Nada dering yang berasal dari game Harverst Moon menggema di sebuah ruangan laboratorium yang sepi. Seorang gadis berambut panjang hitam dikepang satu sedang asik melihat ke sebuah mikroskop, menghentikan kegiatannya sejenak, mengambil hp dan mematikannya. Dengan sedikit menghembuskan nafasnya ia mengganti nada dering hpnya dengan mode silent.
........, selalu saja mengganggu konsentrasinya, ia lalu kembali berkonsentrasi, saat ini Arini sedang memeriksa kadar kekeruhan air. Di daerah tidak jauh dari rumahnya banyak sekali warga yang terkena diare, hal ini diduga penyebabnya berasal dari air yang mereka minum. Itu sebabnya tadi pagi sebelum berangkat kerja ia terlebih dahulu mengambil sampel air yang ada didalam sumur warga.
Pintu lab terbuka, seorang laki-laki menghampiri Arini.
"Ga istirahat?, waktu makan siang hampir habis lho, terlambat makan penyakit lambung mu nanti kambuh lagi", kata Iwan yang merupakan rekan kerja Arini.
"Ga masalah, aku harus menyelesaikan laporan ku ini sebelum waktu pulang, makan bisa menunggu, lagipula aku sudah membawa obat lambungku", jawab Arini dengan mata yang masih menempel di mikroskop.
"Keras kepala, oh iya, besok kita mendapat tugas mengambil sampel di daerah Muara", kata Iwan.
"Apakah tidak ada orang lain lagi?, tempat itu tidak terawat, lagipula jalan menuju ke sana agak rusak, penerangan juga tidak memadai", ada nada tidak suka terdengar dari perkataannya.
"Tenang saja kita dibantu Datta dan Kania, jadi tidak perlu khawatir", ujar Iwan.
"Tetap saja, aku tidak suka dengan tempat itu", Arini segera menulis laporan dan tidak bicara lagi.
"Besok kita pergi jam 9.00 pagi", kata Iwan.
Menghentikan kegiatan menulisnya dan menatap Iwan, sekali lagi Arini menghela nafas," ga bisa jam 7.00 pagi apa?, kan lebih cepat lebih baik", jawabnya sambil kembali menulis laporan.
"Ga bisa, Kania harus menyelesaikan laporannya dahulu, lagipula lumayan kita bisa santai dan mempersiapkan segala sesuatunya tanpa harus terburu-buru", jelas Iwan.
"Whatever", Arini pergi keluar tanpa memperdulikan Iwan. Arini sedikit kesal atas sikap Iwan yang kurang tegas.
Jam 9.00 pagi semuanya bersiap pergi menuju ke tempat yang bernama Muara, perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar satu jam. Mereka terjebak kemacetan dikarenakan adanya perbaikan di bagian kanan jalan.
Mereka makan siang disebuah warung nasi, setelah itu kembali meneruskan perjalanan. Sekitar jam 3.00 sore mereka mulai memasuki kawasan Muara, kawasan itu terlihat sepi, dengan mengendarai sepeda motor Arini dan teman-teman melalui jalan kecil dan tidak terurus.
Tempat ini dulunya juga merupakan sebuah laboratorium, tapi entah mengapa dibiarkan begitu saja. Tapi ya bisa dimaklumi juga mengapa tempat ini menjadi begitu, jalan masuknya saja kecil, terus tempat ini agak terpencil dan jauh dari jalan raya.
Di sepanjang jalan mereka melihat empat orang pemuda sedang duduk, hanya saja mereka duduknya agak berjauhan, sungguh aneh. Mereka memandang Arini dan teman-temannya dengan tatapan yang dingin.
"Perasaanku tidak enak, siapa mereka? dan mau apa ditempat seperti ini?", batin Arini.
Akhirnya mereka sampai di tempat itu, membuka pintu lab yang ternyata tidak terkunci, seketika bau apek mengusik indera penciuman mereka. Tempat itu sedikit kotor. Iwan segera mengeluarkan alat tulisnya dan menuliskan apa yang dia lihat saat ini. Rencananya ruangan ini akan di renovasi.
Datta berpikir untuk apa ditulis, direkam dengan hp juga bisa, begitu ia mengeluarkan hp, anehnya hp itu mati, Datta heran padahal tadi sebelum pergi dia sudah mencharge hpnya. Dia lalu meminjam hp Kania, ternyata hp Kania juga mati.
"Rin, coba aku pinjam hp milikmu, entah mengapa hp milikku dan juga milik Kania mati", Datta mendekati Arini yang sibuk mengeluarkan alat untuk mengambil sampel air.
"sebentar, nih", Arini menyodorkan hp miliknya.
Setelah melihat hp Arini, Datta pun melihat hp Arini juga mati," benar dugaan ku, hp mu juga mati, Rin", ujar Datta sambil menyerahkan kembali hp itu kepada Arini.
"Benarkah?, kok aneh, padahal sebelum kesini hp ku masih dalam kondisi baik-baik saja", jawab Arini sambil membolak-balikkan hp nya.
"Aku sudah tahu itu makanya aku tadi tidak merekam keadaan tempat ini dengan hp", timpal Iwan.
"Sialan kamu Wan, kenapa tidak bilang dari tadi", gerutu Datta.
"Ku pikir hp ku saja yang seperti itu", jawab Iwan lagi.
