!" Ucap Laras memberi saran saat awan hitam dan suara petir mulai terdengar.
"Iya Ras, ayo kita pulang semua. Besok main lagi ke sawah ya, tapi pagi aja jangan sore kayak gini takutnya besok hujan lagi."
"Iya..." Jawab semua orang bersamaan.
Zain, Laras, Rona, beserta dua anak yang bernama Shasa dan Will memutuskan untuk mengayuh sepeda masing-masing dengan cepat. Awan hitam di atas seolah mengikuti mereka. Jalan hutan yang licin sedikit membuat mereka kepayahan untuk mempertahankan keseimbangan laju depeda mereka. Bersyukur tidak ada yang terjatuh, medan seperti itu sudah sangat biasa mereka lalui. Jalan licin seolah seperti sahabat mereka setiap hari. Rintik hujan menetes-netes dari atas langit membasahi rambut bagian atas mereka. Perjalanan bahkan baru setengah, masih butuh beberapa menit lagu untuk mencapai desa mereka. Hutan karet begitu sepi, hanya ada mereka yang berjalan dengan menggunakan sepeda. Rona sama sekali tidak berani jika harus bermain sendirian melewati hutan karet itu. Dia takut jika bertemu hewan buas ataupun orang gila yang tersesat di hutan. Entahlah semua teman-temannya juga takut dengan orang gila. Biasanya orang gila akan berperilaku aneh dan tak jarang mengejar mereka, mungkin itu alasannya mengapa teman sebaya juga dirinya takut.
"Zein, basah nih bajuku hiks."
Suara Laras menghentikan laju sepeda Zein yang ada di depan.
Rona juga dan yang lainnya ikut berhenti. Mereka memperhatikan kondisi Laras yang sebenarnya wajar. Semua orang di sana juga basah, termasuk Rona. Hanya saja Rona tidak memiliki kepercayaan setinggi Laras untuk merengek jika bajunya basah pada laki-laki itu.
Zein mendekat ke arah Laras dan mengusap pucuk kepala gadis itu. "Sabar yah, bentar lagi sampai kok. Kita semua juga basah Ras. Atau kamu mau aku bonceng? Tapi sepedamu ntar gimana?"
Laras berpikir sejenak kemudian menggeleng. "Aku cuma dingin aja. Udah kita terusin aja yuk. Maaf ya teman-teman." Laras bicara dengan suara bergetarnya.
Keadaannya memang sepertinya benar-benar sedang kedinginan. Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka semua juga dalam keadaan basah, tidak bisa meminjamkan baju mereka. Akhirnya setelah berhenti beberapa menit mereka kembali menjalankan laju sepeda mereka.
Rona mengayuh sepedanya dengan sisa tenanga yang dia punya. Perlombaan sepeda tadi cukup menguras energinya, kini dia hanya bisa mengayuh pelan dan berada di barisan terbelakang di antara semua teman-temannya.
Dari kejauhan beberapa rumah sudah mulai terlihat. Mereka semakin menambah kecepatannya untuk segera sampai.
"Aku pulang dulu ya." Ucap Shasa yang berbelok ke arah rumahnya.
"Iya Sha." Ucap Zein dan Laras.
Satu persatu teman-temannya pulang ke rumah masing-masing, menyisakan Zein, Rona, dan Laras. Rumah mereka memang berdampingan. Di sebelah rumah Zein adalah rumah Rona, sementara di sebelah rumah Rona adalah rumah Laras.
"Ehm, Zein terima kasih ya hari ini asyik banget. Lain kali ajak aku lagi ya." Laras tersenyum manis pada Zein.
"Iya ras. Lain kali kuajak kamu main yang lebih seru lagi. Sana masuk gih, katanya kedinginan." Zein berkata dengan sedikit salah tingkah.
Rona yang melihatnya tidak begitu peduli. Dia lebih peduli pada perasannya yang mendadak sesak. Rona pun pergi meninggalkan mereka yang berbincang.
Zein yang melihat telah ditinggal lantas menyusul Rona.
"Hei, kenapa gak nungguin sih!"
"Lagian udah deket kak rumah kita. Kenapa harus saling tunggu?"
"Yee, anak kecil dibilangin kok malah balik nanya!"
