Ada sekitar lebih dari dua puluh anak yang bisa terhitung oleh mataku. Beberapa dari mereka yang berusia remaja memilih mengasingkan diri dan duduk di ujung ruangan, sisanya anak-anak berlarian saling mengejar dan tertawa. Para remaja itu berbicara dengan suara pelan sambil sesekali mengedar pandangan ke seluruh penjuru yang bisa digapai oleh mata. Aku tidak tahu apa yang mereka bahas, karena bukan itu yang menarik perhatianku untuk mengunjungi panti asuhan ini. Ada sesuatu, sesuatu yang amat sangat menarik. Sesuatu yang mereka pelihara dan tengah memakan semacam manisan yang kubawa di meja bagian tengah.
"Bella. Ke sini." Perempuan dengan usia menyentuh setengah abad, memiliki perut dengan tiga buah lipatan memanggil seorang gadis muda berwajah tenang. Yang dipanggil segera bangkit dari duduknya dan menghampiri sumber suara.
"Iya. Ada apa, Bu?"
"Apa kau dalam keadaan sehat?" tanyanya. Gadis muda itu mengangguk.
Demi Tuhan. Jarak kami hanya terpaut tiga langkah dari posisinya berdiri dan aku harus mati-matian menahan diriku sendiri untuk mempertipis jarak lalu meraup tubuh kecil itu dalam pelukan. Menghisap rakus seluruh aromanya, menyentuh semua kulitnya, membelai rambutnya. Jantungku berdegup sangat kencang hingga denging memekakkan dua runguku dari semua bising yang diciptakan anak-anak panti asuhan yang lain.
"Ya, aku dalam keadaan baik dan sehat," jawabnya. Tersenyum manis dengan dua lesung pipi yang lagi-lagi membuatku gemas.
"Ini Pak Axel. Dia adalah pemilik perusahaan properti ternama di kota. Kau ingin berkenalan dengannya, Bella?"
Dua sorot mata berwarna hitam mendebarkan mengarah padaku. Hening mendominasi. Aku diam memperhatikan respon yang akan ditampilkan gadis muda bernama Bella itu.
"Sa-saya Bella," katanya terbata-bata memperkenalkan diri.
Aku mendekat mempertipis jarak lalu mengusap puncak kepalanya. "Hai, Bella, saya Axel. Kamu mau ikut sama saya?" tawarku.
Bella mendongak. Berpaling dari menancapkan pandangannya ke mataku, ke arah perempuan gempal yang ada di sampingnya. Tak ada percakapan, tak ada tanya. Hanya sebuah kebisuan yang terang-terang meletupkan ketakutan.
"Apa ini sudah saatnya untukku diadopsi?"
Sorot kian mengental akan teror. Aku tidak tahu apa maksudnya, tetapi perempuan gempal itu menjawab, "ya. Sudah memasuki bulan baru sekarang. Kau selanjutnya."
***
"Jadi bagaimana?" Asap putih meliuk gemulai di tengah udara kosong. Dengung suara pendingin ruangan turut menyimak dua manusia yang tengah berbicara.
Aku duduk sembari menyilangkan kakiku. Bukan sebuah adegan tawar menawar yang mudah. Jaringan mereka luas, mencakup orang-orang dengan posisi penting, kepolisian negara, bahkan mereka yang namanya tersusun rapi dalam daftar orang yang paling dicari. Salah-salah bicara, aku bisa saja lenyap tanpa jejak.
Satu tahun setelah aku berhasil menduduki posisi orang dengan penghasilan terbanyak nomor dua di kota ini, aku dikenalkan pada mereka. Sekumpulan manusia-manusia yang berkecimpung pada bisnis narkoba dan penjualan anak di bawah umur. Aku tidak tahu apa saja bisnis mereka. Yang jelas, sekelompok setan pemuja uang ini sangat licik dan busuk. Panti asuhan ini contohnya, hanyalah kedok untuk menyembunyikan kengerian. Anak-anak yang ada akan di jual ke pasar gelap, dan setelah itu, Tuhan lah yang tahu nasib mereka.
Dan di sini aku. Tanganku mengepal erat, teringat pada sesuatu paling manis dan menarik yang kulihat tadi siang, Bella. Kenapa? Kenapa harus mereka yang punya? Kenapa kami harus kembali dipertemukan? Ini menyebalkan. Akan lebih mudah seandainya Bella bisa kupungut dari jalanan. Bukan dari sarang setan seperti ini.
"Aku menginginkannya." Suaraku tenang menjawab.
"Ya, bukankah memang itu tujuanmu, Tuan Axelion?"
"Bisakah kita langsung menuju intinya? Katakan berapa harganya?" Aku sangat tidak suka berlama-lama. Berapapun harga gadis muda itu, aku akan menebus dan membawanya pulang.
Pria itu terkekeh, Rudi Hartono, pemilik panti asuhan sekaligus orang yang menjadi dalang penjualan anak-anak bertanya, "kenapa harus terburu-buru? Sekarang adalah bulan baru. Anda bisa sekalian menghadiri acara yang akan kami buat nanti malam."
"Acara?"
Rudi menggerakkan tangan. Seorang pria bertubuh besar dengan parut luka mengerikan di wajah tampak menyodorkan sebuah amplop berwarna emas. Aku menerima benda itu. Menimangnya di tangan dan membukanya. "Happy new moon. Apa maksudnya ini?"