"Aku akan ambil sampel air dulu", kata Arini.
"Aku ikut", Kania segera menyusul Arini.
Iwan dan Datta jalan memasuki ruangan lain yang masih tertutup pintunya di sana hanya ada meja panjang dan kursi-kursi. "Sepertinya ini ruang makan", kata Datta.
"Tempat ini sebenarnya lumayan juga, hanya saja jalan masuknya itu yang terlalu kecil, harusnya jalan yang mobil bisa masuk", Iwan mengemukakan pendapatnya. Datta menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Di luar Arini dan Kania menyusuri jalan dan menemukan sebuah kali, mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat, air di tempat itu berwarna merah tua pekat dan agak kental baunya sedikit amis, dengan menutup hidungnya perlahan Arini mengambil sampel air itu dan membawanya ke lab.
"Semuanya, lihat apa yang kami temukan", teriak Kania.
Datta dan Iwan bergegas menemui Kania dan juga Arini. Mata mereka berdua terbelalak melihat warna sampel air itu karena baru kali ini mereka melihat warna air seperti itu.
Arini lalu memasukkan sampel itu kedalam tas miliknya. Tak terasa hari menjelang sore hari, ketika hendak bersiap meninggalkan tempat itu, entah mengapa Kania sedikit tertarik membuka sebuah lemari yang bentuknya mirip dengan loker. Begitu membukanya dia melihat dua kaki bagian pergelangannya saja. Kania lalu menutup kembali lemari itu dan berkata," aneh-aneh saja, yang bekerja disini suka main boneka rupanya".
Arini dengan sedikit berkerut mendengarkan perkataan Kania lalu menjawab kata-kata Kania," boneka?, disini?, kamu salah lihat kali".
Arini mendekati lemari itu, memang iya seperti yang Kania katakan ia melihat dua bagian pergelangan kaki yang menggunakan kaos kaki dengan pinggiran yang berwarna biru dan ada gambar bunga berwarna oranye, lama Arini melihat kaki itu, ia tercekat, itu bukan kaki boneka tapi itu kaki manusia.
Dengan cepat ia lalu membuka pintu di sebelahnya, ia berteriak, Datta dan juga Iwan serta Kania sama kagetnya dengan Arini. Mereka semua melihat mayat seorang gadis.
Gadis itu berkulit hitam manis, dengan rambut hitam panjang, ia meninggal dengan posisi telentang, baju yang ia pakai adalah baju terusan yang berwarna hijau bercorak garis berwarna hitam. Bau busuk memenuhi ruangan itu, baik Kania maupun Iwan langsung membuka jendela dan muntah-muntah.
Sedangkan Arini maupun Datta hanya diam tak bisa berkata-kata. Entah dari mana asalnya ruangan itu menjadi berkabut. Lalu terlihatlah seorang gadis berdiri dan berjalan mendekati mereka, gadis itu sama dengan mayat yang mereka lihat. Dengan perlahan ia mengangkat tubuhnya sendiri dan meletakkannya di atas meja panjang lalu ia menyatukan pergelangan kaki yang terpotong dengan tubuhnya.
Dengan sendu ia berkata," tolong aku, namaku Wulan, tolong kembalikan aku pada kedua orang tuaku, saat ini mereka masih mencari keberadaan diriku".
Dengan memberanikan diri Arini bertanya kepada Wulan," siapa yang melakukan semua ini padamu".
"Kamu tadi sewaktu datang kemari, apakah kamu melihat empat orang pemuda?", tanya Wulan.
"Iya, aku melihatnya", jawab Arini. Sementara itu Iwan, Datta dan Kania dalam keadaan pingsan.
"Mereka lah yang melakukannya, tapi kamu jangan khawatir, mereka tidak akan dapat melakukan apa-apa padamu karena mereka semua sudah mati", jawab Wulan lagi setengah menyeringai.
Wulan lalu menyebutkan nama orang tua dan alamat rumahnya, dengan tangan gemetar Arini mencatat semuanya.
Setelah itu kabut itu menghilang bersamaan dengan menghilangnya Wulan. Di atas meja panjang terlihat sesosok tubuh seorang gadis dengan pergelangan kaki yang terpotong.
Iwan, Datta dan Kania siuman, mereka sekali lagi membisu melihat tubuh Wulan. Datta mencari kain di setiap ruangan untuk menutupi tubuh Wulan, mereka lalu mengunci pintu lab dan juga menutup semua jendela dengan rapat. Lalu bergegas kembali pulang dan melaporkan apa yang terjadi, sepanjang jalan menuju jalan raya Arini tidak melihat ke empat pemuda tadi.
Jam 7.00 malam mereka sampai ke rumah masing-masing. Arini langsung mendatangi alamat rumah Wulan dan menceritakan semuanya. Keesokan harinya polisi beserta orang tua Wulan dan juga Arini kembali ke Muara. Tubuh Wulan dibawa untuk di otopsi lalu dimakamkan, sementara polisi menyelidiki masalah ini sampai tuntas.
Malam itu Arini melihat Wulan mendatanginya seraya mengucapkan kata terima kasih.
Baik Arini, Datta, Iwan dan juga Kania menganggap semua itu adalah sebuah mimpi buruk. Bagaimana hasil dari sampel air yang dibawa Arini?, air itu layak untuk diminum tidak ada zat yang berbahaya di dalamnya, dan pH air itu netral.
👻TAMAT👻