Rona merasa tersakiti dengan ucapan Zein yang mengatakan jika dia anak kecil, meskipun memang itu kenyataannya.
"Dah lah. Malesin, aku mau pulang."
Rona membelokkan sepeda kecilnya dan menaruh di teras rumah. Zein menyusul dan ikut meletakkan sepeda di sana.
"Kak Zein ngapain di sini? Sana pulang!"
"Ih apaan sih Ron, paling juga mama belum pulang. Aku mau di rumah tante Sonya dulu aja."
"Ishh dasar!"
"Kenapa sih Ron, kamu ngambek gara-gara gak ada hadiah buat juaranya?"
"Aku bukan Roni kak Zein!"
Rona yang semakin kesal membalikkan tubuhnya dan berjalan ke dalam rumah. Zein menangkap tangan Rona kemudian mengelus poninya yang lucu,"Besok aku kasih hadiah ya, jangan ngambek Ron!"
Rona menundukkan wajahnya malu saat menerima usapan halus di poninya.
Mungkin bagi Zein, usapan itu hanyalah rasa kasihnya terhadap Rona sebagai anak kecil. Tapi bagi Rona, usapan itu seperti musim panas yang melelehkan es beku di hatinya. Tubuhnya bereaksi terlalu berlebihan dan mengsalah artikan semua perlakuan Zein.
*****
Waktu berlalu semakin cepat. Zein semakin dewasa, kini dia sudah bekerja di salah satu instansi pemerintah. Dia memiliki otak yang cerdas makanya sangat mudah baginya untuk lolos seleksi tes CPNS. Zein sekarang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) yang sering melakukan kegiatan sensus itu. Terkadang Zein juga meminta bantuan Rona untuk menjadi mitra yang membantu menyensus masyarakat. Sebenarnya Rona tidak tertarik pada uang hasil dari pekerjaan itu. Tetapi dia hanya ingin membantu Zein, setidaknya dengan begitu mereka bisa bertemu.
Rona berulang kali menyadarkan dirinya akan perasaan yang tidak ada harapannya itu. Tapi tetap saja sangat susah untuk melepaskan apa yang kita cintai. Rona sangat sadar diri dimana posisinya berada. Karena itu semua perasaan itu hanya ditelannya seorang diri. Tidak satupun sahabat dekatnya tahu.
Semua perasaan cintanya terawat dengan baik hingga sekarang. Bahkan tunas-tunas baru semakin banyak bermunculan, Zein semakin mempesona di mata Rona yang sudah cukup dewasa. Wajahnya semakin bersih dan tampan, serta tubuhnya liat berotot. Rona tidak mampu lagi berpaling dari pesona pria itu.
Tapi Rona juga sadar sedewasa apapun dirinya, dia tetap saja akan tertinggal. Zein akan lebih dewasa daripada dia, dan Zein akan meninggalkan pertumbuhannya.
Lihat saja pria itu sekarang, dia sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain yang sangat dekat dengannya.
Iya, perempuan beruntung itu adalah Laras. Laras dengan kesempurnaannya memang sangat cocok disandingkan dengan Zein. Mereka berdua kombinasi sempurna untuk menjadi sebuah pasangan.
Rona hanya bisa menahan getirnya rasa sakit di hati saat melihat kemesraan Zein dan Laras. Rona benar-benar harus terlihat baik-baik saja di setiap perjumpaan mereka. Rona memang tersenyum hangat bahkan tertawa bersama mereka. Tapi percayalah, saat malam hari Rona akan menangis di balik selimut tebalnya karena patah hati.
Perasaan cintanya telah tertolak bahkan sebelum dia mengatakan pada sang pujaan hati.
Dia tentu saja hanya bisa menyimpan perasaan itu entah sampai kapan.
Dia tidak tahu apakah perasaannya juga bisa kadaluarsa seperti mie instan di rumahnya atau tidak.
Dia hanya ingin, perasaan sakit yang bersarang itu segera lenyap dari hatinya. Karena, mencintai Zein ternyata begitu menyakitkan untuknya.
TAMAT👀👀👀👀👀
LIKE
LIKE
LIKE
KOMEN👀👀👀👀