"Dek, bisakah aku pinjam uang dua puluh ribu?" Tanya Fatim memberanikan diri dan menyembunyikan rasa malu dan rasa nggak enak hati ketika itu kepada Jeni adik perempuannya yang suaminya memiliki usaha.
Fatim akan membeli buku lks untuk Fauzan anaknya. Sebenarnya ia memiliki uang dua puluh ribu juga, tapi takut kalau tidak cukup.
"Untuk apa, Mbak?" Tanya Jeni.
"Cuma untuk jaga-jaga saja takut kalau uang nggak cukup. Tapi mudah-mudahan cukup, jadi uang yang kupinjam bisa langsung kukembalikan kalau nggak kepakai." Seumur-umur baru kali ini Fatim pinjam. Meski keadaannya kekurangan ia tidak pernah meminjam apapun pada saudara atau tetangga. Ia malu.
"Maaf, Mbak, aku sendiri juga lagi nggak punya uang. Ini juga lagi seret usahanya Mas Jeje." Alibi Jeni.
Padahal kemarin sore ia bercerita kalau ia dan suaminya baru dapat orderan dan baru saja ditransfer uang dp beberapa ratus ribu.
Mungkin Jeni sudah lupa kalau kemarin sore ia bercerita itu dan didengarkan oleh Fatim juga.
"Ow, iya kah?" Fatim tersenyum.
"Itu sudah ada mobil angkot, aku pergi dulu, ya?" Pamit Fatim kepada Jeni.
"Iya, Mbak."
Fatim menggandeng tangan Fauzan menyeberang jalan dan menghentikan mobil yang akan ditumpangi.
Setahun terakhir ini, sejak Jamal suami Fatim, berhenti bekerja dari perusahaan dan pulang ke kampungnya katanya kerja disana, jarang sekali mengirim uang untuk Fatim dan Fauzan, setiap telpon selalu memberi janji.
"Iya nanti Mas usahakan kirim uang."
Tapi setiap akan mengirim uang selalu ada alasan yang membuatkan batal mengirimi atau mengurangi jumlah uang yang dikirim.
Dalam sebulan Fatim ditransfer uang bekisar empat ratus ribu sampai tujuh ratus ribu.
Jika gaji Jamal sehari seratus dua puluh ribu, anggap sebulan kerja dua puluh lima hari, berarti sekitar tiga juta.
Suatu hari Fatim bertanya, " Bukannya aku nggak berterima kasih, Mas, tapi kenapa yang dikirim cuma segini?"
"Kemampuan aku untuk kirim cuma segitu. Disini aku juga butuh makan, rokok. Kamu mikir nggak sih! Kamu harus ngerti itu!"
Sering jika telat kirim Jamal bilang,
"Dek Fatim, ini Mas telat kirimnya, soalnya kak Serli kakak Mas butuh uang dan pinjam uang ke Mas."
Kalau nggak,
"Dek, uang kiriman Mas yang bulan lalu masih, kan? Bulan ini Mas nggak bisa kirim, Mama Mas minta uang sama Mas."
Atau,
"Maaf, dek, telat kirim, soalnya bos Mas telat bayar gajinya."
Tapi jika kirim nominalnya tidak lebih dari tujuh ratus ribu. Dan tujuh ratus ribu itu sering untuk dua bulan. Jamal menganggap uang tujuh ratus ribu itu sudah banyak untuk anak dan istrinya.
Padahal pengeluaran Fatim dalam sebulan, sejuta setengah sampai dua juta, itu sudah paling hemat. Untuk belanja setiap hari, uang jajan Fauzan, bayar spp, belum lagi sering beli buku,yang Fauzan ikut kegiatan ekstra di sekolah, bayar listrik, bayar air, belum lagi ditambah kalau pas rt atau rw ada iuran, juga tetangga punya hajatan juga acara kondangan.
