Gadis dengan rambut hitam menjuntai hingga bahu itu terbangun dari tidurnya, setelah suara gemuruh petir menggelegar–menggetarkan dinding rumahnya. Tak sadar ternyata dirinya telah tertidur cukup lama dengan posisi membungkuk di depan laptop yang masih menyala.
Sembari mengumpulkan kesadarannya, gadis itu mulai menegakkannya posisi duduknya sambil lalu memutar arah punggungnya ke kiri lalu ke kanan—kepalanya pun tak lupa dia gemeratakan. Setelah sedikit mengusap-usap pelan wajahnya, gadis itu pun memperhatikan jam yang ada di layar laptopnya—ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.54 yang berarti sebentar lagi pas tengah malam.
Dengan mata yang masih mengantuk gadis itu pun bangkit dari kursinya untuk mengecek keadaan rumahnya yang dia tinggal tidur beberapa jam yang lalu—setelah seharian tadi dia mengejar deadline tugasnya yang harus diserahkannya esok pagi.
Sambil diputarnya gagang pintu kamarnya, diawasinya keadaan sekitar—ruangan tengah yang bersatu dengan dapur ini tampak sangat gelap, sulit bagi matanya untuk melihat. Cahaya yang dapat diandalkannya hanya sinar dari lampu kamarnya yang merembes keluar.
Suasana yang gelap dan juga kelam ini sempat membuat nyalinya ciut. Tapi beruntung tombol lampu ruangan tengah posisinya dekat dengan pintu kamarnya. Maka dari itu, gadis itu pun hanya perlu menjulurkan satu tangannya keluar sembari menerka-nerka dimana letak tombol itu.
"Mana sih, saklar-nya," pikir gadis itu sambil tangannya terus menyapu-nyapu permukaan dinding.
Tetapi belum ada tangannya menyentuh saklar, tiba-tiba saja cahaya kilat masuk menembus jendela, disusul pula suara gelegar petir yang menyambar hingga memekakkan telinga. "Bbarrrrrr...." Tak ayal dirinya menjadi sangat terkejut hingga refleks berjongkok sambil menutup kedua lubang telinganya. Tubuhnya kini bergetar dengan hebat, jantungnya pun serasa mau copot, bahkan sulit kakinya untuk bangkit berdiri setelah mendengar suara petir yang sekeras itu.
Dan tak berapa lama setelah gemuruh tadi, angin kencang pun turut menyusul sembari membawa iring-iringan hujan jatuh mengetuk-ngetuk atap tempat tinggalnya.
Dengan perasaan yang masih terguncang, dia akhirnya berhasil menekan tombol saklar—yang membuat seisi ruangan tengah sekarang sudah dipenuhi dengan cahaya lampu yang terang benderang.
Dengan nafas yang masih berat, kembali gadis itu memperhatikannya keadaan rumahnya. Kondisi ruangan yang tampak sepi, dengan suara hujan yang mengguyuri atap rumahnya, membuat suasana ruangan ini terasa dingin dan juga terisolasi. Padahal di rumah ini dia tidak tinggal sendirian, tetapi berdua dengan seorang teman wanitanya yang bernama Lisa. Namun melihat keadaan ruangan yang masih tampak sama dengan sebelum dia ketiduran, menandakan temannya si Lisa masih belum kembali dari tempatnya bekerja—yang padahal, biasanya pada jam segini temannya itu seharusnya sudah selesai bekerja dan sudah berada di rumah.
Kemudian gadis itu pun berjalan ke arah pintu. Lalu dia mengecek kondisi lubang kunci dan grendel-nya—semuanya masih pada tampak sama, terkunci. Dia pun memutuskan kembali ke kamarnya untuk menghubungi si Lisa, karena dia khawatir jika temannya itu mengalami sesuatu di jalan. Apalagi saat ini cuacanya sedang hujan dan malam sudah sangat larut.
Sembari saat dia mencari dimana letak ponselnya, tiba-tiba terdengar dari pintu depan, ada suara yang yang bergeser… (kriiikk)
Gadis itu pun langsung mengecek asal suara itu dengan cara menjulurkan kepalanya keluar kamar. Dilihatnya ada seseorang wanita yang berdiri di pintu depan, dan setelah diperhatikan benar itu adalah temannya—si Lisa. Walaupun dia hanya melihatnya dari belakang, dia sudah hafal dengan postur tubuh temannya yang tinggi dengan rambut panjang yang bergelombang itu. Hanya saja kini dia muncul dengan pakaian yang basah dan dengan kondisi badan yang menggigil.
