"Sepertinya Tuhan terlambat mempertemukan kita. Kamu tlah mengikat takdir bersama dia, dan aku di sini tertinggal bersama luka."
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Laila POV
Oktober, bulan yang sangat kusukai. Entah apa alasannya tapi aku sangat menyukai bulan itu. Di antara ke dua belas bulan, Oktober bagiku seperti angin sejuk.
Mungkin karena setiap bulan Oktober aku bisa melihat sosoknya di sana. Dia bersama teman-temannya yang kebanyakan laki-laki. Biasanya mereka akan mendaki gunung dan menginap di tempat penginapan milik kerabatku.
Aku memang tidak pernah mengenalnya, tapi tiga tahun adalah waktu yang cukup untukku menyadari jika aku menyukainya.
Awal pertama aku melihatnya, saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Wajahku masih sangat dekil dan lusuh sementara badanku masih pendek.
Dia yang saat itu sangat mempesona bagi anak remaja sepertiku. Dia yang paling bersinar di antara semua teman-temannya. Dia juga sangat ramah pada siapapun. Tak jarang teman perempuan di sekolahku sengaja berkunjung ke rumahku hanya karena ingin melihatnya.
Tak terasa tiga tahun telah berlalu, dan aku masih saja menyimpan perasaan ini untuknya. Perasaan sepihak yang sudah 3 tahun lamanya menaungi hati kecilku. Di saat teman-temanku mampu berpaling darinya, tidak demikian denganku. Sepertinya hatiku berjalan di tempat tanpa bisa melirik pria manapun. Mataku seolah buta dan hanya dia yang dapat kulihat.
Sungguh lucu bukan, pasti perasaan ini sangat lucu bagi orang lain. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, perasaan ini adalah kejujuran termurni yang kuakui.
Hari ini aku sudah siap menunggu kedatangannya. Aku sudah sangat merindukan, rasanya hatiku membuncah begitu bahagia hanya dengan memikirkan akan bertemu dengannya. Aku sudah merencanakan beberapa hal, tahun ini aku harus bisa berkenalan dengannya dan menjadi temannya. Aku tidak peduli jika dia hanya menganggapku sebagai anak SMA yang butuh kakak. Yang terpenting aku bisa bersamanya, sudah lama sekali aku mengumpulkan keberanian untuk melancarkan aksi ini. Semoga saja semuanya berjalan seperti apa yang kuharapkan.
🍃🍃🍃
Laila duduk di teras rumahnya, buku-buku pelajaran berjajar di samping kanan kirinya. Matanya terus melirik ke arah jalanan di depan saat suara mobil melaju. Laila menghembuskan napas lelah, berapa lama lagi ia harus duduk di teras. Sekarang bahkan jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 10 siang. Biasanya pria itu akan datang pagi hari, kenapa hari ini sangat lama sekali. Laila mencoret-coret bukunya dengan kesal.
"Lail..."
Suara Ibu Laila bergema dari dalam rumah membuat Laila segera berdiri dan mendekati ibunya.
"Ya buk?" Lail datang dengan senyum cerianya.
Ibu Lail menggeleng dan menyerahkan mangkuk berisi gulai kepada Lail.
"Ini apa buk?"
"Kasihkan ke rumah Aena sana!"
Lail mengangguk semangat, rumah Aena? hemm sekalian saja Lail mencari pria itu. Di sana kan penginapan yang sering disewa pria itu.
"Ya udah Lail pergi dulu. Jagain buku Lail ya Buk!"
Ibu Laila menggeleng, "Emang ada yang mau nyuri? ishh sana cepetan."
Laila tertawa cengengesan, saat melihat kaca di depan rumah ia memperhatikan penampilannya sejenak.
Semuanya terlihat cantik. Wajahnya manis tanpa make up, katanya pria tidak suka dengan perempuan ber make up tebal? Makanya Lail tidak pernah mencoba untuk menggunakan berbagai macam alat rias milik ibunya itu.
Lail berjalan dengan hati berdebar, bagaimana jika pria itu belum sampai? Padahal Lail sudah sangat merindukan perjumpaan mereka.
"Assalamu'alaikum...." Lail mengetuk pintu penginapan sekaligus rumah teman SMP nya dulu Aena.
