Perkenalkan namaku Silvia Putri, orang bilang aku cantik dan memiliki bentuk tubuh yang sempurna. Aku juga siswi yang berprestasi di sekolahku. Bukannya ingin memuji diriku sendiri tapi hal itu memang kenyataan. Mulai dari Pendidikan Usia Dini ( PAUD ) hingga saat ini aku duduk di bangku kelas XII SMA aku selalu meraih peringkat pertama umum sekolah. Dan masalah kecantikan, begitu banyak cowok yang telah aku tolak baik itu dari sekolahku maupun dari sekolah lain.
Orang biasa memanggilku dengan panggilan Via. Aku memiliki seorang sahabat bernama Natasya, aku memanggilnya Tasya. Aku sering mengutarakan isi hatiku padanya. Dengan tenang ia akan mendengarkan curhatanku dan sering juga ia memberikan masukan dan nasehat untukku.
Keluargaku hidup berkecukupan, Papaku seorang dokter dan ibuku pemilik butik yang lumayan terkenal. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku memiliki seorang adik lelaki bernama Sofian, ia masih duduk di bangku SMP.
" Aku tidak akan berhenti untuk berusaha mendapatkanmu...! " Seru seorang laki-laki padaku. Namanya Yosia Pratama, anak konglomerat, dia juga tampan dan termasuk idaman para cewek. Tapi sikapnya yang masa bodoh dan suka membully membuatku tidak menyukainya. Dia sering membuat onar di sekolah, sering bolos dan bahkan tiap hari ia lewati dengan menghormat tiang bendera.
Tentu saja begitu berbanding terbalik dengan kehidupanku. Dia adalah lelaki yang tidak ada kata bosan untuk mendapatkanku. Kebanyakan orang yang kutolak tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya. Tapi ia berbeda, bahkan ia terus datang berkali-kali, mungkin saja dia benar-benar menginginkanku.
Suatu hari, entah dapat kabar dari mana, wali kelas kami memanggilku ke ruang guru. Disana dia benar-benar memohon agar aku bisa menerima Yosia.
" Nak, cobalah untuk menerimanya. Siapa tahu dia bisa menjadi lebih baik saat kamu yang memintanya. " Pinta ibu Tina wali kelas kami.
" Tapi aku tidak menyukainya, Bu. Bahkan aku muak melihat kelakuannya." Aku menolak permintaan ibu Tina.
" Tolong bantu kami, Nak. Kami sudah tidak tahu cara mengubahnya. " Bu Tina tetap memohon.
" Aku tidak yakin itu bisa berhasil, Bu. " Aku terus mencari alasan.
" Tidak ada salahnya mencoba, Nak. " Bu Tina menyemangati.
" Baiklah, Bu. Akan saya coba. " Aku mulai kasihan melihat raut wajah ibu Tina dan akhirnya aku menerima permintaannya dan dari sanalah kisahku bersama Yosia dimulai.
" Kenapa ibu Tina memanggilmu? " Tasya bertanya padaku. Aku menceritakan segalanya pada Tasya, berharap dia memberikanku solusi terbaik.
" Tidak ada salahnya kamu coba, siapa tahu dia mau melakukan apapun demi kamu. " Itulah usul yang Tasya berikan.
" Baiklah, semoga saja. " Aku setuju walaupun sedikit khawatir.
Suatu hari, saat ibu Tina memberikan arahan kepada kami, tiba-tiba Yosia berdiri. Kami terkejut, begitu juga dengan ibu Tina.
" Ada yang ingin kamu tanyakan, Yosia? " Ibu Tina bertanya.
" Saya berdiri bukan untuk memberi pertanyaan tapi pernyataan." Jawab Yosia.
" Pernyataan apa?" Ibu Tina penasaran.
" Silvia, aku sangat mencintaimu. Walaupun kamu berkali-kali menolak, aku tidak akan menyerah sampai kamu menerimaku. " Demikianlah pernyataan Yosia.
Menyatakan cinta di depan teman sekelasku sudah menjadi hal biasa bagi Yosia. Bahkan sudah ada yang merasa bosan dengan situasi ini. Dan akibatnya, aku terkadang jadi bahan omongan orang. Tidak sedikit orang yang mengataiku sok cantik dan sok jual mahal karena sering menolak Yosia pujaan hati mereka. Tapi kali ini sangat berbeda, di depan wali kelas kami? Astaga...! Dapat keberanian darimana dia?
Ibu Tina menoleh ke arahku, dari tatapannya seolah-olah menyuruhku untuk menjawab " Iya"
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menjawab.