Tapi Fatim tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menceritakan kekurangannya atau keadaan ekonominya kepada siapapun.
"Ow, begitu, ya! Ya sudah! Utamakan saudaramu! Nggak usah kamu pikir anak dan istrimu!" Ini jawaban Fatim jengkel dan marah jika Jamal menunda bahkan tidak mengirim uang.
Suatu malam, setelah Fauzan selesai belajar dan mengerjakan tugas sekolah, ia tertidur di depan televisi.
Fatim termenung memikirkan keadaannya. Ia tidak ingin anaknya mengalami kekurangan seperti yang dirasakan saat ini. Fatim selalu mengutamakan kebutuhan anaknya.
"Aku harus mampu mencukupi kebutuhan anakku. Tanpa harus mengharap pada yang namanya suami!" Tekad Fatim.
Fatim mulai belajar memasak dan membuat kue. Dia memiliki rumah yang semi jadi dan memiliki lahan kosong di depan, belakang dan samping kiri rumah. Lahan kosong itu ia tanami pohon kates, singkong, beluntas, dan lainnya. Ia juga mulai belajar membuat kue.
Sejak setahun uang kiriman Jamal dengan nominal tidak berubah, Fatim tidak ingin berdiam diri.
"Aku harus hidup bahagia!" Inilah tujuan hidup Fatim.
Bahkan pinjam uang ke saudara sendiri pun tidak dipercaya. Pada awalnya Fatim merasa sedih, tapi bagi Fatim ini merupakan suatu tantangan untuk mencari jawaban bagaimana dirinya harus bisa bangkit.
"Bangkit Fatim! Ayo bangkit!" Motivasi Fatim untuk dirinya sendiri.
Setiap pukul tiga malam, ia bangun untuk sembahyang malam mendekatkan diri pada Sang Pencipta jagad raya, mengeluh, mengadu kisah hidupnya hanya kepada-Nya.
Setengah jam kemudian, ia menuju ke dapur, membuat aneka kue yang akan dititipkan ke beberapa pedagang keliling.
Hari pertama dagangannya habis. Dan hari berikutnya pun begitu. Membuat Fatim semakin semangat.
Sepuluh hari sejak menitipkan kuenya ke pedagang keliling,
Siang hari Pak Hadi nama salah tua pedagang yang dititipi kue Fatim, sepulang dari jualan keliling, mampir ke rumah Fatim.
"Mbak Fatim, tadi ada orang yang tanya, kalau mau pesan kue mbak Fatim dalam jumlah banyak apa bisa, katanya untuk acara arisan keluarga, begitu."
"Oh, bisa saja, Pak."
Sejak saat itu mulai banyak pelanggan kue Fatim, dan semakin bertambah pesanan yang diterimanya.
Beberapa bulan kemudian, Fatim menyewa tempat di pinggir jalan untuk membuka toko kue yang sudah mulai dikenal oleh banyak orang.
Dengar perlahan ia mulai meneruskan bangunan rumahnya. Fauzan minta kursus matematika dan bahasa Inggris.
Fatim sudah tidak memperdulikan tentang uang kiriman Jamal. Jika dikirimi, ya diterima, jika tidak, juga tidak menuntut. Jika telepon pun, berbincang ya seperlunya saja, mengikuti topik Jamal.
Yang Fatim fokuskan adalah kebutuhan Fauzan tercukupi, setidaknya layak sama seperti teman-temannya.
"Semangatmu mulai memetik hasilnya, Fatim!" Batin Fatim dan tersenyum.
Ia sudah memiliki beberapa orang untuk membantunya di toko kue.
Jika saudara atau tetangga datang minta bantuan, Fatim dengan ikhlas membantu. Setiap hari jumat ia mempunyai program jumat berkah. Ia membagi kue di hari itu.
"Terima kasih Ya Tuhan atas semua nikmatmu." Ucap Fatim penuh rasa syukur.
$$$ End $$$