"Wa'alaikumsalam..." Aena membuka pintu kayunya. "Oh, Lail ada apa?"
"Emh ini dari ibuk." Lail celingak-celinguk mengintip arah dalam.
Aena berdecak kecil kemudian membuka lebar-lebar pintunya. "Masuk aja sini "
Laila terlonjak bahagia kemudian langsung menerobos masuk rumah Aena. Laila memang tidak terlalu sering main ke rumah Aena, maklum saja karena sering disewa sebagai penginapan jadi jarang juga yang bermain di dalam rumahnya. Biasanya Lail akan bermain di halaman belakang rumah Aena saja.
"Kamu sengaja ya Lail?"
"Apanya?" Tangan Lail mulai terasa berkeringat.
"Kamu masih gak bisa melupakannya? Sudah berapa tahun Lail? Kamu mau menunggu orang yang tidak mengenalmu? Kamu pikir perasaanmu memiliki harapan?" Aena berkata dengan nada kesalnya.
Lail menunduk ke bawah tak berani menatap kedua mata Aena.
"Berhenti Lail! Sudah cukup, jangan siksa dirimu!"
"Tapi aku tidak bisa membohongi diriku Aena. Aku tidak bisa melakukannya!" Laila berucap frustasi.
"Kamu mau menunggu hancur? Kamu pikir pria dewasa seperti dia akan terjatuh dengan pesona anak SMA seperti kita? Haha jangan bercanda Lail. Dia pasti sekarang sudah memiliki kekasih,dia sudah bukan mahasiswa yang hidupnya untuk belajar. Dia pasti sudah menyelesaikan pendidikannya dan memikirkan masa depannya. Dan yang pasti dia tidak mungkin mengingatmu." Aena sengaja berkata frontal, dia ingin sahabatnya itu sadar dengan harapan ilusinya.
"Biarkan saja aku. Lagipula yang sakit juga aku bukan kau! Terima kasih tapi tak perlu repot!" Laila menjawab ketus.
Aena ikut duduk di samping Lail yang wajahnya bertekuk. Aena mengelus pundak Lail sayang.
"Kamu tuh, banyak yang suka kok malah suka sama orang yang gak suka kamu."
Lail berbalik dan memeluk tubuh Aena. Ia menangis dalam pelukan Aena.
"Aku suka dia. Aku cinta Ae, ak-ku suka banget sama dia. Aku rindu." Laila tak bisa lagi menahan tangisnya.
Laila sungguh cengeng di hadapan sahabatnya itu. Hal yang tak bisa ia lakukan di depan ibunya sekalipun. Lail tidak bisa menangis di hadapan ibunya.
"Ssst, udah deh. Masak tiap bulan Oktober aku harus jadi ibukmu si Lail. Issh cengeng banget sih."
Lail mengeratkan pelukannya mengabaikan semua ucapan pedas dari sang sahabat.
Mereka berpelukan di sana seperti saudara kembar.
"Tok tok ...."
Suara ketukan pintu membuat Aena melepaskan pelukannya. Kaki kecilnya berjalan dengan cepat dan membuka pintu.
Aena terpaku di tempat saat melihat sosok pria dengan senyuman lebar berdiri di hadapannya.
"Eh dek, mamah ada? Mau sewa kamar nih.."
"Emh, ada kok kak. Sini masuk aja dulu."
"Oke hhehe."
Aena menepuk jidatnya saat pria yang ingin memesan kamar itu sudah masuk.
"Astaga, gimana sama Lail, dia masih nangis kejerr" Ucap Aena pelan.
Aena menutup kembali pintunya dengan pelan kemudian menyusul ke dalam.
Pria tampan itu sudah duduk dengan tenang, tangannya sibuk memainkan benda kecil yang membuatnya tertawa tak jelas. Sementara sahabatnya Lail melirik malu-malu ke arah pria dewasa di sampingnya.
"Eh aku panggilin mamah dulu kak." Aena berbalik memanggil mamahnya ke dalam sembari membawa mangkuk berisi gulai dari Lail.
"Oke."
Pria itu memasukkan ponselnya dan menatap ke sekeliling ruangan. Beberapa bulan tidak berkunjung semuanya sudah berubah. Hiasan-hiasan di dinding juga semakin dipercantik.
Pria itu kembali melirik anak di sampingnya yang berulang kali mencuri pandang.