"Tradisi untuk menyambut bulan baru," jelasnya yang sama sekali tidak menjawab tanda tanya besar di kepalaku. "Anda adalah pendonasi, 'kan? Kalau begitu anda adalah bagian dari kami sekarang. Bukankah seharusnya ada sambutan untuk itu?"
"Aku hanya menginginkan Bella. Katakan saja harganya."
"Bella adalah milik anda, Tuan Axel. Tenanglah."
Aku menyipitkan mataku. Kecurigaan mengental dengan sendirinya lalu mengendap dalam dasar hati. Apa sebenarnya yang mereka inginkan?
"Jangan menipuku."
"Aku menjamin semua yang kau pinta terhadapku jika aku melanggar."
***
Tubuh dengan bobot tidak lebih dari empat puluh kilo terlindas habis di antara roda-roda besar hitam yang menggelinding. Aspal keras itu penuh darah, pecahan daging berserak dengan berbagai ukuran, juga ceceran isi perut manusia yang turut memberi warna.
Tubuhku mematung. Langit runtuh tepat di atas kepala dan menenggelamkanku pada kesedihan paling menyakitkan. Aku merasa dunia sangat kejam dan tidak adil padaku. Ilya, putriku satu-satunya yang paling kusayangi harus tewas tepat di depan kedua mataku saat aku sedang menjemputnya pulang sekolah.
Teriakan semua orang di sekitarku menjelaskan bahwa ini bukan mimpi. Ini bukan imajinasi atau sekedar lamunan buruk yang terlintas. Ini nyata.
Selama dua tahun setelah kejadian itu aku nyaris menjadi gila. Ketakutan nyaris sepenuhnya menguasai. Mimpi buruk setiap malam yang mencuri tidur yang nyenyak, kecemasan di setiap waktu, juga rasa bersalah dan amarah yang menyelinap keluar masuk sesukanya.
Sampai suatu ketika. Di hari yang cerah awal bulan maret, aku bertemu seorang anak dengan rupa yang sangat mirip dengan putriku. Terlalu mirip sampai aku tidak bisa menahan diriku sendiri terhadapnya. Aku mencoba menampikkan perasaan itu dan berpikir Ilya sudah tiada. Gadis itu adalah orang lain. Gadis itu bukan Ilya. Namun senyumannya, suaranya, gesture saat ia menyelipkan rambut. Semuanya sangat mirip dengan Ilya.
Perasaan itu membuatku akhirnya menyerah dan memulai penelusuran. Berminggu-minggu aku mencari informasi, ternyata gadis muda yang mirip dengan mendiang putriku adalah milik sekelompok orang-orang yang paling kuhindari. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan Ilya selain menghadapi mereka secara langsung.
Aku harus mendapatkan Bella. Apa pun resikonya.
***
Hotel bintang lima ternama di kota menjadi tempat yang dipilih untuk menyelenggarakan acara. Aku sampai pukul sebelas lewat. Undangan yang kudapat tadi siang tersembunyi rapi di balik jas hitam yang kupakai.
Mereka memeriksa undanganku. Lalu memastikan namaku ada di dalam daftar buku yang mereka pegang, kemudian baru mengizinkanku masuk.
Tak terlalu banyak orang di dalam ruangan itu. Aku pikir tempat ini sangat tersembunyi atau memang disediakan khusus. Bukankah sangat mudah untuk orang-orang seperti mereka mendapatkan hal-hal istimewa semacam ini?
Begitu aku masuk. Rudi Hartono adalah orang pertama yang menyambutku. Sebuah meja panjang dengan berbagai hidangan yang memanjakan mata tampak tersusun rapi.
Aku duduk di kursi utama. Rudi yang mengarahkanku. Lalu acara dimulai tanpa banyak hal mencolok. Semua orang menikmati hidangan yang ada. berupa menu-menu berbahan olahan daging. Mereka menyantap makanan sembari berbincang selayaknya orang normal. Makanannya juga terasa enak, mungkin ini alasan mereka memilih hotel terbaik. Berkolerasi dengan bagaimana mengolah makanan.
Tidak ada yang aneh sampai di tengah acara Rudi memberikanku sebuah kotak kecil berhias pita.
Aku memangku kotak itu penuh dengan tanda tanya di kepala. "Apa ini?"
"Pesananmu."
"Jangan main-main, Rudi. Di mana anak itu?" teriakku marah. Mengundang atensi orang-orang yang tengah menikmati hidangan.
Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin.
"Apa maksud anda, Tuan? Bella ada di sana," tunjuknya pada kotak itu.
Cengiran lebar Rudi memancing bulu kudukku berdiri. Lekas aku membuka kotak kecil di pangkuanku. Dalam satu tarikan napas, aku memekik kencang. "Arrgghh ... Apa maksudnya ini? Kalian menipu saya! Kalian menipu saya."
"Menipu apanya? Kami kan tidak menjual manusia, Tuan Axel." Rudi menatap bingung. Begitu juga seluruh tamu yang ada.
Serentak mereka berkata, "KAMI MENJUAL DAGING. Kau tahu, da-ging." Lalu gemuruh tawa terdengar cekikikan memenuhi seluruh ruangan.
End.
Baca cerita seru lainnya karya Artfentour298.