"Ehh, Lis… udah, kamu langsung mandi aja. Nanti kamu masuk angin kalau kelamaan basah begitu. Biar nanti aku ambilin handuk." Suruh gadis itu cepat.
Lisa yang menuruti perkataan temannya itu, langsung masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya berdekatan dengan pintu masuk.
Gadis itu pun kemudian kembali masuk ke dalam kamar, lalu mengambil handuk bersih yang tersangut di gantungan baju. Sambil pula dia mengambil ponselnya yang ternyata tersembunyi dibalik bantal.
Setelah ponselnya berada digenggamannya, dia pun lalu menghidupkan layarnya dan dilihatnya—ternyata ada 5 kali panggilan tak terjawab dari Lisa. Gadis itu tak sadar maupun mendengar bunyi dari nada deringnya—karena dia lupa mematikan mode senyap dari ponselnya saat dia mengerjakan tugas kantornya tadi. Dia pun kini merasa menjadi tidak enak hati pada Lisa, karena mungkin saja panggilannya tadi itu sangat penting.
Selanjutnya gadis itu keluar dari kamar sambil menenteng handuk di lengannya, sembari berjalan pelan menuju ke kamar mandi. Dan setelah didekati—dari balik pintu terdengar suara guyuran air yang terus mengalir. Sambil pula diliriknya pintu masuk—apakah Lisa sudah menguncinya atau belum—ternyata sudah.
"Lis, ini handuknya aku gantung di gagang pintu," ucap gadis itu setelah mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. "Oh iya, maaf ya Lis. Tadi aku gak dengar suara telponmu. Soalnya aku ketiduran. Hp-nya ku silent juga, jadi gak dengar. Sorry ya, Lis."
Namun Lisa tak menjawab permintaan maaf dari temannya itu. Dari kamar mandi hanya terdengar suara air yang terus diguyur.
"Astaga marah kah, Lis… Aku betulan gak dengar loh tadi. Jangan marah dong. Maafin aku yah," ujar gadis itu sambil mengetuk-ngetuk pintu. "Kok gak jawab sih, Lis… Anu deh, aku buatin mie yah. kamu pasti lapar habis pulang kerja. Aku buatin juga teh, deh. Biar badanmu hangat habis mandi. Mau, yah?"
Tiba-tiba suara guyuran air tadi berhenti—dengan masih tanpa ada balasan dari Lisa. Gadis yang yang berada diluar pun jadi sedikit was-was dengan sikap diam temannya itu, takut-takut ada yang terjadi dengannya saat berada di jalan tadi.
Gadis itu pun kembali mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil namanya dengan nada khawatir.
"Lis... Lisa… (Tok-tok)."
Namun disayang tetap tidak ada jawaban.
Gadis itu pun mulai merasa curiga kepada temannya itu, karena mungkin saja memang ada sesuatu yang terjadi kepadanya hingga dia tetap kekeh dalam bisu-nya.
Dibalik pintu kamar mandi pun kini sudah tidak ada suara sama sekali, hanya suara hujan dari luar yang semakin deras seperti tak ada kendali. Dan hal itu membuat pikirannya semakin resah dan juga merasa gelisah, karena temannya selama ini tak pernah bersikap seperti itu.
Dia pun menjadi sangsi dengan keadaan dan perasaannya saat ini—apakah dia harus merasa cemas atau tidak. Akan tetapi hatinya tidak bisa dibohongi, dia memang khawatir dengan temannya itu, bahkan saat ini muncul pikiran buruk di kepalanya—dia takut sekarang temannya itu sedang melakukan sesuatu yang bodoh terhadap dirinya di dalam sana.
Dengan perasaan ketakutan yang semakin menjadi, gadis itu pun memutuskan untuk segera membuka pintu kamar mandi itu—kalau-kalau sesuatu yang buruk benar-benar terjadi. Namun belum tangannya meraih gagang itu, tahu-tahu pintunya… terbuka.
Pintu yang sedari tadi tertutup rapat kini terbuka sedikit.