"Hai dek? kamu abis nangis ya?" Ucapnya saat melihat wajah memerah remaja di sampingnya.
Lail menggelengkan kepalanya cepat, lalu semburat senyum terhias di wajahnya yang manis.
Rasa rindu itu seketika melebur saat melihat pria di hadapannya.
"Em, kamu gak asing ya, kita kenal kah?" Ucap pria itu.
Lail mengangguk kecil kemudian menggeleng. Dia Bingung bagaimana caranya menjelaskan. Mereka memang saling mengenal dulu. Pria itu yang sering membantunya mengerjakan pr nya.
"Kamu tahu namaku?"
Lail mengangguk kecil, "Kak Asya."
"Wah kok tahu sih." Asya tersenyum kecil mengacak rambut Lail dengan halus.
Lail menyunggingkan senyum bahagianya. Astaga dia tidak mau keramas sepertinya.
Perbincangan mereka berdua harus berhenti saat Aena dan mamanya sudah sampai di ruang tamu. Lail dengan berat hati harus meninggalkan rumah sahabatnya itu.
Rancana? Misi? haha semuanya meluap tak bersisa saat pria itu ada dihadapannya. Lail seakan lupa dengan segalanya dan hanya merasakan dadanya yang seolah akan meledak. Apa semua orang yang jatuh cinta rasanya seperti itu?
Untuk terakhir kali sebelum pergi, Lail hendak menatap lama laki-laki itu hingga sebuah suara membuyarkan segala perhatian dan fokusnya.
"Tunggu istri saya bentar tante. Maklum lagi ngajak anak-anak liburan juga jadi agak ribet." Ucap pria itu.
Lail membeku di tempatnya berdiri, sementara Aena menggenggam erat tangan Lail.
Sesosok perempuan sempurna muncul di sana bersama seorang anak balita dalam gendongannya. Lail bisa menebak siapa perempuan dan anak itu.
Mereka terlihat sangat serasi, memangnya siapa dia? hanya anak remaja , beraninya sekali jatuh cinta pada pria yang bahkan tidak segelombang dengannya. Tentu saja benar kata Aena, dia hanya akan hancur saja. Dan sekarang sepertinya dunia sedang menghimpitnya dengan kehancuran itu.
Lail yang terkejut hanya mampu terdiam bagai patung. Kakinya sudah sangat lemas seperti jelly, Aena yang menyadari kondisi Lail segera memapah Lail ke dalam kamarnya sebelum orang-orang curiga.
Aena mengunci pintunya dan merebahkan tubuh Lail di ranjangnya.
Lail sudah meringkuk tanpa tenaga dan menangis sejadi-jadinya. Seperti seseorang yang kehilangan arah tujuan hidup, Lail menyerupai mereka.
"Ke napa? sakit sekali Ae? Sakit, dadaku sesak!" Lail menjerit dalam setiap tangisannya.
Aena hanya mampu mendengar semua keluh kesah sahabatnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyembuhkan hati Lail. Semua pria tertampan di sekolahnya pun ditolak cintanya oleh Lail, Aena tidak tahu kenapa Lail bisa begitu menggilai pria yang mustahil untuk dimiliki.
"Aku su-su ka dia Ae, aku cinta."
"Iya , iya aku tahu Lail. Sekarang kamu sudah mengerti bukan dengan semua kalimatku tadi?"
Lail mengangguk sementara tangisan masih menyertainya.
"Hanya kehancuran yang kau dapat Lail. Maka berhentilah mulai sekarang, jangan mencintai laki
-laki yang mustahil untuk kau miliki Lail, karena hanya akan ada sakit di hati ini. "
Lail menyentuh dadanya yang terasa berlubang, jadi seperti ini rasanya? Hancur, yah hatinya sekarang sudah benar-benar hancur.
TAMAT ~
🙄( OTOR JUGA SERING BEGINI SIH, MENYUKAI ORANG YANG GAK MUNGKIN DIMILIKI. MUNGKIN INI YANG NAMANYA DEFINISI KAGUM 😐, KARENA ITU KITA HANYA BERUCAP KAGUM. SEBAB KALAU BERUCAP CINTA, HATI ADALAH TARUHAN SAKITNYA......
JANGAN LUPA LIKE YA 😍, THANK U 😁