" Baiklah, aku menerima cintamu." Kalimat itu akhirnya keluar dari mulutku, walau sebenarnya aku takut dengan keputusan itu.
Tiba-tiba saja suasana menjadi hening, semua mata tertuju padaku. Tentu saja itu akan terjadi, aku yang selalu menolak cinta Yosia, pada hari ini menerimanya.
Aku lihat Yosia tersenyum bahagia, ibu Tina pun ikut tersenyum ka arahku. Tapi begitu banyak orang yang kecewa. Mereka yang mengagumi Yosia mungkin akan tambah kesal padaku mulai hari ini.
" Benarkah?" Yosia bertanya seolah-olah tidak percaya dengan jawabanku.
" Iya. Tapi aku punya syarat !" Ucapku. Tapi dalam hatiku aku berharap dia tidak akan menyanggupi syaratku.
" Baiklah. Apa syaratnya? " Yosia bertanya dengan antusias.
" Kamu harus rajin belajar dan harus mendapatkan nilai yang tinggi dan masuk 5 besar..!" Syarat itu akhirnya keluar dari mulutku.
" Hanya itu saja?" Tanya Yosia.
" Iya." Aku mulai cemas , sebab sepertinya ia menyanggupinya.
" Baiklah, deal!" Yosia mengulurkan tangannya, membuatku semakin gelisah. Aku membalas uluran tangannya dan dia tersenyum manis padaku
" 14 Agustus, tanggal jadian kita, iya kan pacar?" Ucapan Yosia membuat teman sekelasku bersorak. Aku hanya menunduk malu dan izin permisi pada ibu Tina dengan alasan ingin ke kamar mandi.
Mulai dari hari itu, Yosia selalu saja menempel padaku. Dia setiap hari membawa bekal untuk kami berdua sehingga ia tidak lagi pergi ke kantin. Banyak orang menjadi bernapas lega karena tidak lagi dibully.
Nilainya yang selalu rendah dan selalu berada di peringkat terakhir, kini ia meraih peringkat IV. Dia membuktikan bahwa ia telah memenuhi syarat yang aku sebutkan. Dan aku menyadari satu hal, dia bukanlah orang bodoh, dia sebaenarnya pintar tapi dia ingin mencari perhatian kedua orangtuanya yang selalu sibuk dengan urusan masing-masing.
Entah mengapa, selama aku dekat dengannya selama empat bulan ini, aku malah merasa nyaman. Aku mulai mengagumi kegigihannya untuk mendapatkanku. Aku menyukai sikapnya yang perhatian padaku. Aku merass bahwa akulah satu-satunya orang yang dia cintai. Dan pada akhirnya cinta itu mulai tumbuh dan akupun mulsi bersikap manis padanya. Bahkan aku menjadi orang yang selalu merindukannya dan ingin selalu di dekatnya . Istilah sekarang mungkin aku termasuk BUCIN. Aku tersenyum dikala mengingat sikapnya yang manis. Setiap malam sebelum tidur aku selalu memandangi fotonya dan akan berkata lirih, " I love you " . Dan aku akan memejamkan mata dan berharap bertemu dia di alam mimpi. " Mengapa cinta ini begitu menyiksaku?" Itulah yang selalu sku tanyakan dalam hatiku.
Saat sedang menikmati masa indahnya jatuh cinta, tiba-tiba saja aku menjadi patah hati. Ini semua karena Yosia yang telah mendengar percakapanku dengan ibu Tina.
" Kamu benar-benar berhasil mengubahnya, baru satu semester bersama, Yosia sudah masuk peringkat IV. Ibu berharap kamu mempertahankannya agar dia bisa lulus dengan nilai yang baik. Bersabarlah satu semester lagi, jangan tinggalkan dia ya.." Ucap ibu Tina saat itu.
" Sebenarnya aku... " Ucapanku terpotong dengan kedatangan Yosia. Aku tidak sadar kalau dia ternyata mengikutiku. Padahal aku akan mengatakan pada ibu Tina bahwa aku sudah mencintainya, bukan sekedar untuk membuat dia berubah.
" Ohhh, jadi gitu? Kamu tega permainkan aku Via ! " Ucap Yosia dengan kecewa.
" Aku minta maaf , Yosia. Tapi sebenarnya aku ... " Lagi-lagi aku tidak bisa menjelaskan karena dipotong oleh Yosia.
" Kita akhiri sampai disini..! Dan masalah nilai dan sikapku , tenang saja aku akan mempertahankannya. Aku pasti bisa meski tanpa belas kasihanmu. " Yosia benar-benar sangat marah hari itu.
Aku hanya bisa menangis sedangkan ia pergi tanpa menghiraukanku lagi.
