"Kalau nanti kita menikah, kamu mau konsep pernikahan yang seperti apa, Ru?" tanya Romi Abdinegara sore itu dengan tiba-tiba. Arrunisa Wulandari yang saat itu tengah menikmati indahnya senja pun terperanjat. Dia menatap ragu pada lelaki yang dicintainya itu.
"Menikah?" tanyanya, mencoba memastikan bahwa pendengarannya sedang tidak bermasalah. Menyadari keraguan dari kekasihnya, Romi pun tersenyum dan menggenggam erat jemari Arrunisa. Dia menatap lekat pemilik sepasang mata bulat tersebut.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Arru. Kita ini saling mencintai. Jika permasalahannya adalah restu, aku berjanji akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapat restu dari kedua orang tuaku. Pasti ada jalan untuk itu, kecuali kita tak berjodoh," ucap Romi meyakinkan.
Memiliki kekasih tampan yang terlahir dari keluarga bangsawan, tak lantas membuat penyanyi rendah seperti Arrunisa Wulandari merasa nyaman. Nyatanya, meski sudah setahun lamanya mereka berpacaran, pernikahan adalah sesuatu hal yang sangat tabu hingga sulit untuk diwujudkan. Hubungan mereka tak pernah mendapat restu dari kedua orang tua Romi . Alasannya, tentu saja karena profesi Arrunisa yang hanya seorang penyanyi biasa. Di mata mereka Arrunisa tak ubahnya remah-remah rengginang. Meski begitu, Romi tak pernah berhenti untuk mempertahankan hubungan mereka. Dia mencoba untuk terus mengikis segala keraguan dalam hati Arrunisa.
"Aku suka pernikahan dengan konsep luar ruangan, Mas. Dekorasi pernikahan dengan nuansa warna putih. Pernikahan itu suci. Warna putih adalah lambang dari sebuah kesucian. Bukankah pernikahan seperti itu akan terlihat romantis dan juga elegan?"
Mendengar jawaban dari kekasihnya, Romi pun tersenyum bahagia. Arrunisa memang tipe wanita sederhana. Bangga adalah kata yang tepat untuk menggambarkan betapa beruntungnya jika bisa bersanding dengan wanita seperti itu, selamanya. Romi menatap penuh cinta pada kekasihnya itu, lalu mengecup mesra kening Arrunisa.
***
Kini, di sinilah Arrunisa tengah berada. Berdiri sembari menatap sepasang nama yang tertulis indah dalam tinta berwarna jingga. Dia melangkah pelan menuju ruangan pernikahan yang telah didekorasi dengan tema mawar putih, lengkap dengan hiasan-hiasan serta kelopaknya yang bertebaran di sepanjang jalan menuju pelaminan. Para tamu undangan semua saling berpasangan dengan pakaian mereka yang berwarna senada. Ini ... sama persis seperti yang pernah Arrunisa utarakan.
Dalam balutan gaun merahnya, Arrunisa berjalan dengan penuh keraguan. Gaun yang dipakainya terlihat sangat menonjol, sebab saat ini hanya dialah satu-satunya orang yang memakai pakaian dengan warna berbeda. Dulu, Romi pernah berkata padanya, bahwa lelaki itu ingin melihat Arrunisa memakai gaun tersebut. Gaun yang Romi berikan pada Arrunisa sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-23.
"Kamu pasti akan terlihat lebih cantik saat memakainya, Arru. Mataku pasti tak akan pernah mampu untuk berpaling darimu," ucapnya dulu, yang seketika membuat Arrunisa langsung tersipu.
Langkah perempuan ayu itu terhenti saat netranya menangkap sosok yang tengah berdiri dengan gagah di atas pelaminan. Dalam setelan jas hitam berpadukan kemeja putih dengan pita berwarna senada di bagian lehernya, juga gaya rambut disisir rapi ke belakang, Romi terlihat lebih dewasa dan tampan. Pemikiran itu seketika membuat detak jantung Arrunisa semakin terasa tak karuan. Ingin rasanya dia berbalik untuk pergi meninggalkan tempat itu, tetapi tak mungkin. Berada di sini hari ini sudah menjadi keputusannya.
Arrunisa memutus tatapannya, memutar langkahnya menuju Fernando Band yang saat ini tengah tampil dengan sebuah lagu romantis. Gadis itu berbicara pada mereka, meminta untuk mengganti musik sesuai dengan yang hendak dibawakannya. Dia lalu naik ke panggung dan berdiri di depan mikrofon sembari menatap lelaki yang sudah setahun ini berhasil membuatnya jatuh hati tersebut.