Dengan perasaan yang masih was-was gadis itu memperhatikan celah pada pintu tersebut. Detak jantungnya yang berdegup kencang malah membuat waktu terasa sangat pelan. Dia masih menunggu apa yang bakal terjadi. Dan akhirnya tak berapa lama kemudian muncul sesuatu dari balik pintu… sebuah tangan. Sebuah tangan yang mulus dengan kulit yang berwarna putih pucat meraih selembar handuk yang menggantung di gagang pintu tersebut. Dan tak seberapa lama kemudian terlihat sebuah kepala muncul saat mata gadis itu mengangkat pandangannya.
"Mienya pakai kuah, jangan lupa pakai telor," ucap Lisa dari balik pintu.
Gadis itu pun kaget sekagetnya saat mendengar ucapan temannya itu, apalagi dia tidak siap saat melihat temannya itu muncul dengan keadaan wajah tertutupi rambutnya yang basah. Sekilas saja tadi dia merasa seperti melihat penampakan hantu.
"LISA!! kagetnya aku… bisa-bisanya kamu yah, bikin kaget aja."
Temannya Lisa, hanya menanggapi dengan tertawa yang ngakak karena berhasil menakuti temannya itu.
"Takut yah, hahaha… cepat dah sana buatin mienya, kamu udah janjikan mau buatin. Aku mau pakai baju dulu sekalian," ucap Lisa sambil berjalan menuju kamar.
Walaupun dirinya ada rasa kesal karena merasa telah dikerjai oleh Lisa, tetapi dia juga merasa bersyukur—karena ternyata temannya itu dalam keadaan yang baik-baik saja.
Yah, meskipun pada akhirnya perasaan gadis itu tetap masih dongkol, karena harus capek-capek memasakkan mie untuk Lisa di waktu larut malam seperti ini.
Sembari menyiapkan bahan memasak, gadis itu teringat sesuatu yang janggal.
"Oh ya, Lis. Tadi cara kamu buka pintunya gimana ya? Soalnya perasaan tadi grendel pintu terkunci, deh." Tanya gadis itu heran.
Lisa yang keluar dari pintu kamar setelah memakai pakaian itu pun menjawab. "Oh yang itu… kamu mau tahu caranya."
Namun disela-sela perbincangan mereka, tiba-tiba suara petir yang paling keras menggelegar tepat di atas tempat tinggal mereka hingga membuat listrik di rumah mereka mati.
Dalam suasana yang gelap gulita dan perasaan yang masih di landa kaget—gadis itu pun meneriakkan nama Lisa, untuk mencari keberadaannya. Gadis itu takut dengan suasana seperti ini, dia tidak ingin sendirian, dia mau menggenggam tangan Lisa, dia risau dengan keadaan yang serba hitam seperti ini.
"Lisa! Dimana kamu… Lisa!" Teriak gadis itu. "Lis, tolong jawab dong, aku takut gelap nih. Lisa!"
Tetapi tiba-tiba saja, suara ponselnya berbunyi.
Dan Terlihat nama dilayarnya "LISA"
Dengan perasaan takut juga bingung, dia pun mengangkat panggilan itu.
"H-halo…" ucap gadis itu cemas.
"Oh, halo…," sahut seorang pria. "Maaf, ini tadi saya coba hubungi nomor-nomor penting di Hp ini. Saya liat nama mbaknya muncul paling atas."
"Oh, kenapa ya mas… kok hp teman saya bisa ada sama masnya yah?"
"Eh, tolong tenang dulu mbak ya… ehh mohon maaf sekali. Saya, harus kabari kalau teman mbaknya ini sepertinya sudah meninggal dunia. Kami temukan mayatnya tadi di jalan dan sekarang sudah dibawa ke rumah sak… (Tut...Tut...Tut)." Gadis itu mematikan ponselnya tanpa mendengarkan sisanya.
Kini tubuh gadis itu merasa lemah, lunglai, kepalanya pun juga terasa pusing setelah mendengar kabar tadi. Karena sulit baginya untuk percaya berita itu. Bahkan rasanya mustahil hal itu terjadi—karena tadi dia melihat Lisa itu pulang bahkan sempat-sempatnya temannya itu mandi, barusan pun dia melihat keluar dari kamar dan berbicara kepadanya. Iya, hal tidak mungkin terjadi. Iya, mana mungkin... kecuali…
tiba-tiba ada suara yang berbisik di telinganya.
"SEKARANG KAMU TAHUKAN CARANYA AKU MASUK!"