Sejak hari itu, ia selalu menjauhiku, bahkan memandangku saja ia seolah-olah merasa jijik. Aku berusaha mengiriminya pesan, tapi selalu saja diabaikan. Aku terus berusaha hingga pada akhirnya ia mengganti nomornya. Tapi sku tidak menyerah begitu saja, aku selalu meletakkan surat di dalam tasnya. Tapi pada akhirnya surat itu hanya akan terdampar dalam tong sampah. Bahkan ia sengaja membuang suratku pada hari dimana aku yang bertugas membakar sampah.
Aku hanya menangis dan mengumpulkan kembali surat-surat itu. Aku mencoba merapikannya meski aku tahu itu akan sia-sia.
Tidak terasa, waktu kami yang hanya tinggal satu semester telah berakhir . Mungkin aku akan berpisah dengannya tanpa ada kata memaafkan darinya.
Selama satu semester terakhir ini, aku benar-benar kacau. Aku kehabisan cara untuk membuatnya memaafkanku. Hingga akhirnya pada acara perpisahan sekolah akan aku jadikan kesempatan terakhirku untuk menjelaskan padanya, meski aku tahu itu akan sangat memalukan.
Saat itu aku yang menjadi utusan untuk menyampaikan kata-kata perpisahan. Setelah selesai mengucapkan salam perpisahan pada teman dan guruku aku berniat untuk menjelaskan pada Yosia tentang kesalahpahaman ini. Tapi aku sangat-sangat ragu.
" Lagian ini hari terakhir aku disini , biarlah aku malu meski hanya sehari ini. Yang penting aku akan lega setelah mengutarakannya." Pikirku dan mulai membuka suara.
" Disini aku juga ingin meminta maaf pada seseorang. Awalnya aku memang hanya ingin membuatmu berubah, tapi seiring berjalannya waktu, kamu telah membuatku jatuh cinta dan bahkan amat terangat jatuh cinta. " Ucapanku terhenti . Kulihat semua orang seolah menunggu kelanjutan perkataanku. Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata lagi.
" Yosia, tolong maafkan aku dan kembalilah padaku ! Aku merindukanmu. Jika kamu tidak ingin kembali , setidaknya kamu memberiku maaf agar kita berpisah tanpa kesalahpahaman.!" Yosia yang mendengar hal itu hanya menunduk dan tidak memandangku sama sekali.
" Aku akan peesembahkan sebuah lagu untukmu. Terimalah persembahan lagu dariku."
Aku akhirnya mulai menyanyikan lagu yang berjudul " Diantara Beribu Bintang . "
🎶Maafkan aku yang slalu menyakitimu...
🎶Mengecewakanmu.. dan meragukanmu..
🎶Tersadar aku memang kamu yang terbaik..
🎶Terima aku, cintaiku apa adanya..
🎶Diantara beribu bintang, hanya kaulah yang paling terang
🎶Diantara beribu cinta, pilihanku hanya kau sayang..
🎶Takkan ada selain kamu, dalam sgala keadaanku..
🎶Cuma kamu ya hanya kamu yang slalu ada untukku..
🎶Cuma kamu ya hanya kamu yang paling mengerti aku..
Selama menyanyikan lagu tersebut, air mata mengalir di pipiku. Mungkin aku terlalu menghayatinya. Suara tepuk tangan terdengar saat aku mengakhiri lagu itu. Aku memandang ke arah tempat Yosia tadi berada, tapi dia tidak ada disana. Aku begitu sangat sedih, bahkan saat aku bernyanyi untuknya dia malah pergi.
" Maafkan aku yang telah salah paham terhadapmu. Sejujurnya aku juga merindukanmu dan tidak bisa melupakanmu. Aku memang sudah sering mencoba tapi sia-sia. Jadi sekarang berbaliklah dan kembali padaku. Mari kita mulai lagi dari awal. Mari menata masa depan bersama-sama." Terdengar suara Yosia tepat di belakangku.
Aku berbalik, kulihat disana ia membawa satu buket bunga mawar. Aku menerimanya dan juga memeluknya. Aku tidak menghiraukan lagi dimana posisiku saat ini. Seluruh siswa bersorak dan bertepuk tangan. Aku bahagia, ternyata hari ini bukanlah hari perpisahan tapi hari kami bersatu dan akan memulai hidup baru.
Kami memilih untuk sekolah di fakultas yang sama. Semoga kisah kami tidak berakhir tragis tapi berakhir manis.
TAMAT
Trimakasih buat yang baca..
Dukung author ya...
Buat kalian yang punya ide mau dibuatkan cerpen, silahkan kasih komentar, biar author buatkan.
Makasih ..