Dia pun mulai mengalunkan suara merdunya.
🎶Aku titipkan dia
Lanjutkan perjuangan ku 'tuknya
Bahagiakan dia, kau sayangi dia
Sepertiku menyayanginya
'Kan ku ikhlaskan dia
Tak pantasku bersanding dengannya
'Kan kuterima dengan lapang dada
Aku bukan jodohnya🎶
Romi yang sudah sangat mengenali suara Arrunisa pun langsung menoleh. Tatapan keduanya pun bertemu, membuat lelaki itu seketika terpaku. Arrunisa tersenyum manis padanya, mencoba mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Sedang Romi, dia merasa terkejut sekaligus tak percaya melihat keberadaan kekasihnya. Hati yang semenjak pesta dimulai tak pernah merasakan sedikitpun kebahagiaan itu kini semakin remuk redam. Dia terpana sekaligus terluka menatap betapa cantik kekasihnya itu memakai gaun merah pilihannya.
Namun, di sinilah masalah yang sebenarnya. Dia telah bersusah payah untuk menyembunyikan pernikahan paksa dari kedua orang tuanya itu, sampai memutuskan untuk tak mengundang seorang pun yang dia dan Arrunisa kenal. Siapa sangka, Husainaina, mempelai wanita sekaligus sahabat yang dengan tega menikung kekasih Arrunisa itu tanpa hati justru mengundang Arrunisa sebagai bintang tamu.
Hati Romi hancur berantakan, sementara Arrunisa terus berusaha terlihat baik-baik saja. Gadis cantik itu berjalan dengan anggun dan menghampiri kedua mempelai setelah selesai membawakan satu lagu. Dia memasang senyum semenawan mungkin, dan itu membuat Romi semakin merasa hancur. Arrunisa berusaha tak acuh, dia mengulurkan tangan untuk memberi selamat pada pengantin lelaki. "Selamat, ya, Mas," ucapnya dengan susah payah. Ada sesuatu yang terasa mengganjal menyakitkan di kerongkongannya.
Romi masih terdiam. Tanpa sepatah kata, dia menyambut uluran tangan itu, menatap Arrunisa dengan wajah pucat. "Maaf." Ingin sekali dia mengucap kata itu.
Perempuan berparas imut itu akhirnya berhasil tersenyum. Dia merangkul Syaif, tangannya menepuk punggung lelaki itu untuk menenangkan.
"Aku memberimu restu, Mas. Berbahagialah," bisiknya. Dengan itu, genggaman tangan keduanya pun perlahan terlepas. Sama, seperti kisah cinta mereka.
Arrunisa lalu menatap Naina, yang hari ini terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih gading di tubuhnya. Ditambah dengan perangainya, dia memang terlihat seperti seorang ratu. Batin Arrunisa tersenyum masam, tak menyangka sahabat yang begitu dipercayainya itu tega menghalalkan segala cara demi sebuah cinta.
"Selamat menempuh hidup baru, Nay. Semoga kelak selalu berbahagia," ucapnya kemudian.
Arrunisa memutuskan pergi meninggalkan pesta dengan hati yang penuh luka. Meninggalkan setiap kenangan serta harapan yang tak pernah bisa menjadi kenyataan.
"Maukah kamu percaya padaku bahwa apa pun yang terjadi nanti, aku akan selalu mencintaimu, Arru?"
Arrunisa berurai air mata. Kata-kata terakhir dari Romi menusuk tajam ke dalam relung hatinya. Meski mereka saling mencintai, dan tak peduli seberapa kuat mereka memaksa untuk dapat bersama, nyatanya takdir tak pernah membiarkan mereka untuk bersatu. Kisah cinta yang indah itu kini tinggallah puing-puing kenangan. Tak ada yang dapat keduanya lakukan kecuali merelakan dan menerima kenyataan dengan lapang dada, meski itu menyakitkan.
"Katakan padaku, Tuhan! Adakah yang lebih menyakitkan dari menghadiri pernikahan seseorang yang bahkan belum berstatus sebagai mantan? Ataukah yang lebih menyedihkan dari menyaksikannya bersanding di pelaminan dengan orang lain, sementara dia masih berstatus sebagai seorang kekasih?"